Jan 2

Sayidiman Suryohadiprojo Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) berdiri pada 2 Januari 1957 sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden RI no. 103 tahun 1957 tertanggal 2 Januari 1957. Meskipun sudah lama ada dalam kenyataan masih banyak warga masyarakat Indonesia yang tidak kenal LVRI dan malahan kurang paham tentang eksistensi Veteran RI. Tulisan ini bermaksud menambah pemahaman masyarakat tentang LVRI. Dalam semua negara yang melakukan perjuangan dalam sejarahnya, terutama yang dilakukan sejak abad ke 20, ada organisasi Veteran. Secara umum yang dimaksudkan dengan Veteran adalah warga satu bangsa yang telah memberikan pengabdian kepada pembelaan negaranya. Di Amerika Serikat ada penghargaan tinggi terhadap Veteran dan dibuktikan dengan adanya kementerian yang mengurus kehidupan kaum Veteran AS. Bahkan dibangun satu rumah sakit khusus untuk kaum Veteran, diurus kemungkinan memperoleh beasiswa bagi Veteran yang hendak melanjutkan studinya, dan lainnya. Di Indonesia telah ditetapkan Undang-Undang Veteran RI no 15 tanggal 5 read more .....

Dec 18

Sayidiman Suryohadiprojo Tiba-tiba di pagi hari ini, tanggal 18 Desember 2014, timbul kenangan pada Long March Siliwangi 66 tahun lalu, Jalan Jauh dari Jawa Tengah ke Jawa Barat yang dilakukan pasukan Siliwangi. Karena Persetujuan Renville pasukan Siliwangi pada tahun 1947 harus meninggalkan Jawa Barat untuk hijrah ke Jawa Tengah. Keputusan itu menimbulkan banyak persoalan dan kesulitan bagi pasukan Siliwangi dan keluarganya yang tak mau ditinggalkan di Jawa Barat. Sebab itu semua ingin kembali ke kampong halamannya di Jawa Barat. Hal itu menjadi kenyataan ketika ada perkembangan dalam sengketa RI – Belanda sehingga Persetujuan Renville otomatis batal. Perkembangan itu timbul ketika jenderal Spoor sebagai pimpinan tentara Belanda pada 18 Desember 1948 fajar mendaratkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Adi Sucipto). Serangan tentara Belanda menjadi awal dari Perang Kemerdekaan Kedua bagi bangsa Indonesia, khususnya untuk TNI. Sebenarnya pimpinan TNI sejak semula yakin bahwa Belanda tidak mau membiarkan Republik read more .....

Apr 17

Sayidiman Suryohadiprojo Kita telah memasuki Tahun Baru 2014 yang akan penuh dengan tantangan berat pada tingkat nasional maupun internasional. Pada tingkat nasional kita akan melakukan Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden RI yang akan besar sekali pengaruhnya bagi Indonesia di masa depan. Pada tingkat internasional dinamika politik dan ekonomi yang tinggi di seluruh dunia mempunyai dampak yang tidak sederhana bagi bangsa Indonesia. Menghadapi berbagai tantangan itu adalah sangat penting bangsa Indonesia hidup dengan Sistem yang tepat. Selain itu Sistem tersebut perlu dihasilkan dan digerakkan Manusia yang tepat pula. Tidak ada perdebatan mana yang lebih penting, Sistem atau Manusia, seperti masih sering terjadi di masyarakat intelektual kita. Kita perlukan Sistem yang tepat agar kita dapat menentukan pilihan-pilihan yang sesuai dengan keperluan bangsa kita, dan agar keputusan berdasarkan pilihan itu dapat berjalan tepat pula. Selama kita menentukan bahwa Dasar Negara kita Pancasila, maka Sistem yang harus ada dan berkembang di read more .....

Sep 11

Sayidiman Suryohadiprojo Pada saat bangsa Indonesia akan memperingati Ulang Tahun Kemerdekaannya yanng ke-68 patut sekali kita tandaskan pentingnya 3 hal, yaitu Nasionalisme-Disiplin Nasional-Etos Kerja. Sebab setelah 68 tahun merdeka bangsa Indonesia masih jauh sekali dari Tujuan Nasional yang ditetapkannya ketika memperjuangkan kemerdekaannya. Nasionalisme adalah sikap hidup dan semangat yang mengusahakan yang terbaik bagi bangsa kita, agar bangsa Indonesia selalu mendapat tempat terhormat di antara bangsa-bangsa di dunia. Indonesia sebagai kebanggaan seluruh rakyatnya. Harga Diri setiap manusia Indonesia sangat dipengaruhi oleh keadaan bangsanya, oleh tempat dan posisi bangsanya di masyarakat umat manusia. Sebab itu Nasionalisme menjadi dorongan kuat untuk selalu mengusahakan yang terbaik bagi bangsanya, bahkan kesediaan berkorban untuk kepentingan bangsa apabila diperlukan. Sikap hidup dan semangat itulah yang memenuhi kalbu para Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia read more .....

Mar 17

Sayidiman Suryohadiprojo Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) berdiri pada 2 Januari 1957 sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden RI no. 103 tahun 1957 tertanggal 2 Januari 1957. Meskipun sudah lama ada dalam kenyataan masih banyak warga masyarakat Indonesia yang tidak kenal LVRI dan malahan kurang paham tentang eksistensi Veteran RI. Tulisan ini bermaksud menambah pemahaman masyarakat tentang LVRI. Dalam semua negara yang melakukan perjuangan dalam sejarahnya, terutama yang dilakukan sejak abad ke 20, ada organisasi Veteran. Secara umum yang dimaksudkan dengan Veteran adalah warga satu bangsa yang telah memberikan pengabdian kepada pembelaan negaranya. Di Amerika Serikat ada penghargaan tinggi terhadap Veteran dan dibuktikan dengan adanya kementerian yang mengurus kehidupan kaum Veteran AS. Bahkan dibangun satu rumah sakit khusus untuk kaum Veteran, diurus kemungkinan memperoleh beasiswa bagi Veteran yang hendak melanjutkan studinya, dan lainnya. Di Indonesia telah ditetapkan Undang-Undang Veteran RI no 15 tanggal 5 read more .....

Jun 14

Sayidiman Suryohadiprojo Sekarang ramai dibicarakan tentang Calon Presiden tahun 2014. Banyak yang menganggap bahwa calon-calon yang dimunculkan parpol terlalu tua, mereka menginginkan calon-calon muda berumur maksimal 50 tahun. Sebenarnya yang menjadi persoalan adalah Kepemimpinan, yaitu kemampuan orang menimbulkan kepercayaan bahwa ia dapat membawa organisasinya maju dan mencapai tujuannya dengan mengajak dan memotivasi anggota organisasi itu bergerak bersama-sama. Seorang Presiden untuk bangsa Indonesia yang begitu besar jumlahnya dan aneka ragam sifatnya, hidup di Negara Republik Indonesia yang begitu luas wilayahnya, jelas sekali harus mempunyai kemampuan Kepemimpinan yang mumpuni. Kepemimpinan menimbulkan kepercayaan karena ada bukti nyata, bukan hanya karena orang menyampaikan hal-hal yang bagus dan menarik. Berarti bahwa orang harus berprestasi nyata yang dapat dilihat serta dirasakan orang banyak. Prestasi itu hasil niat dan tekad orang untuk menghasilkan sesuatu yang lebih dari biasa. Bukan karena orang itu dibimbing read more .....

Jun 1

Sayidiman Suryohadiprojo Hubungan saya dengan Jenderal Anumerta Achmad Yani bermula dengan perkenalan saya dengan beliau pada tahun 1956. Waktu itu Pak Yani yang baru selesai mengikuti pendidikan di Command & General Staff College di Fort Leavonworth (AS) ditetapkan sebagai Assisten 2 Operasi di Staf Umum AD (SUAD) di Jakarta. Jenderal A.H. Nasution yang waktu itu menjadi Kepapa Staf AD (KASAD) telah menarik Pak Yani dari komando Tentara & Territorium III (TT 3) Jawa Tengah untuk dikirimkan ke pendidikan di AS itu. Pak Nas melihat kwalitas Pak Yani yang tinggi sebagai Perwira yang ketika itu dibuktikan oleh Pak Yani sebagai Komandan Resimen. Sebagai Dan Men Pak Yani telah berhasil mengatasi masalah Darul Islam (DI/TII) yang terjadi di Jawa Tengah bagian barat. Pak Yani membentuk pasukan yang diberi nama Banteng Raiders, satu pasukan yang diberi latihan khusus seperti yang kemudian ada pada Pasukan Komando. Dengan pasukan itu diselesaikan masalah DI/TII tersebut dengan sukses. Maka setelah Pak Yani kembali dari pendidikan read more .....

May 20

Sayidiman Suryohadiprojo Permulaan Hubungan Yang Dingin Hubungan saya dengan almarhum Jenderal Besar Soeharto belum termasuk dalam Otobiografi yang saya terbitkan pada tahun 1997 dengan judul Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI. Sekarang pada tahun 2012 ingin saya hal itu diketahui anak cucu saya. Demikian pula akan saya lengkapi otobiografi itu dengan tulisan tentang Hubungan saya dengan almarhum Pak Yani, Jenderal Anumerta Achmad Yani. Hubungan saya dengan Pak Harto (PH) saya sebut sebagai jauh-jauh dekat. Saya tidak pernah masuk inner circle PH, tetapi sebagai anggota TNI saya pernah menduduki jabatan yang membuat saya cukup dekat dengan beliau. Dan hubungan saya dengan Presiden RI ke-2 itu jauh lebih banyak dari pada hubungan saya dengan Presiden RI ke-1. Hubungan saya dengan Presiden Sukarno terbatas pada pemberian latihan gymnastik kepada beliau waktu saya masih Taruna Akademi Militer Yogya pada tahun 1946. Waktu itu mungkin Bung Karno mendengar bahwa ada Taruna AM baru selesai menjalani pendidikan di Sekolah Olah Raga read more .....

Apr 13

Apa sebenarnya yang salah dari Cara Berpikir Barat ? Ini adalah pertanyaan yang diajukan Ibu Sadli dalam komentarnya atas tulisan Cara Berpikir Pancasila sebagai Dasar untuk Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Kalau pertanyaan ini ditanyakan oleh orang Barat, maka jawabannya tergantung dari sudut mana penjawab melihat masalahnya. Akan tetapi kalau pertanyaan ini diajukan oleh manusia Indonesia untuk kepentingan kehidupan bangsa Indonesia, maka jawabannya sebenarnya telah diuraikan dalam tulisan Cara Berpikir Pancasila etc. Cara Berpikir Barat sebagai hasil Renaissance menyatakan Individu sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Individu itu dianggap berhak berbuat apa saja untuk kepentingan hidupnya. Bahkan dalam urusan ekonomi ia tidak hanya diperbolehkan, malahan dianjurkan untuk serakah (greed is a virtue). Ia mempunyai kekuasaan sepenuhnya atas hidupnya. Karena setiap Individu dapat berbuat sama, maka ia menyadari ada masalah keamanan baginya. Maka untuk mengatasi masalah keamanan ini Individu sepakat dengan read more .....

Jun 24

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 24 Juni 2009 Pada tanggal 23 Juni 2009 di Markas Besar Legiun Veteran RI diselenggarakan ceramah tentang masalah Ambalat. Yang bertindak sebagai pembicara adalah Laksma (P) Ir. Adi Sumardiman SH. Pembicara adalah seorang yang sangat dapat diandalkan bicara tentang masalah yang menjengkelkan ini. Sebab ia seorang Insinyur Geodesi lulusan ITB yang tentu pakar dalam masalah geografi dan hidrografi. Ia juga seorang Sarjana dalam Hukum Internasional. Tentang SH ini ia menceritakan satu kejadian yang lucu. Ketika pada akhir tahun 1950-an Prof. Dr Mochtar Kusuma Atmadja menjadi ketua delegasi Indonesia untuk memperjuangkan pengakuan dan pengesahan PBB atas Deklarasi Djuanda yang terbit pada tahun 1957, Pak Adi Sumardiman (AS) juga menjadi anggota kelompok itu. Akan tetapi ketika Pak AS mau turut delegasi untuk perundingan ke New York, Prof Mochtar mengatakan bahwa hanya para Sarjana Hukum yang dapat ikut serta. Hal ini memotivasi Pak AS untuk merebut gelar SH dan dapat diraihnya dalam 3 tahun berikut, read more .....