Masalah Hubungan Indonesia-AS

Posted by Admin on Friday, 6 August 2004 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

HUBUNGAN Indonesia-AS senantiasa merupakan pekerjaan rumah yang penting bagi masing- masing pemerintah. Meski letak AS jauh dari Indonesia, pengaruh ekonomi, politik, militer, dan sains-teknologi harus senantiasa menjadi pertimbangan penting bagi tiap pemerintah di Indonesia.

Sebaliknya, meski Indonesia bukan negara yang kuat dalam ekonomi dan militer, tetapi faktor geografi, demografi, dan sosial membuatnya tidak dapat diabaikan oleh Amerika Serikat (AS) yang adikuasa dalam berbagai bidang. Sulitnya bagi kedua pihak adalah, hubungan itu amat dipengaruhi masalah-masalah mendasar yang sukar ditiadakan.

PERSOALAN mendasar pertama bersumber pada identitas bangsa. Inti (core) identitas bangsa AS terbentuk dari sejarah terwujudnya bangsa itu, yaitu terdiri kaum pendatang dari ras putih, terutama dari Inggris beragama Protestan (WASP, White Anglo-Saxon Protestant). Meski kini AS menjadi masyarakat multirasial, namun dominasi ras putih amat nyata, yaitu 69 persen putih, 12 persen Hispanic, 12 persen hitam, 4 persen Asia dan wilayah Pasifik, dan 3 persen lain-lain (Samuel P Huntington dalam Who Are We?, New York, 2004).

Orang suka mengatakan, bukan zamannya lagi menggunakan pertimbangan primordial, tapi kenyataannya faktor itu sadar atau bawah sadar berpengaruh terhadap pengambilan keputusan penting.

Sejak berdirinya Republik Indonesia, sikap AS cenderung tidak memihak Indonesia, kecuali bila ada kepentingan lain, seperti pergulatannya dengan Uni Soviet dalam Perang Dingin. Pemerintah AS lebih mendukung Belanda saat Indonesia berjuang memperoleh kemerdekaan dan kedaulatannya (George Mc T Kahin dalam Southeast Asia, A Testament, 2003).

Meski AS mungkin tidak setuju dengan kolonialisme, tetapi tampaknya lebih tidak suka melihat bangsa Belanda mengalami kesukaran karena kehilangan Indonesia sebagai satu sumber ekonominya yang penting. Sikap AS akan lain sekali, andaikata yang berjuang merebut kemerdekaan adalah bangsa dari ras putih.

PERSOALAN mendasar yang juga bersumber inti identitas menyangkut faktor agama. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbanyak di dunia dapat merupakan hambatan dalam hubungan kedua bangsa. Menurut Huntington, AS adalah bangsa Kristen bukan bangsa sekular seperti kebanyakan bangsa Eropa. Istilah "bangsa Kristen" baru terbentuk setelah gereja Katolik di AS dan pengikutnya menjalankan proses "amerikanisasi atau protestanisasi" sejak bagian terakhir abad ke-19. Sebelum itu bangsa AS adalah bangsa Protestan yang keras terhadap agama lain, khususnya Katolik. Kalau terhadap sesama Kristen bersikap keras, apalagi terhadap agama lain.

Ada pula kenyataan, pada bagian akhir abad ke-20 peran agama makin kuat dalam kehidupan AS (Patrick Glynn, One of the most striking and unexpected features of the late-20th-century American life has been the re-emergence of religious feeling as a major force in politics and culture).

Persoalan bagi Indonesia menjadi lebih sukar dengan menguatnya garis keras dalam lingkungan Islam Timur Tengah dan terbentuknya Al Qaeda dengan pimpinan Osama bin Laden yang menjalankan terorisme dengan AS sebagai sasaran utama. Meski para pemimpin AS selalu mengatakan, setelah Peristiwa 11 September 2001 ia mengobarkan perang melawan terorisme dan bukan perang melawan Islam, dalam kenyataan sukar dihindarkan perasaan religius Kristen yang menguat di AS menimbulkan sikap kurang senang terhadap umat Islam umumnya. Maka bangsa Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam mau tidak mau tidak dianggap sahabat, kecuali umat Islam di Indonesia menjalankan proses amerikanisasi seperti dulu gereja Katolik di AS.

PERSOALAN mendasar berikut adalah perbedaan falsafah hidup. Bangsa Indonesia menganut falsafah hidup Pancasila yang dalam banyak hal berbeda dengan falsafah hidup bangsa AS (the American Creed). Berdasar Pancasila, bangsa Indonesia cenderung mencari harmoni dalam kehidupan. Kesejahteraan dilukiskan sebagai keadilan sosial yang mengutamakan kebaikan bagi sebanyak mungkin rakyat. Sebaliknya bangsa AS menganut pandangan, individualisme mendatangkan kesejahteraan sebenarnya.

Liberalisme sebagai bagian lain dari pandangan hidup itu, menambah keyakinan, orang tidak boleh dilarang untuk berbuat apa saja yang dianggap terbaik baginya. Pengaturan hukum berpihak kepada kepentingan individu. Sebab itu orang AS cenderung berpikir, kemiskinan orang atau bangsa adalah akibat dirinya sendiri, bukan karena faktor struktural yang menguntungkan individu tertentu dan merugikan yang lain.

Hal ini amat memengaruhi hubungan Indonesia–AS saat menghadapi berbagai persoalan politik dan ekonomi internasional, khususnya usaha meningkatkan kesejahteraan negara yang sedang berkembang.

Sebagai akibat dari identitas dan pandangan hidupnya, tidak mengherankan mayoritas bangsa AS bersikap mendukung dengan kuat supremasi negaranya atas dunia. Makin konservatif pandangannya makin kuat kehendak untuk menguasai dunia. Timbulnya kelompok neo-konservatif di lingkungan Partai Republik yang kini berkuasa di AS adalah konsekuensi dari keadaan itu. Hal itu belum tentu terbatas pada Partai Republik, meski mungkin cara mengejawantahkannya agak lain. Hal ini dapat menimbulkan banyak kerumitan untuk pemerintah di Indonesia di masa depan.

SETELAH dimenangkannya Perang Dingin dan berakhirnya Uni Soviet sebagai ancaman, timbul problema bagi Pentagon atau Departemen Pertahanan AS untuk merumuskan strategi militer yang menjamin terwujudnya supremasi AS. Peristiwa 11 September 2001 yang merupakan pukulan hebat bagi AS memberi peluang bagi perumusan strategi militer baru itu.

Dalam buku The Pentagon’s New Map, Thomas PM Barnett menggambarkan, strategi AS sekarang dan di masa depan harus menjamin berjalannya globalisasi secara lancar yang tidak lain adalah supremasi AS atas dunia.

Adalah menarik, peta strategi Pentagon membagi dunia dalam bagian yang mendukung globalisasi secara lancar dan bagian yang dinilai merintangi globalisasi. Yang frappant adalah bahwa bagian dunia yang kebanyakan dihuni umat Islam ditetapkan sebagai yang kurang mendukung globalisasi. Ini meliputi Asia Tenggara, Timur Tengah, sebagian terbesar Afrika. Sedangkan China, India, Jepang, Eropa, Afrika Selatan, dan AS semua termasuk pendukung globalisasi.

Kemudian Thomas Barnett berkomentar, AS dapat menerapkan pre-emptive policy terhadap semua bagian dunia yang kurang mendukung globalisasi. Karena Indonesia masuk bagian dunia yang dinilai kurang mendukung globalisasi, maka tidak mustahil ada serangan pre- emptive bila AS menilai Indonesia kurang mendukung usahanya menegakkan supremasi atas dunia. Untuk itu dalih apa saja dapat dikemukakan untuk membenarkan serangan, sebagaimana terbukti di Irak.

Dalam keadaan demikian serta latar belakang persoalan mendasar, tidak akan mudah untuk menghasilkan kiat politik luar negeri yang di satu pihak bersahabat dengan AS tetapi di pihak lain membela kepentingan nasional Indonesia. Usaha untuk memajukan ekonomi nasional sukar untuk mengabaikan faktor AS yang masih tetap merupakan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Namun di pihak lain, eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar negara Pancasila harus dapat terjamin demi kebahagiaan bangsa

Source : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0408/06/opini/1167870.htm

RSS feed | Trackback URI

4 Comments »

Comment by audie irawan
2009-10-14 14:45:30


saya adalah generasi yang terlahir di jaman orba melihat keadaan dan pelajaran sejarah perjuangan bangsa maka saya berkesimpulan reformasi yang di jalankan sekarang adalah salah besar…karena reformasi copy paste yang dipaksakan tanpa berhitung sistematis untuk kemandirian bangsa dan rakyat Indonesia dan ini adalah suatu bentuk hegemoni barat jilid 2 setelah jaman orba jilid 1 yang berhasil sukses bikin negeri ini terpuruk..

salam dari seorang pecinta NKRI & PANCASILA

2009-10-16 10:26:31


Sdr Audie Irawan,
Terima kasih atas tanggapan Anda dan saya senang ada generasi muda berpikir seperti Anda yang pecinta NKRI dan Pancasila. Saya harap semoga Anda dapat mengajak generasi muda lainnya untuk bersikap sama. Sebab masa depan Indonesia dengan rakyatnya yang sekitar 250 juta orang dan terus bertambah sangat dipengaruhi oleh sikap dan tindakan generasi muda kita. Salam,
Sayidiman S.

 
 
Comment by christrisya handayani
2009-06-09 10:05:57


indonesi yang negara sedang berkembang,tidak harus meneruma semua keinginan as untuk melakukan supermasi global,karna indonesia belum bisa sepenuhnya menerima pengaruh asing kalau tidak di fillter terlebih dahulu

Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-06-09 11:56:35


Sdr. Christrisya Handayani, terima kasih atas tanggapan Anda. Tentu kita tidak harus menerima semua keinginan AS, baik sekarang ketika kita masih negara sedang berkembang maupun nanti kalau kita sudah negara maju. Sebab yang pertama yang harus menjadi perhatian kita adalah apa yang menjadi kepentingan nasional Indonesia. Tentu pihak bangsa lain, sesuai kepentingan mereka, berusaha mempengaruhi kita. Akan tetapi kita harus cukup cerdas dan kuat untuk selalu menimbang apa yang baik bagi keperluan negara dan bangsa kita. Salam,

Sayidiman S

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post