Faktor Nuklir Dalam Pengamanan Suplai Listrik

Posted by Admin on Wednesday, 30 June 2004 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Jakarta, Juni 2004

Adalah jelas bahwa untuk peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia diperlukan penyediaan tenaga listrik yang memadai. Menurut data Perusahaan Listrik Negara (PLN) tahun 2003, kapasitas listrik yang terpasang sebesar 24.320 Megawatt (MW). Tenaga ini dihasilkan dari penggunaan batubara sekitar 7.280 MW, gas 5.440 MW, hydro 3.300 MW, panas bumi 800 MW dan minyak 7.470 MW.

Kapasitas ini kurang memadai dalam pembangunan nasional yang harus terus dikembangkan. Oleh sebab itu para pakar listrik merencanakan daya listrik sebesar 100.000 MW untuk dicapai pada tahun 2025, sesuai dengan perkiraan kebutuhan masa depan. Menjadi penting bahwa tujuan itu tercapai dengan penggunaan sumber energi yang paling tepat.

Mengingat kebutuhan masyarakat akan minyak yang terus meningkat, maka sebaiknya peran minyak dalam peningkatan tenaga listrik itu dibatasi dan cukup dengan yang sekarang sudah berjalan. Apalagi harga minyak terus meningkat dan belum jelas apakah akan turun.

Juga peran hydro tidak mungkin besar karena sukar membangun PLTAir dalam skala besar, mengingat masalah lingkungan yang harus kita jaga. Juga peran gas sukar ditingkatkan secara besar-besaran sekalipun cadangan gas kita relatif besar. Sebab gas harus kita gunakan lebih efektif karena perannya yang penting untuk produksi kimia dan dapat memberikan nilai tambah lebih tinggi dari hanya dipakai untuk pembakaran.

Memperhatikan hal-hal itu, maka sebaiknya peningkatan tenaga listrik terutama didukung batubara, panas bumi dan energi alternatif seperti energi matahari, energi angin dan nuklir.

Faktor nuklir tidak boleh kita abaikan sebagai opsi penting dalam penyediaan listrik. Hal ini diperkuat kenyataan bahwa faktor keamanan dalam penggunaan tenaga nuklir telah mencapai kemajuan penting berkat kemajuan teknologi. Itu antara lain tampak pada keputusan pemerintah AS untuk mengizinkan PLTNuklir memperpanjang masa operasinya sampai 60 tahun. Juga keputusan Negara lain seperti India dan China dalam penggunaan tenaga nuklir. India telah membangun 14 PLTN yang menghasilkan 3,3% tenaga listriknya, sedangkan China 9 PLTN untuk 2,18% tenaga listrik negaranya. Bahkan China akan membangun dalam 15 tahun mendatang 40 PLTN baru. Yang paling hebat adalah Perancis dengan 59 PLTN yang menghasilkan 63.000 MW atau 77,68% tenaga listriknya. Itu semua menunjukkan bahwa faktor keamanan PLTN sudah jauh maju.

Selain itu penggunaan tenaga nuklir juga relatif murah dalam operasi, sekalipun memerlukan biaya investasi pertama yang tinggi. Penting pula diperhatikan kenyataan bahwa hanya penggunaan tenaga nuklir dapat menjawab secara memuaskan tuntutan untuk membatasi emisi gas rumah kaca, sebagaimana dikehendaki Protokol Kyoto yang berlaku mulai 16 Februari 2005.

Berhubung dengan itu Pemerintah harus dengan sungguh-sungguh mewujudkan persetujuannya membangun tenaga nuklir pada tahun 2010 untuk menghasilkan listrik sebesar 1.000 MW pada tahun 2016. Angka itu kecil dibandingkan dengan tenaga listrik yang diperlukan sebanyak 100.000 MW, hanya 1% saja. Akan tetapi toh dihadapi tantangan dan rintangan yang tidak boleh diabaikan.

Pertama, masih ada orang yang menentang penggunaan tenaga nuklir karena alasan keamanan. Masyarakat perlu diberi informasi yang benar dan obyektif tentang peningkatan dan kemajuan faktor keamanan nuklir sehingga makin sadar bahwa tidak perlu ada kekhawatiran bila dibangun PLTN. Juga mereka yang menentang karena alasan faktor lingkungan perlu diberi informasi yang tepat bahwa justru tenaga nuklir yang paling mampu menjawab tuntutan pembatasan emisi gas rumah kaca.

Mungkin yang paling berat adalah rintangan yang bersifat polititik. Nampaknya di kalangan elit Indonesia ada yang begitu terpengaruh oleh AS sehingga mereka menentang pembangunan PLTN karena AS tidak akan menyetujui. Memang Indonesia tidak perlu bersikap antagonistik terhadap AS, tetapi di pihak lain kita harus mampu memelihara kebebasan dan independensi dalam menempuh jalan yang kita anggap perlu untuk mencapai tujuan kita. Amatlah salah kalau kita tidak mau memelihara opsi nuklir dalam suplai listrik kita, sedangkan negara lain melakukannya dengan penuh semangat.

Oleh sebab itu sebaiknya pimpinan Negara mengambil sikap tegas untuk tetap melaksanakan persetujuan membangun tenaga nuklir seperti yang sudah dinyatakan. Kami menyarankan agar Bapak Presiden bersedia menerima pimpinan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) untuk kembali menegaskan sikap Pemerintah untuk membangun PLTN di masa depan.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post