Nov 10

Republika Online , Minggu, 10 Nopember 1996 @Pengantar Red:Pengantar: Buku ini saya tulis untuk generasi muda guna membantu mereka memahami sejarah. Inilah pernyataan Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo mengantar bukunya, kemarin (11/11). Acara peluncuran buku terbaru Sayidiman berjudul Kepemimpinan ABRI dalam Sejarah dan Perjuangannya itu lalu diramaikan oleh bedah buku yang menghadirkan Mayjen TNI (Purn) ZA Maulani, Prof Dr Juwono Sudarsono, Dr Salim Said, dan Prof Dr Wagiono Ismangil sebagai pembahas. Berikut adalah catatan Eep Saefulloh Fatah atas jalannya diskusi. ________________________________________________________________ Tak ada prajurit yang bodoh, hanya ada perwira yang bodoh. Tak ada rakyat yang bodoh, hanya ada pemimpin yang bodoh. Ungkapan ini disitir Prof Dr Juwono Sudarsono untuk menggarisbawahi arti penting kepemimpinan. Diakui oleh Juwono bahwa soal kepemimpinan merupakan soal penting dan krusial saat ini. "Indonesia adalah negara yang paling undermanaged di Asia Tenggara, dan ini tentu punya kaitan read more .....

Sep 11

SUARA PEMBARUAN DAILY 11 September 1996 Pengertian kepemimpinan dalam TNI baru ada sekitar 1953, yakni sejak sejumlah perwira TNI menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat. Tetapi kepemimpinan sebagai tindakan dan perbuatan sesungguhnya sudah ada sejak berdirinya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah namanya menjadi TKR, TRI, dan akhirnya TNI (halaman 1 dan 8). Ketiadaan pengertian kepemimpinan seperti disebut di atas sebelum tahun 1953 merupakan ”warisan” dari Belanda yang cukup lama menjajah Indonesia. Menurut Sayidiman Suryohadiprojo, di lingkungan Belanda pengertian kepemimpinan (kurang lebih sama dengan leiderschap) adalah satu kemampuan manusia yang diperoleh dari lahir, bukan karena mendapat pendidikan tertentu. Hal itu menyebabkan di kalangan masyarakat Belanda, termasuk di lingkungan militernya, tidak banyak dibicarakan tentang kepemimpinan. Pengertian kepemimpinan yang lebih lengkap baru mulai tumbuh di kalangan masyarakat Belanda dan militernya jauh setelah Perang Dunia II usai, saat read more .....

Aug 12

”Yang Dipilih Hanya Orang Kepercayaan” Jawa Pos, 12 Agustus 1996 Jakarta, JP.- Munculnya generasi baru ABRI yang menduduki jabatan-jabatan strategis memunculkan pula beberapa penafsiran. Ada yang menganggap regenerasi kali ini berjalan di luar tradisi ABRI, karena nuansa politiknya yang lebih kental.     Beberapa bintang muda yang melesat adalah Brigjen Johny Lumintang (Akmil 70), Brigjen Soesilo Bambang Yudhoyono (Akmil 73), dan Brigjen Syafri Syamsuddin MBA (Akmil 74). Mereka inilah yang diperkirakan akan mengendalikan kepemimpinan ABRI di masa depan.     Jenderal-jenderal muda itu memang menyalip banyak pendahulunya yang lebih senior. Mereka yang lulusan Akmil 66, 67, 68, 69, masih mandek, kecuali Mayjen TNI Agum Gumelar yang kini bersama generasi baru itu mendapatkan posisi panglima Kodam VII/Wirabhuana. Pengamat militer dan mantan Deputi KSAD dan Gubernur Lemhannas Letjen (pur) Sayidiman Suryohadiprojo mempunyai pandangan tersendiri mengenai fenomena baru ini. Berikut petikan read more .....

Mar 16
ABRI dan Hukum
Admin | 03 16th, 1996 | Opini | No Comments »

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo SUDAH lama kita mendengar seruan dari banyak kalangan di Indonesia agar ABRI tak saja menjadi dinamisator dan stabilisator masyarakat, melainkan juga demokratisator. Mereka yang mendambakan terwujudnya masyarakat Indonesia yang demokratis berpendapat bahwa ABRI dapat memberikan sumbangan penting untuk itu, sekaligus menjamin bahwa yang terbentuk adalah masyarakat berdasarkan demokrasi Pancasila dan bukan demokrasi lain. Seruan demikian menunjukkan adanya kepercayaan bahwa peran ABRI masih besar dalam pembentukan bangsa. Ada juga kalangan yang sama sekali tak percaya kepada peran ABRI selain sebagai kekuatan pertahanan keamanan (hankam). Akan tetapi, tampaknya masih lebih banyak yang cukup realistis dalam menilai keadaan di Indonesia dan karena itu tak menutup mata terhadap pengaruh ABRI dalam masyarakat. Salah satu prasyarat bagi masyarakat demokratis adalah berlakunya kekuasaan hukum, juga dalam sistem demokrasi Pancasila. Tanpa kekuasaan hukum, semua pihak yang kuat yang berkuasa, seperti yangkuat read more .....

May 24

Sayidiman Suryohadiprojo, Let.Jen.TNI (Purn) Pendahuluan Kohesi nasional adalah satu hal yang amat penting bagi perkembangan satu negara. Apalagi kalau negara itu masih belum selesai prosesnya untuk menjadi negara kebangsaan atau nation state yang mantap. Indonesia termasuk golongan negara yang demikian dan karena itu kohesi nasional bagi Indonesia amat penting. Yang dimaksudkan dengan kohesi nasional adalah kondisi satu bangsa yang bagian-bagiannya mempunyai daya saling tarik menarik sehingga menghasilkan persatuan yang kuat. Persatuan itu penting sekali untuk mencapai kondisi negara kebangsaan yang mantap. Ada orang-orang yang menganggap bahwa negara kebangsaan sekarang sudah menjadi satu konsep yang ketinggalan zaman, ketika umat manusia diliputi kondisi globalisasi. Akan tetapi itu bukan pendapat yang realistis. Mungkin bagi negara yang sudah mantap kondisinya karena eksistensinya sudah lama sekali, seperti negara-negara di dunia Barat, pendapat itu benar. Akan tetapi bagi bangsa-bangsa yang baru mencapai kemerdekaan read more .....

Apr 3

Sayidiman Suryohadiprojo PENGERTIAN KETAHANAN NASIONAL Kehidupan bangsa Indonesia dalam Negara Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila tidak bebas dari aneka ragam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan . Itu ada yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri, sebab tidak semua pihak setuju dengan apa yang hendak dituju negara kita. Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya melalui Dwi Tunggal Sukarno – Hatta, kita tidak pernah bebas dari ancaman , tantangan, hambatan dan gangguan. Setelah tahun 1966, ketika kita berhasil mengakhiri pemberontakan Gestapu/PKI , boleh dikatakan bahwa ancaman tidak ada lagi. Sebab yang kita maksudkan dengan ancaman adalah satu kondisi yang dapat menyebabkan berakhirnya kelangsungan hidup Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. Namun meskipun ancaman sudah tidak kita alami lagi, tantangan, hambatan dan gangguan tetap ada dan bahkan meningkat. Bangsa Indonesia, berdasarkan pengalamannya, telah menetapkan satu cara untuk mengatasi ancaman, tantangan, read more .....

Apr 3

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo PENDAHULUAN Pemerintah dan perannya dalam masyarakat senantiasa menjadi bahan pembicaraan ramai, tidak hanya di Indonesia saja melainkan juga di banyak negara lain. Juga tidak hanya satu kalangan tertentu dalam masyarakat, seperti kaum terpelajar, yang suka membicarakan peran pemerintah. Sering kali dikatakan bahwa pemerintah yang baik adalah yang mengabdi kepada rakyat. Sebenarnya pandangan demikian belum terlalu tua, sebab di Eropa Barat pendapat itu baru berlangsung dua abad. Sedangkan di Indonesia validitasnya baru lima puluh tahun. Malahan ada kalangan yang berpendapat bahwa pemerintah itu hanya terpaksa saja diperlukan masyarakat (necessary evil). Dan sebaiknya makin kecil pemerintah itu makin baik buat masyarakat, kata kalangan itu. Berbagai pandangan itu menjadi makin penting untuk diteliti, ketika umat manusia diliputi proses globalisasi. Makalah ini akan mencoba menelaah perkembangan pemerintah di dunia serta secara khusus di Indonesia. Karena keterbatasan waktu dan tempat, maka uraian ini read more .....

Jan 31

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Bagian II   Kita telah melihat bahwa sumber peradaban Barat adalah rasio yang menonjol. Dengan rasio yang kuat itu dapat dikembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian menjadi sarana untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera untuk rakyat banyak. Melalui rasio juga telah dikembangkan nilai kemanusiaan sehingga rakyat dapat memperoleh kedaulatan. Tetapi kita juga melihat bahwa kalau rasio terlalu berlebihan dikembangkan dan ditonjolkan maka akan terjadi kelemahan dan kekurangan yang merugikan. Baik berupa atheisme, individualisme, kapitalisme, maupun imperialisme dan kolonialisme.   Untuk memberikan ukuran apakah Pancasila telah berhasil, maka harus tercipta masyarakat yang adil dan makmur, lahir batin, di Indonesia. Itu berarti bahwa kita perlu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan luas dan mendalam, karena hanya itu yang merupakan jaminan bagi kesejahteraan rakyat. Itu berarti bahwa kita juga harus mengembangkan penggunaan rasio dalam kehidupan kita, karena read more .....

Jan 31

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Bagian I Pengertian modernitas berasal dari perkataan "modern"; dan makna umum dari perkataan modern adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan kehidupan masa kini. Lawan dari modern adalah kuno, yaitu segala sesuatu yang bersangkutan dengan masa lampau. Jadi modernitas adalah pandangan yang dianut untuk menghadapi masa kini. Selain bersifat pandangan, modernitas juga merupakan sikap hidup. Yaitu sikap hidup yang dianut dalam menghadapi kehidupan masa kini. Kalau kita berbicara tentang masa kini, maka yang dimaksudkan adalah waktu sekarang dan masa depan.   Pengertian modernitas, yaitu pandangan dan sikap hidup yang bersangkutan dengan kehidupan masa kini, banyak dipengaruhi oleh peradaban modern. Sedangkan yang dimaksudkan dengan peradaban modern adalah peradaban yang terbentuk mula-mula di Eropa Barat, kemudian menyebar di seluruh dunia Barat. Dengan begitu dapat pula dinamakan peradaban Barat. Peradaban Barat mempunyai dampak besar terhadap modernitas, oleh karena peradaban read more .....

Feb 7
Rekor abadi ukuran lokal
Admin | 02 7th, 1976 | Artikel | 1 Comment »

Jakarta, 7 Februari 1976 Prestasi dunia atletik indonesia melorot sesudah asian games iv, karena kurangnya pembinaan. pemerintah diharapkan untuk membina olah raga atletik dari sekolah melalui departemen p dan k. LEPAS periode Asian Games IV (1962), prestasi dunia atletik Indonesia tak ayal melorot jauh. Yang tinggal adalah sisa-sisa kebanggaan atas kebolehan Mohamad Sarengat, Jotje Gozal, Gurnam Singh, dan lainnya. Belakangan memang muncul Carolina Riewpassa, Lelyana Tjandrawidjaja, dan Suwignyo. Tapi ketrampilan mereka baru dalam ukuran lokal. Bahkan untuk melampaui prestasi sendiri pun tampak harus menempuh jenjang yang sukar. Misalnya Carolina. Sepulangnya dari Jerman Barat pertengahan 1972 lalu, ia tak pernah lagi mendekati rekor nasional lari 100 m (11,7 detik) dan 200 m (24,4 detik) yang dibuatnya di sana. Bintang lari 800 m dan 1.500 m, Lelyana akhir-akhir ini juga mengalami keadaan serupa. Sementara atlit negeri tetangga seperti Anat Rathanapol (Muangthai) atau Noor Azhar (Singapura) melaju terus memperbaiki rekor read more .....