Oct 7

The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 10/07/2003 7:00 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta Every year on Oct. 5 the Indonesian Military (TNI) celebrates its anniversary. It was 58 years ago that Indonesia developed its national armed forces from the existing People’s Security Agency (BKR). The first name of the armed forces was the Tentara Keamanan Rakyat (People’s Armed Security Forces), later changed to the Tentara Keselamatan Rakyat (People’s Armed Forces for Safety) and then later the Tentara Republik Indonesia (the Republic of Indonesia Military). The latest name change back to the TNI (after the name ABRI or the Indonesian Armed Forces was used from 1964 to 1999) was made to stress that the armed forces represented the people’s struggle against colonialism. This change included the integration of all the armed organizations formed by the people since the proclamation of independence in 1945, like the Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia read more .....

Sep 29

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Sudah lazim orang menganggap Amerika satu superpower, sekurang-kurangnya superpower militer. Akan tetapi Emmanuel Todd, seorang pakar ilmu pengetahuan Perancis berpendapat lain. Bukunya. yang berjudul Apres l’empire. Essai sur la decomposition du systeme Americain (Editions Gallimard, Paris 2002) telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dalam versinya yang bahasa Jerman, yaitu Weltmacht USA, ein Nachruf yang telah diterbitkan Piper Verlag GmbH, Munchen pada tahun 2003, Emmanuel Todd menulis bahwa Amerika bukan superpower , baik dalam ekonomi maupun militer.. Tentang ekonomi cukup disampaikan di sini bahwa Todd menilai besarnya ketergantungan Amerika kepada bangsa-bangsa lain dalam berbagai aspek ekonomi sebagai indikasi bahwa Amerika bukan satu superpower ekonomi yang mengungguli ekonomi dunia. Untuk membahas pandangan Todd bahwa Amerika bukan superpower militer perlu kita telaah pokok-pokok argumentasi Todd. Ia mengatakan bahwa bangsa Amerika mempunyai kelemahan struktural dalam bidang militer. read more .....

Sep 10

The Jakarta Post.com September 10, 2003 Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta It seems that Americans are wondering why more and more Muslims in Indonesia are getting annoyed with America, including the "moderate" Muslims. In The New York Times of Sept. 3, Jane Perlez wrote an article titled Once mild, Islam looks harsher in Indonesia. She said that the moderate strand of Islam in Indonesia is being eroded at a rapid pace and wonders whether the country is becoming the "caliphate" of the 21st century. The U.S. government is sending experts, led by its former ambassador to Syria, Edward P. Djerejian, to Indonesia to find out what is wrong and how the U.S. could come up with a program that would conquer the hearts and minds of Muslims in Indonesia. Perlez also pointed out, however, that given the U.S. is facing so much trouble in winning the hearts and minds of the people in the Middle East, it may well prove to be no easier in Indonesia. It is highly read more .....

Sep 8

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo DALAM rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-58 RI, pengurus pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) mengadakan sarasehan, 14 Agustus 2003. Hal itu tidak mengherankan karena Kagama adalah satu organisasi yang berwibawa dalam masyarakat Indonesia. Bukankah anggota Kagama alumni universitas bangsa Indonesia yang tertua dan banyak lulusannya menjadi pemimpin bangsa dan masyarakat, termasuk menjadi menteri dalam berbagai pemerintahan yang telah berdiri selama sejarah Republik Indonesia? UNIVERSITAS Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga perguruan tinggi yang tua, tetapi mereka merupakan kelanjutan dari perguruan tinggi yang didirikan penjajah Belanda, yaitu Universiteit van Indonesie, sedangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sepenuhnya bentukan bangsa Indonesia tahun 1948. Tidak mengherankan, banyak pemuda dari seluruh Indonesia, termasuk dari luar Jawa, belajar di UGM. Anggota Kagama tidak hanya ada di Jakarta atau Yogyakarta, tetapi di seluruh Tanah Air. Tidak mustahil berita tentang read more .....

Aug 26
Usaha "Meluruskan" Sejarah?
Admin | 08 26th, 2003 | Opini | 1 Comment »

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Mantan Gubernur Lemhannas DALAM rangka peringatan hari ulang tahun ke-58 kemerdekaan bangsa Indonesia, Pengurus Pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) telah mengadakan sarasehan 14 Agustus 2003. Pertemuan itu telah diberitakan secara luas oleh media di Jakarta, antara lain oleh harian ini. Hal itu tidak mengherankan karena KAGAMA merupakan satu organisasi yang berwibawa dalam masyarakat Indonesia. Anggota KAGAMA tidak hanya ada di Jakarta atau Yogyakarta, melainkan di seluruh Tanah Air. Tidak mustahil berita tentang sarasehan 14 Agustus 2003 juga dimuat secara luas di media luar Jakarta. Yang mengherankan, hasil sarasehan yang diberitakan secara luas itu, menimbulkan banyak pertanyaan. Seorang peserta sarasehan yang dikenal sebagai seorang sarjana bergelar doktor dalam ilmu sejarah, antara lain mengatakan bahwa selama ini terjadi kesalahan dalam membangun nasionalisme di Indonesia. Ia katakan, "Indonesia melakukan kesalahan besar karena membangun nasionalisme dengan kekuatan senjata read more .....

Aug 13

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 13 Agustus 2003 PEMIKIRAN DASAR Pendidikan sejak dahulu kala adalah kegiatan dan usaha untuk mengalihkan tata nilai dan kemampuan kepada pihak lain. Biasanya disertai maksud untuk menjadikan pihak penerima dapat hidup lebih sempurna dan lebih bermakna dari pada sebelumnya. Dalam UUD no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dan pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD RI tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan berlangsung dalam keluarga, dalam lembaga pendidikan dan terutama di sekolah, dan dalam masyarakat. read more .....

Aug 4
Pemimpin Masa Depan
Admin | 08 4th, 2003 | Opini | No Comments »

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Peran pemimpin amat besar dalam perkembangan satu masyarakat, negara dan bangsa. Dalam sejarah bangsa Indonesia diakui peran besar Mahapatih Gajah Mada yang dalam abad ke 15 menjadikan kerajaan Majapahit maju, sejahtera dan berwibawa. Pada waktu itu wibawa dan pengaruh Majapahit terasa di seluruh Asia Tenggara. Dalam sejarah Cina modern menonjol peran Deng Xiaoping yang mengangkat bangsanya yang terpuruk dan amat berantakan oleh Revolusi Kebudayaan kembali menjadi bangsa yang maju dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Dalam sejarah India dikenal peran Mahatma Gandhi dan Pandit Jawaharlal Nehru yang memimpin bangsanya keluar dari penjajahan dan tampil sebagai bangsa India merdeka yang sekarang makin tampak dalam arena dunia. Dan bangsa Indonesia menjadi merdeka karena kepemimpinan Soekarno dan Mohamad Hatta yang berhasil mengakhiri penjajahan dari bumi Indonesia. Kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia dalam abad ke 21 ini juga akan amat ditentukan oleh kepemimpinan yang berkembang dalam masyarakat read more .....

Jul 21

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Mantan Gubernur Lemhannas Masyarakat Indonesia diguncang masalah pendidikan saat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional diundangkan. Sebenarnya sudah lama pendidikan merupakan masalah yang amat mengganggu perkembangan bangsa. Sekurangnya sepuluh tahun lalu sudah banyak orangtua tidak yakin akan mutu pendidikan yang diperoleh anaknya. Juga sudah lama para guru dan pendidik tak puas akan kesejahteraan yang mereka peroleh. Para pakar pendidikan sudah lama berdebat tentang perlunya renovasi pendidikan. Bahkan, ada yang mengatakan, pendidikan nasional bagai bola ruwet yang sukar memberi manfaat bagi bangsa dan negara. Tidak mungkin ada sistem persekolahan berjalan baik tanpa kehadiran guru yang memadai mutunya, baik intelektual, teknik keguruan, mental, maupun fisik. Itu memerlukan korps guru yang memperoleh pendidikan guru bermutu, diberikan tingkat kesejahteraan memadai dan status sosial terhormat bahkan di atas status sosial profesi lain. Dan tidak mungkin ada sistem pendidikan nasional yang baik read more .....

Jul 10

Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta Every year on Oct. 5 the Indonesian Military (TNI) celebrates its anniversary. It was 58 years ago that Indonesia developed its national armed forces from the existing People’s Security Agency (BKR). The first name of the armed forces was the Tentara Keamanan Rakyat (People’s Armed Security Forces), later changed to the Tentara Keselamatan Rakyat (People’s Armed Forces for Safety) and then later the Tentara Republik Indonesia (the Republic of Indonesia Military). The latest name change back to the TNI (after the name ABRI or the Indonesian Armed Forces was used from 1964 to 1999) was made to stress that the armed forces represented the people’s struggle against colonialism. This change included the integration of all the armed organizations formed by the people since the proclamation of independence in 1945, like the Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (Indonesian People’s Front for Struggle) and others. The read more .....

Jul 5

The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 07/05/2003 4:09 PM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta The Americans are now facing difficult and complicated problems in the management of postwar Iraq. Not only are administrative problems causing them severe headaches, but so are security problems. According to AFP, about 57 members of the U.S. military have become victims of postwar skirmishes since May this year. Only by winning peace can the U.S. build a new Iraq in accordance with its national interests. The Americans have already stated that the new Iraq will be a democratic Iraq. Although not formally stated, the U.S. is also interested in making Iraq an important — if not the most important — player in maintaining peace and stability in the Middle East, in accordance with U.S. interests. This means that the new Iraq should safeguard the continuity of the state of Israel in an environment of intense Arabic hostility. However, winning the peace in Iraq is not an easy nor read more .....