Globalisasi dan Kepemimpinan Nasional

Posted by Admin on Saturday, 1 March 2003 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Mantan Gubernur Lemhannas

GLOBALISASI mendatangkan banyak persoalan baru bagi manusia. Jangankan untuk satu negara berkembang yang masih lemah ekonominya, negara sudah maju sekalipun ditimpa persoalan baru yang sukar diatasi.

Bahkan sebagai negara terkaya di dunia, AS tidak bebas dari masalah yang ditimbulkan globalisasi, seperti digambarkan pakar-pakar Barat seperti Peter Drucker dalam buku terbarunya Managing in the Next Society dan lainnya.

Yang jelas adalah, di bidang ekonomi, globalisasi mengakibatkan jurang makin lebar antara kaya-miskin. Tidak hanya antara bangsa sudah maju dan kaya dengan negara berkembang yang miskin, tetapi juga pada tiap bangsa kian melebar kesenjangan antara kaya yang sedikit dengan rakyat miskin yang banyak.

THOMAS Friedman dalam buku The Lexus and the Olive Tree, dengan bagus dan jelas mengurai makin tajamnya perbedaan antara kaya-miskin. Yang dipakai sebagai penjelasan adalah perkembangan dunia olahraga AS, khususnya bola basket dengan NBA-nya. Dalam tim Chicago Bulls, dikenal sebagai tim yang sering merebut juara NBA pada tahun 1997, ada Michael Jordan yang penghasilan setahunnya sekitar 80 juta dollar AS. Tetapi, dalam tim itu ada juga Joe Kleine yang penghasilannya 272.250 dollar AS per tahun, perbedaan tidak kurang dari 79 juta dollar AS lebih. Padahal mereka satu tim dan kecakapan bermain Kleine tidak berbeda mencolok dari Jordan, meski memang kalah cakap.

Saat Kleine ditanya pendapatnya soal perbedaan itu, jawabnya, ia memahami keadaan itu dan tidak mengeluh. Sebab, dalam tim, rata-rata hanya ada tiga pemain top yang mendapat gaji maksimal dan lima pemain terbawah yang gajinya minimal tetapi cukup puas dapat dipakai tim. Yang banyak mengeluh adalah sisanya, empat orang yang penghasilannya di atas minimum tetapi jauh di bawah tiga top. Yang lima terbawah cukup puas karena di luar ada puluhan pemain cakap tetapi tak diterima menjadi pemain tim.

Gambaran dunia basket itu juga terjadi pada masyarakat AS. Ada orang yang makin kaya seperti Bill Gates dengan Microsoft-nya, di pihak lain kehidupan rakyat terbawah kian sukar, meski masih jauh lebih baik dari kehidupan rakyat negara berkembang. Tetapi, yang paling merasakan akibat negatif adalah kaum menengah tengah dan menengah bawah. Sebab itu, kebanyakan aksi melawan globalisasi timbul dari golongan itu.

Gambaran plastis yang diberikan Friedman adalah, di dunia ada orang yang seperti binatang gazelle. Pikirannya adalah harus makin mampu berlari cepat agar tidak ditangkap dan dimakan singa. Tetapi, juga ada yang bersikap sebagai singa, yaitu kalau tidak mampu lari cepat tidak akan pernah menangkap gazelle karena itu akan tidak makan. Inilah persaingan utama dalam masyarakat globalisasi. Ironinya, mayoritas manusia bukan seperti gazelle atau singa, tetapi seperti kura-kura yang bergerak amat lambat dan sangat tidak mampu menyamai kecepatan lari gazelle dan singa.

Menurut laporan PBB tahun 1999 seperlima penduduk dunia dengan penghasilan tertinggi menguasai 86 persen GDP dunia, 82 persen pasar ekspor dunia, 68 persen FDI (foreign direct investment) dan 74 persen penggunaan telepon. Sebaliknya seperlima termiskin di negara miskin menguasai hanya satu persen dari semua sektor itu. Perbedaan itu terus menajam. Tahun 1960, 20 persen penduduk negara terkaya berpenghasilan 30 kali penghasilan 20 persen penduduk termiskin. Tahun 1995 angka itu menjadi 82 kali penghasilan rakyat termiskin.

Karena itu, Peter Drucker ketika ditanya pendapatnya tentang kapitalisme mengatakan, menolak kapitalisme sebagai satu sistem. Sebab, masalah umat manusia bukan ekonomi yang menjadi inti kapitalisme, tetapi sosial. Katanya, dalam kenyataan tidak ada satu pasar (a single market), sebagaimana selalu digemborkan kaum ekonom. Sekurangnya ada tiga pasar, yaitu pasarnya orang kaya, pasar orang menengah, dan pasar orang miskin; masing-masing berbeda.

MEMPERHATIKAN perkembangan dunia itu maka melesetlah pikiran orang bahwa nation state tidak lagi relevan dalam globalisasi. Mungkin saja aliran modal berjalan seperti kita berada dalam borderless world. Tetapi, masalah umat manusia bukan hanya masalah modal. Masalah utama justru manusia yang kehidupannya makin terancam dalam dunia yang sedikit gazelle dan singa, tetapi kebanyakan adalah seperti kura-kura yang hanya mampu bergerak lambat. Nation state merupakan kelembagaan yang amat berguna untuk meringankan, syukur kalau dapat meniadakan, kesengsaraan dan penderitaan yang harus dialami kaum kura-kura itu, kecuali bagi mereka yang senang mengorbankan mayoritas rakyat.

Bila demikian halnya, maka peran kepemimpinan nasional amat besar artinya bagi perkembangan satu bangsa, khususnya Indonesia. Kehendak sementara orang untuk makin meniadakan peran pemerintah di Indonesia yang menjadi amat vokal setelah Reformasi, sama sekali tidak sesuai dengan keperluan dan kepentingan rakyat banyak.

Tentu peran masyarakat (civil society) amat perlu dikembangkan. Tetapi, peran pemerintah (yang bermutu!) juga penting untuk dapat mengantarkan kehidupan bangsa menjauhi kesengsaraan dan penderitaan bagi rakyat banyak.

Salah satu hal penting dalam globalisasi adalah, manusia dituntut menguasai sekurangnya satu kemahiran (skill) agar bisa ikut serta dalam proses produksi yang kian canggih. Bahkan, tidak cukup menguasai kemahiran itu tetapi juga mampu mengembangkan kemahiran itu sesuai perkembangan teknologi. Kini, itu pun sudah tidak cukup untuk industri yang kian canggih, karena dituntut penguasaan kemahiran ganda (multi-skill).

Jelas sekali, penguasaan kemahiran memerlukan pendidikan dan latihan yang mutunya sesuai perkembangan sains dan teknologi dan cukup luas untuk memberi kesempatan masuknya sebanyak mungkin warga negara yang memenuhi syarat.

Keperluan seperti itu tidak mungkin hanya dijawab oleh masyarakat tanpa peran pemerintah yang memadai. Kalau hanya dilakukan masyarakat maka akan berakibat, jumlah lembaga pendidikan dan latihan yang dapat dibangun amat terbatas. Dan, lembaga itu menuntut biaya masuk tinggi pula, karena diperlukan untuk menyelenggarakan usaha yang harus dijaga mutunya. Akibatnya, hanya anak orang kaya dan tinggi penghasilannya yang akan menikmati pendidikan bermutu. Merekalah yang akan menjadi gazelle dan singa. Mereka cakap, mahir, canggih, dengan daya saing internasional, tetapi sedikit sekali jumlahnya.

Sedangkan, mayoritas pemuda Indonesia, meski dengan bakat yang tidak kalah dari anak orang kaya, tidak mempunyai peluang yang sama. Seperti diakui Peter Drucker, omongan kaum ekonom tentang a level playing field adalah omong kosong. Ini hanya satu contoh mengapa peran pemerintah begitu besar artinya. Masih banyak hal lain yang memerlukan peran pemerintahan bermutu.

Mengingat peran pemerintah penting sekali, maka diperlukan kepemimpinan nasional bermutu untuk dapat menjalankan pemerintah itu. Kepemimpinan di Indonesia kini umumnya tidak menunjukkan kesungguhan dalam mencapai keberhasilan, sebaliknya lebih mengejar kesenangan hidup bagi pribadi dan keluarganya, cenderung bersikap soft, tidak ada ketegasan dan konsistensi, tidak ada keberanian menghadapi hal berat dan risiko, dan paling banter suka bicara tentang sesuatu tanpa ada niat membuat pikiran atau konsepnya satu realitas.

Bila Indonesia tidak mampu menghasilkan kepemimpinan yang lebih sesuai dengan tuntutan globalisasi, maka bagian terbesar bangsa Indonesia akan seperti kura-kura. Eksistensi bangsa dan negara akan lenyap tidak lama kemudian.

Source : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0303/01/opini/152556.htm

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post