Mar 4

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Mantan Gubernur Lemhannas Amat menggembirakan, pada tahun 2006 terjadi perubahan dalam sikap masyarakat Indonesia yang ingin Pancasila direvitalisasi dan dikembangkan dalam kehidupan bangsa. Ini satu perubahan dari keadaan saat Pancasila dilecehkan, bahkan ditolak oleh banyak kalangan, termasuk kaum muda. Harus diakui, banyak penyelewengan dilakukan dengan kedok Pancasila. Namun itu bukan alasan untuk menolak dan membuang Pancasila. Sukar dibayangkan kehidupan bangsa Indonesia yang sungguh- sungguh sejahtera lahir batin tanpa Pancasila yang merupakan formulasi sikap budaya Indonesia. Di satu pihak, kebudayaan Indonesia terbentuk dari aneka ragam budaya yang merupakan hasil budidaya berbagai suku bangsa Indonesia. Di pihak lain, ada garis merah yang menunjukkan persamaan sikap hidup di antara sekian banyak suku bangsa Indonesia. Itulah yang digali Bung Karno, presiden pertama, dari kehidupan bangsa Indonesia. Kita bersyukur, para Pendiri Bangsa Indonesia menerima pendapat Bung Karno untuk menjadikan read more .....

Feb 28

Sayidiman Suryohadiprojo Bangsa Indonesia sejak jatuh dalam krisis pada tahun 1997 hingga kini belum juga normal kembali. Reformasi yang dilakukan pada tahun 1998 tidak berhasil membawa kita kepada keadaan yang kita inginkan. Padahal semua orang sudah mendambakan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin, sebagaimana tujuan perjuangan kemerdekaan kita. Apalagi kalau melihat betapa bangsa lain di keliling kita maju. Dalam kehidupan manusia ada faktor-faktor obyektif yang tidak dapat dihindari, apabila hendak dicapai satu tujuan. Salah satu faktor yang penting adalah disiplin. Disiplin atau taat kepada ketentuan yang berlaku selalu diperlukan untuk mencapai satu tujuan. Lee Kuan Yew, menteri senior di pemerintah Singapore dan orang yang paling bertanggung jawab atas pembangunan negara-kota itu, pernah berkata bahwa untuk bangsa-bangsa Asia disiplin lebih penting dari pada demokrasi. Mungkin ucapan itu berlebihan, tetapi toh mengandung banyak kebenaran. Itu dibuktikan oleh keberhasilan Singapore mencapai kesejahteraan tinggi dalam read more .....

Feb 27

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 27 Februari 2007 Pendahuluan Negara kita Republik Indonesia sedang dalam keadaan terpuruk sekarang ini. Jauh sekali dari keadaan yang kita kehendaki ketika memproklamasikan kemerdekaan. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 tidak kurang dari 17,75% penduduk atau 39,1 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan, yaitu penghasilan kurang dari AS $ 1,55 sehari. Malahan Bank Dunia mengatakan bahwa 49% penduduk Indonesia atau 108,78 juta orang mempunyai penghasilan yang kurang dari AS $ 2 sehari. Sedangkan sebanyak 10,93 juta orang menurut BPS menjadi penganggur. Kondisi rakyat yang miskin itu diperberat dengan berbagai kesulitan untuk menyekolahkan anak mereka, karena tidak ada pendidikan yang bebas biaya dan malahan menjadi makin mahal bagi rakyat. Ketentuan Wajib Belajar seharusnya mengandung makna bahwa pendidikan yang diberikan dalam rangka Wajib Belajar itu gratis, tetapi dalam kenyataan tidak demikian. Padahal pendidikan begitu penting bagi bangsa. . Keadaan yang sudah berat itu read more .....

Jan 9

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 9 Januari 2007 Beberapa hari yang lalu Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menegaskan betapa pentingnya ketahanan pangan dan karena itu Indonesia harus dapat mencapai kemampuan swasembada pangan, paling lambat pada tahun 2009. Sebenarnya masalah swasembada pangan sudah sejak lama dibicarakan dan diusahakan di Indonesia. Jelas sekali pada permulaan Orde Baru, berarti tahun 1966, hal itu sudah mencuat. Indonesia pada tahun 1970-an merupakan negara pengimpor beras terbesar. Setiap tahun harus didatangkan beras dari berbagai negara, termasuk AS, Jepang, Thailand, yang dengan sendirinya makan biaya nasional tidak sedikit. Hal ini sebetulnya amat memalukan, karena Indonesia mempunyai wilayah daratan yang luas dan banyak bagiannya adalah tanah subur. Sedangkan Jepang yang hanya maksimum 30% daratannya dapat ditanami, malahan dapat mengekspor beras. Maka waktu itu dipikirkan bagaimana mengatasi kelemahan demikian yang menunjukkan rendahnya ketahanan pangan yang mempengaruhi ketahanan nasional secara read more .....

Jan 3

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Belum lama ini ada berita bahwa Dinas Intelijen AS mengeluarkan prediksi tentang kekuatan negara di dunia tahun 2020. Dalam prediksi itu, Indonesia diperkirakan menjadi negara ke-5 atau ke-6 di dunia setelah AS, China, India, Brasil, dan Jepang. Melihat kondisi Indonesia dewasa ini timbul pertanyaan apakah itu mungkin dapat terjadi. Mungkin sekali yang dipakai sebagai ukuran adalah Produk Domestik Bruto, PDB, atau Gross Domestic Product (GDP) yang dicapai Indonesia pada tahun 2020. Ada sementara pakar ekonomi mengatakan bahwa mungkin saja itu terjadi, mengingat besarnya sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Akan tetapi mungkin sekali angka PDB Indonesia akan jauh lebih tinggi dari angka Produk Nasional Bruto PNB, atau Gross National Product (GNP). Seperti kita ketahui, angka PDB menunjukkan seluruh produksi yang terjadi di bumi Indonesia, baik dari produsen Indonesia maupun pihak asing. Sementara itu, PNB adalah produksi bangsa Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri. PDB tinggi itu lebih read more .....

Jan 1

By Sayidiman Suryohadiprojo A Land of Potentials We have just left the Year 2006 and are now entering 2007. Many things have happened in the previous year, both in Indonesia as well as in the world at large. Some have brought happiness to many people, but many have caused misery and tragedies. However, whatever has happened humanity is moving forward with all its positive and negative consequences to the life of individuals and nations. One specific phenomena is that almost every body, individuals-communities-nations, want to have a better life for him and herself. But the pursuit for betterment has not always been going along peaceful and easy roads. The differences in mind and interests have caused problems in Men’s pursuit of more happiness and progress, some even serious. It is therefore important for every body that they are capable to tackle and solve their problems wisely and effectively. It has proved that some nations, even with their relatively advanced material capability and financial wealth, have not been very read more .....

Sep 21

Pemantapan Nilai Kejuangan TNI penting bagi masa depan Indonesia. Pemantapan Nilai Kejuangan TNI akan membuat TNI lebih mampu dan efektif dalam menjaga Kedaulatan Negara dengan menjalankan Pertahanan Negara dan Bangsa. Meskipun serangan dari negara lain terhadap wilayah Indonesia pada waktu ini mungkin bukan hal yang akut, tetapi TNI harus selalu menjaga Daya Tangkal bangsa. Mutunya sebagai tentara professional, tentara rakyat dan tentara nasional harus ditingkatkan dengan melakukan Pemantapan Nilai Kejuangan TNI. Efektivitas Daya Tangkal itu akan makin mengurangi kemungkinan terjadinya gangguan dari luar, seperti Masalah Ambalat beberapa waktu yang lalu. Juga akan mengurangi hasrat untuk mengganggu Negara dari dalam. Jaminan terhadap keamanan nasional itu memperkuat kondisi bangsa untuk membangun kesejahteraan yang lebih tinggi bagi rakyat seleruhnya. Di samping itu menyediakan posisi tawar (leverage) yang bernilai bagi diplomasi Indonesia dan hubungan internasionalnya. Pemantapan Nilai Kejuangan TNI juga penting untuk menghadapi read more .....

Sep 21

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) Pendahuluan Makalah ini disajikan sesuai permintaan ASTER Panglima TNI dalam rangka penyelenggaraan Silaturahmi Panglima TNI dengan para Sesepuh dan Generasi Penerus TNI pada tanggal 21 September 2006 di Markas Besar TNI-AL Cilangkap, Jakarta. Mengapa Pemantapan Nilai-Nilai Kejuangan TNI perlu dilakukan Negara Republik Indonesia sedang dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan. Meskipun sejak tahun 1998 dilakukan Reformasi, namun keadaan setelah Reformasi tidak bertambah baik dibandingkan sebelumnya. Selain negara ditimpa berbagai bencana alam yang dahsyat akibatnya serta amat merugikan kehidupan rakyat, juga berbagai perkembangan sebagai akibat olah manusia telah menimbulkan keadaan yang justru menyengsarakan rakyat. Salah satu perkembangan bangsa yang amat mengkhawatirkan adalah usaha golongan tertentu yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Keadaan nasional yang kurang menguntungkan diperberat oleh perkembangan internasional yang juga banyak menimbulkan dampak negatif bagi read more .....

Jul 4

Sayidiman Suryohadiprojo Tampak ada kekhawatiran pada sementara orang bahwa pemerintah Indonesia sukar mengelak terhadap berbagai tekanan AS. Orang khawatir bahwa karena tekanan AS bangsa Indonesia akan berkembang ke arah yang kurang sesuai dengan aspirasinya, khususnya dalam bidang ekonomi. Memang sebagai negara yang masih penuh kelemahan tidak mudah bagi Indonesia untuk mengambil sikap yang mengabaikan kehendak AS sebagai satu-satunya superpower. Namun kekhawatiran demikian tidak perlu ada kalau masyarakat Indonesia tangguh dalam mengusahakan aspirasinya, sekalipun itu tidak sesuai dengan kehendak AS. Ada cukup bukti dalam sejarah tentang hal demikian. Pertama adalah bukti dari perkembangan Jepang setelah Perang Dunia 2. Setelah kalah perang Jepang sepenuhnya dikuasai AS sehingga nampaknya seperti daerah jajahannya. Segala hal ditetapkan AS, termasuk UUD Jepang dibuat konsepnya oleh AS. Namun terbukti bahwa Jepang tidak menjadi daerah jajahan AS. Memang pemerintah Jepang hampir dalam segala hal harus menuruti kehendak AS. Baru read more .....

Jun 26

Sayidiman Suryohadiprojo Orang manja adalah orang yang lemah, sebab itu manusia Indonesia janganlah menjadi manja. Seringkali orang beranggapan bahwa manusia yang lahir dan besar di bagian bumi sekitar khatulistiwa dengan iklimnya yang tidak mengenal salju, dimanjakan oleh kondisi itu. Apalagi kalau negaranya kaya sumberdaya alam seperti Indonesia. Akibatnya adalah bahwa manusia dari sekitar khatulistiwa dianggap kurang ulet dan kalah kuat dari manusia yang tumbuh di bagian bumi dengan empat musim. Belakangan ini ada gejala yang mengarah ke keadaan seperti itu. Setelah ada Ujian Nasional (UN) bagi siswa SMP dan SMA/SMK terdapat siswa yang tidak lulus. Sebenarnya adalah hal yang normal bahwa di setiap ujian ada yang lulus dan yang tidak. Hal demikian tidak hanya terjadi di Indonesia. Akan tetapi berhubung pelaksanaan UN telah mengundang perdebatan yang seru, maka hal-hal yang terjadi setelah UN selesai merupakan alasan baru untuk menyerang UN. Ada berita bahwa ada murid yang tidak lulus berusaha membakar sekolahnya, ada pula yang read more .....