Feb 15
Demokrasi Di Indonesia
Admin | 02 15th, 2011 | Opini | 1 Comment »

Sayidiman Suryohadiprojo Para pemimpin negara kita dan sementara kaum politik suka menyatakan kebanggaannya bahwa Republik Indonesia telah menjadi Negara Demokrasi ketiga di dunia, di belakang Amerika Serikat dan India yang penduduknya lebih banyak. Tepatkah kebanggaan itu ? Untuk menjawab pertanyaan itu perlu lebih dahulu kita tetapkan apa yang dimaksudkan dengan Demokrasi. Menurut Webster’s College Dictionary Demokrasi adalah satu bentuk pemerintahan yang kekuasaan utamanya ada di tangan Rakyat. (terjemahan) Namun pengertian Demokrasi yang universal ini, dilaksanakan tidak sama di berbagai Negara di dunia.. Bangsa-bangsa melaksanakan Demokrasi sesuai dengan pikiran dan perasaan yang hidup di bangsa itu. Maka yang beda filsafah hidupnya tentu juga beda melaksanakan Demokrasi. Malahan tidak sedikit bangsa Barat dengan filsafah hidup sama, yaitu Individualisme-Liberalisme, toh beda melaksanakan Demokrasi karena pengaruh sejarah dan kepribadian masing-masing, seperti perbedaan antara Inggeris dan Perancis Itu berarti bahwa kurang read more .....

Jan 22

Sayidiman Suryohadiprojo Masyarakat AS, khususnya kaum pendidik dan terutama para ibu, digegerkan oleh buku Battle Hymn of the Tiger Mother yang baru terbit. Buku yang ditulis Amy Chua seorang professor hukum di Universitas Yale menuturkan pendapat penulisnya tentang bagaimana seorang ibu harus mendidik anaknya. Pendidikan itu harus keras, kuat menanamkan disiplin dan tanpa ampun dalam menumbuhkan kemampuan. Ia gambarkan bagaimana ia mengharuskan puteri-puterinya belajar main piano berjam-jam lamanya. Juga keras dalam membentuk sikap dan kepribadian, seperti melarang pergi malam, lama menonton TV, dan banyak lagi hal yang biasa diidzinkan ibu Amerika. Anaknya harus mendapat nilai-nilai tertinggi dalam pelajaran apa saja dan selalu mengusahakan mencapai peringkat terbaik di sekolah. Buku itu mengundang reaksi ramai yang menilai Amy Chua seorang ibu tanpa cinta kasih kepada anaknya, bahkan menyebutnya monster. Akan tetapi di pihak lain timbul rasa khawatir bahwa cara mendidik ini atau cara mendidik ibu China akan menjadikan China read more .....

Jan 20

Sayidiman Suryohadiprojo Kurang perhatian terhadap KA. Selama menjadi bangsa merdeka Indonesia tidak pernah melakukan usaha serieus dalam pembangunan kereta api (KA). Jaringan KA tidak banyak berubah dari yang warisan penjajahan Belanda, bahkan berkurang karena banyak hubungan yang dulu ada sekarang ditiadakan. Dulu ada hubungan KA antara Semarang dengan Blora dan Rembang, antara Banjar (Ciamis) dengan Pengandaran, antara Bandung dengan kota-kota di Bandung Selatan, antara Yogya dengan Magelang, antara kota-kota di pulau Madura, di luar Jawa ada hubungan Makassar dengan Pare-pare, dan masih banyak lagi. Itu semua sekarang tidak ada. Sebaliknya belum pernah ada penambahan jaringan KA selama Indonesia merdeka. Juga kualitas KA tidak meningkat sebanding dengan perkembangan teknologi perkeretaapian. Bahkan tidak lebih baik dari kualitas masa pepnjajahan. Dulu ada KA Eendaagsche yang menghubungkan Jakarta dengan Surabaya tidak lebih dari 12 jam, dengan melalui Purwokerto-Yogya-Solo-Madiun pada siang hari; berangkat masing-masing dari read more .....

Jan 7

Sayidiman Suryohadiprojo Pada tutup tahun 2010 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan bahwa pemerintahnya akan membangun ekonomi Indonesia sehingga dalam 4-5 tahun mendatang Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai USD 1 trilyun atau sekitar Rp 9.000 trilyun, dibandingkan PDB sekarang yang Rp 7.000 trilyun. Kemajuan itu akan dicapai melalui penggunaan sistem Ekonomi Terbuka yang diuraikan sebagai satu sistem ekonomi yang mengutamakan peran pasar, sekalipun peran Pemerintah tetap besar. Pernyataan Presiden SBY ditambah oleh Menko Perekonomian Ir. Hatta Rajasa yang mengatakan bahwa pada tahun 2025 PDB Indonesia akan mencapai USD 3,7 – 4,7 trilyun dengan penghasilan per capita USD 12 – 16 ribu. Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi mencapai 7 – 8 prosen dan PDB menjadi USD 1 – 1,2 trilyun pada tahun 2014. Semua pernyataan para pemimpin Negara ini sangat menyenangkan dan menambah harapan terhadap masa depan bangsa. Namun agak aneh bahwa tidak dijelaskan hubungan Ekonomi Terbuka dengan sistem ekonomi yang ditetapkan UUD read more .....

Dec 13

Saya perlu menyampaikan kepada para pembaca blog saya bahwa telah terbit buku saya SI VIS PACEM PARA BELLUM, MEMBANGUN PERTAHANAN NEGARA YANG MODERN DAN EFEKTIF EDISI REVISI. Pada bulan Januari 2005 buku tulisan saya berjudul Si Vis Pacem Para Bellum, Membangun Pertahanan Negara yang Modern dan Efektif, telah terbit untuk pertama kali. Buku itu diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Sebagaimana telah kita ketahui, Si Vis Pacem Para Bellum adalah semboyan dalam bahasa Latin dari para penguasa kerajaan Romawi masa lampau. Artinya adalah : Siapa menghendaki Damai harus siap untuk Perang. Saya gunakan semboyan Romawi ini untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia yang cinta Damai harus mempunyai kemampuan tangguh untuk Perang agar terus hidup damai. Dan untuk itu harus membangun Pertahanan Negara yang modern dan efektif untuk NKRI. Pada tahun 2008 ada indikasi bahwa buku itu amat berkurang untuk diperoleh. Ketika saya ajukan kepada pimpinan PT Gramedia Pustaka Utama untuk melakukan penerbitan kedua, ternyata penerbit itu read more .....

Oct 18

Sayidiman Suryohadiprojo Tanggapan terhadap tulisan Sdr Gita Wiryawan Dalam Kompas tanggal 7 Oktober 2010 ada tulisan sdr Gita Wiryawan (GW), Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, dengan judul Nasionalisme Ekonomi (NE). Patut dihargai bahwa di masa kini ketika ekonomi nasional diarahkan kepada sistem pasar bebas, ada pejabat Pemerintah yang menulis secara terbuka tentang NE. Namun dalam uraian GW itu ada hal-hal yang perlu ditanggapi agar maksud baik untuk menyelenggarakan NE tidak justru membawa masalah bagi bangsa Indonesia.. Sebaiknya dalam menerapkan NE kita mencari bahan perbandingan pada praktek Jepang dan China, dua negara yang dulu dan sekarang bergelora ekonominya, Jepang di tahun 1960-an hingga 1980-an sedangkan China sekarang. Dan bukan semata-mata berorientasi pada hal-hal yang dilakukan AS dan negara Barat lainnya yang berat sekali menghadapi usaha dua bangsa Asia itu. GW menganggap kurang tepat besarnya fokus pada struktur kepemilikan ketika melakukan investasi asing, dengan alasan bahwa banyak sektor penting read more .....

Aug 31

Sayidiman Suryohadiprojo Pengaruh China terhadap dinamika Asia Timur Dinamika Asia Timur meningkat dalam tahun 2010 dan itu disebabkan terutama oleh pengaruh China. Perkembangan ekonomi China yang amat kuat merupakan sumber dari peningkatan peran negara itu. Pertumbuhan ekonomi yang setiap tahun lebih dari 6 % membuat China kekuatan ekonomi yang makin andal dan telah menjadi yang kedua terbesar di dunia di belakang AS serta telah melampaui Jepang. Pada tahun 2010 GDP AS sebesar USD 14.799 milyard, diikuti China dengan USD 5.364 milyard dan Jepang USD 5.272 milyard [1]. Di lingkungan pemimpin China diperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi sampai tahun 2020 akan sebesar 6% setahun, setelah itu hingga tahun 2030 sekitar 5% dan kemudian sampai tahun 2050 4% setahun. Perkembangan ekonomi China itu telah menjadikannya negara dengan cadangan valuta asing terbesar dengan USD 2.454 milyard, melampaui Jepang dengan USD 1.019 milyard. Perkembangan ekonomi itu memungkinkan China memperkuat kemampuan militernya secara besar-besaran. Pada read more .....

Aug 17

Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) Pendahuluan. Bangsa Indonesia pada hari ini memperingati ulang tahun Proklamasi Keerdekaannya ke 65. Pada hari bahagia ini penulis terlebih dahulu menyampaikan Selamat Ulang Tahun kepada seluruh bangsa Indonesia dengan rasa keharuan mengingat perjuangan kita untuk mencapai dan membela kemerdekaan bangsa yang tidak ringan dan banyak pengorbanan. Dalam perjuangan kita itu telah tercapai banyak keberhasilan, khususnya kemampuan kita menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia terhadap segala usaha dari luar dan dalam negeri untuk meniadakan kemerdekaan kita. Akan tetapi dengan rasa prihatin harus kita akui bahwa masih banyak yang belum berhasil kita lakukan, khususnya belum terwujudnya Pancasila Dasar Negara RI sebagai kenyataan dalam kehidupan bangsa. Demikian pula masih luasnya kemiskinan meliputi kehidupan rakyat Indonesia. Juga belum terwujud kehidupan demokrasi yang cocok sehingga turut menjadi sebab penting rendahnya kesejahteraan bagi rakyat unumnya. Tulisan read more .....

Aug 4

Pandangan seorang Pejuang Kemerdekaan Indonesia Sayidiman Suryohadiprojo[1] Letjen TNI (Purn)   Berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS) Serangan militer Belanda terhadap RI pada tanggal 19 Desember 1948 ternyata tidak memberikan hasil sebagaimana diharapkan para pemimpin Belanda. Sekalipun serangan mendadak itu secara militer berhasil merebut Yogyakarta, ibukota Revolusi RI secara cepat, namun kemudian Belanda tidak dapat memperoleh hasil politik yang diinginkan. Tujuan politik Belanda adalah menaklukkan Republik Indonesia dan meniadakannya sebagai kenyataan politik. Sebab selama RI itu ada, Belanda tak dapat menegakkan kembali kekuasaan penjajahannya atas bumi Indonesia. Padahal Belanda sangat terdesak dalam segi keuangannya, karena AS sebagai sumber bantuan utama tidak memberikan bantuan keuangan yang cukup bagi Belanda untuk mengembangkan negaranya dan menguasai kembali Indonesia. Sebab itu di samping Tujuan Politik Belanda mempunyai Tujuan Ekonomi, yaitu secepat mungkin menguasai Indonesia untuk menghidupkan read more .....

Jun 25

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 25 Juni 2010 Tidak hanya satu orang Barat menamakan Afghanistan as the graveyard of Empires. Sejak Iskandar Zulkarnaen di abad ke 4 SM hingga sekarang AS, semuanya yang mempunyai kehendak keras menguasai Afganistan, telah mendapat pukulan dan pelajaran jangan coba-coba menjajah negara dan bangsa itu. Inggeris pada akhir abad ke 19 berusaha meluaskan daerah jajahannya di India dengan menginvasi Afganistan. Tapi ia gagal dan akhirnya dengan babak belur mengakhiri niatnya. Padahal waktu itu Imperium Inggeris menguasai banyak wilayah dunia sehingga di kekuasaan Inggeris matahari tak pernah terpendam. Kemudian Uni Soviet ketika masih negara adikuasa atau superpower pada tahun 1979 menginvasi Afganistan, tetapi juga adikuasa itu mendapat pelajaran yang amat menyakitkan sehingga harus mundur tanpa berhasil mencapai tujuannya. Bahkan kegagalan Uni Soviet itu turut menyebabkan kekalahannya dalam Perang Dingin terhadap AS dan blok Barat. Yang terakhir adalah AS yang menginvasi Afganistan pada tahun 2001 read more .....