Indonesia Dalam Dinamika International (3/3)

Posted by Admin on Tuesday, 4 December 2007 | Makalah, Opini

Sikap Indonesia dalam dinamika internasional

Dalam gambaran dinamika internasional yang telah diuraikan, sikap Indonesia dalam hubungannya dengan AS merupakan hal yang paling utama. Itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa AS adalah satu-satunya adikuasa di dunia dengan kekuatan ekonomi, militer, sains dan teknologi yang belum ditandingi pihak lain. Apalagi AS sangat berkepentingan memperoleh kontrol atas Asia Tenggara dan Indonesia sebagai posisi silang yang amat strategis bagi perebutan hegemoni dunia.

Hubungan Indonesia – AS adalah hal yang amat sulit dan penuh persoalan. Sudah pada permulaan berdirinya Negara Republik Indonesia nampak bahwa AS mempunyai kepentingan berbeda dengan Indonesia. [1] Itu antara lain nampak sekali dalam sikap AS ketika dilakukan Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949 di Den Haag, Belanda, untuk menentukan pengakuan dan penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia. Mungkin itu dipengaruhi faktor politik, karena Indonesia yang di bawah kekuasaan Belanda akan lebih mudah dikontrol AS. Tetapi tidak mustahil faktor keturunan (banyak orang AS keturunan Eropa) dan faktor ras juga berpengaruh, mengingat di AS waktu itu masih ada diskriminasi kuat terhadap kulit hitam.

Dalam perkembangan selanjutnya hubungan ini tidak menjadi lebih mudah. Perang Dingin makin menguat sedangkan Indonesia telah menetapkan diri sebagai negara non-blok yang menganut politik luar negeri bebas-aktif. . Bahkan Indonesia menjadi salah satu pelopor dalam pembentukan Gerakan Non-Blok (GNB).

Meskipun dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia tidak berpihak blok Komunis, malahan pada tahun 1948 menumpas pemberontakan komunis ketika sedang sulit-sulitnya menghadapi Belanda. Tetapi itu belum cukup bagi AS, karena maksud AS tidak lain agar di Indonesia berkuasa satu pemerintah yang sepenuhnya berpihak kepadanya.

Hubungan Indonesia dengan AS mengalami perubahan yang positif sifatnya ketika pada tahun 1965 Indonesia dapat mengalahkan pemberontakan komunis kedua dan mengakhiri riwayat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah menjadi partai komunis terbesar di dunia di luar negara komunis. Jadi amat menguntungkan blok Barat dan AS. Akan tetapi ketika Perang Dingin selesai berubah pula kepentingan AS, apalagi sekarang mengejar hegemoni dunia.

Indonesia bersikap paralel dengan AS untuk mengakhiri Terorisme Internasional. Sebab Indonesia sendiri dirugikan oleh Al Qaeda dan cabangnya di Asia Tenggara yang disebut Jemaah Islamiyah. Akan tetapi Indonesia tidak setuju dengan sikap AS dan beberapa negara Barat yang menjadikan Islam sebagai biang keladi teror. Meskipun secara resmi AS tidak menuduh Islam sebagai biangnya teror, tapi dalam kenyataan perlakuan terhadap orang Islam dan pernyataan pendapat tentang Islam sangat melukai perasaan. Sehingga timbul pendapat bahwa AS hakikatnya memerangi Islam, apalagi ketika presiden Bush mengatakan bahwa AS sekarang sedang melakukan crusade atau perang salib. Demikian pula tampak sekali sangat meningkatnya pengaruh kaum Yahudi dan pendukungnya di AS. Memang tidak semua orang Yahudi mendukung Zionisme, seperti sikap Dr.Joseph E.Stiglitz yang secara terang-terangan mengecam semua praktek AS, Bank Dunia dan IMF yang merugikan banyak bangsa. Akan tetapi jelas sekali betapa pemerintah AS di bawah presiden Bush menjalankan politik luar negeri AS yang sangat berbeda arahnya dengan politik luar negerinya yang dulu selalu didominasi kaum WASP (White Anglo-Saxon Protestant). Politik luar negeri dan politik pertahanan AS sekarang lebih banyak dikuasai kaum neo-kon yang dekat kepada Israel dan orang yang mendukung mereka. Itu menghasilkan satu politik luar negeri yang mau tidak mau sangat pro-Israel sehingga sebaliknya kurang dekat dengan negara-negara berpenduduk Muslim seperti Indonesia. Kepentingan AS sekarang adalah agar negara berpenduduk Muslim sebanyak mungkin berorientasi kepada AS . Itu hanya mungkin kalau pemerintah negara-negara itu dipegang orang-orang yang berkiblat kepada AS.

Jelas Indonesia tidak setuju dengan serangan AS ke Irak yang dilakukan tanpa persetujuan PBB dan menggunakan alasan yang kemudian tidak terbukti sama sekali oleh kenyataan. Indonesia mengecam invasi AS itu bukan karena mayoritas penduduk Indonesia Muslim, melainkan karena invasi itu benar-benar menunjukkan sikap sewenang-wenang yang membuat jutaan rakyat menderita tanpa alasan. AS mengatakan bahwa Irak mengembangkan senjata destruksi massal (WMD), tetapi itu tidak terbukti kebenarannya. Juga alasan bahwa Saddam Hussein mendukung Al Qaeda dalam pelaksanaan serangan 11 September sama sekali tidak terbukti. Sekarang Irak setelah diduduki AS dan sekutunya dalam keadaan kacau balau dengan penderitaan besar bagi rakyatnya dan AS jauh dari mampu untuk mengakhiri kekacauan itu.

Indonesia juga melihat bahwa AS kurang sekali perhatiannya untuk mengakhiri Masalah Palestina secara baik dan adil, karena senantiasa menunjukkan sikap berpihak kepada Israel. Padahal Masalah Palestina adalah inti persoalan Timur Tengah yang dapat berakibat luas. Tidak hanya di Timur Tengah melainkan di dunia. AS selalu mendengungkan Hak Azasi Manusia dan Demokrasi. Akan tetapi terbukti itu hanya berlaku kalau sesuai dengan kepentingan AS. Rakyat Palestina yang telah diperlakukan sangat tidak adil secara bertahun-tahun tidak kunjung mendapat penyelesaian masalahnya yang sebenarnya sudah ditetapkan arahnya oleh beberapa keputusan PBB.

AS selalu berusaha mempengaruhi perkembangan politik untuk menjadikan Indonesia berkiblat atau sekurang-kurangnya sangat dekat kepada AS. AS memerlukan hal itu tidak hanya untuk menghadapi perangnya terhadap terorisme internasional Al Qaeda, tetapi juga dalam rangka usahanya merebut hegemoni dunia. Sebab Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia tentu dapat sangat bermanfaat bagi kepentingan AS kalau Indonesia berpihak kepadanya. Juga posisi geografi Indonesia amat penting bagi AS.

Banyak kalangan AS memperkirakan bahwa satu saat China menjadi kuat dan menghalangi usaha hegemoni AS. Asia Tenggara dan khususnya Indonesia penting buat AS untuk menghadapi China di masa depan.

Dalam dinamika internasional itu Indonesia harus menemukan jalan dan cara agar hubungannya dengan AS tidak berakibat buruk, tetapi malahan memperkuat kepentingan nasionalnya. Adalah kurang tepat kalau Indonesia bersikap jauh dan bermusuhan dengan AS, sebab hal itu akan merugikan kepentingan Indonesia, khususnya dalam ekonomi. Akan tetapi juga kurang tepat kalau Indonesia menuruti saja segala kehendak AS yang ditujukan dalam sikapnya terhadap dunia dan khususnya kepada Indonesia.

Dalam sejarah masa lalu terbukti bahwa hubungan Indonesia dengan AS paling baik ketika Indonesia kuat, baik kuat ke dalam maupun ke luar, sehingga AS dan orang-orangnya tidak dapat memperlakukan Indonesia semaunya.[2] Sekarang konsep itu masih berlaku dan malahan menjadi lebih penting lagi karena kepentingan AS untuk mengontrol Asia Tenggara makin kuat. Sebab itu Indonesia harus memperkuat diri di dalam negeri sehingga mempunya kekuatan mantap untuk menjalankan hubungan dengan AS yang tidak merugikannya, bahkan menguntungkannya.

Hal yang sama harus dilakukan Indonesia untuk menghadapi negara tetangganya. Terbukti sekali dalam hubungannya dengan Malaysia bahwa persamaan ras dan agama sama sekali tidak menjadi jaminan bahwa ada hubungan yang dekat dan erat antara dua bangsa. Tetap berlaku bahwa kepentingan negara-bangsa yang menjadi ukuran hubungan yang dekat itu dan itu sangat dipengaruhi bagaimana ditunjukkan kekuatan yang mendorong pihak lain mengadakan hubungan yang dekat. Terlebih lagi terhadap Singapore jelas sekali bahwa hanya Indonesia yang kuat dan berfungsi efektif dalam melakukan tugas negara dan masyarakat yang mereka hargai dan hormati. Sebaliknya, Indonesia yang kacau dan penuh kelemahan akan di”makan” atau dimanfaatkan sepenuhnya untuk keuntungannya.

Sikap Indonesia terhadap perkembangan Asia Timur yang sangat kompleks memerlukan pendalaman jauh lebih saksama dan tidak dapat dihadapi dengan kekuatan belaka. Indonesia tidak berkepentingan dengan terjadinya hubungan yang penuh konflik antara China dan Jepang. Sebab konflik antara dua bangsa itu akan berdampak sangat merugikan bagi Indonesia. Apalagi kalau ditambah dengan faktor Korea yang masih serba tanda tanya masa depannya.

Memang kalau Indonesia menjadi negara yang kuat dan berfungsi efektif ada modal untuk berusaha mempengaruhi keadaan Asia Timur, karena masih ada harapan diperhatikan oleh semua negara di kawasan itu. Akan tetapi itu saja jauh dari cukup. Dengan modal itu Indonesia dapat berusaha melerai sikap Jepang dan China yang mungkin bermusuhan. Persoalan pokok yang dihadapi adalah bahwa antara dua bangsa itu pada dasarnya ada love-hate relationship atau hubungan cinta-benci yang terbawa dari perkembangan sejarah masing-masing. Sebab itu yang perlu diusahakan adalah makin kurangnya faktor emosi dalam hubungan itu.

Satu faktor emosi yang kuat pengaruhnya adalah warisan sejarah Perang Dunia 2. Pendidikan tentang sejarah di Jepang oleh China dan Korea dinilai menutupi kenyataan perilaku Jepang selama perang. Demikian pula kunjungan para pejabat pemerintah Jepang, terutama perdana menteri, ke Kuil Yasukuni sangat menusuk perasaan China dan Korea. Sebaliknya, bagi pejabat Jepang hal itu dipandangnya sebagai penghormatan terhadap para pahlawan yang telah membela bangsanya, seperti pejabat Indonesia mengadakan upacara Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Akan tetapi bagi China, dan juga Korea, hal itu dipandang sebagai sikap Jepang yang menjunjung tinggi militerisme. Sebab di Yasukuni juga disimpan abu para pemimpin Jepang yang telah dihukum sebagai penjahat perang karena telah memimpin Jepang terjun dalam Perang Dunia 2 dan memerangi China serta menduduki Korea. Setiap kunjungan seorang perdana menteri Jepang ke Kuil Yasukuni menimbulkan luka pada China dan Korea. Kalau masalah ini dapat dipecahkan secara efektif dengan satu win-win solution, maka tuduhan terhadap Jepang menjadi militeristis kembali ketika berubah menjadi “negara normal” mungkin sekali akan dapat dielakkan atau diatasi melalui perundingan yang saling memahami.

Dapatkah Indonesia menyarankan kepada Jepang untuk memindahkan abu para pahlawan ke makam lain yang juga terpandang, dengan tetap meninggalkan abu para penjahat perang tetap di Yasukuni ? Dengan begitu rakyat dan pemimpin Jepang tetap dapat menunjukkan penghormatan mereka kepada para pahlawan mereka tanpa dituduh menghormati para pejahat perang. Sebaliknya kepada China dan Korea perlu disadarkan bahwa menghormati pahlawan bangsa adalah hak setiap bangsa dan mereka pun melakukan hal itu. Sebab sebenarnya semua pihak tidak berkepentingan adanya suasana penuh konflik di Asia Timur. Semua juga ingin membangun masa depan yang lebih damai dan sejahtera sebagai bagian dari kehidupan bangsa yang maju.

Mengenai masalah Korea Utara yang oleh Jepang dirasakan sebagai ancaman perlu ada pendekatan yang penuh pemahaman di semua pihak, termasuk AS. Sebab sebenarnya permulaan masalah ada pada AS, khususnya presiden George W. Bush, yang menyatakan ada Axis of Evil atau Poros Kejahatan yang dibntuk oleh Korea Utara, Iran dan Irak. Ketika AS menyerang Irak secara unilateral masuk akal kalau Korea Utara pun merasa terancam akan diserang AS seperti Irak. Apalagi segala usaha pendekatan antara Korea Selatan dan Utara yang dipelopori presiden Kim Dae Jung dan didukung presiden Clinton, oleh presiden Bush ditolak dan dibatalkan semua. AS menolak semua usaha yang menuju perbaikan hubungan dengan Korea Utara. Untuk menangkal serangan AS kemudian Korea Utara membuat senjata nuklir. Ia bersedia membatalkan atau mengakhiri pembuatan senjata nuklir kalau AS bersedia membuka hubungan diplomatik dan menyatakan tidak akan menyerang Korea Utara. Hingga kini AS belum mau melakukan itu dan ini mempersulit penyelesaian masalah Korea Utara.

Adalah aneh bahwa AS yang telah begitu lama hidup dekat dengan orang Korea (lebih dari setengah abad) dan dengan segala orangnya yang pintar, tidak memahami psikologi orang Korea. Atau memang sengaja tidak mau menyelesaikan masalah itu secara arif bijaksana, seperti juga Masalah Palestina, karena berkepentingan adanya ketegangan antara Jepang dengan Korea yang membawa Jepang kepada sikap untuk meningkatkan pertahanannya. Sedangkan ini mau tidak mau mengundang reaksi China yang keras. Maka memang jauh dari mudah untuk memperoleh suasana yang lebih damai dan tenteram di Asia Timur. Sehingga Indonesia di samping berusaha melerai semua pihak di Asia Timur, juga harus bersiap menghadapi keadaan yang lebih serieus di masa depan.

Menghadapi Eropa dan Russia sikap Indonesia adalah bagaimana memanfaatkan keunggulan mereka dalam ekonomi dan produksi alat pertahanan sehingga Indonesia tidak terlalu tergantung pada AS. Kesediaan Eropa dan Russia untuk transfer teknologi merupakan hal yang dapat bermanfaat bagi Indonesia dalam mengembangkan ekonominya dan industri pertahanannya.

Mengenai Timur Tengah Indonesia harus sangat waspada karena dapat menjadi sumber peperangan yang luas. Selama AS kurang sungguh-sungguh sikapnya untuk menyelesaikan Masalah Palestina, apalagi sekarang AS dan Israel sangat bernafsu menyerang Iran, maka umat manusia menghadapi keadaan yang gawat sekali. Tidak mustahil serangan demikian dapat menjadi permulaan dari satu perang yang besar. Kita tidak boleh mengabaikan prediksi bahwa Perang Dunia 3 akan terjadi pada permulaan abad ke 21 dan dimulai di Timur Tengah. Sebab orang yang membuat prediksi itu cukup tepat ketika ia juga menyatakan bahwa Perang Dunia 1 akan pecah pada permulaan abad ke 20 dan Perang Dunia 2 dalam pertengahan abad itu juga. Masalah Timur Tengah diliputi banyak faktor emosi, seperti pertentangan Arab-Zionis dan sekarang kaum Sunni dan Syiah. Di pihak lain banyak pihak luar Timur Tengah sangat berkepentingan dengan kondisi kawasan itu mengingat mereka sangat tergantung pada suplai minyak yang berasal dari kawasan itu.

Kesimpulan akhir yang dapat ditarik adalah bahwa Indonesia memerlukan usaha untuk menjadikan dirinya jauh lebih kuat dan efektif . Itu memerlukan kepemimpinan bangsa yang benar-benar tegar dan kuat untuk menghadapi segala kemungkinan dengan arif dan efektif. Kepemimpinan yang tegar dan kuat itu semoga juga dapat mengajak dan mempengaruhi seluruh bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang jauh lebih efektif dan mampu merealisasikan apa yang menjadi pikiran dan gagasannya. Kunci yang nampaknys amat sederhana itu dalam kenyataan jauh dari mudah untuk dicapai.

Bagaimana kalau Imperium Amerika Runtuh ?

Adalah satu kenyataan yang tak dapat disangkal bahwa Imperium Amerika sekarang menguasai dunia, terutama dalam ekonomi. Meskipun Jepang, China dan Eropa mengejar kejayaan AS dalam ekonomi, tapi nampaknya masih jauh sebelum mereka akan berhasil mencapai tujuan itu.

Namun tidak ada hal apa pun di dunia yang bersifat abadi, termasuk Imperium Amerika Sekalipun begitu, melihat kejayaan AS dewasa ini sebagai satu-satunya adikuasa militer serta dominasinya atas dunia dalam ekonomi dan teknologi, orang sangsi apakah hegemoni AS dapat runtuh. Sebaliknya ada pula yang khawatir hal itu akan terjadi, mengingat implikasinya yang luas atas dunia.

Sebenarnya sudah ada orang-orang yang mengingatkan para pemimpin AS untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan politiknya agar tidak menimbulkan keruntuhan. Paul Kennedy, seorang Inggeris yang menjadi professor sejarah di Universitas Yale AS, adalah penulis yang menonjol dalam mengingatkan para pemimpin AS. Ia katakan bahwa dalam sejarah umat manusia kekuatan-kekuatan besar telah runtuh karena secara berlebihan menggunakan kekuasaannya (overstretch). Itu telah terjadi pada kerajaan Romawi dan terakhir adalah Imperium Britanika yang runtuh karena terlalu meluaskan kekuasaan. Ia menganjurkan agar AS tidak berlebihan dalam usahanya mengembangkan hegemoni atas dunia. [3]

Meskipun peringatan Paul Kennedy cukup beralasan, banyak pakar AS yang menyanggah pernyataannya. Mereka mengatakan bahwa AS tidak pada taraf perluasan kekuasaan yang dapat mengakibatkan overstretch. Malahan mereka mengatakan bahwa menjadi kewajiban AS menggunakan kemampuannya yang besar untuk membawa dunia dan umat manusia kepada keadaan yang lebih baik. Akan tetapi sekarang ketika AS jelas mengalami kesulitan besar di Irak, nampaknya Paul Kennedy tidak terlalu salah.

Ada orang lain lagi yang menunjukkan adanya kerawanan pada Imperium Amerika. Krassimir Petrov, seorang pakar ekonomi Russia, mengatakan bahwa AS akan mengalami kesulitan kalau negara-negara penghasil minyak bumi menetapkan mata uang Euro dalam penjualan minyaknya, dan meninggalkan mata uang ASD sebagaimana sekarang berlaku.[4]

AS sangat berkepentingan bahwa jual-beli minyak di pasar internasional dilakukan dengan mata uang ASD. Dengan begitu semua negara yang mengimpor minyak memerlukan ASD. Untuk itu mereka mengekspor dalam jumlah besar ke AS agar memperoleh ASD yang mereka perlukan. Terutama negara-negara yang memerlukan banyak impor minyak seperti China dan Jepang akan memaksimalkan ekspornya ke AS. Produk mereka yang mempunyai nilai riil masuk AS dan dibayar dengan ASD. Akan tetapi sejak 15 Agustus 1971 AS telah melepaskan mata uang ASD dari emas dan tidak lagi mau menukar mata uang itu dengan emas. Maka ASD yang dipakai membayar impor sebenarnya tidak mempunyai nilai riil, kecuali sebatas kertas dan ongkos cetaknya. Makin banyak ASD dicetak makin menurun nilai riilnya. Itu berarti bahwa negara-negara yang mengekspor ke AS memperoleh ASD yang jauh di bawah nilai produk ekspornya. Mereka bersedia melakukan itu karena memerlukan ASD untuk membeli minyak yang amat mereka butuhkan. Namun kalau ada negara penghasil minyak mengubah sikapnya dan menetapkan mata uang lain, seperti Euro, untuk penjualan minyaknya, negara pembeli minyak harus mempunyai mata uang Euro dan bukan ASD. Kalau banyak negara penghasil minyak berubah sikapnya, maka itu berakibat bahwa keperluan akan ASD sangat berkurang. Dengan sendirinya juga ekspor ke AS untuk memperoleh ASD akan sangat berkurang. Perubahan demikian sangat berpengaruh terhadap kekuasaan AS atas dunia dan dapat berakibat serieus, bahkan meruntuhkan Imperium Amerika.

Ada pula orang yang malahan menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa runtuhnya Imperium Amerika bukan soal akan terjadi atau tidak, melainkan adalah masalah waktu belaka (it is not a matter of “if”, but a matter of “when”). Ravi Batra, warga AS keturunan India dan professor ekonomi yang telah dengan tepat memprediksi runtuhnya Uni Soviet, menulis dalam bukunya The New Golden Age bahwa Imperium Amerika akan runtuh dari dalam dirinya sendiri. Yang menyebabkan adalah politik yang dijalankannya tidak hanya menimbulkan kesenjangan yang makin lebar antara bangsa kaya dan bangsa miskin, tetapi juga antara golongan kaya dengan golongan menengah dan miskin di AS sendiri . Malahan ia memprediksi bahwa proses keruntuhan itu akan mulai pada tahun 2009 dan memuncak pada 2016.[5]

Ia katakan bahwa hegemoni AS atas dunia sekarang hakikatnya hanya menguntungkan kaum pengusaha besarnya belaka dan menimbulkan kemiskinan berat di seluruh dunia. Menurut laporan Bank Dunia sekitar 3 milyard orang atau separuh penduduk dunia, tergolong miskin dengan penghasilan kurang dari ASD 2 sehari. Sekitar 1 milyard orang lagi keadaannya lebih celaka karena hanya hidup dengan kurang dari ASD 1 sehari.. [6] Bahkan di AS sendiri jumlah orang miskin bertambah dengan sekitar satu juta setiap tahun.

Politik AS telah memanfaatkan kepentingan bangsa-bangsa lain untuk mengekspor sebanyak-banyaknya ke AS, sebagaimana sudah diuraikan, yaitu untuk memperoleh banyak ASD. Defisit perdagangan AS yang membengkak sebagai akibat besarnya impor dibandingkan ekspor memberikan kepada konsumen AS peluang untuk menikmati pemakaian hasil produksi bangsa lain yang relatif murah dengan kualitas yang tidak kalah dari hasil produksi AS sendiri. Di pihak lain meningkatkan jumlah ASD yang dipegang negara lain Kita melihat betapa terus meningkat jumlah ASD pada negara-negara seperti China dan Jepang. Juga banyak negara lain seperti Indonesia, berusaha memaksimalkan ekspornya ke AS dan bertambah ASD yang dimilikinya. Anehnya adalah bahwa negara-negara itu tidak keberatan justru membiayai deficit perdagangan AS dengan banyak mengalirkan kembali ASD mereka ke AS. Maka keadaan inilah merupakan neo-kolonialisme AS atas dunia, sebagaimana sudah diuraikan sebelumnya.

Meskipun begitu negara-negara lain tidak keberatan untuk terus mengekspor dalam jumlah besar ke AS, karena juga meningkatkan ekonominya sendiri. Produknya terjual dan karena itu produksinya dapat terus berjalan. Dengan begitu dapat disediakan kesempatan kerja makin banyak pada rakyatnya yang berakibat pula pada peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Peningkatan produksi juga akan menambah kecakapan dan kemampuannya. Apalagi karena kaum industrialis AS melakukan investasi di negara-negara itu untuk mengambil keuntungan dari ongkos produksi yang lebih rendah dari di AS. Malahan negara-negara itu umumnya berusaha menarik investasi sebanyak-banyaknya dari kaum industralis AS dan perusahaan multinasionalnya.

Akan tetapi dengan begitu di AS sendiri terjadi perongrongan (hollowing process) terhadap kemampuan industrinya, khususnya manufaktur, ketika para pengusaha mengalihkan produksinya ke negara-negara yang lebih murah ongkos produksinya. Makin banyak daerah AS kehilangan pabrik-pabrik yang memberikan lapangan kerja bagi rakyatnya. Tidak saja terjadi peningkatan jumlah penganggur, tetapi juga upah kaum pekerja makin turun. Ini kemudian meluas sehingga juga menyangkut kaum menengah.

Inilah alasan yang dilihat Ravi Batra mengapa di AS akan terjadi perubahan dari dalam tubuhnya sendiri yang meruntuhkan hegemoninya di dunia. Tekanan yang makin berat meningkat bagi kaum menengah yang tidak saja kehilangan pekerjaan tetapi juga harus membayar pajak yang relatif tinggi dibandingkan dengan kaum kaya yang justru diringankan pajaknya. Kondisi yang makin memberatkan itu dapat menimbulkan sikap yang tidak mau hal ini diperpanjang lagi. Apalagi ketika harga minyak makin tinggi yang tentu lebih dirasakan beratnya oleh golongan masyarakat menengah dan kecil.. Di samping itu perbedaan penghasilan antara yang kaya dengan yang miskin justru melebar, seperti antara para pimpinan perusahaan besar dan kaum pekerjanya. Melihat perkembangan di masyarakat AS kemudian Ravi Batra berani memprediksi bahwa proses perlawanan dari yang miskin terhadap yang kaya akan mulai sekitar 2009 dan berhasil sekitar 2016. Kesulitan di Irak memperkuat semangat untuk perubahan karena yang menjadi korban lebih banyak berasal dari kalangan menengah dan miskin.

Perlawanan itu divisualisasikan bukan dalam revolusi berdarah, tetapi dalam perubahan radikal penggunaan voting dalam pemilihan umum. Akan dipilih orang-orang yang berbeda pandangannya yang lebih berorientasi kepada kepentingan rakyat kecil dan golongan menengah yang beda sekali dari kepentingan para pemimpin sekarang. Sekarang para pemimpin baik di partai Republik maupun Demokrat, umumnya berkiblat pada kaum modal besar. Para pemimpin AS baru hasil pilihan kaum menengah dan miskin yang marah adalah orang-orang yang orientasinya lebih mengarah ke dalam bangsanya sendiri. Hal ini tentu mengubah pula pandangan AS terhadap perannya di dunia internasional dengan mengurangi ambisi hegemoninya. Dengan begitu berakhirlah Imperium Amerika.

Tentu ada pandangan di AS yang menolak perkiraan Ravi Batra, sebagaimana sebelumnya juga penolakan terhadap pandangan Paul Kennedy. Akan tetapi bagi kita lebih penting untuk bersikap waspada dan menyiapkan diri terhadap kemungkinan adanya perubahan radikal di AS itu.

Runtuhnya hegemoni dan dengan begitu juga Imperium Amerika akan mempunyai dampak yang sangat luas di dunia mengingat peran AS yang sekarang amat menonjol dalam hampir semua aspek kehidupan.

Perubahan itu akan membuat peran Asia Timur makin penting karena kekuatan dan kemampuan negara-negara yang ada di kawasan itu. Pasti hal itu memberikan peluang kepada Indonesia untuk dapat berkembang lebih maju berdasarkan kepentingan dan jati dirinya sendiri.

Hubungan antara bangsa-bangsa Asia Timur akan lebih menguat dengan China dan Jepang sebagai aktor utama, ditambah dengan India kalau bangsa itu bergabung dengan bangsa-bangsa Asia Timur. Meskipun peran Indonesia tidak akan sekuat negara-negara itu, namun tidak mungkin dapat diabaikan.

Berbagai kondisi obyektif dan potensi yang ada pada Indonesia, khususnya posisi geografis yang bernilai strategis, jumlah penduduk yang dapat memberikan berbagai manfaat seperti sebagai pasar yang luas, potensi sumber daya alam yang sekalipun telah banyak disalah-kelola namun tetap cukup besar untuk menimbulkan manfaat penting; itu semua merupakan faktor yang menjadikan Indonesia tidak mungkin diabaikan dalam susunan baru Asia Timur tanpa AS.

Maka kepemipinan di Indonesia pada tingkat nasional dan daerah makin ditantang agar dapat memanfaatkan kondisi obyektif itu semaksimal mungkin untuk menciptakan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat seluruhnya secara adil dan merata. Itu semua sangat tergantung pada Kualitas, baik yang dikembangkan para pemimpin di segala aspek kehidupan maupun rakyat pada umumnya.

Akan tetapi harus selalu kita sadari bahwa itu semua tergantung pada kita sendiri sebagai bangsa dan tidak pada bangsa lain. Sebab itu kita harus sanggup dan mampu makin menghilangkan sifat-sifat pribadi yang seringkali menjadi sebab utama dari berbagai ketidakberhasilan, bahkan kegagalan. Sebaliknya kita makin mampu mengembangkan sifat-sifat positif yang kita miliki sebagai pribadi maupun ada pada masyarakat kita sebagai modal bagi suksesnya perjuangan kita

Semoga Tuhan selalu beserta kita dan meridhoi perjuangan kita !


[1] George Mc T. Kahin, Southeast Asia : A Testament , London : Routhledge Curzon 2003, hal 118-125

[2] Sayidiman Suryohadiprojo, Indonesia-US Relations, No Easy Matter, majalah Duta edisi September 2006, , Jakarta

[3] Paul Kennedy, The Rise and Fall of the Great Powers, Random House, New York 1986

[4] Krassimir Petrov dalam Military Technology, Moench Publishing House, Bonn 2006

[5] Ravi Batra, The New Golden Age, Palgrave Macmillan, New York 2007

[6] The World Bank, World Development Report, Attacking Poverty, Oxford University Press, 2000

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post