Feb 19

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta 19 Februari 2002 PENDAHULUAN Ketika Krisis Moneter pada tahun 1997 memukul Indonesia dan membuat bangsa Indonesia terpelanting dari posisi yang cukup lumayan dalam arena internasional kembali ke tempat yang penuh penderitaan dan kemiskinan, kita diingatkan betapa lemah dan rawan keadaan kita. Pukulan ekonomi menimbulkan dampak politik yang tidak sederhana. Berkembang berbagai perubahan yang tidak diduga sebelumnya. Ada yang menguntungkan seperti terjadinya Reformasi dan berakhirnya kekuasaan otoriter, tetapi juga ada yang mempersulit kehidupan bangsa seperti timbulnya gejala disintegrasi nasional. Hingga kini belum jelas bagaimana akhir dari proses perubahan itu. Umat manusia belum lepas dari kenyataan bahwa yang lemah menjadi korban yang kuat. Dalam globalisasi persaingan antar-bangsa sangat tajam dan kejam. Pihak lemah adalah bangsa yang kurang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kurang mampu memperoleh dan mengendalikan informasi dan kurang dapat membangun kemampuan ekonomi yang kuat read more .....

Nov 9

(Tanggapan untuk Limas Sutanto) Sayidiman Suryohadiprojo Jumat, 9 November 2001 HARIAN Kompas (27/10/2001) memuat artikel Limas Sutanto, Ego yang Berkabut Kelabu. Artikel itu mengkritik keadaan manusia dan masyarakat Indonesia saat ini dengan melihatnya dari sudut psikologi. Dikatakan, orang Indonesia kian menjadi asing bagi orang sebangsanya. Gejala banyaknya demonstrasi oleh aneka kelompok yang menyerukan bertindak untuk rakyat tetapi hakikatnya hanya untuk penonjolan diri, diindikasikan sebagai tanda keterasingan itu. Ini, katanya, mengungkap realitas, ego orang Indonesia berkabut kelabu. Sedangkan ego berkabut kelabu karena keaslian ego telah diselimuti kebohongan, ketidakjujuran, kemunafikan, semuanya dapat digolongkan dalam desepsi atau deception. Namun, bukankah sebenarnya manusia Indonesia pada dasarnya dan pada mulanya tidak banyak beda dari manusia tetangganya di Malaysia atau Thailand? Kalau dikatakan, manusia Indonesia kini tidak menyukai pertukaran pikiran antar-insan dan hanya mau menang sendiri, bukankah itu produk read more .....

Oct 19

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Ajaran Islam dapat menimbulkan sikap dan penalaran yang rasional. Selain itu juga dapat menyebabkan sikap dan pemikiran emosional. Kombinasi tepat dari kuatnya rasio dan halusnya emosi telah menghasilkan peradaban Islam yang begitu tinggi di masa lalu. Namun kemudian nampaknya kombinasi rasio dan emosi yang tepat itu kurang dapat dipelihara oleh umat Islam. Peradaban Islam mundur dan menjadi bagian dari sejarah, bukan lagi kenyataan yang ada dalam kehidupan bangsa di duna. Malahan sekarang pada abad ke 21 di antara bangsa-bangsa yang miskin banyak sekali terdapat bangsa-bangsa Islam. Sebaliknya, di antara bangsa yang tergolong maju dan sejahtera dewasa ini sukar ditemukan bangsa Islam atau bangsa yang mayoritas penduduknya Muslim. Indonesia sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia juga termasuk yang masih miskin dan kurang maju dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ekonomi dan pendidikan. Yang dapat kita lihat adalah bahwa kebanyakan Muslim Indonesia lebih banyak bersikap dan read more .....

Sep 14

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Setelah terjadi pukulan yang begitu dahsyat terhadap pusat kapitalisme dan kekuatan militer AS pada tanggal 11 September 2001 dapat dipahami bahwa seluruh bangsa Amerika marah. Bagaimana tidak akan marah kalau ribuan warganya mengalami kematian yang mengerikan akibat tindakan terror itu. Lebih marah lagi karena merasa kecurian, sekalipun telah mengeluarkan begitu banyak biaya dan tenaga untuk menghadapi serangan terror. Apalagi yang kena pukulan terror adalah pusat kekuatan ekonomi dan militernya. Padahal AS diakui sebagai satu-satunya Super Power di dunia karena kekuatan ekonomi dan militer itu. Dalam kemarahan itu Presiden AS, George Bush Jr, menyatakan perang terhadap sumber terror itu dan mengajak seluruh dunia untuk bersamanya dalam usaha tersebut. Memang tidak ada bangsa di dunia yang bebas dari serangan terror. Kita pun di Indonesia merasakan sendiri betapa jahatnya terror itu untuk kehidupan rakyat. Namun demikian, kita harus benar-benar obyektif dan waspada sebelum memutuskan apakah kita ikut read more .....

Aug 13

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Pada tanggal 17 Agustus 2001 ini bangsa Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaannya untuk ke-56. Umur enam tahun di atas setengah abad boleh digolongkan usia tua, meskipun dilihat dari sejarah manusia masih amat pendek. Namun pejuang kemerdekaan diliputi berbagai perasaan ketika melihat kondisi bangsanya dewasa ini. Ketika kemerdekaan bangsa diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 para pemuda Indonesia yang tidak sudi lagi hidup dalam penjajahan dan ingin bangsanya mencapai kehidupan yang maju dan sejahtera, secara spontan dan penuh semangat mengabdikan diri untuk membela kemerdekaan yang baru direnggut. Banyak di antara mereka sama sekali tidak mempunyai minat menjadi tentara. Akan tetapi akal sehatnya berpikir bahwa penjajah tidak akan membiarkan Indonesia merdeka dan akan berbuat apa pun untuk kembali menegakkan kekuasaannya atas bumi Indonesia. Sebab itu perjuangan membela kemerdekaan pada tahap pertama akan terutama bersifat perjuangan fisik disertai penggunaan kekerasan untuk melawan dan read more .....

Jun 26
Hari Ulang Tahun POLRI
Admin | 06 26th, 2001 | Catatan | No Comments »

Pada tanggal 1 Juli 2001 Kepolisian Republik Indonesia atau Polri akan berulang tahun dalam kondisi negara dan bangsa yang masih penuh ketidakpastian. Baik kondisi politik, ekonomi maupun sosial serba kalut, sehingga menyebabkan kondisi keamanan yang amat rawan. Hal ini menjadi tantangan berat bagi Polri yang telah ditetapkan sebagai penanggungjawab utama keamanan dalam negeri. Oleh sebab itu kita semua yang ingin melihat negara dan bangsa kita tenteram dan sejahtera berharap semoga Polri dapat mengatasi tantangan itu dengan sukses dan menunaikan tugasnya dengan baik Sejak Pemerintah RI memutuskan untuk memisahkan Polri dari TNI dan menjalankan tugas menghadapi keamanan dalam negeri, bangsa Indonesia memasuki tahap baru dalam pembinaan fungsi kepolisian. Dalam tahap baru itu Polri dituntut untuk menjadi organisasi yang memiliki sifat profesionalisme sesuai dengan berbagai tantangan yang dihadapi sekarang dan di masa depan. Dengan begitu sekali gus diakhiri peran Polri dalam bidang politik yang dialaminya selama bersama TNI berada read more .....

Mar 1

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Banyak orang Indonesia menghendaki demokrasi sejak ada pergerakan kebangsaan pada permulaan Abad ke 20. Makin banyak orang Indonesia mengalami pendidikan formal, makin bertambah jumlah orang itu. Akan tetapi meskipun demikian tumbuhnya demokrasi di Indonesia terus mengalami hambatan yang tidak sedikit. Dalam zaman penjajahan hambatan itu datang dari pihak penjajah, hal mana dapat dipahami. Sebab kalau ada demokrasi penjajah harus memberikan banyak kebebasan kepada rakyat Indonesia. Akan tetapi setelah menjadi bangsa merdeka pun hambatan itu tidak berkurang. Sekarang Indonesia sudah lebih dari 50 tahun merdeka dan mempunyai Dasar Negara yang menetapkan adanya demokrasi di Indonesia, tetapi dalam kenyataan demokrasi masih terus belum lancar pertumbuhannya. Hambatan itu disebabkan oleh banyak hal. Sebab utama terletak pada manusia Indonesia yang sifatnya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertama karena masih kurangnya pendidikan umum yang cukup bermutu yang dapat menimbulkan pandangan yang lebih luas read more .....

Feb 15
Masihkah Ada Masa Depan ?
Admin | 02 15th, 2001 | Opini | No Comments »

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Menjadi kebiasaan manusia modern untuk tidak terpaku pada masa kini, apalagi masa lalu, melainkan cenderung melihat ke masa depan. Akan tetapi di Indonesia sekarang sering timbul pertanyaan apakah masih ada masa depan buat Indonesia. Nampak sekali betapa pessimisme telah meliputi pikiran banyak orang. Sikap demikian bukannya tanpa alasan. Pimpinan Abdurrahman Wahid sama sekali tidak memberikan prospek positif bagi masa depan Indonesia. Kalau ia dulu dikenal sebagai seorang cendekiawan demokrat yang berpandangan luas, sekarang kawannya yang dekat pun harus mengakui bahwa sebagai Presiden RI Abdurrahman Wahid sama sekali tidak menunjukkan kenegarawanan. Bahkan sifatnya sebagai demokrat dipertanyakan ketika ia menunjukkan arrogansi yang tidak sedikit. Optimisme yang timbul ketika Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden RI pada tahun 1999 sudah surut sekali, kecuali di lingkungan NU dan PKB. Orang mulai berpikir bagaimana jadinya Indonesia kalau harus mengalami pimpinan seperti ini sampai tahun read more .....

Jan 30

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn) Sudah sebelum Reformasi kita sering mendengar pertanyaan, terutama dari kalangan aktivis dan mahasiswa, apakah TNI cocok atau kompatibel dengan konsep Demokrasi. Setelah Reformasi pertanyaan itu makin sering kedengaran dan makin kuat dikumandangkan, karena Reformasi antara lain bertujuan menegakkan demokrasi di Indonesia. Pertanyaan demikian dapat dimengerti karena dalam sejarah Republik Indonesia telah terjadi beberapa peristiwa yang membuat orang sangsi kepada kesesuaian TNI dengan demokrasi. Pertama ketika Presiden Soekarno menyatakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan Konstituante, suatu lembaga yang sedang merancang Undang-Undang Dasar dan anggotanya dipilih oleh Rakyat melalui Pemilihan Umum pada tahun 1955. Merupakan pendapat umum bahwa Presiden Soekarno dapat melakukan tindakan politik itu karena mendapat dukungan pimpinan TNI-AD yang waktu itu dijabat Jenderal A.H. Nasution. Alasan yang diberikan untuk tindakan Presiden itu adalah bahwa Konstituante tidak mau read more .....

Dec 24

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Banyak orang mengeluh bahwa Reformasi sedang mengalami stagnasi. Pada pandangan pertama hal itu disebabkan oleh pimpinan Negara yang kurang dapat menjalankan kepemimpinan dan manajemen nasional secara efektif. Pandangan demikian mempunyai kebenaran karena dalam kenyataan kondisi negara makin semrawut. Karena belum dapat ditegakkan kekuasaan hukum dan Polisi yang diserahi menjaga keamanan dan ketertiban kurang berfungsi baik, maka banyak pihak main hakim sendiri. Juga belum terlihat bahaya disintegrasi bangsa dapat dipatahkan secara memuaskan. Bukannya KKN diakhiri malahan penguasa baru sudah terjun sendiri dalam KKN. Meskipun Kepala Negara dan pejabat ekonomi mengatakan bahwa sudah terjadi perbaikan ekonomi yang dibuktikan dengan peningkatan ekspor, namun dalam kenyataan kehidupan sehari-hari bagi rakyat umumnya tetap berat dan makin memusingkan. Akan tetapi kalau kita berpikir lebih dalam akan kita temukan masalah yang lebih mendasar dari pada itu. Sejak dimulainya Reformasi titik berat diletakkan read more .....