Aug 8

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 08/08/2002 12:12 PM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta There seems to be a general acceptance that the constitutional problems Indonesia is facing should be solved by the establishment of a constitutional commission. Even the groups that originally were against any changes to the 1945 Constitution, are showing signs that they are not against a constitutional commission. It looks as if they have realized that there must be some compromise to avoid a total deadlock. There are, however, many aspects that have to be considered before an effective constitutional commission can start work. First is its composition. The general opinion is that it should consist mostly of academicians and other experts. There is a feeling among people that they cannot trust politicians to achieve effective results. Even the people who support the constitutional amendments made by the People’s Consultative Assembly (MPR) are demanding improvement in the read more .....

Jul 25

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Bangsa Indonesia sedang dalam keadaan yang serba tak keruan. Orang mengatakan bahwa bangsa kita sedang menghadapi aneka macam krisis, mulai krisis ekonomi sampai krisis moral dan krisis kepemimpinan. Namun demikian, seharusnya kita tidak hanya bicara saja tentang krisis dan macam-macam ketidakberesan. Keadaan tidak akan berubah hanya dengan membicarakannya. Yang lebih penting adalah berbuat untuk mengatasi berbagai krisis itu. Untuk itu ada baiknya kita tidak hanya melihat masa lampau kita sendiri, melainkan juga belajar dari keberhasilan bangsa lain. Terutama bangsa yang telah mengalami keadaan yang serupa dengan kita, seperti China. China mengalami keadaan yang kalut sekali ketika terjadi Revolusi Kebudayaan pada tahun 1965-1976. Kondisi kalut itu baru berakhir setelah Mao Zedong wafat pada tahun 1976 dan tampilnya Deng Xiaoping sebagai pemimpin China yang baru. Kepemimpinan Deng-lah yang kemudian mengangkat China dari kekalutan untuk menjadi negara yang normal dan mencapai keberhasilan ekonomi read more .....

Jul 23

Oleh Sayidiman suryohadiprojo Jakarta, 23 Juli 2002 Bangsa Indonesia sedang dalam keadaan yang serba tak keruan. Orang mengatakan bahwa bangsa kita sedang menghadapi aneka macam krisis, mulai krisis ekonomi sampai krisis moral dan kepemimpinan. Namun demikian, seharusnya kita tidak hanya bicara saja tentang krisis dan macam-macam ketidakberesan. Keadaan tidak akan berubah hanya dengan membicarakannya. Yang lebih penting adalah berbuat untuk mengatasi berbagai krisis itu. Untuk itu ada baiknya kita tidak hanya melihat masa lampau kita sendiri, melainkan juga belajar dari keberhasilan bangsa lain. Terutama bangsa yang telah mengalami keadaan yang serupa dengan kita. Salah satu bangsa yang patut kita pelajari pengalamannya adalah China. Apalagi bangsa itu sekarang sedang maju keadaannya. China mengalami keadaan yang kalut sekali ketika terjadi Revolusi Kebudayaan pada tahun 1965-1976. Pada waktu itu Pengawal Merah yang mengaku sebagai pengikut Mao Zedong yang setia menghantam segala hal yang dinilai tidak sesuai dengan pendapatnya. read more .....

Jul 23

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, September 2002 Perjalanan ke China memberikan kepada saya bahan perbandingan penting untuk perkembangan ekonomi Indonesia. Khususnya ketika elit bangsa kita, terutama para pakar ekonomi, terjirat dalam debat yang tidak produktif tentang hubungan Indonesia dengan IMF. Adalah jelas bahwa Cina tidak termasuk negara yang menjadi korban berat Krisis Ekonomi 1997. Berbeda dari Thailand, Malaysia, Indonesia dan bahkan Korea Selatan. Itu terutama disebabkan oleh sikap China dalam menjalankan ekonominya sejak Deng Xiaoping pada tahun 1979 membawa bangsanya menempuh reformasi sesuai dengan perkembangan dunia tanpa melepaskan kondisi dan sifat bangsanya sendiri. Tanpa ikatan dengan Bank Dunia dan IMF China berhasil membangun ekonomi yang maju pesat sekali. Meskipun sekarang ada tulisan Bank Dunia dan beberapa penulis Barat yang memprediksi bahwa ekonomi China akan berantakan beberapa dekade mendatang, namun kenyataan menunjukkan bahwa ekonomi China sekarang makin kuat dan tumbuh lebih dari 8 persen read more .....

Feb 21

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (purn) Jakarta, 21 Februari 2002 PENDAHULUAN Tidak dapat dicegah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi makin berkembang di dunia. Hal itu juga mendorong perkembangan teknologi militer, khususnya teknologi senjata, dengan peningkatan daya hancur, jarak tembakan dan ketepatan perkenaannya. Perkembangan demikian makin mengancam kelangsungan hidup atau sekurang-kurangnya kemerdekaan bertindak bangsa-bangsa yang kurang mampu mengikuti kecenderungan itu. Bangsa yang memiliki kemampuan teknologi militer tinggi memperoleh peluang untuk memanfaatkannya guna memperoleh keuntungan politik, ekonomi dan budaya. Sehingga bangsa yang kurang mampu dan mendapat tekanan dari bangsa maju terpaksa harus mengorbankan kemandiriannya untuk dapat hidup langsung. Kita menghadapi keadaan di mana umat manusia cenderung didominasi oleh bangsa-bangsa yang mampu menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi, khususnya teknologi militer. Akan tetapi perkembangan umat manusia juga memungkinkan bangsa yang kurang read more .....

Feb 21

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Setelah terjadi serangan AS atas Afghanistan berkembang perasaan kurang setuju dengan tindakan AS itu dalam lingkungan luas masyarakat Indonesia. Bahkan ada kalangan yang diliputi sentimen anti-AS yang kuat, sedangkan bagian terbesar tidak senang dengan AS tetapi belum sampai demikian kuat perasaannya terhadap negara itu. . Perasaan demikian ada dasarnya, karena banyak orang melihat serangan AS itu sebagai tindakan mau menang dan benar sendiri. Meskipun semua orang mencela perbuatan terror atas gedung WTC di New York dan Pentagon di Washington DC, namun cara AS melakukan pembalasan dinilai melanggar rasa kepatutan dan kewajaran. Presiden Megawati dengan tepat sekali menyatakan perasaan dan sikap terhadap serangan AS itu, sesuai dengan perasaan mayoritas bangsa kita, ketika berpidato dalam peringatan Isra dan Miradj yang lalu. Namun mempunyai perasaan kurang suka kepada AS tidak sama dengan berbuat hal-hal yang justru merugikan diri kita sendiri. Ketika pemuda dan mahasiswa mengadakan demo depan read more .....

Feb 20

Lembaga Pendidikan Tinggi Islam yang kita inginkan Lembaga Pendidikan Tinggi Islam harus dapat memainkan perannya yang tepat dalam usaha pencapaian serta peningkatan kemajuan dan kesejahteraan umat Islam. Buat uamt Islam di Indonesia hal itu juga berarti pencapaian dan peningkatan kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Keberhasilan peran itu diindikasikan oleh kemampuan lulusannya dalam menjalankan pekerjaannya dalam masyarakat sehingga membawa kemajuan dalam lingkungan pekerjaannya khususnya dan kemajuan masyarakat pada pumumnya. Dengan begitu ia menjadi kader bangsa atau umat yang berharga. Lembaga pendidikan tinggi ada yang Universitas dan Sekolah Tinggi yang tujuan utamanya adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum dan luas. Dalam universitas dikembangkan penguasaan Iptek berbagai disiplin ilmu yang dilakukan melalui berbagai fakultas atau departemen, sedangkan Sekolah Tinggi hanya mengembangkan satu disiplin ilmu. Selain itu ada Sekolah Tinggi Kejuruan dan Politeknik yang terutama mendidik mahasiswa read more .....

Feb 20

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta 20 Februari 2002 Pendahuluan Kebangkitan Islam yang sedang terjadi adalah satu fenomena yang erat hubungannya dengan perkembangan umat manusia. Di masa lalu dari abad ke 7 hingga abad ke 19 Masehi, Islam serta peradaban yang dibentuknya mempunyai pengaruh yang tidak sedikit terhadap perkembangan umat manusia, termasuk tumbuhnya dunia Barat sebagai kekuatan yang menguasai dunia sejak abad ke 17 hingga sekarang. Pengaruh itu antara lain terlihat dalam Renaissance yang merupakan kebangkitan Eropa Barat dari Masa Kegelapan dan menjadi permulaan dari pertumbuhan peradaban Barat. Akan tetapi sejak akhir abad ke 19 Islam mengalami gelombang surut ketika dunia Barat justru mencapai puncak perkembangannya. Pada waktu itu seakan-akan Islam sama sekali tidak ada artinya dalam kehidupan umat manusia. Bahkan Islam disamakan dengan keterbelakangan dan kemelaratan. Sebaliknya Barat mendominasi seluruh umat manusia, terutama karena penguasaannya atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Barat pada waktu itu read more .....

Feb 20

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Let.Jen.TNI (Purn) Benua Maritim Indonesia adalah hasil perjuangan bangsa Indonesia melawan segala pihak yang tidak mau melihat bangsa Indonesia yang merdeka dan bersatu di Kepulauan Nusantara yang merupakan satu keutuhan geografis. Ketika rakyat Indonesia, terutama para pemudanya, melancarkan gerakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang dimulai dengan menyatakan Sumpah Pemuda pada tahun 1928, banyak pihak yang mengatakan bahwa kebangsaan Indonesia adalah satu illusi belaka. Di antara mereka tidak hanya terdapat kaum politik kolonialis yang tidak sudi melihat Indonesia merdeka, tetapi juga pakar ilmu sosial yang melihat persoalannya dari segi ilmiah. Malahan ada pula orang Indonesia yang terpengaruh oleh sikap dan pandangan kolonial itu dan turut berpikir serta berbicara seperti pihak penjajah. Orang yang berpikiran demikian mengatakan bahwa dalam kenyataan Indonesia tidak ada . Yang ada yalah Jawa, Aceh, Batak, Minangkabau, Sunda, Ambon, Menado dan segenap suku yang tinggal di kepulauan Nusantara ini. read more .....

Feb 20

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) MAKSUD PROGRAM KEWIRAAN Pelaksanaan Program Kewiraan ditetapkan dengan persetujuan bersama antara DEPDIKBUD dan DEPHANKAM pada tahun 1975 berdasarkan maksud-maksud tertentu. Dirasakan bahwa para mahasiswa perguruan tinggi yang merupakan Kader Bangsa tidak cukup hanya menjadi seorang profesional teknis dalam bidang kehidupan tertentu. Akan tetapi di samping berkembang menjadi seorang profesional yang pakar dan paham benar tentang satu aspek kehidupan, para Kader Bangsa harus pula menyadari dan memahami tempat dan peran mereka dalam Pembelaan Negara. Selain itu juga dilihat bahwa dalam perkembangan umat manusia ilmu pengetahuan dan teknologi menghasilkan spesialis-spesialis yang menguasai satu keahlian dengan makin mendalam akan tetapi juga makin sempit. Padahal setiap keahlian itu merupakan bagian dari kehidupan yang luas yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila para spesialis hanya mengetahui keahliannya sendiri dan tidak dapat melihat dan memahami tempat dan perannya read more .....