Usaha "Meluruskan" Sejarah?

Posted by Admin on Tuesday, 26 August 2003 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Mantan Gubernur Lemhannas

DALAM rangka peringatan hari ulang tahun ke-58 kemerdekaan bangsa Indonesia, Pengurus Pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) telah mengadakan sarasehan 14 Agustus 2003. Pertemuan itu telah diberitakan secara luas oleh media di Jakarta, antara lain oleh harian ini. Hal itu tidak mengherankan karena KAGAMA merupakan satu organisasi yang berwibawa dalam masyarakat Indonesia. Anggota KAGAMA tidak hanya ada di Jakarta atau Yogyakarta, melainkan di seluruh Tanah Air. Tidak mustahil berita tentang sarasehan 14 Agustus 2003 juga dimuat secara luas di media luar Jakarta.

Yang mengherankan, hasil sarasehan yang diberitakan secara luas itu, menimbulkan banyak pertanyaan. Seorang peserta sarasehan yang dikenal sebagai seorang sarjana bergelar doktor dalam ilmu sejarah, antara lain mengatakan bahwa selama ini terjadi kesalahan dalam membangun nasionalisme di Indonesia. Ia katakan, "Indonesia melakukan kesalahan besar karena membangun nasionalisme dengan kekuatan senjata (militer). Seharusnya nasionalisme dibangun melalui pendidikan dan dialog. Harus disadari dengan menengok kembali sejarah bahwa Indonesia tidak dibangun dengan senjata, melainkan dengan dialog. Dulu dengan mengandalkan kekerasan, Indonesia selalu gagal menghadapi Belanda sehingga dijajah selama 300 tahun. Kemudian hanya dalam 37 tahun pergerakan nasional bangsa Indonesia malahan berhasil merumuskan Pancasila, Pembukaan UUD 1945 serta mewariskan kemerdekaan."

Timbul pertanyaan apakah pernyataan itu merupakan indikasi adanya usaha "meluruskan kembali" sejarah nasional, sebagaimana sudah banyak terjadi selama reformasi. Sebab, dapat disimpulkan pernyataan itu menilai salah bahwa perjuangan kemerdekaan yang mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan bangsa menggunakan banyak tindak kekerasan melawan penjajah Belanda. Padahal begitu kemerdekaan diproklamasikan, bekas penjajah Belanda yang setelah selesainya Perang Dunia Kedua ikut datang ke Indonesia bersama sekutu AS dan Inggris, langsung berusaha menjajah kembali dan meniadakan kemerdekaan bangsa yang baru itu.

Usaha penjajah dilakukan dengan kekerasan yang dengan sendirinya mengundang perlawanan bersenjata dari rakyat dan pemuda Indonesia yang tidak mau dijajah lagi. Mula-mula di Jakarta dan kemudian juga di Surabaya dan kota-kota lain, perlawanan dilakukan dengan sengit. Itu semua dilandasi semangat kebangsaan atau nasionalisme yang substansinya adalah Cinta Tanah Air dan Bangsa. Sekarang dikatakan dalam sarasehan KAGAMA bahwa nasionalisme demikian merupakan kesalahan besar, dan seharusnya diadakan dialog dengan penjajah.

Penjajah Tidak Rela

Memang kemudian di samping perlawanan bersenjata bangsa Indonesia juga mengadakan dialog atau diplomasi. Itu menghasilkan Persetujuan Linggar Jati, tapi memang penjajah tidak rela bangsa Indonesia merdeka dan pada 21 Juli 1947 menyerang Republik Indonesia dengan kekuatan militernya. Ini kembali dilawan oleh pemuda dan rakyat secara gigih. Kemudian atas desakan pihak luar diadakan dialog lagi yang melahirkan Persetujuan Renville. Akan tetapi kembali hasil dialog itu dibatalkan penjajah dengan melancarkan serangan militer pada 18 Desember 1948.

Perlawanan rakyat dan pemuda berupa perang gerilya bersama usaha diplomasi di PBB akhirnya memaksa penjajah Belanda mengakui kedaulatan dan kemerdekaan bangsa tanggal 27 Desember 1949. Jelas sekali bahwa pengakuan kedaulatan bangsa Indonesia adalah hasil dari seluruh usaha bangsa, baik yang berupa perlawanan bersenjata maupun diplomasi. Dalam perjuangan itu rakyat dan pemuda Indonesia rela melakukan apa saja demi kemerdekaan bangsa.

Sekarang sikap demikian dinilai sebagai nasionalisme yang salah. Sedangkan yang dianggap nasionalisme yang benar adalah yang selalu dialog dan tidak mau melawan penjajah Belanda, yang bekerja sama dengan Belanda mendirikan berbagai negara boneka seperti Negara Indonesia Timur (NIT), Negara Sumatra Timur (NST), Negara Pasundan (NP) dan lainnya. Mungkin juga sikap orang Indonesia yang menjadi kaki tangan penjajah dalam menumpas perlawanan pejuang kemerdekaan, antara lain anggota tentara KNIL dan agen NEFIS atau badan sekuriti penjajah lainnya.

Kerasnya pernyataan mewujudkan bahwa yang mengucapkan benci benar kepada semua pihak yang telah melawan Belanda dengan kekerasa senjata. Mau tidak mau yang jadi sasaran utama adalah TNI yang telah menjadi inti perlawanan bersenjata. Kalau itu dihubungkan dengan berbagai usaha selama reformasi untuk menghujat TNI, khususnya TNI-AD, serta usaha untuk "meluruskan kembali" sejarah nasional di mana TNI menjadi peserta yang menonjol, seperti dalam pemberontakan G30S/PKI, maka mungkinkah doktor sejarah dalam sarasehan KAGAMA itu juga memelopori usaha untuk "meluruskan kembali" sejarah nasional?

Melihat pernyataannya, tidak mustahil para pejuang kemerdekaan yang dinilai salah nasionalismenya dianggap biang keladi dari segala perkembangan bangsa Indonesia yang kurang menyenangkan hingga dewasa ini. Sekaligus hendak menonjolkan bahwa yang sebetulnya harus berperan di Indonesia adalah mereka yang "bekerja sama” dengan Belanda, para kooperator dalam sebutan masa perang kemerdekaan.

Bahkan tidak mustahil pula yang dianggap tepat sebagai tentara Indonesia adalah KNIL, tentara penjajah Belanda yang buta politik. Memang dulu Negara Indonesia Timur bermaksud untuk menjadikan KNIL, tentaranya untuk mengimbangi TNI. Akan tetapi itu semua gagal karena rakyat di wilayah Indonesia bagian timur tidak menghendaki TNI dan KNIL, melainkan memilih Republik Indonesia sebagai negara mereka dan TNI sebagai angkatan bersenjatanya.

Kalau memang ada usaha "meluruskan" sejarah nasional seperti itu, para pejuang kemerdekaan Indonesia yang masih ada perlu melawannya dengan gigih lagi. Sebab bisa saja anak-anak muda yang kurang mengetahui kondisi bangsa pada permulaan kemerdekaan menerima "pelurusan" sejarah itu sebagai kebenaran apabila tidak dilawan. Yang mengherankan, dalam pemberitaan tidak disebutkan ada yang menyanggah pernyataan doktor sejarah dalam sarasehan KAGAMA itu. Padahal di antara alumni UGM tidak sedikit pejuang kemerdekaan yang secara gagah berani melawan Belanda. Juga banyak mahasiswa dan alumni UGM yang anak atau cucu pejuang kemerdekaan. Mereka patut minta klarifikasi tentang hasil sarasehan itu.

Apalagi rakyat yang telah banyak pengorbanannya, baik dalam bentuk jiwa, raga maupun benda, para anggota Veteran Kemerdekaan yang banyak hidup sengsara dewasa ini, sudah sepatutnya mendapat klarifikasi tentang pernyataan yang amat menyakitkan harga diri mereka.

Source : http://www.suarapembaruan.com/News/2003/08/26/Editor/edi02.htm

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Comment by Indra
2008-10-09 11:46:19


Yth. Bpk. Sayidiman,

Mengingat banyaknya orang yang menuntut adanya pelurusan sejarah bangsa Indonesia, saya memandang perlu adanya suatu dialog Nasional yang besar, terutama dihadiri oleh pelaku-pelaku sejarah yang menyaksikan saat itu dan hinggat saat ini masih hidup, seperti Bpk. Sayidiman.
Karena kami merasa, bahwa cerita sejarah sudah rusak dan kembali semakin dirusak oleh para ahli sejarah, dan seakan-akan terjadi “PEMBENARAN” diberbagai sejarah yang bertentangan satu dengan yang lainnya.
Salah satu contoh yang saya lihat adalah sejarah PKI, banyak orang menyatakan itu adalah pemutarbalikan atau strategi dari ORDE BARU, sehingga targetnya adalah perusakan citra ORDE BARU dan PEMBENARAN PKI, padahal kalo kita lihat IDEOLOGI PKI itu salah besar dan pemberontakan PKI sudah terjadi jauh sebelum tahun 1966 (misalnya Madiun).
Saya berharap Bpk. Sayidiman dapat menulis lebih banyak lagi tentang sejarah Perjuangan yang bapak alami sendiri, dari jaman Penjajahan, Kemerdekaan bahkan hingga saat ini, sehingga kami sebagai penerus dapat mendapatkan banyak referensi, dan tidak terbawa oleh para doktor-doktor sejarah.
Karena kebanyakan dari mereka hanya dapat mengumpulkan FAKTA dan membandingkannya dengan kondisi saat ini. Mereka semua lupa bahwa kondisi disaat itu berbeda, sehingga tidak dapat dibuat suatu kesimpulan yang dilihat pada jaman ini.
Pada akhirnya kesimpulan-kesimpulan yang mereka dapatkan tidak akan tepat sama sekali, bahkan merusak nilai history perjuangan itu sendiri.

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post