Kegunaan Pertahanan Budaya

Posted by Admin on Saturday, 26 August 2000 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Belum lama berselang Presiden Abdurrachman Wahid menetapkan Sultan Hamangku Buwono X sebagai pimpinan dari Dewan Pertahanan Budaya. Namun Sri Sultan belum tahu presis apa yang dikehendaki Presiden karena tidak diajak bicara sebelumnya..

Terlepas dari apa yang dikehendaki dan dipikirkan Gus Dur, memang pertahanan budaya merupakan satu perkara yang sudah lama diperlukan Indonesia. Dalam globalisasi dunia kehendak untuk mendominasi umat manusia tetap kuat, meskipun banyak orang bicara tentang Hak Azasi Manusia dan semacamnya. Namun perbedaan dengan masa lampau terletak dalam sarana yang digunakan untuk mewujudkan dominasi itu.

Sekarang penggunaan kekerasan bersenjata untuk memaksakan kehendak memang masih ada, tetapi sejauh mungkin dihindarkan. Sebab mudah sekali menimbulkan pendapat umum yang merugikan pihak yang mulai dengan kekerasan senjata. Kalau pun digunakan perlu usaha luas untuk memburukkan bangsa yang akan menjadi sasaran serangan Agar pendapat umum dunia membenarkan pihak yang melakukan serangan itu.

Namun jalan lain yang tidak menggunakan kekerasan senjata sekarang terbuka luas. Dan dengan cara itu penyerang tidak mudah dipojokkan oleh perkembangan pendapat umum. Dapat dilakukan usaha dalam bidang ekonomi, sosial, kebudayaan dan agama yang sifatnya jauh lebih canggih dan akibatnya sangat merugikan pihak yang diserang apabila kurang mampu menyusun pertahanan terhadap usaha-usaha itu.

Dalam hubungan itu pertahanan budaya sangat relevan. Kalau satu bangsa dapat dibuat demikian rupa sehingga kehidupan budayanya dikuasai atau dikendalikan oleh bangsa lain, maka mudah sekali bagi bangsa yang mengendalikan untuk memaksakan segala kehendaknya kepada bangsa itu. Bangsa yang menjadi korban boleh saja tetap mempunyai status negara merdeka dan berdaulat secara formal, namun dalam kenyataan sudah dikendalikan bagian terbesar hidupnya oleh bangsa pengendali.

Terutama dengan berkembangnya teknologi informasi yang begitu cepat dan luas adalah mudah sekali bagi pihak yang memiliki kemampuan untuk memasukkan segala pikiran dan pandangan kepada seluruh umat manusia yang sukar menutup diri terhadap dampak teknologi informasi seperti Internet, televisi, telekomunikasi satelit dan lainnya. Sudah lama orang bicara tentang budaya universal. Akan tetapi yang dinamakan budaya universal itu adalah budaya Barat dan lebih khusus lagi budaya Amerika. Tentu dalam perkembangan umat manusia kita tidak menolak tumbuhnya budaya universal. Akan tetapi itu harus merupakan pertumbuhan dari usaha bersama dalam bidang budaya yang dilakukan semua bangsa di dunia. Sebagaimana budaya Indonesia bukan budaya dari suku terbesar atau terkuat di Indonesia melainkan puncak-puncak kebudayaan semua daerah di Indonesia, sebagaimana dikemukakan Ki Hadjar Dewantara almarhum.

Bangsa Indonesia tidak menolak masuknya budaya asing menjadi bagian budaya Indonesia. Akan tetapi itu harus merupakan pilihan Indonesia dan bukan karena bangsa Indonesia tidak mampu menolak masuknya budaya asing. Seperti usaha Jepang pada tahun 600-an Masehi ketika mengirimkan pemudanya ke Cina untuk belajar dan mengambil budaya Cina guna memperkuat budaya Jepang. Dengan cara begitu Jepang berhasil untuk mencegah meluapnya budaya Cina masuk Jepang, karena waktu itu memang budaya Cina unggul atas budaya Jepang. Dengan sikap pro-aktif mengambil budaya Cina memperkuat budayanya sendiri, bangsa Jepang berhasil memelihara kebudayaan Jepang hingga sekarang.

Pertahanan budaya Indonesia pun harus pro-aktif kalau hendak berhasil menghadapi budaya Barat dan asing lainnya yang dinamis dan bahkan agressif. Untuk itu diperlukan usaha yang terorganisasi dan terprogram. Namun kita harus sadar bahwa hasil usaha itu akan membuat bangsa kita berbeda dari yang sekarang. Hal itu mungkin kurang disukai oleh mereka yang selalu mengatakan perlunya dipelihara kepribadian Indonesia tanpa menjelaskan apa yang mereka maksud dengan kepribadian itu. Akan tetapi usaha itu tidak akan membuat bangsa Indonesia manusia Barat atau asing lainnya. Ini pun akan kurang disukai oleh mereka yang selalu mengatakan bahwa untuk menjadi bangsa yang maju bangsa Indonesia harus berpikir Barat. Sebab yang akan menjadi hasil adalah kehidupan bangsa Indonesia yang tetap memelihara unsur budayanya yang cocok dengan kehidupan umat manusia masa kini dan masa depan, ditambah dengan unsur budaya Barat dan asing lainnya yang membuat budaya Indonesia lebih kuat dan tahan hidup dalam perkembangan umat manusia Abad ke 21. Jelas sekali bahwa ini semua memerlukan usaha yang tidak mudah dan tidak murah, tetapi harus dapat kita lakukan. Untuk itu diperlukan penyusunan lembaga tertentu yang bertanggungjawab atas pertahanan budaya, sebagaimana kita mempunyai Departemen Pertahanan yang bertanggungjawab atas persiapan dan pelaksanaan pertahanan militer terhadap serangan bersenjata. Bahwa usaha demikian sudah sangat perlu kita alami setiap saat kalau melihat siaran Televisi atau membuka Internet. Hingga sekarang bangsa kita bagaikan bebek lumpuh (lame duck) menghadapi masuknya berbagai informasi dan disinformasi. Dengan pertahanan budaya keadaan itu akan berubah. Sekaligus bangsa Indonesia menjadi lebih mampu dan dewasa untuk ikut serta membangun budaya universal.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post