Lembaga Pendidikan Islam Dalam Era Globalisasi (1/2)

Posted by Admin on Wednesday, 20 February 2002 | Makalah, Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Jakarta 20 Februari 2002

Pendahuluan

Kebangkitan Islam yang sedang terjadi adalah satu fenomena yang erat hubungannya dengan perkembangan umat manusia. Di masa lalu dari abad ke 7 hingga abad ke 19 Masehi, Islam serta peradaban yang dibentuknya mempunyai pengaruh yang tidak sedikit terhadap perkembangan umat manusia, termasuk tumbuhnya dunia Barat sebagai kekuatan yang menguasai dunia sejak abad ke 17 hingga sekarang. Pengaruh itu antara lain terlihat dalam Renaissance yang merupakan kebangkitan Eropa Barat dari Masa Kegelapan dan menjadi permulaan dari pertumbuhan peradaban Barat.

Akan tetapi sejak akhir abad ke 19 Islam mengalami gelombang surut ketika dunia Barat justru mencapai puncak perkembangannya. Pada waktu itu seakan-akan Islam sama sekali tidak ada artinya dalam kehidupan umat manusia. Bahkan Islam disamakan dengan keterbelakangan dan kemelaratan. Sebaliknya Barat mendominasi seluruh umat manusia, terutama karena penguasaannya atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Barat pada waktu itu dianggap sebagai simbol kemajuan dan kesejahteraan.

Namun dalam alam ini tidak ada satu pun yang permanen, kecuali Allah Tuhan Yang Maha Esa. Demikian pula dalam kehidupan umat manusia selalu ada gelombang naik dan gelombang surut. Maka sejak abad ke 20 tampak permulaan dari kebangkitan kembali Islam. Terjadi satu Revitalisasi dari umat Islam yang selama lebih dari satu abad telah berada dalam kurve menurun. Sebagaimana kemajuan peradaban Islam di masa lalu telah merangsang terjadinya Renaissance dunia Barat, maka sebaliknya perkembangan peradaban Barat menciptakan kondisi umat manusia yang membuat umat Islam bangkit kembali.

Peradaban Barat telah menghasilkan kemajuan besar dan pesat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu berakibat terjadinya globalisasi, yaitu proses yang makin mendekatkan bagian umat manusia yang satu dengan yang lain sehingga seakan-akan dunia makin kecil dan tidak ada sesuatu terjadi yang tidak berdampak pada seluruh dunia dan umat manusia. Revitalisasi Islam berada dalam dunia dan umat manusia yang sedang dalam proses globalisasi itu. Karena itu mau tidak mau merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan atau dilepaskan dari proses itu.

Dalam perkembangan setiap peradaban kegiatan pendidikan mempunyai peran yang amat penting. Lebih-lebih dalam globalisasi peran pendidikan sangat menentukan bagi umat manusia. Bangsa yang tidak menjalankan pendidikan yang memadai akan tertinggal dalam proses globalisasi yang penuh persaingan antara bangsa satu dengan yang lain. Oleh sebab itu arah dan perkembangan Islam sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang dilakukan umat Islam.

Berbagai persoalan globalisasi yang dihadapi Kebangkitan Islam

Kebangkitan Islam adalah satu proses penuh perubahan yang dilakukan umat Islam untuk mewujudkan kehidupan yang maju dan sejahtera setingkat dengan umat manusia lainnya yang sudah lebih dahulu mencapai kondisi demikian . Dengan perkataan lain, umat Islam kembali membentuk peradaban yang setingkat dengan peradaban lainnya.

Satu peradaban menunjukkan kehidupan spiritual dan material yang menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya peradaban itu. Sebab itu umat Islam membangun kehidupan spiritual dan moral sesuai dengan ajaran Islam untuk menjadi pemicu bagi seluruh kehidupan umat Islam yang bermakna. Di pihak lain diwujudkan pula perubahan dalam kondisi material umat Islam untuk menciptakan kesejahteraan yang makin meningkat. Semakin tinggi hasil pembangunan moral-spiritual dan material itu semakin tercipta peradaban Islam masa kini yang tinggi tingkatnya. Dan itu menjadi ukuran keberhasilan Kebangkitan Islam.

Usaha demikian bukannya tanpa tantangan dan kendala yang seringkali amat berat dan karena itu harus dilihat sebagai satu perjuangan Tantangan dan kendala itu ada yang datang dari dalam tubuh umat Islam sendiri dan ada pula yang datang dari luar. Kebangkitan moral-spiritual akan menjadi satu kekuatan pendorong yang amat penting, tetapi harus dapat mengatasi kondisi mental yang di banyak bagian umat Islam masih merupakan rintangan bagi terwujudnya kebangkitan moral-spiritual itu. Kondisi mental ini mempunyai banyak segi, seperti lemahnya pelaksanaan ajaran Islam disebabkan banyak hal antara lain kuatnya kebiasaan tertentu dan kurangnya kekuatan kehendak. Kondisi mental lain yang merupakan kendala adalah kurangnya keseimbangan antara daya nalar atau rasio dengan daya rasa atau emosi. Hal itu dapat menimbulkan cara berpikir yang kurang cekatan dan mampu untuk melakukan penyesuaian dengan perkembangan umat manusia di kelilingnya. Juga kenyataan bahwa sukar sekali mencapai kesatuan pandangan di kalangan umat Islam merupakan tantangan berat bagi kebangkitan moral-spiritual yang kuat. Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dan bahkan bermanfaat untuk memperoleh pandangan yang luas tentang satu persoalan. Akan tetapi perbedaan pendapat harus diimbangi dengan kemampuan mencapai keputusan yang menguntungkan semua pihak (Win-Win Solution). Dengan begitu akan lebih terjamin kekompakan dan kemantapan perjuangan. .

Dalam pada itu kebangkitan material menghadapi kendala berupa tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang umumnya masih rendah. Hal ini sangat berbeda dengan masa lampau ketika justru umat Islam memegang peran penting dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selama kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kurang memadai, umat Islam tidak dapat membangun kemampuan ekonomi yang dapat menciptakan aneka ragam produksi dan jasa. Akibatnya tidak saja pada terbatasnya produktivitas, akumulasi modal dan rendahnya penghasilan, tetapi juga berpengaruh terhadap kemajuan berkreasi dalam segala aspek kebudayaan. Juga kemampuan berpolitik akan kurang berkembang. Kemampuan membela dan mengamankan diri juga menjadi terbatas kalau penghasilan dan produksi rendah. Alhasil, seluruh kesejahteraan tidak berada pada tingkat yang tinggi. Agar supaya Kebangkitan Islam membawa masa depan yang lebih cerah dan maju bagi umat Islam, harus terjadi berbagai perubahan yang menuntut adanya aneka macam usaha yang harus dilakukan umat Islam. Oleh sebab itu diperlukan Revitalisasi Islam, yaitu umat Islam yang penuh vitalitas atau daya hidup untuk melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan perubahan ke arah kemajuan.

Di pihak lain perkembangan ini pasti menyentuh kehidupan umat manusia lainnya, termasuk dunia Barat. Merupakan sifat manusia untuk sukar meninggalkan satu kondisi di mana ia berkuasa atau mendominasi pihak lain. Lebih-lebih lagi kalau yang dikuasai mencapai kondisi baru yang menyamai posisi dan status pihak yang menguasai. Sebab itu masuk akal kalau dunia Barat yang sejak abad ke 16 mendominasi dunia dan umat manusia sangat berat untuk menerima perubahan yang menjadikan pihak-pihak yang dikuasainya setingkat dengan Barat. Dunia Barat nampak sangat berat untuk menerima kemajuan Jepang dan bangsa Asia lainnya, demikian pula dunia Barat enggan melihat terjadinya Kebangkitan Islam yang akan menjadikan umat Islam setingkat dengan manusia Barat. Hal ini makin terasa sejak berakhirnya Perang Dingin antara dunia Barat dan dunia Komunis yang dimenangkan Barat. Kondisi psikologis yang timbul mengakibatkan berbagai persoalan yang harus diantisipasi oleh umat Islam yang tentu ingin mencapai sukses dalam Kebangkitan Islam.

Baik tantangan dan kendala yang ada dalam tubuh umat Islam sendiri maupun yang timbul dari luar harus dapat diatasi secara memuaskan agar Kebangkitan Islam dapat mencapai hasil yang diinginkan. Maka sangat diperlukan Kepemimpinan dan Pendidikan yang mampu mengajak umat Islam membuat berbagai perubahan yang diperlukan. Perlu ada perubahan sikap dan perilaku dari sikap dan perilaku yang sekarang ada.

Ini semua juga berlaku bagi umat Islam di Indonesia yang merupakan bagian umat Islam terbesar di dunia. Malahan boleh dikatakan bahwa keberhasilan Kebangkitan Islam di Indonesia akan menjadi ujung tombak bagi Kebangkitan Islam di seluruh dunia. Dengan begitu Indonesia mengambil peran dari umat Islam di wilayah Timur Tengah yang di masa lalu merupakan pusat peradaban Islam di dunia. Sebab itu tantangan dan kendala yang datang dari luar umat Islam juga akan lebih kuat tertuju kepada umat Islam di Indonesia. Hal itu sudah tampak sejak dekade terakhir abad ke 20.

Pendidikan di Era Globalisasi

Pendidikan mempunyai peran besar sekali untuk menimbulkan perubahan pada diri umat Islam. Melalui pendidikan dapat dibentuk kondisi mental yang lebih kondusif untuk mengembangkan kebangkitan moral-spiritual yang dikehendaki. Demikian pula penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diusahakan melalui pelaksanaan pendidikan yang tepat. Namun harus pula disadari bahwa hasil dari proses pendidikan baru terasa secara sungguh-sungguh setelah berlalunya satu generasi. Oleh karena Kebangkitan Islam sekarang sudah berjalan maka pendidikan harus dibarengi dengan terbentuknya Kepemimpinan yang dapat menjalankan proses perubahan tersebut sejak sekarang. Bahkan Kepemimpinan itu sangat penting untuk menimbulkan proses pendidikan yang diperlukan.

Proses pendidikan meliputi banyak sekali segi dan sebenarnya setiap kegiatan manusia mengandung unsur pendidikan. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan meliputi sistem sekolah dan pendidikan luar sekolah. Dua hal itu harus saling mendukung untuk mencapai hasil yang optimal. Dalam pendidikan luar sekolah yang amat besar perannya adalah pendidikan di lingkungan keluarga. Sebab di lingkungan keluarga manusia lahir dan tumbuh di masa yang paling menentukan bagi pembentukan kepribadiannya.

Hal ini terutama terasa dalam Era Globalisasi yang membuat setiap unsur masyarakat makin intensif hubungannya dengan unsur masyarakat lainnya, demikian pula dengan unsur masyarakat luar negeri. Hubungan itu dapat berupa kerjasama atau persaingan yang dalam Era Globalisasi makin intensif kondisinya. Akibatnya adalah bahwa tidak cukup hanya sebagian kecil masyarakat bermutu tinggi untuk mencapai kemajuan satu bangsa atau satu umat. Harus sebanyak mungkin warga masyarakat mempunyai mutu tinggi untuk dapat melakukan kerjasama dan persaingan bangsa dan umat. Hal ini menimbulkan tantangan yang amat berat, yaitu harus ada pendidikan yang besar kuantitasnya sehingga meliputi sebanyak mungkin warga masyarakat, maupun setinggi mungkin kualitasnya untuk seluruh pendidikan yang diselenggarakan. Hal ini merupakan tantangan besar untuk pengadaan dan penyediaan Sumberdaya, baik Sumberdaya Manusia, Sumberdaya Uang maupun Sumberdaya Material. Dan karena sumberdaya pada dasarnya adalah langka, maka timbul tantangan kuat terhadap kemampuan Manajemen Pendidikan di satu pihak dan di pihak lain adanya Komitmen yang kuat pada Kepemimpinan Bangsa untuk pengadaan Sumberdaya itu.

Sebagaimana telah dikemukakan, pengaruh dari pendidikan luar sekolah, khususnya pendidikan di lingkungan keluarga, amat besar terhadap seluruh proses pendidikan. Amat besar peran orang tua dalam membentuk kepribadian anak yang sudah mulai dibentuk sejak kecil sebelum masuk sekolah. Sebab itu harus ada usaha yang kuat dan sistematis agar para orang tua memainkan peran itu dengan sebaik-baiknya. Kondisi dan suasana masyarakat serta lingkungan kehidupan pada umumnya berpengaruh kuat terhadap peran orang tua itu.

Pendidikan dasar sebaiknya meliputi masa persekolahan 2 tahun di Taman Kanak-Kanak (TK) dan 6 tahun di Sekolah Dasar (SD). Pendidikan dasar membentuk landasan bagi perkembangan anak dalam segala segi kehidupannya. Pada waktu ini di Indonesia masih belaku ketentuan bahwa pendidikan dasar meliputi Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 tahun, sesuai dengan ketentuan dalam UU no. 2 Th. 1989 tentang Pendidikan Nasional. Sebelum undang-undang itu berlaku, pendidikan dasar hanya SD, sedangkan SMP termasuk pendidikan menengah. Makin terbukti bahwa ketentuan UU no. 2 Th. 1989 itu kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lebih baik kita kembali kepada ketentuan sebelumnya. Di pihak lain Taman Kanak-Kanak (TK) yang dalam UU no.2 itu ditetapkan sebagai pendidikan pra-sekolah, makin terbukti pentingnya bagi pendidikan semua anak kita dan karena itu perlu ditetapkan sebagai bagian dari sistem sekolah. Oleh sebab itu dalam UU Pendidikan baru untuk menggantikan UU no. 2 Th. 1989 sebaiknya ditetapkan bahwa pendidikan dasar meliputi TK 2 tahun dan SD 6 tahun.

Kunci utama untuk memperoleh pendidikan dasar yang bermutu adalah Guru yang bermutu. Meskipun juga fasilitas pendidikan penting artinya, namun manfaat sebenarnya dari kehadiran fasilitas ditentukan oleh Guru yang bermutu. Oleh sebab itu harus selalu kita perhatikan segala segi yang berhubungan dengan pencapaian kondisi itu. Untuk itu harus ada sistem pendidikan Guru yang tepat dan baik, khususnya untuk Guru yang berfungsi sebagai Guru kelas atau Guru yang mengajarkan semua mata pelajaran. Kedua, harus ada sistem penggajian Guru yang memungkinkan seorang Guru berkonsentrasi kepada pekerjaannya di satu sekolah tertentu. Ketiga, harus diciptakan status sosial Guru yang menjadikan professi Guru terpandang dan menarik dalam masyarakat. Ketiga hal ini pada waktu sekarang belum terpenuhi di Indonesia. Oleh sebab itu boleh dikatakan bahwa pendidikan dasar di Indonesia masih amat lemah. Mungkin ada Sekolah Dasar yang baik mutunya, tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah anak didik yang semuanya harus menjalani pendidikan dasar guna kehidupan lebih lanjut. Apalagi jumlah TK masih sangat terbatas sehingga baru terjangkau oleh jumlah anak yang terbatas.

Pendidikan Menengah yang terdiri dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melanjutkan proses pendidikan dan pengajaran bagi anak didik. Sebaiknya Sekolah Menengah Umum (SMU) diadakan untuk mendidik anak-anak yang tingkat inteligensinya tepat untuk nantinya melanjutkan ke Universitas, yaitu yang lebih berminat kepada penguasaan ilmu pengetahuan ketimbang ingin cepat mempunyai keahlian untuk memperoleh penghasilan. Jadi SMU adalah semacam pendidikan pra-universitas. Sebab itu sudah mulai di SMP sudah harus ada penjurusan dalam SMP yang mempersiapkan murid untuk melanjutkan ke SMU, atau SMP Umum, dan SMP Kejuruan yang memungkinkan muridnya secepat mungkin mempunyai keahlian untuk dapat memperoleh penghasilan. Di SMP Umum pun perlu ada seleksi siapa yang cocok untuk terus ke SMU dan siapa yang melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk kemudian terjun ke masyarakat dengan memperoleh penghasilan yang baik. Sebab itu SMP Kejuruan dan SMK menyiapkan anak agar menguasai satu profesi tertentu dan karena itu SMP Kejuruan dan SMK beraneka ragam jenisnya. Lulusannya siap untuk bekerja dan sangat diperlukan untuk mengisi pekerjaan kader bawah dan menengah dalam setiap professi. Akan tetapi lulusan SMK dapat juga melanjutkan studi dalam professinya dengan masuk pendidikan tinggi yang menyangkut professi tersebut, seperti Politeknik dan Sekolah Tinggi Kejuruan . Pada tingkat pendidikan dasar peran Guru sangat menonjol dibandingkan dengan fasilitas pendidikan, meskipun tidak berarti pendidikan dasar tidak memerlukan fasilitas pendidikan yang baik. Di pendidikan menengah peran Guru maupun fasilitas pendidikan sama pentingnya. Sukar dilakukan pendidikan yang baik di satu SMK-Teknik umpamanya, kalau sekolah itu tidak mempunyai laboratorium dan bengkel yang memadai. Satu SMU yang menjaga mutunya memerlukan perpustakaan yang banyak bukunya di samping adanya ruang kelas untuk pelajaran ilmu kimia dan ilmu alam dengan peralatannya yang lengkap. Tentu Guru di pendidikan menengah juga harus dijaga mutunya. Setiap Guru harus menguasai sekurang-kurangnya satu mata pelajaran dengan baik. Maka dari itu tetap berlaku tiga syarat bagi mutu Guru, yaitu pendidikannya, sistem penggajiannya dan status sosialnya. Di Indonesia ada SMP, SMU dan SMK yang baik, tetapi juga dalam hal ini jumlah SMP, SMU dan SMK yang baik jauh di bawah keperluan mendidik begitu banyak anak didik. Oleh sebab itu peran umat Islam untuk membangun pendidikan menengah yang baik sangat penting bagi perkembangan umat Islam khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Di lingkungan umat Islam ada pendidikan dasar dan menengah yang dilakukan dalam Madrasah Ibitidaiyah yang setingkat SD, Madrasah Tsanawiyah setingkat SMP dan Madrasah Aliyah setingkat SMU. Adanya pendidikan melalui madrasah bermaksud untuk menjamin bahwa anak didik mendapat pendidikan Islam yang baik dan lengkap. Meskipun demikian, sistem madrasah itu tidak boleh mengabaikan pemberian pendidikan umum yang memadai. Tanpa itu anak didiknya akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya setelah keluar dari pendidikan itu, antara lain kalah kesempatan dibandingkan anak lulusan sistem sekolahan biasa. Sebab itu sebaiknya sistem madrasah juga memberikan pendidikan yang sama dengan SD, SMP dan SMU, di samping pendidikan agama Islam. Agar pembelajarannya tidak memberatkan anak didik dan mengurangi manfaat pendidikan, harus ada pertimbangan yang mendalam dan saksama dalam pembuatan kurikulum setiap tingkat pendidikan madrasah.

Memperhatikan hal-hal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia dewasa ini menghadapi kendala yang cukup sukar dan berat. Pendidikan di lingkungan keluarga masih sangat banyak memerlukan perbaikan. Pendidikan dasar dan menengah hanya mempunyai sekolah bermutu dalam jumlah terbatas, baik yang milik Pemerintah maupun Swasta, sehingga belum cukup menghasilkan lulusan yang memadai untuk pelaksanaan pendidikan tinggi yang luas dan bermutu. Selain itu sistem madrasah belum menghasilkan pendidikan umum yang setingkat dengan sistem sekolahan biasa. Hal ini membawa konsekuensi bahwa tidak mustahil ada sejumlah mahasiswa yang bermutu, tetapi mayoritas mahasiswa sebagai calon kader bangsa atau umat masih belum dapat dijamin mutunya untuk mengisi dan menjalankan aneka ragam pekerjaan dan professi yang ada dalam satu masyarakat Abad ke 21..

Hal ini semua juga berlaku bagi umat Islam yang memperjuangkan Kebangkitan Islam. Khususnya hal ini berlaku bagi umat Islam di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 170 juta orang. Jumlah yang besar itu merupakan asset bagi Kebangkitan Islam dan pertumbuhan bangsa Indonesia, kalau setiap Muslim bermutu tinggi. Akan tetapi sebaliknya kalau mutunya rendah justru menjadi satu liability atau gangguan yang amat berat. Sebab itu umat Islam Indonesia dan terutama para pemimpinnya harus mengembangkan komitmen yang sekuat-kuatnya untuk menyelenggarakan pendidikan yang sebaik-baiknya.

Lanjut Bagian Ke 2 : http://sayidiman.suryohadiprojo.com/?p=1045

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post