Apr 19

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 19 April 2009 Tidak jarang ada anggapan dan pandangan bahwa seorang militer sukar dapat mengembangkan kenegarawanan. Anggapan demikian kuat di kalangan kaum terpelajar sipil, terutama di antara mereka yang memperoleh pendidikannya di dunia Barat. Terutama menyangkut masalah Perang dan Damai ada anggapan bahwa kaum militer sesuai dengan profesinya, suka berperang. Dan kalau mereka memegang kekuasaan cenderung membawa negara yang dipimpinnya melakukan peperangan. Ternyata anggapan demikian jauh dari kebenaran. Malahan sebaliknya justru kaum militer sebenarnya kurang suka perang karena merekalah yang harus maju dan mengalami berbagai keadaan yang jauh dari enak, bahkan dapat kehilangan nyawanya, kalau negaranya perang. Mereka maju perang karena hal itu menjadi kewajibannya kalau pemerintah negaranya memutuskan untuk berperang. Sedangkan pemerintah negara itu lebih banyak dijabat kaum sipil dari pada oleh orang militer professional. Uraian di bawah ini akan menggambarkan bagaimana seorang Perwira read more .....

Apr 10

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 10 April 2009 Kita sudah tahu bahwa dasar dalam sikap hidup Barat mengutamakan penggunaan Rasio dalam cara berpikir. Hal ini diletakkan dasar-dasarnya dalam Renaissance yang mereka alami mulai abad ke 15. Sikap hidup demikian telah memungkinkan orang Barat mengembangkan sains dan teknologi dengan amat menakjubkan. Berdasarkan sikap hidup itu dunia Barat melalui Galilei Galileo menemukan bahwa Bumi itu bulat dan bukan datar sebagaimana sebelumnya dikira manusia. Memang pemikiran itu membuat Galilei Galileo berhadapan dengan Gereja Katolik yang tidak dapat menerima pikiran baru itu. Akan tetapi perkembangan yang telah mulai dirintis tak dapat dibendung lagi oleh Gereja Katolik, sekalipun besar kekuasaannya. Sikap hidup itu juga mengembangkan konsep hidup yang mengutamakan arti Individu Manusia yang kemudian membentuk paham Individualisme. Dan timbulnya keyakinan bahwa Manusia harus menaklukkan Alam sekitarnya. Hal ini membuat manusia Barat berani menempuh kehidupan dengan lebih dinamis. Dengan read more .....

Apr 8

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 8 April 2009 Dalam harian Seputar Indonesia tanggal 6 April 2009 ada tulisan seorang pengamat ekonomi, Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo, yang mengutarakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak seburuk yang sering dikemukakan orang. Ia mengatakan bahwa pendapatan berbagai perusahaan besar di Bura Efek Indonesia (BEI) yang tergabung dalam 45 saham terlikuid (LQ45) tumbuh rata-rata 33 persen. Bahkan pendapatan 19 perusahaan besar di LQ45 meningkat di atas 30 persen. Ia juga mengatakan bahwa Unilever Indonesia, bagian dari perusahaan multinasional Unilever, tumbuh dengan 22 persen. Pertumbuhan Unilever Indonesia itu merupakan tertinggi di lingkungan Unilever di seluruh dunia yang tumbuh dengan 7 persen. Padahal pertumbuhan Unilever Indonesia masih jauh di bawah pertumbuhan 19 perusahaan besar di LQ45 yang di atas 30 persen. Hal itu menunjukkan bahwa pasar Indonesia mempunyai potensi yang tidak boleh diremehkan. Memperhatikan keadaan itu saya sebagai seorang yang bukan pakar ekonomi berpendapat bahwa read more .....

Mar 8

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 8 Maret 2009 Pendahuluan Pemilihan Umum yang diadakan di Indonesia dalam tahun 2009, baik yang menentukan susunan keanggotaan lembaga-lembaga legislatif maupun untuk menentukan Presiden dan Wakil Presiden RI untuk masa 2009-2014, akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan keadaan Bangsa dan Negara Republik Indonesia di masa depan. Tulisan ini bermaksud mendalami hal-hal yang perlu dilakukan Kepemimpinan Nasional Pasca-Pemilu agar Bangsa dan Negara RI dapat mewujudkan kehidupan yang makin mendekati Tujuan Nasional. Sekalipun Indonesia sudah menjadi negara dan bangsa yang merdeka dan berdaulat selama lebih dari 60 tahun, namun Tujuan Nasional yang ditegaskan pada tahun 1945 masih jauh dari kenyataan. Kemerdekaan bangsa belum dapat diisi dengan substansi yang diperlukan. Kondisi Nasional dan Internasional Bangsa dan Negara RI pada tahun 2009 diliputi berbagai masalah yang sifatnya multikompleks. Reformasi yang dilakukan sejak tahun 1998, jadi sudah berlangsung selama 10 tahun lebih, sama read more .....

Feb 4

Pendidikan Tinggi Yang Bermutu Dalam keadaan dunia dan umat manusia dewasa ini persaingan antar bangsa makin kuat, sekalipun di pihak lain kehidupan bangsa juga dituntut untuk dapat bekerja sama makin banyak dan makin erat dengan bangsa lain. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan sumber utama dari tuntutan itu. Kalau di masa lalu faktor kepemimpinan sangat berpengaruh kepada kehidupan bangsa, baik keselamatan maupun kesejahteraannya, maka sekarang itu menjadi lebih penting lagi. Dapat disamakan dengan prestasi satu team sepakbola. Keunggulan team tidak cukup ditopang oleh kecakapan dan kecerdasan 11 pemainnya. Masih sangat diperlukan seorang manager yang memimpin dan mengarahkan team itu sehingga kehebatan 11 pemainnya dapat mewujudkan prestasi team yang unggul. Tanpa kepemimpinan itu team dengan 11 pemain yang satu persatu hebat dapat dikalahkan oleh team yang pemainnya tidak seberapa hebat tapi dipimpin, dipersatukan, dimotivasi dan diarahkan seorang team manager yang cakap dan cerdas. Maka untuk read more .....

Feb 4

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 4 Februari 2009 Pendidikan Sekolah Penting Sekali Masa depan satu bangsa sangat tergantung pada mutu Sumber Daya Manusianya (SDMnya) dan kemampuannya menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Dua hal ini diwujudkan melalui Pendidikan yang meliputi Pendidikan dalam Keluarga, Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Sekolah. Pendidikan Sekolah perlu dialami setiap orang Indonesia, selain memperoleh Pendidikan dalam Keluarga sejak ia lahir dan Pendidikan Masyarakat yang ia alami sebagai manusia dewasa.. Sebab melalui Pendidikan Sekolah dapat diciptakan orang yang lebih berpengetahuan dan lebih berkemampuan dari pada orang yang tidak mengalaminya. Memang dalam kenyataan masih banyak orang yang tidak mendapat Pendidikan Sekolah, baik karena tidak memperoleh kesempatan berhubung kondisi ekonominya maupun karena kondisi sosial tertentu tidak memungkinkannya. Akan tetapi di dalam Indonesia Merdeka hal demikian tidak boleh terjadi, karena merugikan orang itu dalam menjalankan hidupnya dan juga read more .....

Jan 15

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 15 Januari 2009 Pendidikan sebagai usaha menjamin Kesintasan (Survival) Pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan Manusia sejak permulaan eksistensinya. Ketika Manusia Purba melahirkan anak maka ayah dan ibunya, terutama ibunya, secara instinktif menjaga agar anak itu sintas atau hidup berlanjut (survive) dalam menghadapi alam sekelilingnya. Melahirkan anak sebagai proses reproduksi Manusia merupakan bagian penting dalam naluri untuk kelanjutan eksistensi Manusia. Sebab itu sejak anak itu bayi ayah dan ibu tidak saja menjaganya dari bahaya yang membahayakan kelangsungan hidupnya, tetapi juga mengajarkan kepada anak bagaimana ia harus berlaku untuk tetap hidup dan bahkan hidup lebih baik. Inilah ujung kegiatan Pendidikan yang dilakukan Manusia. Sebab itu Pendidikan perdefinisi (by definition) harus bermutu, sebab Pendidikan yang tidak bermutu tidak memenuhi tujuan untuk apa diberikan pendidikan, yaitu menjamin Kesintasan Manusia. Dalam ukuran alam purba Pendidikan yang tidak bermutu tidak dapat read more .....

Dec 26

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 26 Desember 2008 Kesejahteraan Rakyat adalah Tujuan Kemerdekaan Bangsa Kita sudah lebih dari 63 tahun merdeka, tetapi tujuan Perjuangan Nasional kita masih banyak yang belum terwujud. Memang tujuan menjadi negara dan bangsa merdeka dan berdaulat di dunia ini sudah tercapai. Akan tetapi ada tujuan lain yang amat penting dan menjadi dorongan dan motivasi banyak orang untuk turut menjalankan Perjuangan Nasional 63 tahun yang lalu, yaitu terwujudnya Kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia. Tujuan ini masih jauh dari kenyataan hidup kita. Meskipun ada polemik antara pihak Pemerintah Pusat dan beberapa orang pengamat ekonomi tentang angka kemiskinan di Indonesia, namun terlepas dari angka mana yang benar saya kira tidak ada yang menolak bahwa kemiskinan masih merupakan gambaran nyata masyarakat Indonesia dewasa ini. Apalagi pada tahun 2008 ini diperkirakan kemiskinan meningkat setelah ada Krisis Global tahun 2008 . Menurut perkiraan Tim Pusat Penelitian LIPI kenaikan harga BBM menaikkan Garis read more .....

Nov 24

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 24 November 2008 Selalu menjadi ingatan saya ketika almarhum Letjen Djatikoesoemo pada tahun 1948 sebagai Gubernur Akademi Militer Yogya (waktu itu pangkat beliau Kolonel Inf) menyampaikan pikiran beliau kepada saya. Waktu itu adalah hari-hari terakhir saya menjadi Taruna Akademi Militer dan telah menyelesaikan semua ujian akhir, tinggal menunggu pengumuman hasil ujian dan pelantikan sebagai Perwira TNI oleh Presiden RI, Soekarno. Ketika itu Pasukan Taruna AM baru pulang dari operasi menghadapi Pemberontakan PKI Madiun bergabung pada Divisi Siliwangi. Pada satu hari Pak Djatikoesoemo menghampiri saya dan mengatakan ke dalam bahasa Inggeris: Watch the Aftermath of the Revolution ! Saya mengerti ucapan beliau secara harfiah, yaitu : Perhatikan Keadaan Setelah Revolusi ! Akan tetapi saya tidak menangkap makna sebenarnya dari ucapan beliau. Sebelum saya dapat menanyakan apa yang beliau maksudkan, Pak Djati sudah pergi, meninggalkan saya dengan pikiran yang penuh pertanyaan. Setelah peristiwa itu read more .....

Nov 20

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, November 20, 2008 Pancasila as the Basis of Democracy in Indonesia Basically Democracy is not something strange for the people of Indonesia. Although the Dutch colonial regime did not establish a democratic system in the country, they did not prohibit the implementation of a certain kind of democracy in the villages. The people in the villages elected their village heads in all parts of the country. But Democracy became a part of national life when Indonesia achieved its independence. It became one of the Five Basic Principles of Life or Pancasila as the basic foundation or the Weltanschauung of the independent Republic of Indonesia.[1] At the session of the Council to Study Endevours for the Preparation of Independence (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, BPUPKI) on June 1,1945 Ir Soekarno or Bung Karno , the eminent leader of the national struggle for independence, proposed that an independent Indonesia should have a Weltanschauung, a Philosophy of Life. He then explained read more .....