Jul 10

Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta Every year on Oct. 5 the Indonesian Military (TNI) celebrates its anniversary. It was 58 years ago that Indonesia developed its national armed forces from the existing People’s Security Agency (BKR). The first name of the armed forces was the Tentara Keamanan Rakyat (People’s Armed Security Forces), later changed to the Tentara Keselamatan Rakyat (People’s Armed Forces for Safety) and then later the Tentara Republik Indonesia (the Republic of Indonesia Military). The latest name change back to the TNI (after the name ABRI or the Indonesian Armed Forces was used from 1964 to 1999) was made to stress that the armed forces represented the people’s struggle against colonialism. This change included the integration of all the armed organizations formed by the people since the proclamation of independence in 1945, like the Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (Indonesian People’s Front for Struggle) and others. The read more .....

Jul 5

The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 07/05/2003 4:09 PM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta The Americans are now facing difficult and complicated problems in the management of postwar Iraq. Not only are administrative problems causing them severe headaches, but so are security problems. According to AFP, about 57 members of the U.S. military have become victims of postwar skirmishes since May this year. Only by winning peace can the U.S. build a new Iraq in accordance with its national interests. The Americans have already stated that the new Iraq will be a democratic Iraq. Although not formally stated, the U.S. is also interested in making Iraq an important — if not the most important — player in maintaining peace and stability in the Middle East, in accordance with U.S. interests. This means that the new Iraq should safeguard the continuity of the state of Israel in an environment of intense Arabic hostility. However, winning the peace in Iraq is not an easy nor read more .....

Jun 1

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo PERANG atau penggunaan kekerasan bersenjata tetap mempunyai peran penting dalam politik Amerika Abad ke-21. Tidak hanya kelompok neokonservatif yang suka perang untuk mengejar kepentingan nasional AS, tapi juga seluruh Partai Republik dan Partai Demokrat tidak dapat mengabaikan penggunaan kekuatan militer. Itu disebabkan masyarakat AS ternyata amat mendukung penggunaan kekuatan militer untuk membela kepentingan negaranya, khususnya setelah Peristiwa 11 September 2001. Serangan militer AS terhadap Irak menunjukkan cara berperang yang sekarang sedang disukai pemimpinnya. Cara baru itu sebenarnya sudah mulai digunakan terhadap Afghanistan, tapi menjadi lebih jelas di Irak. Tujuan melakukan serangan tidak berubah, yaitu memaksa musuh tunduk kepada kehendak AS agar kepentingan nasional AS terwujud dan terjamin. Akan tetapi penyelenggaraannya mengalami perubahan yang penting. Sekalipun dari dulu cara berperang Amerika Serikat mengutamakan alat dan teknologi untuk sejauh mungkin mencegah terjadinya korban read more .....

May 1

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) Jakarta, 1 Mei 2003 PENDAHULUAN Dengan terjadinya agressi AS ke Irak makin nyata bahwa dunia dan umat manusia masih jauh dari keadaan yang penuh kedamaian, keadilan dan kesejahteraan yang merata. Nyata sekali bahwa prinsip The Survival of the Fittest tetap berlaku. AS yang kuat secara militer dan ekonomi tanpa segan-segan melanggar hukum internasional bila ia anggap perlu untuk mengejar kepentingan nasionalnya. Termasuk melakukan agressi ke bangsa lain yang dianggapnya lebih lemah kekuatannya. Karena kekuatannya pula AS tidak terpengaruh dan sama sekali tidak menghiraukan opini rakyat sedunia yang mengecam tindakan agressinya. Juga karena kekuatan itu tidak ada pihak lain, termasuk PBB sebagai lembaga internasional tertinggi, yang sanggup mengkoreksi apalagi menghukum AS. Pendapat sementara orang bahwa negara-bangsa (nation-state) tidak ada artinya lagi karena globalisasi, ternyata kurang benar. Mereka katakan bahwa akibat globalisasi dunia tidak lagi dibelah-belah dalam read more .....

Apr 23

The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 04/23/2003 11:19 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute, (Lemhanas), Jakarta Earlier this month, the Ministry of Defense published its first Defense White Book, titled The Defense of the Nation in the 21st Century. This is a commendable performance by the ministry that deserves our praise. The ministry considers the publication of the White Book important to inform the nation about national defense and the need for its integrated implementation. The second purpose of the book is to inform the international community about Indonesia’s defense policy. Minister Matori Abdul Djalil stated that the title implies the readiness of the people to defend the nation with all its mental and physical strength. This statement reflects an attempt to influence the people to fully participate in the nation’s defense. But whether people would want to do so depends on whether there are conditions that people feel are worth fighting for — for instance, if they read more .....

Mar 31

The Jakarta Post , Jakarta | Mon, 03/31/2003 9:47 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta We are now into the second week of the American aggression against Iraq and people are starting to wonder how long this affair will last. Many people, especially in the U.S., thought the aggression would be a light and quick adventure for its armed forces, with its overwhelming technological superiority. Not only is the Iraqi army smaller in number than its U.S., British and Australian opponents, it also cannot hope to match the U.S. firepower and mobility. It looks very much like a fight between David and Goliath. However, it seems that the fighting is not just decided by the size of the armies and their technological capabilities. An equally, perhaps even more, important factor is the fighting spirit of the Iraqi people and its army. The Americans are aware of this and have taken the necessary measures to minimize that factor. Even before the invasion started the Americans had begun read more .....

Mar 27

Jakarta, 27 Maret 2003 14:50 Indonesia harus bersikap taktis dan realitis dalam menyikapi krisis dan perang yang terjadi di Irak, agar tidak merugikan kepentingan dan posisi Indonesia khususnya dalam hubungan diplomatiknya dengan Amerika Serikat (AS). "Wacana untuk memboikot seluruh kegiatan ekonomi aset AS di Indonesia, dan tuntutan agar Indonesia keluar dari PBB merupakan tindakan yang kurang taktis dan realistik," kata mantan Gubernur Lemhanas, Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprodjo di Jakarta, Kamis. Indonesia sebagai negara besar, menurut dia, hendaknya mampu menggalang kekuatan guna memperkuat posisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menekan AS untuk segera menghentikan invasinya terhadap Irak. "Indonesia bersama negara lain yang cinta damai, seperti negara-negara anggota Gerakan Non Blok (GNB) harusnya menggalang kekuatan guna dukung PBB agar tidak sepenuhnya dimanfaatkan oleh AS untuk memperoleh legalitas dalam melancarkan agresi militernya, bukan malah keluar," ujar Sayidiman. Ia menilai, sikap read more .....

Mar 27

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Mantan Gubernur Lemhannas BANYAK orang, termasuk Presiden AS George Bush dan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, bertanya: berapa lama Irak kuat menahan serangan militer AS dan koalisinya yang mempunyai keunggulan besar dalam teknologi. Kalau membandingkan kekuatan militer Irak dengan kekuatan koalisi Amerika-Inggris, bayangan kita adalah bagaikan anak kecil yang mau dimakan raksasa. Namun, AS terlalu mengandalkan kekuatan daya tembaknya yang memang hebat sekali dengan berbagai macam misil dan bom pintar (smart bombs) yang ditembakkan atau dijatuhkan pesawat terbangnya. Sebab, sudah terbukti dalam sejarah, daya tembak saja tidak dengan sendirinya memaksa lawan untuk kalah, kecuali bila ia menyerah karena tidak tahan dihujani tembakan jarak jauh itu. Hanya Jepang yang pernah menyerah setelah dijatuhi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, padahal kekuatan inti AS masih jauh dari Jepang. Selalu diperlukan kekuatan militer darat guna memanfaatkan hasil daya tembak untuk memaksa musuh menyerah. Maka, read more .....

Mar 19

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 19 Maret 2003 Sekarang belum juga selesai debat tentang boleh atau perlu tidaknya TNI tetap mempunyai organisasi territorial ( org.terr.). Kalangan sipil tertentu menghendaki orgterr ditiadakan oleh karena menjadi sarana bagi peran politik TNI yang merugikan masyarakat. Tidak ada yang menyangkal bahwa dalam 20 tahun terakhir Orde Baru orgterr telah disalahgunakan oleh yang berkuasa dan lebih menjadi sarana untuk menekan rakyat dari pada menjalankan fungsinya yang sebenarnya. Penyalahgunaan itu, disadari atau tidak, justru amat bertentangan dengan hakikat orgterr. Sebab fungsi terr TNI adalah terutama untuk merebut kepercayaan rakyat sehingga rakyat bersedia untuk bersama TNI menghadapi persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Namun penyalahgunaan sesuatu hal belum tentu menjadikan hal itu tidak bermanfaat, apalagi bertentangan dengan keperluan manusia. Berapa banyak contoh tentang penyalahgunaan agama sehingga amat merugikan kehidupan manusia dan malahan bertentangan dengan hakikat agama itu read more .....

Mar 18

The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 03/18/2003 9:06 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute, (Lemhanas), Jakarta War in Iraq seems to be inevitable now and it is only a matter of days, or even hours, before the U.S. military machine starts to roll. The Azores summit and, in particular, statements by President George W. Bush and Vice President Dick Cheney, which stressed the need for maintaining credibility, are clear and strong indications of the inevitability of war. The important question for us in Indonesia is how that war could affect us and our country. The duration of the war and performance of the U.S. military will significantly determine how the war will affect the world, including Indonesia. The duration of the war includes military operations to defeat the Iraq military resistance but also the consolidation of this military success to achieve its political objectives. With its military-technological superiority, the U.S. will be able to defeat Iraqi regular military resistance very read more .....