Aug 3

Satu Uraian Singkat Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Pendahuluan Waktu ini nampak meningkat keinginan masyarakat untuk menegakkan kembali Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar Negara RI. Hal itu sangat menggembirakan mengingat kuatnya usaha pihak-pihak tertentu di dalam maupun luar negeri, yang ingin menghilangkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia. Namun demikian, masih menjadi pertanyaan apakah semua orang yang ingin Pancasila tegak kembali, mengetahui inti pikiran Pancasila dan perbedaannya dengan cara berpikir Barat. Tulisan ini bermaksud menguraikan secara singkat hal-hal itu. Pikiran Barat Sejak terjadi Renaissance di Eropa pada abad ke 14, pikiran Barat sangat berpangkal pada peran Manusia sebagai Individu dalam kehidupan. Dunia Barat memandang Individu sebagai mahluk yang lahir dengan kebebasan penuh dan sama satu dengan yang lain (Men are created Free and Equal). Kebebasan itu memberikan kepadanya hak untuk mencapai segala hal yang diinginkan. Ia hidup terpisah satu sama lain, masing-masing dilengkapi read more .....

Jul 27

Jakarta , 27 Juli 2008 Satu Analisa Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Pendahuluan Salah satu dasar Pancasila adalah dirumuskannya hubungan Manusia dengan Masyarakat sebagai Perbedaan dalam Kesatuan, Kesatuan dalam Perbedaan. Dalam perumusan itu Manusia atau Individu mempunyai arti dan nilai penting dalam kehidupan, tetapi selalu mengusahakan harmoni atau keselarasan dengan Masyarakat. Hal ini berbeda fundamental dengan pandangan Barat yang menganggap Individu mempunyai kebebasan, otonomi dan berkuasa penuh dalam Masyarakat. Partai politik, selanjutnya disingkat parpol, adalah produk masyarakat Barat yang dimulai di Inggeris pada abad ke 17. Parpol dibentuk dalam rangka pikiran Barat bahwa Negara adalah organisasi kekuasaan untuk menjamin bahwa kehidupan antara Individu yang semua bebas dan berkuasa tidak mengakibatkan masalah sekuriti pada Individu. Organisasi kekuasaan yang dibagi dalam kekuasaan eksekutif, kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudikatif atau Trias Politica, merupakan perimbangan (checks & balances) antara tiga read more .....

Dec 4

Sikap Indonesia dalam dinamika internasional Dalam gambaran dinamika internasional yang telah diuraikan, sikap Indonesia dalam hubungannya dengan AS merupakan hal yang paling utama. Itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa AS adalah satu-satunya adikuasa di dunia dengan kekuatan ekonomi, militer, sains dan teknologi yang belum ditandingi pihak lain. Apalagi AS sangat berkepentingan memperoleh kontrol atas Asia Tenggara dan Indonesia sebagai posisi silang yang amat strategis bagi perebutan hegemoni dunia. Hubungan Indonesia – AS adalah hal yang amat sulit dan penuh persoalan. Sudah pada permulaan berdirinya Negara Republik Indonesia nampak bahwa AS mempunyai kepentingan berbeda dengan Indonesia. [1] Itu antara lain nampak sekali dalam sikap AS ketika dilakukan Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949 di Den Haag, Belanda, untuk menentukan pengakuan dan penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia. Mungkin itu dipengaruhi faktor politik, karena Indonesia yang di bawah kekuasaan Belanda akan lebih mudah dikontrol AS. read more .....

Dec 4

Negara Tetangga Indonesia . Tetangga Indonesia meliputi negara yang tergabung dalam ASEAN dan yang berada dalam kesatuan Pasifik Barat Daya. ASEAN menunjukkan perkembangan positif, sekalipun masih jauh dari yabg diinginkan. Rencana untuk membentuk ASEAN Econimic Community dan ASEAN Security Community menunjukkan ambisi kuat untuk menjadikan ASEAN satu keutuhan politik yang makin nyata. Di setujuinya Piagam ASEAN yang menunjukkan sikap negara anggota ASEAN dalam HAM dan demokrasi juga hendak memberikan arahan keutuhan politik. Sekalipun begitu, dalam kenyataan Negara tetangga ini menimbulkan persoalan yang tidak kecil bagi Indonesia, di samping memungkinkan hubungan yang positifnya. Sebab itu perilaku mereka boleh digolongkan sumber dinamika regional bagi Indonesia. Nampaknya hubungan Indonesia dengan ASEAN adalah mudah karena sama-sama orang Asia Tenggara. Akan tetapi dalam kenyataan tidak dalam segala hal demikian. Sebab Asia Tenggara yang mempunyai potensi geografi dan sumber daya alam yang tinggi sejak dahulu kala selalu menjadi read more .....

Dec 4

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Kondisi Dunia Amat Dinamis Kondisi dunia dalam abad ke 21 amat dinamis dan makin sukar diprediksi perkembangannya. Hal itu disebabkan oleh perilaku manusia yang makin dipengaruhi oleh materialisme dan perkembangan teknologi. Orang dimana-mana ingin membuat kehidupan yang paling baik bagi dirinya, keluarganya dan kelompoknya, khususnya dalam kesejahteraan lahirnya. Untuk itu ia sanggup melakukan banyak hal; makin kuat orang itu dalam karakternya, mentalnya, kondisi intelektualnya, fisiknya, makin banyak hal yang ia dapat perbuat. Dalam hal ini ia makin dibantu oleh keadaan lingkungannya; makin berkembang lingkungannya dan makin mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, makin banyak bantuan yang ia dapat peroleh untuk melakukan kehendaknya. Ini dapat bersifat hal yang oleh moralitas dinilai baik, tetapi juga dapat merupakan perbuatan yang bertentangan dengan moralitas yang berlaku. Dalam perkembangan umat manusia tampak dan terasa sekali bahwa hubungan antara bagian dunia satu sama lain makin read more .....

Nov 29

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 29 November 2007 Peran Pendidikan dalam membangun Bangsa Tidak ada kegiatan bangsa yang lepas dari peran pendidikan. Bahkan dalam banyak hal peran pendidikan sangat menentukan untuk dapat melakukan kegiatan yang bermutu. Sebab itu setiap bangsa menjadikan pendidikan kegiatan utama dalam mengusahakan kemajuannya. Dengan mengusahakan kemajuan sekali gus dibangun kekuatan bangsa itu. Sebab utama mengapa pendidikan berpengaruh terhadap setiap kegiatan bangsa adalah karena faktor manusia. Hampir tidak ada kegiatan bangsa yang tidak memerlukan peran manusia. Bahkan peran manusia sangat menentukan dalam pelaksanaan berbagai kegiatan itu, juga ketika terjadi kemajuan teknologi yang amat pesat. Dalam kemajuan teknologi itu banyak pekerjaan manusia dapat digantikan oleh peran mesin atau robot. Meskipun demikian, juga penggunaan mesin dan robot itu banyak ditentukan peran manusia. Malahan diperlukan peran manusia yang makin cerdas dan arif bijaksana. Faktor manusia juga amat penting bagi bangsa dalam read more .....

Sep 13

By Lt. Gen.(retired) Sayidiman Suryohadiprojo INDONESIAN CONCEPT OF NATIONALISM The Indonesian Concept of Nationalism is based on Pancasila. Pancasila is a set of principles which has been outlined by Ir. Soekarno or popularly known as Bung Karno in a conference of the Preparatory Committee for Indonesian Independence on June 1, 1945 in Jakarta. Later the Committee agreed to declare Pancasila as the Ideology and Basic Foundation of the Republic of Indonesia. Indonesian Nationalism should therefore be implemented based on the values of Pancasila, namely : Belief in Monotheism Humanity Unity of Indonesia Democracy Social Justice Although the Indonesian Concept of Nationalism contains a religious principle (Belief in One God), it is not a theocratic concept. Aiming for the best of the Nation, it is not anti foreign. Neither is it based on Individualism, although it respects the Individual in its relationship with Community. As Bung Karno said, Indonesian Nationalism is a nationalism that grows in the garden of read more .....

Aug 6

Pendidikan yang mencerdaskan bangsa Pancasila hakekatnya adalah untuk kemaslahatan dan keselamatan Manusia. Menjadikan Pancasila kenyataan harus diartikan menciptakan kehidupan yang sebaik-baiknya bagi Manusia. Salah satu unsur yang penting dalam kesejahteraan Manusia adalah kemampuan dan peluangnya untuk senantiasa mengejar kemajuan. Sebab itu Kecerdasan Manusia harus selalu ditingkatkan untuk memberikannya kemampuan dan peluang itu. Faktor utama untuk mengusahakannya adalah Pendidikan. Pendidikan adalah usaha atau kegiatan mengalihkan atau mentransfer dari satu pihak kepada pihak lain pengetahuan, kecakapan, kebiasaan dan sistem nilai agar pihak penerima menjadi manusia yang lebih berkemampuan untuk menjalankan kehidupan dalam masyarakat. Sebab itu per definisi pendidikan harus bermutu. Pendidikan yang tidak atau kurang bermutu tidak dapat melakukan transfer atau peralihan kemampuan yang lebih tinggi. Malahan sebaliknya, tidak mustahil pendidikan kurang bermutu menjadikan manusia kurang mampu untuk hidup secara baik dalam read more .....

Aug 6

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Pur) Wawasan Kebangsaan Indonesia Wawasan Kebangsaan bangsa Indonesia dilandasi Pancasila yang ditetapkan sebagai Dasar Negara RI dan Pandangan Hidup bangsa Indonesia setelah Ir Soekarno atau Bung Karno menguraikannya depan Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945. Karena itu Wawasan Kebangsaan Indonesia mengandung nilai-nilai Pancasila, yaitu : Kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa Kebangsaan yang menjunjung tinggi Kemanusiaan Adil dan Beradab Kebangsaan yang menjaga Persatuan Indonesia Kebangsaan yang menjamin Kerakyatan Kebangsaan yang mewujudkan Keadilan Sosial Dengan begitu Wawasan Kebangsaan Indonesia bukan menganut atheisme tetapi juga bukan pendukung negara agama, bukan pandangan kebangsaan fanatik anti-asing meskipun mengusahakan yang terbaik bagi Indonesia, bukan pula penganut pandangan individualisme dan liberalisme meskipun menghargai Individu dalam hubungannya dengan Masyarakat. Wawasan Kebangsaan Indonesia adalah nasionalisme dalam read more .....

Jul 17

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 17 Juli 2007 Pendahuluan Sejak berdirinya pada 17 Agustus 1945 hingga kini NKRI tanpa henti menghadapi berbagai ancaman dan tantangan sekali gus. Antara lain yang menjadi ancaman serieus adalah separatisme dan ideologi transnasional seperti neo-liberalisme, Islam radikal dan lainnya. Kunci dari usaha mengamankan NKRI dari berbagai ancaman itu adalah dengan membangun Daya Tangkal (deterrence) yang efektif. Faktor utama dalam hal itu adalah dengan menjadikan Pancasila Kenyataan di bumi Indonesia. Kalau Pancasila menjadi kenyataan dalam eksistensi NKRI terwujud kondisi bangsa yang menetralisasi berbagai alasan yang digunakan pihak-pihak yang bermaksud mengancam NKRI. Hal itu menjadi landasan kuat bagi pembangunan Daya Tangkal Bangsa. Bersamaan dengan itu dibangun pula kekuatan fisik yang mampu menimbulkan kerugian besar pada setiap pengganggu. Dengan begitu ditumbuhkan persepsi pada calon pengganggu bahwa mengganggu NKRI melalui berbagai macam ancaman dan tantangan akan lebih merugikan pihak read more .....