Nov 20

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Sekarang dunia sedang diramaikan oleh perang melawan terorisme yang dikumandangkan AS setelah 11 September 2001. Menurut Chalmers Johnson dalam bukunya Blowback (Time Warner Paperbacks, Londonn, 2002) , sebenarnya serangan yang terjadi terhadap AS pada 11 September 2001 tidak lain dari satu blowback atau dampak berbagai tindakan AS yang dilakukan sebelumnya untuk menegakkan hegemoni atas dunia. Sudah lama para hegemoni merupakan acara penting dalam politik luar negeri Amerika. Perang Dingin tidak hanya pergulatan ideologi antara blok Barat dan blok Komunis, tetapi sekali gus persaingan menegakkan hegemoni atas dunia antara AS dan Uni Soviet. Setelah kemenangan blok Barat AS makin gencar lagi menegakkan hegemoninya. Dalam usaha merebut hegemoni itu AS telah melakukan berbagai tindakan secara terbuka dan tertutup yang sukar diterima oleh berbagai kalangan, termasuk banyak kalangan di Timur Tengah. Tindakan terbuka banyak dilakukan dalam bidang ekonomi ketika AS menggunakan Bank Dunia dan IMF untuk read more .....

Nov 17

The Jakarta Post , Jakarta | Mon, 11/17/2003 9:57 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta More and more people are wondering whether democracy is the right political system for Indonesia. Democratic reforms, started in 1958, do not seem to bring improvements to the multidimensional crisis facing the nation. Problems have even increased in number as well as in seriousness. The economy is still vulnerable, the political situation is full of danger because of ethnic divisions and the misbehavior of the political elite, while domestic security has deteriorated. Some people, especially at the grassroots level, are nostalgic for the much more stable and orderly situation of the Soeharto regime. People are inclined to blame democracy as the cause of all these evils, because of the excessive freedoms that developed when democratic reforms began. People today do not pay much attention to the common interest and have become very egoistical in only looking after their own benefits. read more .....

Nov 16

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Ada sifat bangsa Indonesia yang menghambat kemajuan dan perkembangan dirinya. Yang dimaksudkan dengan sifat bangsa adalah gejala yang terdapat secara umum pada satu bangsa atau merupakan sifat mainstream bangsa. Tidak mustahil ada warga bangsa yang sifatnya berbeda, tetapi karena jumlah mereka merupakan minoritas sekali, maka sifat mereka tidak berpengaruh kepada sifat bangsa secara keseluruhan. Salah satu sifat bangsa Indonesia yang amat merugikan kemajuannya adalah kebiasaan umum melakukan perbuatan dan tindakan yang amat berbeda atau bahkan bertentangan dengan ucapan dan pernyataan. Ada dunia yang berlainan antara dunia perbuatan dengan dunia ucapan. Sikap demikian dianggapnya sebagai barang biasa. Sifat itu amat merugikan kehidupan bangsa. Orang beranggapan bahwa dengan ucapan atau pernyataan persoalan terpecahkan. Atau orang percaya bahwa dengan menyatakan sesuatu dengan sendirinya akan terjadi hal yang diucapkan itu. Orang tidak sadar bahwa diperlukan perbuatan untuk menciptakan perubahan pada read more .....

Oct 10

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 10 Oktober 2003 PENDAHULUAN Adalah amat penting untuk membuka wacana tentang industri pertahanan dewasa ini. Perlu membicarakan dan kemudian mengambil keputusan tentang perkembangan industri pertahanan di Indonesia. Sebenarnya yang perlu dibicarakan adalah seluruh industri strategi. Akan tetapi karena belum ada definisi dan bahkan belum ada kesepakatan tentang makna dan pengertian industri strategi, maka tulisan ini membatasi diri pada industri pertahanan. Melihat namanya maka industri pertahanan meliputi seluruh industri yang bersangkutan dengan pertahanan negara. Itu meliputi produksi yang menyangkut amat banyak komoditi karena luasnya kebutuhan pertahanan negara. Namun karena banyak kebutuhan itu tidak beda dengan kebutuhan masyarakat, maka tidak lazim mengkategorikan produksi komoditi demikian sebagai bagian dari industri pertahanan . Seperti banyaknya kertas yang diperlukan yang sekalipun dengan makin meningkatnya peran komputer dapat sangat dibatasi, namun tetap kegiatan pertahanan read more .....

Oct 7

The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 10/07/2003 7:00 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta Every year on Oct. 5 the Indonesian Military (TNI) celebrates its anniversary. It was 58 years ago that Indonesia developed its national armed forces from the existing People’s Security Agency (BKR). The first name of the armed forces was the Tentara Keamanan Rakyat (People’s Armed Security Forces), later changed to the Tentara Keselamatan Rakyat (People’s Armed Forces for Safety) and then later the Tentara Republik Indonesia (the Republic of Indonesia Military). The latest name change back to the TNI (after the name ABRI or the Indonesian Armed Forces was used from 1964 to 1999) was made to stress that the armed forces represented the people’s struggle against colonialism. This change included the integration of all the armed organizations formed by the people since the proclamation of independence in 1945, like the Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia read more .....

Sep 29

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Sudah lazim orang menganggap Amerika satu superpower, sekurang-kurangnya superpower militer. Akan tetapi Emmanuel Todd, seorang pakar ilmu pengetahuan Perancis berpendapat lain. Bukunya. yang berjudul Apres l’empire. Essai sur la decomposition du systeme Americain (Editions Gallimard, Paris 2002) telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dalam versinya yang bahasa Jerman, yaitu Weltmacht USA, ein Nachruf yang telah diterbitkan Piper Verlag GmbH, Munchen pada tahun 2003, Emmanuel Todd menulis bahwa Amerika bukan superpower , baik dalam ekonomi maupun militer.. Tentang ekonomi cukup disampaikan di sini bahwa Todd menilai besarnya ketergantungan Amerika kepada bangsa-bangsa lain dalam berbagai aspek ekonomi sebagai indikasi bahwa Amerika bukan satu superpower ekonomi yang mengungguli ekonomi dunia. Untuk membahas pandangan Todd bahwa Amerika bukan superpower militer perlu kita telaah pokok-pokok argumentasi Todd. Ia mengatakan bahwa bangsa Amerika mempunyai kelemahan struktural dalam bidang militer. read more .....

Sep 10

The Jakarta Post.com September 10, 2003 Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta It seems that Americans are wondering why more and more Muslims in Indonesia are getting annoyed with America, including the "moderate" Muslims. In The New York Times of Sept. 3, Jane Perlez wrote an article titled Once mild, Islam looks harsher in Indonesia. She said that the moderate strand of Islam in Indonesia is being eroded at a rapid pace and wonders whether the country is becoming the "caliphate" of the 21st century. The U.S. government is sending experts, led by its former ambassador to Syria, Edward P. Djerejian, to Indonesia to find out what is wrong and how the U.S. could come up with a program that would conquer the hearts and minds of Muslims in Indonesia. Perlez also pointed out, however, that given the U.S. is facing so much trouble in winning the hearts and minds of the people in the Middle East, it may well prove to be no easier in Indonesia. It is highly read more .....

Sep 8

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo DALAM rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-58 RI, pengurus pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) mengadakan sarasehan, 14 Agustus 2003. Hal itu tidak mengherankan karena Kagama adalah satu organisasi yang berwibawa dalam masyarakat Indonesia. Bukankah anggota Kagama alumni universitas bangsa Indonesia yang tertua dan banyak lulusannya menjadi pemimpin bangsa dan masyarakat, termasuk menjadi menteri dalam berbagai pemerintahan yang telah berdiri selama sejarah Republik Indonesia? UNIVERSITAS Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga perguruan tinggi yang tua, tetapi mereka merupakan kelanjutan dari perguruan tinggi yang didirikan penjajah Belanda, yaitu Universiteit van Indonesie, sedangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sepenuhnya bentukan bangsa Indonesia tahun 1948. Tidak mengherankan, banyak pemuda dari seluruh Indonesia, termasuk dari luar Jawa, belajar di UGM. Anggota Kagama tidak hanya ada di Jakarta atau Yogyakarta, tetapi di seluruh Tanah Air. Tidak mustahil berita tentang read more .....

Aug 26
Usaha "Meluruskan" Sejarah?
Admin | 08 26th, 2003 | Opini | 1 Comment »

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Mantan Gubernur Lemhannas DALAM rangka peringatan hari ulang tahun ke-58 kemerdekaan bangsa Indonesia, Pengurus Pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) telah mengadakan sarasehan 14 Agustus 2003. Pertemuan itu telah diberitakan secara luas oleh media di Jakarta, antara lain oleh harian ini. Hal itu tidak mengherankan karena KAGAMA merupakan satu organisasi yang berwibawa dalam masyarakat Indonesia. Anggota KAGAMA tidak hanya ada di Jakarta atau Yogyakarta, melainkan di seluruh Tanah Air. Tidak mustahil berita tentang sarasehan 14 Agustus 2003 juga dimuat secara luas di media luar Jakarta. Yang mengherankan, hasil sarasehan yang diberitakan secara luas itu, menimbulkan banyak pertanyaan. Seorang peserta sarasehan yang dikenal sebagai seorang sarjana bergelar doktor dalam ilmu sejarah, antara lain mengatakan bahwa selama ini terjadi kesalahan dalam membangun nasionalisme di Indonesia. Ia katakan, "Indonesia melakukan kesalahan besar karena membangun nasionalisme dengan kekuatan senjata read more .....

Aug 13

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 13 Agustus 2003 PEMIKIRAN DASAR Pendidikan sejak dahulu kala adalah kegiatan dan usaha untuk mengalihkan tata nilai dan kemampuan kepada pihak lain. Biasanya disertai maksud untuk menjadikan pihak penerima dapat hidup lebih sempurna dan lebih bermakna dari pada sebelumnya. Dalam UUD no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dan pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD RI tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan berlangsung dalam keluarga, dalam lembaga pendidikan dan terutama di sekolah, dan dalam masyarakat. read more .....