Oct 5

Sayidiman Suryohadiprojo Hubungan Indonesia dengan Singapore mengalami gangguan serius akibat ucapan Menteri Senior Lee Kuan Yew secara terbuka bahwa di Indonesia para dalang terrorisme masih berkeliaran secara bebas, sehingga menimbulkan ancaman latent bagi keamanan Singapore. Reaksi yang timbul di pihak Indonesia terhadap ucapan terbuka itu tidak hanya diberikan oleh Pemerintah, tetapi juga kalangan masyarakat mengeluarkan tanggapan yang keras terhadap pernyataan itu. Bahkan terjadi demonstrasi di depan kedutaan besar Singapore di Jakarta, disertai pembakaran bendera Singapore dan boneka yang menggambarkan pribadi Lee Kuan Yew. Reaksi balasan dari pihak Singapore telah dinyatakan oleh menteri luar negerinya yang tidak mengerti mengapa ada reaksi demikian pada pemerintah Indonesia. Katanya, bukti telah cukup untuk mengambil tindakan terhadap Abu Bakar Basyir dan Hambali, tetapi itu tidak dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Reaksi tanggapan itu menimbulkan kembali jawaban pihak Indonesia bahwa sejak terjadi Reformasi pemerintah read more .....

Sep 28

The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 09/28/2002 12:00 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta Although some people say that our reform movement is on the right track, many others are of a different opinion. There are even people who consider the movement to have failed or to have been defeated by the ""anti-reform"" people. At least we must agree that the movement is stagnating. Can we recover from this situation? In 1998 when the movement started, the situation was very different. Most Indonesians were unified because they wanted immediate change — an end of the authoritarian regime of president Soeharto that had brought so much suffering. The students responded to this strong demand for change and pioneered the reform movement. The people’s unity and the students’ dynamic spirit made the movement effective enough to lead to Soeharto’s resignation. There was no strong and distinct leadership that guided the movement; the unity of its read more .....

Sep 6

Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) PENDAHULUAN Keamanan Asia Tenggara tidak hanya merupakan kepentingan negara-negara yang terletak di wilayah Asia Tenggara, tetapi juga penting bagi banyak negara di dunia. Antara lain Jepang amat berkepentingan dengan keamanan Asia Tenggara yang baik. Makalah ini bertusaha menguraikan hal-hal apa yang dapat merugikan keamanan Asia Tenggara, usaha apa yang dapat dilakukan Jepang untuk mengurangi kemungkinan memburuknya keamanan wilayah itu serta bagaimana pengaruh usaha Jepang tersebut terhadap negara-negara Asia Tenggara serta negara-negara lain yang juga mempunyai kepentingan di Asia Tenggara. KEAMANAN ASIA TENGGARA Asia Tenggara adalah bagian dunia yang mempunyai makna penting bagi geostrategi dan geoekonomi dunia. Letaknya merupakan posisi silang antara dua benua, Asia dan Australia, dan dua samudera, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebab itu Asia Tenggara sepanjang sejarah umat manusia selalu mempunyai peran penting dalam gerakan (movements) bangsa-bangsa yang tinggal di read more .....

Aug 20

Sayidiman Suryohadiprojo Former Governor,National Resilience Institute (Lemhannas) Jakarta There are three important events in history that necessitate reevaluation of the relations between Indonesia and the United States. The first event is the end of the Cold War with the victory of the U.S. and the end of the Soviet superpower. Second is the East Asian economic crisis of 1997 and the subsequent resignation of president Soeharto in 1998. And the third is the Sept. 11 tragedy and the start of the U.S. war against terrorism. Since the defeat of the Soviet superpower, the U.S. has become the world’s only superpower regarding its military, technology and scientific advances. Although no hegemony will last forever, as with the termination of British supremacy in World War II, we can expect that the U.S. power will remain at least for the next quarter of a century. Alternative superpowers such as China and Japan are unlikely in the next decade. Indonesia has to face that fact and adjust her attitude accordingly. On the read more .....

Aug 8

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 08/08/2002 12:12 PM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta There seems to be a general acceptance that the constitutional problems Indonesia is facing should be solved by the establishment of a constitutional commission. Even the groups that originally were against any changes to the 1945 Constitution, are showing signs that they are not against a constitutional commission. It looks as if they have realized that there must be some compromise to avoid a total deadlock. There are, however, many aspects that have to be considered before an effective constitutional commission can start work. First is its composition. The general opinion is that it should consist mostly of academicians and other experts. There is a feeling among people that they cannot trust politicians to achieve effective results. Even the people who support the constitutional amendments made by the People’s Consultative Assembly (MPR) are demanding improvement in the read more .....

Jul 25

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Bangsa Indonesia sedang dalam keadaan yang serba tak keruan. Orang mengatakan bahwa bangsa kita sedang menghadapi aneka macam krisis, mulai krisis ekonomi sampai krisis moral dan krisis kepemimpinan. Namun demikian, seharusnya kita tidak hanya bicara saja tentang krisis dan macam-macam ketidakberesan. Keadaan tidak akan berubah hanya dengan membicarakannya. Yang lebih penting adalah berbuat untuk mengatasi berbagai krisis itu. Untuk itu ada baiknya kita tidak hanya melihat masa lampau kita sendiri, melainkan juga belajar dari keberhasilan bangsa lain. Terutama bangsa yang telah mengalami keadaan yang serupa dengan kita, seperti China. China mengalami keadaan yang kalut sekali ketika terjadi Revolusi Kebudayaan pada tahun 1965-1976. Kondisi kalut itu baru berakhir setelah Mao Zedong wafat pada tahun 1976 dan tampilnya Deng Xiaoping sebagai pemimpin China yang baru. Kepemimpinan Deng-lah yang kemudian mengangkat China dari kekalutan untuk menjadi negara yang normal dan mencapai keberhasilan ekonomi read more .....

Jul 23

Oleh Sayidiman suryohadiprojo Jakarta, 23 Juli 2002 Bangsa Indonesia sedang dalam keadaan yang serba tak keruan. Orang mengatakan bahwa bangsa kita sedang menghadapi aneka macam krisis, mulai krisis ekonomi sampai krisis moral dan kepemimpinan. Namun demikian, seharusnya kita tidak hanya bicara saja tentang krisis dan macam-macam ketidakberesan. Keadaan tidak akan berubah hanya dengan membicarakannya. Yang lebih penting adalah berbuat untuk mengatasi berbagai krisis itu. Untuk itu ada baiknya kita tidak hanya melihat masa lampau kita sendiri, melainkan juga belajar dari keberhasilan bangsa lain. Terutama bangsa yang telah mengalami keadaan yang serupa dengan kita. Salah satu bangsa yang patut kita pelajari pengalamannya adalah China. Apalagi bangsa itu sekarang sedang maju keadaannya. China mengalami keadaan yang kalut sekali ketika terjadi Revolusi Kebudayaan pada tahun 1965-1976. Pada waktu itu Pengawal Merah yang mengaku sebagai pengikut Mao Zedong yang setia menghantam segala hal yang dinilai tidak sesuai dengan pendapatnya. read more .....

Jul 23

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, September 2002 Perjalanan ke China memberikan kepada saya bahan perbandingan penting untuk perkembangan ekonomi Indonesia. Khususnya ketika elit bangsa kita, terutama para pakar ekonomi, terjirat dalam debat yang tidak produktif tentang hubungan Indonesia dengan IMF. Adalah jelas bahwa Cina tidak termasuk negara yang menjadi korban berat Krisis Ekonomi 1997. Berbeda dari Thailand, Malaysia, Indonesia dan bahkan Korea Selatan. Itu terutama disebabkan oleh sikap China dalam menjalankan ekonominya sejak Deng Xiaoping pada tahun 1979 membawa bangsanya menempuh reformasi sesuai dengan perkembangan dunia tanpa melepaskan kondisi dan sifat bangsanya sendiri. Tanpa ikatan dengan Bank Dunia dan IMF China berhasil membangun ekonomi yang maju pesat sekali. Meskipun sekarang ada tulisan Bank Dunia dan beberapa penulis Barat yang memprediksi bahwa ekonomi China akan berantakan beberapa dekade mendatang, namun kenyataan menunjukkan bahwa ekonomi China sekarang makin kuat dan tumbuh lebih dari 8 persen read more .....

Feb 21

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (purn) Jakarta, 21 Februari 2002 PENDAHULUAN Tidak dapat dicegah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi makin berkembang di dunia. Hal itu juga mendorong perkembangan teknologi militer, khususnya teknologi senjata, dengan peningkatan daya hancur, jarak tembakan dan ketepatan perkenaannya. Perkembangan demikian makin mengancam kelangsungan hidup atau sekurang-kurangnya kemerdekaan bertindak bangsa-bangsa yang kurang mampu mengikuti kecenderungan itu. Bangsa yang memiliki kemampuan teknologi militer tinggi memperoleh peluang untuk memanfaatkannya guna memperoleh keuntungan politik, ekonomi dan budaya. Sehingga bangsa yang kurang mampu dan mendapat tekanan dari bangsa maju terpaksa harus mengorbankan kemandiriannya untuk dapat hidup langsung. Kita menghadapi keadaan di mana umat manusia cenderung didominasi oleh bangsa-bangsa yang mampu menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi, khususnya teknologi militer. Akan tetapi perkembangan umat manusia juga memungkinkan bangsa yang kurang read more .....

Feb 21

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Setelah terjadi serangan AS atas Afghanistan berkembang perasaan kurang setuju dengan tindakan AS itu dalam lingkungan luas masyarakat Indonesia. Bahkan ada kalangan yang diliputi sentimen anti-AS yang kuat, sedangkan bagian terbesar tidak senang dengan AS tetapi belum sampai demikian kuat perasaannya terhadap negara itu. . Perasaan demikian ada dasarnya, karena banyak orang melihat serangan AS itu sebagai tindakan mau menang dan benar sendiri. Meskipun semua orang mencela perbuatan terror atas gedung WTC di New York dan Pentagon di Washington DC, namun cara AS melakukan pembalasan dinilai melanggar rasa kepatutan dan kewajaran. Presiden Megawati dengan tepat sekali menyatakan perasaan dan sikap terhadap serangan AS itu, sesuai dengan perasaan mayoritas bangsa kita, ketika berpidato dalam peringatan Isra dan Miradj yang lalu. Namun mempunyai perasaan kurang suka kepada AS tidak sama dengan berbuat hal-hal yang justru merugikan diri kita sendiri. Ketika pemuda dan mahasiswa mengadakan demo depan read more .....