Oct 8

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Belakangan ini sering ada keluhan bahwa di kalangan kaum muda sekarang kurang ada sikap kebangsaan atau nasionalisme yang kuat. Mungkin sekali gejala yang kurang positif itu disebabkan karena kaum muda sekarang kurang mengenal negerinya sendiri. Seorang anak muda yang tinggal di Jawa Barat, jangankan mengenal Sumatera atau Kalimantan, daerahnya sendiri Jawa Barat tidak dikenalnya dengan baik. Amat sedikit anak muda, mungkin juga orang tua, yang mengetahui nama gunung-gunung yang ada di daerah provinsinya, apalagi berapa tinggi setiap gunung itu. Belum tentu mayoritas murid SMA tahu nama kota-kota yang dilalui kereta api yang berjalan tiap hari dari Jakarta ke Surabaya. Dan banyak lagi hal-hal mengenai negeri kita Indonesia. Orang sekarang lebih berminat kepada keadaan yang langsung dihadapinya, termasuk yang bersangkutan dengan negara lain. Sebab itu mereka tidak ada minat pada negerinya sendiri, kecuali kalau ada urusan yang langsung dihadapinya. Kondisi demikian mendorong kepada sikap pragmatisme read more .....

Sep 28

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Purnawirawan Pejabat Tinggi TNI Angkatan Darat Belakangan ini perasaan orang Indonesia banyak diganggu oleh sikap bangsa lain yang merendahkan bangsa kita, khususnya sikap bangsa Malaysia, Australia, dan Singapura. Perlu disadari, pandangan dan penilaian bangsa lain terhadap kita adalah satu masalah persepsi. Dalam persepsi itu ada hal tertentu yang amat berpengaruh, seperti faktor kekuatan dan keberhasilan. Dapat diperkirakan, sikap bangsa lain yang merendahkan Indonesia itu dipengaruhi oleh penilaian mereka terhadap kekuatan Indonesia sekarang dibandingkan dengan masa lalu. Adalah kenyataan bahwa pada tahun 1960-an kekuatan pertahanan RI merupakan yang terkuat di Asia Tenggara. Pada tahun 1980-an Indonesia dinilai tergolong negara "macan Asia" dalam ekonomi, khususnya karena faktor minyak dan gas bumi. Selain itu, diplomasi Indonesia masa lalu menunjukkan sikap yang lebih tegar dan percaya diri. Namun, kini bangsa lain tidak lagi melihat kekuatan Indonesia itu. Selain itu, read more .....

Sep 13

By Lt. Gen.(retired) Sayidiman Suryohadiprojo INDONESIAN CONCEPT OF NATIONALISM The Indonesian Concept of Nationalism is based on Pancasila. Pancasila is a set of principles which has been outlined by Ir. Soekarno or popularly known as Bung Karno in a conference of the Preparatory Committee for Indonesian Independence on June 1, 1945 in Jakarta. Later the Committee agreed to declare Pancasila as the Ideology and Basic Foundation of the Republic of Indonesia. Indonesian Nationalism should therefore be implemented based on the values of Pancasila, namely : Belief in Monotheism Humanity Unity of Indonesia Democracy Social Justice Although the Indonesian Concept of Nationalism contains a religious principle (Belief in One God), it is not a theocratic concept. Aiming for the best of the Nation, it is not anti foreign. Neither is it based on Individualism, although it respects the Individual in its relationship with Community. As Bung Karno said, Indonesian Nationalism is a nationalism that grows in the garden of read more .....

Sep 13

Sayidiman Suryohadiprojo Dalam kehidupan umat manusia yang makin maju dan makin ruwet (complicated) kepemimpinan dan manajemen sangat dipengaruhi sikap yang tepat menghadapi Prinsip di satu pihak dan Pragmatisme di pihak lain. Berpegang pada Prinsip berarti mendasarkan segala keputusan pada ketentuan-ketentuan pokok yang telah ditetapkan atau disepakati. Sedangkan Bersikap Pragmatis adalah mengambil keputusan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi. Maka idealnya adalah mengambil keputusan yang merupakan perwujudan Prinsip sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Orang yang kuat berpegang pada Prinsip cenderung untuk melihat jauh ke depan. Kalau dilakukan secara berlebihan menghasilkan sikap kaku karena kurang memperhatikan situasi dan kondisi yang ada. Sebaliknya orang yang Bersikap Pragmatis lebih memperhatikan keperluan jangka pendek. Sikap pragmatis yang berlebihan menjadikan orang itu tidak berpendirian. Maka untuk mencapai keseimbangan antara dua hal itu diperlukan pertimbangan (judgment) yang matang, read more .....

Aug 14

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Djoko Santoso selaku Pembina utama Patriot Leadership Development Center (PLDC) membuka secara resmi pelaksanaan lokakarya kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan dilaksanakan di Bandung selama tiga hari dari tanggal 13 sampai dengan 15 Agustus 2007. Dalam amanatnya Kasad menyatakan bahwa, di tengah-tengah gerak reformasi dan demokratisasi sekarang ini terjadi erosi kepercayaan terhadap pilar-pilar Bangsa dan Negara yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Untuk merevitalisasi atau mereaktualisasi kepercayaan serta nasionalisme tersebut dapat dilakukan dengan cara menggugah, meningkatkan kesadaran, pemahaman, semangat dan komitmen terhadap wawasan-wawasan kebangsaan. Dikatakan Kasad, untuk mampu membangun wawasan kebangsaan yang bermuara kepada terwujudnya integrasi nasional yang kuat, diperlukan banyaknya jumlah pemimpin yang memiliki kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan. Pemimpin yang berwawasan kebangsaan menurut Kasad adalah pemimpin yang pancasilais, read more .....

Aug 14

Jakarta (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap generasi muda Indonesia dapat belajar dari para pendahulunya dan memiliki patriotisme serta nasionalisme untuk juga berbuat yang terbaik pada bangsa dan negara, terutama pada saat mereka semua telah melanjutkan estafet kepemimpinan negara. Pernyataan itu dikemukakan Presiden Yudhoyono ketika mengukuhkan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pertimbangan Pusat (Wantimpus) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) periode 2007 – 2012, di Istana Negara, Jakarta, Senin. Dalam sesi dialog setelah acara pengukuhan, Presiden Yudhoyono menyampaikan harapannya agar generasi muda dapat melihat lintasan sejarah bangsa dengan pengabdian para pendahulu. "Zaman sudah berubah. Masa akan terus berganti, tetapi semangat pendiri republik dan konsensus-konsensus dasar kebangsaan harus abadi dan berlaku sepanjang masa," katanya. Menurut Kepala Negara, jika berbicara mengenai nilai, jati diri, dan konsensus dasar kebangsaan, maka roh kehidupan berbangsa dan read more .....

Aug 13

13/08/07 14:37 Jakarta (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengukuhkan 37 anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan 17 orang anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Wantimpus) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) masa bakti 2007-2012. Acara pengukuhan yang juga dihadiri oleh sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) tersebut dilakukan di Istana Negara, Jakarta, Senin sore. Menurut Ketua Umum DPP LVRI, Letjen TNI (Purn) Rais Abin, pengukuhan merupakan tindak lanjut Keppres Nomor 59/M tahun 2007 berdasarkan Kongres IX LVRI Maret 2007. Dalam laporannya, Rais juga mengatakan bahwa susunan pengurus hasil Kongres IX itu selain masih hadirnya beberapa veteran pejuang, umumnya adalah veteran pembela Trikora, Dwikora dan Timtim yang merupakan kepengurusan transisi yang akan melanjutkan estafet kepengurusan periode 2012-2017. Dia juga menyampaikan mengenai masih perlu dipikirkannya masalah pemberian kehormatan dan kesejahteraan bagi para veteran serta kedudukan Pembinaan LVRI dalam lembaga negara. Selain itu, read more .....

Aug 6

Pendidikan yang mencerdaskan bangsa Pancasila hakekatnya adalah untuk kemaslahatan dan keselamatan Manusia. Menjadikan Pancasila kenyataan harus diartikan menciptakan kehidupan yang sebaik-baiknya bagi Manusia. Salah satu unsur yang penting dalam kesejahteraan Manusia adalah kemampuan dan peluangnya untuk senantiasa mengejar kemajuan. Sebab itu Kecerdasan Manusia harus selalu ditingkatkan untuk memberikannya kemampuan dan peluang itu. Faktor utama untuk mengusahakannya adalah Pendidikan. Pendidikan adalah usaha atau kegiatan mengalihkan atau mentransfer dari satu pihak kepada pihak lain pengetahuan, kecakapan, kebiasaan dan sistem nilai agar pihak penerima menjadi manusia yang lebih berkemampuan untuk menjalankan kehidupan dalam masyarakat. Sebab itu per definisi pendidikan harus bermutu. Pendidikan yang tidak atau kurang bermutu tidak dapat melakukan transfer atau peralihan kemampuan yang lebih tinggi. Malahan sebaliknya, tidak mustahil pendidikan kurang bermutu menjadikan manusia kurang mampu untuk hidup secara baik dalam read more .....

Aug 6

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Pur) Wawasan Kebangsaan Indonesia Wawasan Kebangsaan bangsa Indonesia dilandasi Pancasila yang ditetapkan sebagai Dasar Negara RI dan Pandangan Hidup bangsa Indonesia setelah Ir Soekarno atau Bung Karno menguraikannya depan Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945. Karena itu Wawasan Kebangsaan Indonesia mengandung nilai-nilai Pancasila, yaitu : Kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa Kebangsaan yang menjunjung tinggi Kemanusiaan Adil dan Beradab Kebangsaan yang menjaga Persatuan Indonesia Kebangsaan yang menjamin Kerakyatan Kebangsaan yang mewujudkan Keadilan Sosial Dengan begitu Wawasan Kebangsaan Indonesia bukan menganut atheisme tetapi juga bukan pendukung negara agama, bukan pandangan kebangsaan fanatik anti-asing meskipun mengusahakan yang terbaik bagi Indonesia, bukan pula penganut pandangan individualisme dan liberalisme meskipun menghargai Individu dalam hubungannya dengan Masyarakat. Wawasan Kebangsaan Indonesia adalah nasionalisme dalam read more .....

Jul 17

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 17 Juli 2007 Pendahuluan Sejak berdirinya pada 17 Agustus 1945 hingga kini NKRI tanpa henti menghadapi berbagai ancaman dan tantangan sekali gus. Antara lain yang menjadi ancaman serieus adalah separatisme dan ideologi transnasional seperti neo-liberalisme, Islam radikal dan lainnya. Kunci dari usaha mengamankan NKRI dari berbagai ancaman itu adalah dengan membangun Daya Tangkal (deterrence) yang efektif. Faktor utama dalam hal itu adalah dengan menjadikan Pancasila Kenyataan di bumi Indonesia. Kalau Pancasila menjadi kenyataan dalam eksistensi NKRI terwujud kondisi bangsa yang menetralisasi berbagai alasan yang digunakan pihak-pihak yang bermaksud mengancam NKRI. Hal itu menjadi landasan kuat bagi pembangunan Daya Tangkal Bangsa. Bersamaan dengan itu dibangun pula kekuatan fisik yang mampu menimbulkan kerugian besar pada setiap pengganggu. Dengan begitu ditumbuhkan persepsi pada calon pengganggu bahwa mengganggu NKRI melalui berbagai macam ancaman dan tantangan akan lebih merugikan pihak read more .....