Nov 7

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 10 November 2008 Adalah menggembirakan bahwa makin banyak orang di Indonesia sadar tentang perlunya transportasi massal yang mempunyai dampak luas dan mendalam pada perkembangan bangsa. Di antara berbagai modus transportasi massal perkeretaapian memegang peran penting. Tulisan ini bermaksud membicarakan berbagai aspek perkeretaapian di Indonesia. Tidak dapat dikatakan bahwa kereta api (KA) sudah berperan luas di Indonesia. Kalau kita perhatikan bahwa salah satu tujuan utama NKRI adalah mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat banyak, maka kita melihat bahwa sejak bangsa Indonesia merdeka hingga sekarang belum pernah ada perluasan jaringan KA yang nampak. Padahal peran KA dalam penciptaan kesejahteraan rakyat banyak amat menonjol. Dapat dilihat bahwa umumnya negara-negara yang melakukan pembangunan bangsa membentuk jaringan KA yang luas agar sebanyak mungkin bagian wilayah nasionalnya dapat dijangkau dengan KA. Itu dilakukan RRChina sejak 1949 dan hingga kini masih terus berjalan dan itu read more .....

Oct 28

Jakarta 28 Oktober 2008 Oleh Sardjono Sigit, Widyaiswara Utama (Purn) – Pusdiklat Pegawai DEPDIKNAS 1. Pendahuluan Sejarah perjalanan nasionalisme Indonesia dalam kurun waktu 10 tahunan terakhir ini sedang menghadapi ujian. Sesudah ulang tahun kemerdekaan ke 63 serta Sumpah Pemuda ke 80 tahun 2008 ini, ternyata jiwa dan semangat kebangsaan Indonesia, belum menyentuh seluruh anak bangsa. Sebagai Negara yang lahir dari konsep politik, le desire d’etre ensemble (Ernest Renan) dan aus Schicksalgemeinschaft erwachsene Charactergemeinschaft (Otto Bauer) yang dikumandangkan Bung Karno tahun 1945, Indonesia adalah bekas jajahan Belanda yang dahulu bernama Nederlandsch Indië dan bukan dari konsep budaya; maka nasionalisme Indonesia benar-benar masih menghadapi cobaan. Semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai konsep pemersatu kultural dan Wawasan Nusantara sebagai konsep pemersatu geopolitis, masih harus diuji kembali. Pancasila sebagai falsafah bangsa ternyata lebih dikenal pada kulitnya ketimbang essensinya sebagai read more .....

Oct 14

oleh : Sardjono Sigit Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa Indonesia yang lahir pada 1 Juni 1945 mengalami pasang surut yang luar biasa dalam sistem kurikulum kita. Semenjak kita memasuki Orde Baru pasca 1965, urgensi penyebutan Pancasila secara explisit dalam sistem kurikulum menjadi sangat mutlak. Hal ini terjadi karena sebelum peristiwa G-30-S/PKI tahun 1965 itu, sebagai titik balik perjalanan sejarah bangsa ini, Pancasila menempati ruang yang penuh dengan wacana dalam sistem politik di negeri ini. Dalam kurikulum 1964, ( istilah yang dipakai pada waktu itu bukan ”kurikulum” tetapi ”Rencana Pendidikan” ), yang kemudian ditimpali dengan Penetapan Presiden no. 19/1965, pendidikan Pancasila ini bahkan ditafsirkan menurut Manifesto Politik dan USDEK serta ditafsirkan pula menurut ciri-ciri manusia sosialis Indonesia.,yang kedua-duanya merupakan doktrin politik Orde Lama yang terkenal itu. Di bidang pendidikan, doktrin ini ditambah dengan ”Pancawardana” sebagai sub pokok bahasan. Dalam Penpres no. 19/1965 itu read more .....

Oct 9

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 9 Oktober 2008 Bagi yang belum mengetahui siapa Ravi Batra perlu ada penjelasan lebih dulu. Ia adalah seorang doctor dalam ilmu ekonomi AS keturunan India dan sekarang menjadi professor di Southern Methodist University di Dallas (Texas, AS). Ia menjadi terkenal karena di masa lampau secara tepat memprediksi bubarnya Uni Soviet pada tahun 1978 dalam bukunya The Downfall of Capitalism and Communism : A New Study of History. Prediksi lain yang menonjol dan terbukti benar adalah tentang jatuhnya nilai saham (the crash of Wallstreet) tahun 2000 yang ia tulis dalam bukunya The Crash of the Millenium. Juga yang menonjol adalah tumbuhnya Islam Radikal dan bahayanya bagi AS yang kemudian terbukti dengan terjadinya Serangan 11 September 2001 yang meruntuhkan menara World Trade Center di New York. Umumnya semua prediksi Ravi Batra tidak dipercaya masyarakat AS ketika ia publikasikan. Akan tetapi kemudian mereka harus mengalami bahwa prediksi itu menjadi kenyataan yang tak dapat dibantah. Sekarang Ravi Batra read more .....

Sep 23

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 23 September 2008 Tahun lalu pernah saya tulis bahwa masalah utama yang dihadapi AS dengan Iran bukan soal nuklir. Memang soal nuklir ditonjolkan AS untuk memperoleh dukungan pendapat umum di negaranya sendiri dan di dunia. Dikemukakan AS bahwa presiden Iran, Ahmadinejad, sangat agressif ketika ia mengatakan akan menghancurkan Israel. AS tidak mungkin membiarkan Israel sebagai sekutu utamanya dihancurkan oleh siapa pun juga. Kemudian ditonjolkan AS bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir yang tentu akan digunakan untuk memperkuat ambisinya mendominasi Timur Tengah. Sebab itu Iran tidak boleh dibiarkan terus mengembangkan maksudnya, kata AS. Dan ia menghimpun kekuatan dunia untuk menghukum Iran kalau tidak menghentikan pengembangan nuklirnya. Akan tetapi itu sebenarnya bukan alasan yang utama mengapa AS begitu kuat kehendaknya menghukum Iran, kalau perlu dengan menyerangnya secara militer. Alasan utama adalah bersangkutan dengan minyak dan dollar AS (USD). Tahun lalu seorang ekonom Russia read more .....

Sep 20

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) Makalah dipresentasikan dalam Seminar TNI di SESKOAD pada tanggal 20 September 2008 Pendahuluan Bangsa Indonesia yang hidup dalam NKRI dengan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa, tidak akan mulai berperang dan menyerang bangsa lain. Akan tetapi kalau diserang, bangsa Indonesia akan membela kemerdekaan dan kedaulatan negara dan bangsanya sampai akhir dengan semboyan Kita Cinta Damai tetapi lebih Cinta Kemerdekaan. Bangsa Indonesia akan selalu memelihara hubungan yang bersahabat dengan seluruh bangsa di dunia sambil mengusahakan kepentingan nasionalnya. Sesuai dengan UUD 1945 bangsa Indonesia selalu berpihak kepada perjuangan untuk menjamin dan memelihara perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia. Tidak mustahil sikap dan perjuangan bangsa Indonesia kurang disukai bangsa lain. Maka kepentingan bangsa Indonesia dapat berbeda dan mungkin bertentangan dengan kepentingan bangsa itu. Bahkan tidak mustahil bangsa lain itu sesuai dengan kepentingannya, berniat read more .....

Sep 11
Cold War Again?
Admin | 09 11th, 2008 | Opini | No Comments »

By Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, September 11th, 2008 The problem in Georgia which erupted in August can become a serious start of confrontations between Russia and the United States. Since the oil and gas factor is playing an important part of the Georgian problem, we must consider the possibility of an increasing confrontation between the US and Russia, not impossible to become another Cold War. The US strong interest to secure its energy needs is still a very strong factor in its international security policies. Although always denied by US leaders, the attack on Afghanistan and Iraq had also a very significant oil and gas element. It has been very often stated by US leaders themselves that the US will not develop its own energy sources in a big way; so long it can guarantee its needs from foreign sources. Consequently the US will always pursue a strategic policy to secure this interest abroad. Georgia has for the US a significant strategic importance. Although not producing oil and gas in large quantities Georgia has a read more .....

Sep 8

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bangsa Indonesia banyak orangnya yang pintar dan cerdas, tetapi lemah dalam implementasi. Selama hal ini belum berubah Indonesia mengalami banyak kerugian. Tidak sedikit teori dan konsep bagus ditelurkan warga negara Indonesia, tetapi kemudian tidak pernah diimplementasikan secara baik. Malahan teori dan konsep bagus itu justru diimplementasikan bangsa lain dengan manfaat yang tidak sedikit baginya. Namun dalam segala hal selalu ada perkecualian dan ada orang-orang Indonesia yang berhasil mengimplementasikan konsepnya yang bagus secara bagus pula . Dan itu nyata memberikan keuntungan bagi bangsa Indonesia. Salah satu contoh adalah keberhasilan Ki Hadjar Dewantara membentuk Perguruan Nasional Taman Siswa pada tahun 1922 sebagai usaha menjalankan perjuangan nasional bangsa untuk kemerdekaan yang dilakukan melalui jalan budaya dan khususnya pendidikan. Sayang sekali keberhasilan demikian merupakan perkecualian yang sedikit jumlahnya. Kelemahan dalam implementasi ini read more .....

Sep 7

By Sayidiman Suryohadiprojo On November 4 this year the American people are going to elect their new President and Vice President. The US Presidential election this year will be a very interesting event with various consequences which are not easy to predict. It will be an interesting event because it is the first time in history that there is a black Presidential candidate. This fact in itself indicates that things are changing in America. Another significant fact is that also for the first time a female person becomes a Vice Presidential Candidate. Although in many other countries, including those in Asia and nations with a Moslem majority, it is not longer strange that a woman achieves the leading position, for the US it is still not a normal event. Also this fact is another indication of change in America. There are significant differences between the candidates of the Democratic and Republican Party for this election. The Democrats have nominated Barack Obama as their presidential candidate. A relatively young black man of 47 read more .....

Aug 15

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Pendahuluan Sejak bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 selalu menjadi pertanyaan bagaimana sistem pemerintahan yang tepat dan paling bermanfaat baginya. Dengan kemudian dirumuskannya Pancasila sebagai Filsafah dan Pandangan Hidup Bangsa serta Dasar Negara Republik Indonesia, mulai jelas apa yang menjadi Tujuan Bangsa. Hal ini makin tegas setelah dirumuskan dan disetujui Undang-Undang Dasar 1945 pada 18 Agustus 1945. Dengan begitu juga jelas sistem pemerintahan apa yang tepat dan bermanfaat bagi bangsa kita. Secara umum dapat dikatakan bahwa Demokrasi adalah sistem politik yang memungkinkan semua warga bangsa mempunyai kesempatan mewujudkan aspirasinya. Dalam sejarah umat manusia tampak bahwa demokrasi berkembang sesuai dengan kondisi bangsa yang bersangkutan, termasuk nilai budayanya, pandangan hidupnya serta adat-istiadatnya. Dengan begitu tiap-tiap bangsa mempunyai caranya sendiri mewujudkan demokrasi. Antara lain tampak bahwa sekalipun bangsa-bangsa Eropa Barat mempunyai read more .....