Dec 23

PENDAHULUAN Dalam kehidupan di Indonesia terasa sekali betapa ada sekat-sekat antara berbagai sektor atau bidang kehidupan. Seakan-akan setiap sektor atau bidang kehidupan tidak hanya merupakan satu keutuhan tersendiri, tetapi juga tidak mempunyai relasi dengan sektor atau bidang kehidupan lain. Hal itu terdapat dalam setiap kegiatan bangsa, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta. Lingkungan pendidikan pun tidak berbeda dari yang lain. Makin terasa bahwa keadaan demikian tidak realistis sama sekali dan amat merugikan usaha untuk mencapai kehidupan yang bermutu. Hal demikian telah terbawa oleh pemikiran yang tidak sesuai dengan perkembangan bangsa dan umat manusia. Sebab dalam kenyataan kehidupan manusia merupakan satu keutuhan yang lengkap, meskipun terdiri dari aneka macam sektor yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apalagi ketika umat manusia akan memasuki Abad ke 21 yang sekali gus merupakan permulaan dari satu millenium baru. Kalau kita bersedia untuk mempelajari kehidupan read more .....

Nov 6

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) Jakarta, 6 November 1998 Membangun Negara dan Bangsa yang merdeka Beberapa hari lagi, yaitu pada tanggal 10 November 1998, bangsa Indonesia akan memperingati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November telah kita tetapkan sebagai Hari Pahlawan. Itu adalah untuk memperingati perjuangan yang heroik rakyat Indonesia melawan penjajah yang setelah Perang Dunia Kedua hendak menancapkan kembali kekuasaannya di bumi Ibu Pertiwi dan hendak meniadakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamasikan. Pada tanggal 10 November 1945 para pemuda Surabaya mengadakan perlawanan terhadap pasukan Sekutu yang hendak menguasai kota Surabaya untuk diserahkan kepada Belanda yang telah datang kembali ke Indonesia dengan mendompleng pasukan Sekutu. Pemuda dan rakyat Surabaya tidak mau dijajah kembali dan dihilangkan kemerdekaannya yang baru saja direbut. Perlawanan gigih diberikan dengan disertai pengorbanan jiwa, raga, harta dan benda. Baru setelah Presiden Soekarno mencapai read more .....

May 2
Sasaran Reformasi
Admin | 05 2nd, 1998 | Opini | No Comments »

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Mantan Gubernur Lemhannas REFORMASI dalam arti perubahan bersifat gradual, konstitusional, dan tepat sasaran mendapat dukungan luas masyarakat Indonesia. Hampir semua orang mengakui bahwa masih banyak hal yang kurang sesuai dengan UUD 1945 dan Pancasila. Jadi, kurang sesuai dengan kepentingan rakyat banyak. Salah satu reformasi yang harus kita lakukan adalah reformasi ekonomi. Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengatakan, reformasi ekonomi yang dilakukan pemerintah lewat kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) merupakan reformasi besar-besaran yang menjawab tuntutan reformasi masyarakat (Republika, 21 April). Timbul pertanyaan, apakah pelaksanaan yang konsisten persetujuan IMF sudah cukup mencerminkan reformasi ekonomi yang gradual, konstitusional, dan tepat sasaran? Memang perubahan yang timbul dalam masyarakat dan khususnya dalam kehidupan ekonomi cukup banyak, mengingat berbagai kelemahan dan kerawanan yang ada. Disiplin dalam melakukan segala program akan lebih terwujud. Korupsi dan kolusi read more .....

Feb 24

By Sayidiman Suryohadiprojo IT is difficult for ordinary Indonesian people to understand concern shown among foreign circles over the choice of Indonesia’s next vice president, to be elected during the General Session of the People’s Consultative Assembly (MPR) in March. The interest began about one month ago, when a large part of the Western media suggested that Indonesia should refrain from electing Dr B.J. Habibie as the next vice president. He is viewed as a big spender and a danger for foreign investment. Even parochial local newspapers in the US, which rarely print news on Indonesia, took part in the character assassination. Then came a statement made by former Singapore prime minister Lee Kuan Yew, who suggested the same without mentioning Habibie by name. A former US ambassador to Indonesia, Paul Wolfawitz, also jumped on the bandwagon, airing criticisms in an interview with The Jakarta Post. It is difficult to believe that all these statements are made independent of some political agenda. They are allied to a read more .....

Nov 8

Wawancara dengan Wartawan Forum Letnan Jenderal (Purn.) Sayidiman Suryohadiprojo,70 tahun, adalah seorang pemikir ABRI yang cukup berpengaruh. Pandangan- pandangan Mantan Gubernur Lemhannas (1974-1978) kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, itu di bidang sosial-politik memang tajam. Cukup banyak gagasannya yang bergaung keras. Misalnya, tentang restrukturisasi peran intelijen yang dilontarkannya empat tahun lalu. Atau visinya mengenai pembauran pri dan nonpri yang dicetuskannya baru-baru ini. Bekas Duta Besar RI untuk Jepang itu juga berkomentar menarik tentang pernyataan Pak Harto soal lengser keprabon, madeg pandhita (turun takhta, dan menjadi begawan) dalam Rapim Golkar, 20 Oktober lalu. Bagaimana pandangan Sayidiman yang sejalan dengan gagasan Amien Rais itu? Wartawan FORUM, Sen Tjiauw dan Maman Gantra, mewawancarai jenderal penulis sejumlah buku itu di rumahnya pekan lalu. Berikut petikannya. Bagaimana Anda mengartikan pernyataan Pak Harto soal lengser keprabon, madeg pandhita? Sebenarnya, waktu menghadapi tahun 1993, saya sering read more .....

Nov 29

Wawancara dengan Wartawan Majalah Forum Sri Raharti dan Tony Hasyim Sayidiman Suryohadiprojo selama ini dikenal sebagai sosok militer yang tegas dan tegar, tapi sekaligus memiliki pemikiran yang luas dan mendalam. Salah satu lulusan terbaik angkatan pertama Akademi Militer ini punya banyak catatan prestasi menonjol. Dialah yang antara lain, sebagai pasukan Siliwangi, ikut menumpas pemberontakan Darul Islam, PRRI/Permesta. Dia pulalah yang ikut membesarkan Lemhannas sampai menjadi lembaga yang berpengaruh. Pemikirannya mengenai ABRI pun tidak pasaran. Banyak kalangan menilainya sebagai kritisi ABRI beraliran ekstrem. Terakhir, Sayidiman menerbitkan buku terbarunya berjudul Kepemimpinan ABRI dalam Sejarah dan Perjuangannya. Dalam buku tersebut ia bercerita dengan lugas mengenai sepak terjang para pemimpin ABRI pada masa perang kemerdekaan hingga masa awal Orde Baru. Ia juga memberikan penilaian satu per satu kepada sosok-sosok pemimpin ABRI. Bagaimana gagasannya mengenai kepemimpinan ABRI masa depan? Apa pendapatnya tentang read more .....

Nov 11

Kompas Online Senin, 11 November 1996 * Sayidiman Luncurkan Buku Jakarta, Kompas Jajaran ABRI harus mewaspadai terjadinya metamorfosa fisik maupun organisasi tentara nasional Indonesia (ABRI) agar semangat kerakyatan bisa terpelihara. Tentara harus kembali ke rakyat dan hidup berbaur dengan rakyat agar mereka bisa mendengarkan segala aspirasi rakyat, termasuk kesenangan dan kegetiran hidup rakyat banyak. Selain itu untuk menghadapi tantangan zaman saatnya ABRI mengkaji ulang doktrin-doktrin serta meredefinisi jati dirinya. Persoalan tersebut mengemuka dalam bedah buku Kepemimpinan ABRI dalam Sejarah dan Perjuangannya karya Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo, Sabtu (9/11). Bedah buku saat peluncuran buku terbitan PT Intermasa tersebut menghadirkan pembahas Penasihat Menristek bidang Hankam, Mayjen (Purn) Zaeni Azhari Maulani, Wakil Gubernur Lemhannas Prof Dr Juwono Sudarsono, pengamat sejarah ABRI Dr Salim Said, serta ahli manajemen Prof Dr Wagiono Ismangil. Sejumlah tokoh tampak hadir termasuk mantan Pangkopkamtib Jenderal TNI read more .....

Nov 11

*Sayidiman Launches Book Jakarta, Kompas Online The Armed Forces of the Republic of Indonesia must keep an eye on both the physical and organizational metamorphosis of the national Armed Forces of Indonesia, in order to preserve its populist spirit. The Armed Forces must return to the people and mingle with them in order to be able to hear the aspirations of the people, including the joys and the sorrows of the multitude. Besides that, to face the challenges of the era, the time has come for the Armed Forces of the Republic of Indonesia to study anew their doctrines and to redefine their identity. This issue came to the fore in the critique of the book Leadership of the Armed Forces of the Republic of Indonesia in History and Their Struggle, written by Lieut.Gen. (Ret.) Sayidiman Suryohadiprojo, on Saturday (9/11). The critique of the book at its launching by publisher PT Intermasa, presented the following speakers; Advisor to the Minister for Research & Technology for Defense & Security, Maj.Gen. (Ret.) Zaeni Azhari read more .....

Nov 10

Republika Online , Minggu, 10 Nopember 1996 @Pengantar Red:Pengantar: Buku ini saya tulis untuk generasi muda guna membantu mereka memahami sejarah. Inilah pernyataan Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo mengantar bukunya, kemarin (11/11). Acara peluncuran buku terbaru Sayidiman berjudul Kepemimpinan ABRI dalam Sejarah dan Perjuangannya itu lalu diramaikan oleh bedah buku yang menghadirkan Mayjen TNI (Purn) ZA Maulani, Prof Dr Juwono Sudarsono, Dr Salim Said, dan Prof Dr Wagiono Ismangil sebagai pembahas. Berikut adalah catatan Eep Saefulloh Fatah atas jalannya diskusi. ________________________________________________________________ Tak ada prajurit yang bodoh, hanya ada perwira yang bodoh. Tak ada rakyat yang bodoh, hanya ada pemimpin yang bodoh. Ungkapan ini disitir Prof Dr Juwono Sudarsono untuk menggarisbawahi arti penting kepemimpinan. Diakui oleh Juwono bahwa soal kepemimpinan merupakan soal penting dan krusial saat ini. "Indonesia adalah negara yang paling undermanaged di Asia Tenggara, dan ini tentu punya kaitan read more .....

Sep 11

SUARA PEMBARUAN DAILY 11 September 1996 Pengertian kepemimpinan dalam TNI baru ada sekitar 1953, yakni sejak sejumlah perwira TNI menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat. Tetapi kepemimpinan sebagai tindakan dan perbuatan sesungguhnya sudah ada sejak berdirinya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah namanya menjadi TKR, TRI, dan akhirnya TNI (halaman 1 dan 8). Ketiadaan pengertian kepemimpinan seperti disebut di atas sebelum tahun 1953 merupakan ”warisan” dari Belanda yang cukup lama menjajah Indonesia. Menurut Sayidiman Suryohadiprojo, di lingkungan Belanda pengertian kepemimpinan (kurang lebih sama dengan leiderschap) adalah satu kemampuan manusia yang diperoleh dari lahir, bukan karena mendapat pendidikan tertentu. Hal itu menyebabkan di kalangan masyarakat Belanda, termasuk di lingkungan militernya, tidak banyak dibicarakan tentang kepemimpinan. Pengertian kepemimpinan yang lebih lengkap baru mulai tumbuh di kalangan masyarakat Belanda dan militernya jauh setelah Perang Dunia II usai, saat read more .....