Perbaikan Ekonomi Tergantung Pada Kepemimpinan

Posted by Admin on Tuesday, 23 July 2002 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Jakarta, September 2002

Perjalanan ke China memberikan kepada saya bahan perbandingan penting untuk perkembangan ekonomi Indonesia. Khususnya ketika elit bangsa kita, terutama para pakar ekonomi, terjirat dalam debat yang tidak produktif tentang hubungan Indonesia dengan IMF.

Adalah jelas bahwa Cina tidak termasuk negara yang menjadi korban berat Krisis Ekonomi 1997. Berbeda dari Thailand, Malaysia, Indonesia dan bahkan Korea Selatan. Itu terutama disebabkan oleh sikap China dalam menjalankan ekonominya sejak Deng Xiaoping pada tahun 1979 membawa bangsanya menempuh reformasi sesuai dengan perkembangan dunia tanpa melepaskan kondisi dan sifat bangsanya sendiri. Tanpa ikatan dengan Bank Dunia dan IMF China berhasil membangun ekonomi yang maju pesat sekali. Meskipun sekarang ada tulisan Bank Dunia dan beberapa penulis Barat yang memprediksi bahwa ekonomi China akan berantakan beberapa dekade mendatang, namun kenyataan menunjukkan bahwa ekonomi China sekarang makin kuat dan tumbuh lebih dari 8 persen setahun. Mungkin prediksi negatif itu diberikan karena China tidak mengikuti pandangan dan model ekonomi Barat sebagaimana selalu didorongkan oleh Bank Dunia dan IMF ke negara sedang berkembang dan negara bekas komunis.

Deng Xiaoping dan kemudian juga Zhu Rongji yang melanjutkan pembangunan ekonomi China, tidak mau berpikir dalam rangka ideologi sosialisme dan kapitalisme. Sekalipun Deng seorang jenderal Tentara Pembebasan Rakyat yang asli, jadi termasuk kader komunis yang menjadikan China negara komunis, ia menyadari bahwa ekonomi yang dapat menjamin kekuatan bangsa dengan penduduk 1.300 juta orang serta wilayah begitu luas, harus memperhatikan aspek pasar. Namun di pihak lain kontrol atas jalannya ekonomi pun diperlukan dan tidak dapat seluruhnya diserahkan kepada pasar. Tanpa kontrol akan terjadi kondisi bangsa yang semrawut. Dalam bahasa Zhu Rongji: bagaikan lalu lintas kota Beijing tanpa pengawasan polisi di mana semua orang dengan macam-macam kenderaaan dan kereta berlalulalang semau gue. Maka yang dilakukan China adalah managed marketization. Di dalam konsep itu BUMN tetap ada, yaitu sebanyak 174.000 perusahaan untuk macam-macam usaha, tetapi usaha swasta juga makin bertambah. Deng Xiaoping tidak mempertentangkan ekonomi sosialisme dengan kapitalisme. Yang penting baginya adalah ekonomi makin besar dan kuat serta memberikan kesejahteraan makin maju dan luas kepada rakyat yang begitu banyaknya. Rakyat tidak boleh kurang makan dan sandang, serta harus terus diperbaiki kesehatan dan pendidikannya. Perencanaan, kontrol dan pasar hanya merupakan alat dalam mekanisme mewujudkan tujuan itu.

Yang menjadi kunci keberhasilan ekonomi itu adalah kepemimpinan dan manajemen untuk mengatur agar ekonomi itu terus maju dan kuat. Untuk itulah Deng Xiaoping membawa Zhu Rongji ke Beijing, mula-mula sebagai Wakil PM dan kemudian PM. Alasan Deng adalah bukti keberhasilan kepemimpinan Zhu sebagai Wali Kota Shanghai. Dan khususnya caranya memajukan ekonomi kota itu dengan penduduknya 12 juta orang.

Pilihan Deng tidak salah, sebagaimana dibuktikan oleh kepemimpinan Zhu sebagai Wakil PM dan PM.Sebetulnya jauh sebelum Asia Tenggara diserang Krisis Ekonomi, China sejak tahun 1980-an sudah menghadapi persoalan gawat. Inflasi mencapai 21 prosen, perbankan kacau balau karena tersangkut pemberian kredit yang berlebihan, terutama untuk real estate, dan lain hal yang sejak 1997 dialami Malaysia, Thailand dan Indonesia. Rakyat China yang menikmati kebebasan yang dibawa reformasi, menghambur uang untuk berbagai usaha yang tidak semua produktif. Ekonomi China tidak akan mungkin maju dan kuat, bahkan malahan bangkrut, andai kata kondisi itu dibiarkan terus.

Dikatakan Zhu Rongji dalam wawancara dengan Laurence J. Brahm : “ Diperlukan kekuatan sentral yang dipercaya seluruh rakyat dan itu peran Partai Komunis China. Itu memungkinkan keputusan kita dilaksanakan. Dalam ekonomi perlu ada pengaruh psikologi-sosial. Kalau rakyat kehilangan kepercayaan, keputusan yang bagaimana baik pun tidak akan terlaksana. Pembuatan keputusan harus memperhatikan semua aspek, harus dibuat analisis dan perbandingan. Setelah keputusan diambil, partai dan rakyat harus mendukungnya dan melaksanakannya. Kalau nanti ternyata ada kelemahan dalam keputusan itu, diadakan perbaikan. Kalau rakyat skeptis terhadap kepemimpinan kita, keputusan yang baik pun sukar diimplementasikan dan tidak akan ada dampak yang bermanfaat.” Demikian kata Zhu Rongji.

Di samping itu Zhu menindak secara tegas semua pihak yang tidak mau menjalankan keputusan yang diambil. Itu antara lain terjadi pada Great Wall Corporation yang tidak mau menuruti keputusan untuk memisahkan bank dari usaha lainnya. .

Jelas sekali bahwa yang menjadi kunci keberhasilan adalah kepemimpinan. Sebab itu debat antara kaum pakar ekonomi Indonesia tentang kegunaan IMF adalah percuma. Sudah jelas bahwa berlanjutnya peran IMF dalam ekonomi Indonesia tidak akan membawa bangsa kita kepada kesejahteraan dan kemandirian rakyat Indonesia. Pendapat pakar ekonomi Barat tentang peran IMF terhadap negara sedang berkembang, seperti yang dikemukakan Joseph Stiglitz yang Pemenang Hadiah Nobel dalam ekonomi serta banyak pengalaman di Bank Dunia dan pemerintahan AS, tentu bukan nonsens. Para ekonom yang mengatakan bahwa Indonesia akan bangkrut tanpa peran IMF, hanya menunjukkan bahwa kepandaian mereka dalam ilmu ekonomi tidak dibarengi kekuatan karakter dan kehendak. Pada mereka tidak cukup kuat aspirasi untuk membuat Indonesia maju ekonominya dan rakyatnya sejahtera. Pilihan mereka untuk tetap pada IMF, entah sampai kapan, tidak patut dijadikan kebijaksanaan ekonomi buat Indonesia yang ingin maju dan sejahtera. Akan tetapi sebaliknya kaum pakar ekonomi yang selalu mengkritik peran IMF di Indonesia juga perlu dipertanyakan kemampuannya membuat ekonomi Indonesia maju. Para pengkritik IMF itu sudah diberi kesempatan memegang jabatan tertinggi dalam memimpin ekonomi bangsa, yaitu sebagai Menko Ekuin dan Menteri Keuangan, tanpa membuktikan kemajuan dalam ekonomi nasional. Semuanya, baik yang pro-IMF maupun yang anti, tidak atau belum membuktikan kepemimpinan dalam menyelenggarakan ekonomi Indonesia. Oleh sebab itu ekonomi Indonesia tidak kunjung keluar dari Krisis Ekonomi 1997.

Kesulitan pimpinan Negara adalah bahwa sukar mencari pembantu yang dapat dilihat trackrecordnya dalam memimpin ekonomi. Deng Xiaoping lebih mudah karena dapat melihat keberhasilan kepemimpinan Zhu Rongji sebagai Wali Kota Shanghai. Di Indonesia tidak ada gubernur atau bupati yang dapat dipilih, karena semua mereka hanya menjalankan perintah Jakarta sebagai akibat pemerintahan yang sentralistis. Mungkin Ali Sadikin saja merupakan perkecualian. Akibatnya adalah bahwa yang dipilih adalah orang perguruan tinggi, para professor ekonomi yang dianggap paling tahu tentang ilmu ekonomi. Namun menguasai dan pandai dalam ilmu ekonomi bukan jaminan bahwa orang juga cakap untuk memimpin ekonomi untuk negara seluas Indonesia. Seorang pandai belum tentu pemimpin yang cakap, dan banyak sekali contohnya. Apalagi kalau ilmu yang dikuasai tidak mempertimbangkan kondisi Indonesia yang amat berbeda dari negara di mana mereka belajar. Kesimpulan yang dapat kita tarik adalah bahwa masa depan ekonomi Indonesia sangat tergantung pada keberuntungan semoga akan tampil seorang pemimpin ekonomi dari mereka yang menjadi pilihan pimpinan Negara.

RSS feed | Trackback URI

3 Comments »

Comment by safetiani
2010-12-17 19:00:29


terima kasih pak, ini sangat berguna untuk tugas kulia saya.

 
Comment by lalalalala
2009-04-13 20:17:57


terimakasih atas informasinya, karena
sangat berguna untuk tugas saya.

2009-04-14 09:24:39


Terima kasih Anda membaca blog saya. Dan syukur bahwa tulisan saya berguna bagi pelaksanaan tugas Anda.
Salam,

Sayidiman S

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post