Jul 17

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Gagasan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dalam artikel "Nasionalisme dan Internasionalisme Abad Ke-21" (Kompas, 11/7/2007) perlu ditanggapi. Meski tidak eksplisit menyebut demikian, artikel itu tertuju kepada pengkritik perjanjian kerja sama pertahanan dengan Singapura (DCA). Oleh karena di antara pengkritik para perwira purnawirawan senior TNI termasuk tervokal, tulisan ini merupakan tanggapan seorang di antara mereka terhadap pendapat Menhan. Dikatakan, pada tahun 1945 Bung Karno menegaskan "nasionalisme bangsa Indonesia bukanlah sempit melainkan nasionalisme yang terbuka dan hidup subur dalam tamansari internasionalisme". Kemudian dikatakan "internasionalisme abad ke-21 dikenal sebagai globalisasi". Agaknya Juwono Sudarsono membuat penilaian meleset sebab hampir pasti globalisasi yang ada kini, yaitu dominasi Amerika Serikat (AS) atas dunia, bukan tamansari internasionalisme yang dimaksud Bung Karno. Internasionalisme yang diinginkan Bung Karno adalah dunia dan umat read more .....

Jun 30

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, Juni 2007 Pendahuluan Mengadakan Prediksi Masa Depan tidak mudah mengingat perubahan yang dapat terjadi begitu cepat dan sering sebagai akibat kemajuan berpikir Manusia . Oleh sebab itu untuk menjamin secara maksimal Masa Depan yang sebaik mungkin, perlu Masa Depan itu direncanakan dan kemudian rencana itu diimplementasikan melalui Manajemen Nasional yang efektif dan bermutu. Perencanaan Strategis yang harus diimplementasikan Manajemen Nasional meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Jangka Menengah (RJM) dan Rencana Tahunan (RT). Dalam Perencanaan Strategis fungsi Rencana Pemba-ngunan Jangka Panjang adalah memberikan gam¬baran tentang hal-hal yang ingin dicapai dalam waktu 20 tahun mendatang yang bersifat pedoman bagi pembuatan Rencana Jangka Menengah. Gambaran Masa Depan yang ingin dicapai melalui RPJP mengantarkan pembuatan program-program sebagai Rencana Jangka Menengah. Program-program itu kemudian diterjemahkan dalam tindakan dan kegiatan sebagai Rencana Tahunan read more .....

Jun 22

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 22 Juni 2007 Pada tanggal 27 April 2007 pemerintah RI melalui Menhan Juwono Sudarsono telah menandatangani Perjanjian Kerjasama Pertahanan dengan pemerintah Singapura. Dokumen Perjanjian itu yang selanjutnya dalam tulisan ini disingkat DCA (Defence Cooperation Agreement) telah menimbulkan banyak reaksi masyarakat Indonesia yang kurang setuju, bahkan berpendapat harus dibatalkan. Terutama di kalangan Pejuang Kemerdekaan Generasi 1945 ada sikap penolakan yang amat kuat karena menganggap hasil perjuangannya dikorbankan secara bodoh. Ini terutama menyangkut kedaulatan bangsa atas wilayah daratan, lautan dan udara yang dalam DCA diremehkan, padahal itu telah diperoleh melalui perjuangan yang tidak mudah dan penuh pengorbanan jasmani dan rohani. Tidak ada yang menentang kalau Indonesia mengadakan kerjasama dengan negara lain. Akan tetapi kerjasama itu harus memberikan manfaat yang sama atau hampir sama besar kepada kedua pihak. Sedangkan DCA memberikan keuntungan yang amat strategis bagi Singapura, read more .....

Jun 20

Surabaya (ANTARA News) – Mantan Gubernur Lemhanas Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo menilai, perjanjian kerja sama pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) RI-Singapura akan dapat menguntungkan Amerika Serikat (AS). "DCA dapat menguntungkan AS, karena Indonesia dapat dijadikan tempat latihan militer Singapura," ujarnya usai berbicara dalam seminar di kampus B Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rabu. Mantan Dubes Keliling RI di kawasan Afrika itu, mengemukakan hal itu saat berbicara dalam studium generale "Mendorong Prestasi Perjuangan Untuk Kedaulatan Bangsa Indonesia" di hadapan ratusan mahasiswa Unair. Menurut dia, DCA yang ditandatangani pemerintah di Bali pada 27 April 2007 itu, memungkinkan Singapura untuk mengajak pihak ketiga masuk ke Indonesia, meski perjanjian pertahanan itu mengharuskan persetujuan Indonesia. "Itulah kelemahannya, tapi tanpa adanya pihak ketiga pun sudah menyakitkan, karena bila Singapura mendatangkan satu batalyon tank yang berjumlah 77 tank ke kawasan read more .....

Jun 20

Rabu, 20 Juni 2007 | 12:37 WIB TEMPO Interaktif, Surabaya:Bekas Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional Sayidiman Suryohadiprojo mendesak pemerintah membatalkan perjanjian pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) Indonesia dengan Singapura. Ia menganggap perjanjian itu membuka peluang negeri tetanga ini menggunakan daerah latihan di wilayah darat, laut dan udara Indonesia. Sayidiman menilai perjanjian itu melepaskan sebagian kedaulatan Indonesia atas wilayah nasional kepada Singapura.Ia berbicara hal ini di hadapan peserta Kuliah Umum Mendorong Prestasi Perjuangan untuk Kedaulatan Bangsa Indonesia di Aula Fadjar Notonagoro Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (20/6). "Ini adalah perjanjian konyol karena itu harus dibatalkan," katanya. Ia menilai, perjanjian itu lahir sebagai balas jasa atas diterimanya perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura. Indikasi ini terlihat dari lahirnya perjanjian ekstradisi dan perjanjian pertahanan secara beriringan. Padahal, kata dia, masalah pertahanan sangat read more .....

May 28

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 28 Mei 2007 1. Perjanjian Pertahanan dikaitkan dengan Perjanjian Ekstradisi Meskipun kalangan Pemerintah RI menyangkal bahwa pembuatan Perjanjian Pertahanan dengan Singapura dikaitkan dengan Perjanjian Ekstradisi yang juga dilakukan dengan negara itu, namun karena dilakukan sangat berdekatan waktunya sukar dielakkan adanya kesan bahwa terjadi kait mengait antara dua perjanjian itu. Padahal masalah pertahanan sangat berbeda dengan masalah ekstradisi. Karena dilakukan dalam waktu yang berdekatan mau tidak mau timbul kesan bahwa ada semacam “trade off’ dalam pencapaian dua persetujuan itu. Indonesia yang sangat berkepentingan dengan adanya perjanjian ekstradisi berhubung dengan kerugian yang yang telah dialami karena perbuatan kriminal dari orang-orang yang bersembunyi di Singapura, nampak memberikan konsesi penting dalam perjanjian pertahanan agar Singapura mau membuat perjanjian ekstradisi yang sudah lama diinginkan Indonesia. Seharusnya pembuatan dua macam perjanjian itu read more .....

May 21

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 21 Mei 2007 Mengapa Prestasi Penting Pencapaian prestasi tinggi makin penting dalam kehidupan bangsa masa kini dan masa datang. Umat manusia makin berkembang maju dan bangsa yang tidak mampu mengikuti irama kemajuan itu sukar menjamin kelangsungan hidupnya; kalau tidak sirna paling tidak akan berada dalam kondisi setengah mati setengah hidup. Sekarang bangsa Indonesia diajak untuk mewujudkan Visi Indonesia 2030 yang menggambarkan bangsa Indonesia sebagai bangsa nomer lima di dunia dalam tingkat ekonomi dan kesejahteraan. Dilihat dari sudut potensi yang ada pada Indonesia Visi itu bukan fantasi, karena Indonesia dikaruniai potensi Alam yang kaya dan besar variasinya, potensi Manusia yang cerdas dan fleksibel serta besar jumlahnya, dan kondisi geografis yang amat menguntungkan. Masalahnya adalah bahwa Manusia Indonesia kurang sekali terdorong untuk mengeluarkan energi yang memadai guna memroses potensi itu menjadi kekuatan nyata. Akibatnya adalah bahwa sepanjang sejarah Indonesia sejak sirnanya read more .....

May 16

Koran Tempo, 16 Mai 2007 JAKARTA — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu dengan 14 jenderal purnawirawan dalam acara makan pagi di Istana Negara kemarin. Acara yang berlangsung sekitar empat jam itu dihadiri juga oleh Panglima TNI, kepala staf dari tiga angkatan, dan Kepala Kepolisian RI. Jenderal purnawirawan yang hadir itu antara lain Wismoyo Arismunandar, Bambang Triantoro, Sayidiman Suryohadiprodjo, Ari Soedewo, Soekarno, dan Saiful Sulun. Mantan wakil presiden Try Soetrisno dan mantan panglima TNI Wiranto tidak terlihat meski keduanya diundang, "Mereka ada acara lain, jadi tidak datang," kata Saiful Sulun, mewakili 14 rekannya yang lain. Menurut Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto, dalam pertemuan itu Presiden dan para jenderal saling bertukar pikiran mengenai banyak hal, termasuk isu-isu kebangsaan, ketahanan, kebudayaan, dan pendidikan. Begitu juga dengan isu amendemen Undang-Undang Dasar 1945 yang tengah menghangat saat ini. "Tapi tidak ada yang spesifik. Lebih banyak nostalgianya. Sudah lama read more .....

May 15

Jakarta (ANTARA News) – Sejumlah purnawirawan TNI dan Polri, Selasa, bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta. Dalam pertemuan itu berbagai masalah dibicarakan, seperti soal penderitaan rakyat dan masalah kebangsaan, kata Ketua Forum Komunikasi Persatuan Purnawirawan TNI, Letjen Purn Syaiful Sulun. Ia mengatakan dalam pertemuan sekitar empat jam sejak pukul 8.00 WIB itu dibahas antara lain masalah penderitaan rakyat. "Penderitaan rakyat, yang dimaksud itu rakyat itu masih miskin, dan rakyat yang menganggur semakin banyak. Tadi kami sampaikan dan presiden menyadari, dan menyambut positif," katanya. Menurut Sulun, Presiden dalam pertemuan itu menggambarkan programnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seperti untuk mengurangi angka pengangguran dari 10 juta sudah menjadi 9,7 juta orang. Selain itu, dibicarakan juga soal kebangsaan yang menurut Sulun sudah mulai menurun. "Rasa kebangsaan, perlu ditingkatkan, bukan berarti sekarang tidak ada, tapi perlu ditingkatkan agar read more .....

May 15

Jakarta (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa pagi, mengundang sejumlah purnawirawan TNI/Polri untuk melakukan pertemuan sambil sarapan pagi bersama. Dalam acara yang digelar di Istana Negara dan dimulai pada pukul 08.00 WIB, Presiden didampingi Panglima TNI, Marsekal TNI Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar, dan Menko Polhukam Widodo AS. Turut hadir dalam pertemuan itu Kasad Jenderal TNI Djoko Santoso, Kasal Laksamana TNI Slamet Subijanto, dan Kasau Marsekal TNI Herman Prayitno. Sejumlah purnawirawan yang hadir antara lain mantan Kasad Wismoyo Arismunandar, mantan Kasospol TNI Bambang Triantoro, mantan Gubernur Lemhanas Sayidiman Suryohadiprojo, Ari Sadewo (Sekjen KONI), Soekarno, Syaiful Sulun, Kahfi Suriadiredja, Mahmud Subar, Soegiatno, Saleh Basrah, Ashadi Cahyadi dan FX Soejitno, serta mantan Kapolri Mochamad Sanusi. Belum diketahui materi pembicaraan Presiden dengan para Jenderal tersebut dalam sarapan yang menyediakan menu pecel read more .....