Dec 4

Negara Tetangga Indonesia . Tetangga Indonesia meliputi negara yang tergabung dalam ASEAN dan yang berada dalam kesatuan Pasifik Barat Daya. ASEAN menunjukkan perkembangan positif, sekalipun masih jauh dari yabg diinginkan. Rencana untuk membentuk ASEAN Econimic Community dan ASEAN Security Community menunjukkan ambisi kuat untuk menjadikan ASEAN satu keutuhan politik yang makin nyata. Di setujuinya Piagam ASEAN yang menunjukkan sikap negara anggota ASEAN dalam HAM dan demokrasi juga hendak memberikan arahan keutuhan politik. Sekalipun begitu, dalam kenyataan Negara tetangga ini menimbulkan persoalan yang tidak kecil bagi Indonesia, di samping memungkinkan hubungan yang positifnya. Sebab itu perilaku mereka boleh digolongkan sumber dinamika regional bagi Indonesia. Nampaknya hubungan Indonesia dengan ASEAN adalah mudah karena sama-sama orang Asia Tenggara. Akan tetapi dalam kenyataan tidak dalam segala hal demikian. Sebab Asia Tenggara yang mempunyai potensi geografi dan sumber daya alam yang tinggi sejak dahulu kala selalu menjadi read more .....

Dec 4

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Kondisi Dunia Amat Dinamis Kondisi dunia dalam abad ke 21 amat dinamis dan makin sukar diprediksi perkembangannya. Hal itu disebabkan oleh perilaku manusia yang makin dipengaruhi oleh materialisme dan perkembangan teknologi. Orang dimana-mana ingin membuat kehidupan yang paling baik bagi dirinya, keluarganya dan kelompoknya, khususnya dalam kesejahteraan lahirnya. Untuk itu ia sanggup melakukan banyak hal; makin kuat orang itu dalam karakternya, mentalnya, kondisi intelektualnya, fisiknya, makin banyak hal yang ia dapat perbuat. Dalam hal ini ia makin dibantu oleh keadaan lingkungannya; makin berkembang lingkungannya dan makin mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, makin banyak bantuan yang ia dapat peroleh untuk melakukan kehendaknya. Ini dapat bersifat hal yang oleh moralitas dinilai baik, tetapi juga dapat merupakan perbuatan yang bertentangan dengan moralitas yang berlaku. Dalam perkembangan umat manusia tampak dan terasa sekali bahwa hubungan antara bagian dunia satu sama lain makin read more .....

Nov 29

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 29 November 2007 Peran Pendidikan dalam membangun Bangsa Tidak ada kegiatan bangsa yang lepas dari peran pendidikan. Bahkan dalam banyak hal peran pendidikan sangat menentukan untuk dapat melakukan kegiatan yang bermutu. Sebab itu setiap bangsa menjadikan pendidikan kegiatan utama dalam mengusahakan kemajuannya. Dengan mengusahakan kemajuan sekali gus dibangun kekuatan bangsa itu. Sebab utama mengapa pendidikan berpengaruh terhadap setiap kegiatan bangsa adalah karena faktor manusia. Hampir tidak ada kegiatan bangsa yang tidak memerlukan peran manusia. Bahkan peran manusia sangat menentukan dalam pelaksanaan berbagai kegiatan itu, juga ketika terjadi kemajuan teknologi yang amat pesat. Dalam kemajuan teknologi itu banyak pekerjaan manusia dapat digantikan oleh peran mesin atau robot. Meskipun demikian, juga penggunaan mesin dan robot itu banyak ditentukan peran manusia. Malahan diperlukan peran manusia yang makin cerdas dan arif bijaksana. Faktor manusia juga amat penting bagi bangsa dalam read more .....

Nov 13

Sayidiman Suryohadiprojo Pluralisme adalah satu pandangan hidup atau sikap kemasyarakatan yang mengutamakan sifat kemajemukan atau keanekaragaman dalam kehidupan manusia. Dengan mengambil kenyataan bahwa dalam kehidupan terdapat berbagai perbedaan, mereka yang berpaham pluralisme menganggap bahwa setiap perbedaan itu harus mendapat pengakuan sebagai entitas yang otonom dan memperoleh penilaian yang sama. Buat bangsa Indonesia pluralisme bukan barang baru. Sudah sejak permulaan abad ke 20 ketika terjadi kebangkitan nasional, kemajemukan menjadi isyu yang menonjol. Tidak sedikit pakar ilmu sosial Barat mengatakan bahwa Indonesia adalah hal yang artifisial. Mereka beranggapan bahwa yang ada secara nyata adalah entitas-entitas etnik dengan budayanya masing-masing yang berbeda. Yang menamakan diri Indonesia hakekatnya kemajemukan berupa banyak entitas budaya yang berbeda satu sama lain. Ditambah dengan kemajemukan yang disebabkan oleh perbedaan agama yang cukup banyak. Sebab itu para pakar itu tidak percaya Indonesia akan terus ada dan read more .....

Oct 8

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Belakangan ini sering ada keluhan bahwa di kalangan kaum muda sekarang kurang ada sikap kebangsaan atau nasionalisme yang kuat. Mungkin sekali gejala yang kurang positif itu disebabkan karena kaum muda sekarang kurang mengenal negerinya sendiri. Seorang anak muda yang tinggal di Jawa Barat, jangankan mengenal Sumatera atau Kalimantan, daerahnya sendiri Jawa Barat tidak dikenalnya dengan baik. Amat sedikit anak muda, mungkin juga orang tua, yang mengetahui nama gunung-gunung yang ada di daerah provinsinya, apalagi berapa tinggi setiap gunung itu. Belum tentu mayoritas murid SMA tahu nama kota-kota yang dilalui kereta api yang berjalan tiap hari dari Jakarta ke Surabaya. Dan banyak lagi hal-hal mengenai negeri kita Indonesia. Orang sekarang lebih berminat kepada keadaan yang langsung dihadapinya, termasuk yang bersangkutan dengan negara lain. Sebab itu mereka tidak ada minat pada negerinya sendiri, kecuali kalau ada urusan yang langsung dihadapinya. Kondisi demikian mendorong kepada sikap pragmatisme read more .....

Sep 28

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Purnawirawan Pejabat Tinggi TNI Angkatan Darat Belakangan ini perasaan orang Indonesia banyak diganggu oleh sikap bangsa lain yang merendahkan bangsa kita, khususnya sikap bangsa Malaysia, Australia, dan Singapura. Perlu disadari, pandangan dan penilaian bangsa lain terhadap kita adalah satu masalah persepsi. Dalam persepsi itu ada hal tertentu yang amat berpengaruh, seperti faktor kekuatan dan keberhasilan. Dapat diperkirakan, sikap bangsa lain yang merendahkan Indonesia itu dipengaruhi oleh penilaian mereka terhadap kekuatan Indonesia sekarang dibandingkan dengan masa lalu. Adalah kenyataan bahwa pada tahun 1960-an kekuatan pertahanan RI merupakan yang terkuat di Asia Tenggara. Pada tahun 1980-an Indonesia dinilai tergolong negara "macan Asia" dalam ekonomi, khususnya karena faktor minyak dan gas bumi. Selain itu, diplomasi Indonesia masa lalu menunjukkan sikap yang lebih tegar dan percaya diri. Namun, kini bangsa lain tidak lagi melihat kekuatan Indonesia itu. Selain itu, read more .....

Sep 13

By Lt. Gen.(retired) Sayidiman Suryohadiprojo INDONESIAN CONCEPT OF NATIONALISM The Indonesian Concept of Nationalism is based on Pancasila. Pancasila is a set of principles which has been outlined by Ir. Soekarno or popularly known as Bung Karno in a conference of the Preparatory Committee for Indonesian Independence on June 1, 1945 in Jakarta. Later the Committee agreed to declare Pancasila as the Ideology and Basic Foundation of the Republic of Indonesia. Indonesian Nationalism should therefore be implemented based on the values of Pancasila, namely : Belief in Monotheism Humanity Unity of Indonesia Democracy Social Justice Although the Indonesian Concept of Nationalism contains a religious principle (Belief in One God), it is not a theocratic concept. Aiming for the best of the Nation, it is not anti foreign. Neither is it based on Individualism, although it respects the Individual in its relationship with Community. As Bung Karno said, Indonesian Nationalism is a nationalism that grows in the garden of read more .....

Sep 13

Sayidiman Suryohadiprojo Dalam kehidupan umat manusia yang makin maju dan makin ruwet (complicated) kepemimpinan dan manajemen sangat dipengaruhi sikap yang tepat menghadapi Prinsip di satu pihak dan Pragmatisme di pihak lain. Berpegang pada Prinsip berarti mendasarkan segala keputusan pada ketentuan-ketentuan pokok yang telah ditetapkan atau disepakati. Sedangkan Bersikap Pragmatis adalah mengambil keputusan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi. Maka idealnya adalah mengambil keputusan yang merupakan perwujudan Prinsip sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Orang yang kuat berpegang pada Prinsip cenderung untuk melihat jauh ke depan. Kalau dilakukan secara berlebihan menghasilkan sikap kaku karena kurang memperhatikan situasi dan kondisi yang ada. Sebaliknya orang yang Bersikap Pragmatis lebih memperhatikan keperluan jangka pendek. Sikap pragmatis yang berlebihan menjadikan orang itu tidak berpendirian. Maka untuk mencapai keseimbangan antara dua hal itu diperlukan pertimbangan (judgment) yang matang, read more .....

Aug 6

Pendidikan yang mencerdaskan bangsa Pancasila hakekatnya adalah untuk kemaslahatan dan keselamatan Manusia. Menjadikan Pancasila kenyataan harus diartikan menciptakan kehidupan yang sebaik-baiknya bagi Manusia. Salah satu unsur yang penting dalam kesejahteraan Manusia adalah kemampuan dan peluangnya untuk senantiasa mengejar kemajuan. Sebab itu Kecerdasan Manusia harus selalu ditingkatkan untuk memberikannya kemampuan dan peluang itu. Faktor utama untuk mengusahakannya adalah Pendidikan. Pendidikan adalah usaha atau kegiatan mengalihkan atau mentransfer dari satu pihak kepada pihak lain pengetahuan, kecakapan, kebiasaan dan sistem nilai agar pihak penerima menjadi manusia yang lebih berkemampuan untuk menjalankan kehidupan dalam masyarakat. Sebab itu per definisi pendidikan harus bermutu. Pendidikan yang tidak atau kurang bermutu tidak dapat melakukan transfer atau peralihan kemampuan yang lebih tinggi. Malahan sebaliknya, tidak mustahil pendidikan kurang bermutu menjadikan manusia kurang mampu untuk hidup secara baik dalam read more .....

Aug 6

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Pur) Wawasan Kebangsaan Indonesia Wawasan Kebangsaan bangsa Indonesia dilandasi Pancasila yang ditetapkan sebagai Dasar Negara RI dan Pandangan Hidup bangsa Indonesia setelah Ir Soekarno atau Bung Karno menguraikannya depan Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945. Karena itu Wawasan Kebangsaan Indonesia mengandung nilai-nilai Pancasila, yaitu : Kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa Kebangsaan yang menjunjung tinggi Kemanusiaan Adil dan Beradab Kebangsaan yang menjaga Persatuan Indonesia Kebangsaan yang menjamin Kerakyatan Kebangsaan yang mewujudkan Keadilan Sosial Dengan begitu Wawasan Kebangsaan Indonesia bukan menganut atheisme tetapi juga bukan pendukung negara agama, bukan pandangan kebangsaan fanatik anti-asing meskipun mengusahakan yang terbaik bagi Indonesia, bukan pula penganut pandangan individualisme dan liberalisme meskipun menghargai Individu dalam hubungannya dengan Masyarakat. Wawasan Kebangsaan Indonesia adalah nasionalisme dalam read more .....