Nov 16

By Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta 16 November 2002 It is clear for every body that Indonesia badly needs an effective government. A government that has a vision of a better Indonesia and has the capability to make it a reality. A government that can bring improvements in the disorder that has accumulated since Indonesia was hit by the economic crisis of 1997. The country and the people want to have more security and are tired of the worsening conditions of criminality in the cities, the ethnic fightings, even the dangers on the roads and trains. And the Bali Tragedy is not the first time, although the most devastating, that bombs have disturbed the security of the people. An effective government is certainly needed to restore the collapsed economy. Other nations in the region have solved the problems encountered since the economic crisis, but Indonesia is still left behind. The flow of outgoing investors is not only a picture after the Bali Tragedy, but of course it is increasing now. That would not be too negative if there is a read more .....

Nov 6

Tantangan budaya yang kita hadapi. Dalam derasnya penetrasi budaya Barat adalah amat menggembirakan bahwa ada cendekiawan Indonesia yang dalam masa Reformasi ini mempunyai keberanian moral untuk tampil dengan pikiran bahwa individu, keluarga dan negara adalah setara. Kiranya individu, keluarga dan negara tidak hanya setara, tetapi juga selaras atau harmonis dalam geraknya. Bagaikan gamelan, yang menghasilkan seni suara yang indah dan laras tanpa ada dirigent atau conductor. Berbeda dengan orkes simfoni Barat yang memerlukan conductor unggul untuk menghasilkan seni musik yang bermutu. Namun pandangan atau sikap budaya itu sedang menghadapi tantangan hebat dalam globalisasi yang sedang melanda umat manusia. Setelah berakhirnya Perang Dingin pihak Barat, khususnya Amerika Serikat, dengan tegas dan jelas memperjuangkan agar the American way menjadi pandangan hidup seluruh umat manusia. Melalui politik luar negeri yang mengedepankan demokrasi liberal, pasar bebas dan hak azasi manusia, AS meyakinkan semua pihak di dunia bahwa read more .....

Nov 5

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Kondisi bangsa Indonesia dewasa ini jauh dari sila Persatuan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Dasar Negara Panca Sila. Di Maluku dan Sulawesi Tengah bangsa kita berkelahi saling membunuh dengan menggunakan faktor agama sebagai alasan. Di Aceh ada sekumpulan orang yang menamakan diri Gerakan Aceh Merdeka dan menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Belum lama berselang terjadi serangan suku Dayak disertai kekerasan terhadap pendatang Madura di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Belum pernah dalam sejarah Indonesia kita mengalami retaknya persatuan bangsa seperti sekarang. Nampaknya sekarang orang Indonesia mementingkan dirinya pribadi dari pada mengusahakan hidup bersatu dengan orang lain, dan juga kurang bersedia memperhatikan kepentingan umum apalagi kepentingan orang lain. Itu juga nampak dalam kehidupan masyarakat yang kondisinya relatif aman, seperti Jawa. Di Jakarta kita melihat perilaku kaum politik yang duduk dalam DPR yang dipilih untuk mewakili rakyat, tetapi lebih banyak read more .....

Oct 30
What We Need Is Leadership
Admin | 10 30th, 2002 | Opini | No Comments »

By Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, October 2002 Drs. Kwik Kian Gie, minister for National Development Planning and chairman of Bappenas, has surprised many people when he strongly suggested that Indonesia should terminate its relationship with IMF at the end of 2002. In fact, this is not the first time that Kwik has expressed his dissatisfaction of IMF. But that he would do it as a member of President Megawati’s cabinet, is something that causes surprise. Because it is public knowledge that Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, the coordinating minister for economic, financial and industrial affairs, is a staunch defender of Indonesia’s relations with IMF. In Indonesia Kwik is not alone in his negative opinion of IMF. Dr. Rizal Ramli, economic coordinating minister and minister of finance in the former Abdurrahman Wahid’s cabinet, shares this view. And so are other economists, many of them having important positions in Indonesian public life. But on the other side Dorodjatun has also friends who share his views. Some read more .....

Oct 25

The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 10/25/2002 12:00 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta It is clear that Indonesia as a nation state is the biggest loser in the Bali tragedy. It all happened because of the ineffectiveness of the security services who were not able to detect or prevent the tragedy. Thereafter, the security services have been slow to come up with credible proof and evidence of the initiators and the actors in the bombing, leading to a lot of speculation over the whole affair. Many in the West, in particular in the U.S. and Australia, have expressed their astonishment about these speculations and wonder why Indonesia does not just accuse ""Arab terrorism"" or al Qaeda operatives. For Indonesians, it has not been easy to accept such accusations. In recent years, trouble has not only come from Muslim radicals. There has also been the bad experience of western intervention for a long time, as documented by the late Indonesianist George M. read more .....

Oct 5

Bahan Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR-RI Sayidiman Suryohadiprojo, Let.Jen.TNI (Purn) PENDAHULUAN Dalam evolusi umat manusia ilmu pengetahuan dan teknologi telah memperoleh tempat yang penting. Khususnya perkembangan teknologi di bidang komunikasi dan angkutan telah memberikan dampak yang besar sekali kepada kehidupan umat manusia. Dampak itu telah menjadikan dunia semakin kecil dan mendatangkan apa yang dinamakan Era Globalisasi. Globalisasi memaksa semua bangsa di dunia untuk bekerja sama lebih banyak dan lebih erat satu sama lain. Bangsa yang mengabaikan itu harus membayar mahal untuk kecerobohannya. Akan tetapi pada saat sama globalisasi mengharuskan setiap bangsa sanggup bersaing lebih kuat terhadap bangsa lain untuk menciptakan kemitraan yang seimbang. Kalau daya saing satu bangsa kurang, maka akibatnya adalah bahwa hubungannya dengan bangsa lain menjadi kurang seimbang. Dipengaruhi oleh kemajuan umat manusia itu, maka semua bangsa menginginkan kesejahteraan yang lebih tinggi. Karena itu semuanya mengusahakan read more .....

Oct 5

Sayidiman Suryohadiprojo Hubungan Indonesia dengan Singapore mengalami gangguan serius akibat ucapan Menteri Senior Lee Kuan Yew secara terbuka bahwa di Indonesia para dalang terrorisme masih berkeliaran secara bebas, sehingga menimbulkan ancaman latent bagi keamanan Singapore. Reaksi yang timbul di pihak Indonesia terhadap ucapan terbuka itu tidak hanya diberikan oleh Pemerintah, tetapi juga kalangan masyarakat mengeluarkan tanggapan yang keras terhadap pernyataan itu. Bahkan terjadi demonstrasi di depan kedutaan besar Singapore di Jakarta, disertai pembakaran bendera Singapore dan boneka yang menggambarkan pribadi Lee Kuan Yew. Reaksi balasan dari pihak Singapore telah dinyatakan oleh menteri luar negerinya yang tidak mengerti mengapa ada reaksi demikian pada pemerintah Indonesia. Katanya, bukti telah cukup untuk mengambil tindakan terhadap Abu Bakar Basyir dan Hambali, tetapi itu tidak dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Reaksi tanggapan itu menimbulkan kembali jawaban pihak Indonesia bahwa sejak terjadi Reformasi pemerintah read more .....

Sep 28

The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 09/28/2002 12:00 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta Although some people say that our reform movement is on the right track, many others are of a different opinion. There are even people who consider the movement to have failed or to have been defeated by the ""anti-reform"" people. At least we must agree that the movement is stagnating. Can we recover from this situation? In 1998 when the movement started, the situation was very different. Most Indonesians were unified because they wanted immediate change — an end of the authoritarian regime of president Soeharto that had brought so much suffering. The students responded to this strong demand for change and pioneered the reform movement. The people’s unity and the students’ dynamic spirit made the movement effective enough to lead to Soeharto’s resignation. There was no strong and distinct leadership that guided the movement; the unity of its read more .....

Sep 6

Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) PENDAHULUAN Keamanan Asia Tenggara tidak hanya merupakan kepentingan negara-negara yang terletak di wilayah Asia Tenggara, tetapi juga penting bagi banyak negara di dunia. Antara lain Jepang amat berkepentingan dengan keamanan Asia Tenggara yang baik. Makalah ini bertusaha menguraikan hal-hal apa yang dapat merugikan keamanan Asia Tenggara, usaha apa yang dapat dilakukan Jepang untuk mengurangi kemungkinan memburuknya keamanan wilayah itu serta bagaimana pengaruh usaha Jepang tersebut terhadap negara-negara Asia Tenggara serta negara-negara lain yang juga mempunyai kepentingan di Asia Tenggara. KEAMANAN ASIA TENGGARA Asia Tenggara adalah bagian dunia yang mempunyai makna penting bagi geostrategi dan geoekonomi dunia. Letaknya merupakan posisi silang antara dua benua, Asia dan Australia, dan dua samudera, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebab itu Asia Tenggara sepanjang sejarah umat manusia selalu mempunyai peran penting dalam gerakan (movements) bangsa-bangsa yang tinggal di read more .....

Aug 20

Sayidiman Suryohadiprojo Former Governor,National Resilience Institute (Lemhannas) Jakarta There are three important events in history that necessitate reevaluation of the relations between Indonesia and the United States. The first event is the end of the Cold War with the victory of the U.S. and the end of the Soviet superpower. Second is the East Asian economic crisis of 1997 and the subsequent resignation of president Soeharto in 1998. And the third is the Sept. 11 tragedy and the start of the U.S. war against terrorism. Since the defeat of the Soviet superpower, the U.S. has become the world’s only superpower regarding its military, technology and scientific advances. Although no hegemony will last forever, as with the termination of British supremacy in World War II, we can expect that the U.S. power will remain at least for the next quarter of a century. Alternative superpowers such as China and Japan are unlikely in the next decade. Indonesia has to face that fact and adjust her attitude accordingly. On the read more .....