Program Kewiraan Dalam Era Reformasi

Posted by Admin on Wednesday, 20 February 2002 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn)

MAKSUD PROGRAM KEWIRAAN

Pelaksanaan Program Kewiraan ditetapkan dengan persetujuan bersama antara DEPDIKBUD dan DEPHANKAM pada tahun 1975 berdasarkan maksud-maksud tertentu. Dirasakan bahwa para mahasiswa perguruan tinggi yang merupakan Kader Bangsa tidak cukup hanya menjadi seorang profesional teknis dalam bidang kehidupan tertentu. Akan tetapi di samping berkembang menjadi seorang profesional yang pakar dan paham benar tentang satu aspek kehidupan, para Kader Bangsa harus pula menyadari dan memahami tempat dan peran mereka dalam Pembelaan Negara.

Selain itu juga dilihat bahwa dalam perkembangan umat manusia ilmu pengetahuan dan teknologi menghasilkan spesialis-spesialis yang menguasai satu keahlian dengan makin mendalam akan tetapi juga makin sempit. Padahal setiap keahlian itu merupakan bagian dari kehidupan yang luas yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila para spesialis hanya mengetahui keahliannya sendiri dan tidak dapat melihat dan memahami tempat dan perannya dalam kehidupan secara keseluruhan, maka akan timbul persoalan yang dapat merugikan kehidupan bangsa. Para spesialis perlu diajak bicara dan berpikir dengan pendekatan holistik atau manunggal untuk memperoleh manfaat maksimal dari setiap aspek kehidupan bangsa.

Kebetulan pada tahun 1975 LEMHANNAS (waktu itu merupakan singkatan dari Lembaga Pertahanan Nasional, sekarang menjadi Lembaga Ketahanan Nasional) baru selesai dengan perumusan konsep Ketahanan Nasional yang kemudian untuk sementara baru disahkan oleh Menteri Hankam/Pangab, kemudian disahkan oleh MPR pada tahun 1978. Dalam konsep Ketahanan Nasional digunakan pendekatan holistik atau manunggal itu, meliputi Astra Gatra atau delapan aspek kehidupan bangsa. Oleh karena itu kepada Lemhannas ditugaskan untuk memulai program Kewiraan dengan membentuk para Widya Iswara atau Dosen Kewiraan.

Kemudian oleh Lemhannas disusun program Kewiraan yang akan disajikan kepada para mahasiswa. Dengan latar belakang itu masuk akal bahwa substansi program Kewiraan meliputi Ketahanan Nasional, Wawasan Nusantara yang erat hubungannya dengan Ketahanan Nasional, Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta sebagai doktrin pertahanan bangsa Indonesia, serta Politik dan Strategi Nasional dan Hankamnas. Sebagai langkah permulaan konsep tersebut sudah memadai untuk dibawa kepada mahasiswa. Akan tetapi tentu kemudian sebenarnya konsep itu perlu terus diteliti apakah memerlukan perubahan sesuai dengan perkembangan yang ada. Namun sayang sekali bahwa tidak pernah ada perubahan dalam konsep itu. Hal mana menunjukkan bahwa tidak diadakan penelitian lebih mendalam tentang jalannya pelaksanaan program Kewiraan dibandingkan dengan maksud yang dikandung. Karena itu pertemuan kita sekarang ini sangat penting dan bermanfaat kalau juga bermaksud untuk melakukan peninjauan kembali terhadap pelaksanaan Program Kewiraan.

Dosen Kewiraan yang dipersiapkan terdiri atas dosen perguruan tinggi yang ditetapkan oleh Mendikbud dan perwira ABRI yang ditetapkan oleh Dephankam. Sejak permulaan sudah diperkirakan oleh pimpinan Lemhannas bahwa pelaksanaan program Kewiraan tidak akan tanpa persoalan. Persoalan pertama yang diperkirakan adalah penolakan dari kalangan akademis karena tidak melihat relevansi program itu dengan pendidikan tinggi. Belum banyak cendekiawan yang menyadari perlunya pendekatan holistik, apalagi masalah Pembelaan Negara, ditambah juga kesangsian apakah substansinya patut dikuliahkan di perguruan tinggi. Persoalan kedua, di kalangan mahasiswa makin menguat sikap antipati terhadap Pemerintah dan ABRI setelah terjadinya Peristiwa Malari pada tahun 1974. Program Kewiraan dinilai sebagai usaha Pemerintah dan pimpinan ABRI untuk membuat mahasiswa tunduk dan mengikuti semua kehendak Pemerintah. Sebab itu diperkirakan bahwa mahasiswa sekurang-kurangnya tidak suka mengikuti program itu.

Atas dasar perkiraan itu penyiapan dosen Kewiraan sangat penting dalam aspek pendekatan dosen terhadap mahasiswa. Dan dinilai bahwa dosen sipil dari perguruan tinggi akan lebih mudah diterima oleh para mahasiswa. Sedangkan para dosen militer harus pandai membawa diri agar tidak dianggap sebagai faktor pemaksa oleh mahasiswa.

Dalam pelaksanaan program Kewiraan terbukti perkiraan pimpinan Lemhannas ada benarnya. Pada umumnya para mahasiswa menganggap Kewiraan ada gunanya, tetapi merupakan beban bagi studinya yang sudah mereka anggap tidak ringan. Namun dapat dikatakan bahwa maksud utama pengadaan Kewiraan dapat tercapai secara minimal, yaitu para mahasiswa mulai menyadari pentingnya aspek bela negara dalam kehidupan mereka apa pun yang mereka jalankan, sekalipun mungkin mereka tidak suka dengan Kewiraan. Juga maksud agar mahasiswa makin terbawa untuk menjalankan pendekatan holistik dapat tercapai, meskipun mungkin itu dilakukan secara tidak sadar.

ERA REFORMASI

Dengan terjadinya Reformasi dan berakhirnya Orde Baru persoalan yang dihadapi program Kewiraan tentu lebih berat dan banyak. Ketika TNI dihujat dan dipersalahkan mengenai berbagai tindakannya di masa lalu, dapat dibayangkan bahwa Kewiraan yang selalu dipandang sebagai produk TNI makin mengalami tantangan di kalangan akademis dan mahasiswa. Hanya mereka yang benar-benar dapat berpikir obyektif dan mampu melihat kehidupan nasional dan internasional secara luas yang menerima Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara sebagai konsep yang patut diperhatikan. Apabila ditambahkan bahwa kehidupan mahasiswa menjadi makin berat akibat Krisis Moneter, maka dapat diperkirakan bahwa mereka tidak menyukai segala hal yang mereka anggap kurang relevan dengan studi mereka yang terutama tertuju kepada satu bidang keahlian.

Selain itu Reformasi memperkuat sikap Individualisme. Kebebasan dalam segala bidang yang menjadi hasil Reformasi cenderung untuk dilihat sebagai jalan untuk mendukung kepentingan individu. Sekalipun sebenarnya demokrasi mengandung makna rasa tanggungjawab sosial dan keharusan menghormati pendapat orang lain dan tidak hanya mengejar kehendak pribadi, namun dalam kenyataan yang dipentingkan adalah kepentingan pribadi atau individu. Tidak sedikit orang yang katanya pejuang dan pembela demokrasi, dalam kenyataan tidak tahan dan marah ketika dikritik dan hanya mau mengkritik pihak lain.

Dalam kondisi demikian landasan Ketahanan Nasional, yaitu ideologi Panca Sila, mengalami tantangan dan kesulitan yang berat. Tantangan individualisme dan liberalisme lebih berat untuk diatasi dibandingkan dengan tantangan komunisme. Sebab para pejuang dan pembela individualisme dan liberalisme dapat mengatakan bahwa banyak contoh dari negara dan masyarakat yang maju dan sejahtera dengan sikap hidup mereka. Hal itu tidak dapat ditonjolkan oleh para pejuang dan pembela komunisme. Mereka katakan buat apa sulit-sulit bicara tentang Panca Sila kalau lebih mudah meniru dan mengikuti bangsa-bangsa Barat yang terbukti kemajuan dan kesejahteraannya disertai kehidupan penuh kebebasan dan demokrasi. Ini merupakan tantangan paling berat bagi pejuang dan pembela Panca Sila. Dan dengan sendirinya merupakan tantangan berat sekali bagi kelanjutan Kewiraan. Kalau dulu perhatian dapat langsung dicurahkan kepada Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara, maka sekarang harus lebih dulu ditimbulkan keyakinan mahasiswa terhadap Panca Sila. Harus ditimbulkan pikiran mahasiswa bahwa mungkin saja individualisme dan liberalisme itu baik bagi negara dan masyarakat lain, khususnya yang ada di Barat, tetapi apa yang baik dan cocok bagi bangsa lain tidak otomatis baik dan cocok bagi Indonesia. Yang baik dan cocok bagi Indonesia adalah Panca Sila yang sudah kita tetapkan sebagai Dasar Negara sejak tahun 1945.

Dengan begitu program Kewiraan sekarang mempunyai peran yang jauh lebih penting ketimbang sebelumnya. Sebab pelestarian Panca Sila sebagai Dasar Negara masih lebih fundamental ketimbang Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara. Kalau sampai Panca Sila hilang dari kehidupan bangsa Indonesia, maka juga jangan kita harap Ketahanan Nasional dapat dijamin.

Sebenarnya kesalahan para pemimpin Indonesia mengenai pengamanan Panca Sila sangat besar. Di masa Orde Lama Presiden Soekarno yang merupakan Penggali dan Pencetus Panca Sila malahan mendiskreditkan Panca Sila ketika menetapkan Demokrasi Terpimpin disertai pemerintahan yang otoriter serta kondisi ekonomi yang menimbulkan penderitaan rakyat banyak. Kemudian di masa Orde Baru Presiden Soeharto yang mengatakan hendak melaksanakan Panca Sila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen menetapkan sistem politik yang diberi nama Demokrasi Panca Sila, tetapi sama sekali tidak membuahkan demokrasi atau kedaulatan rakyat sebagaimana dikehendaki Panca Sila. Juga sistem ekonomi yang mementingkan konglomerasi menimbulkan kesenjangan yang makin lebar antara pihak kaya dan miskin. Padahal Panca Sila mengajar kita untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jadi kalau sekarang usaha pembela individualisme dan liberalisme makin menguat , maka kesalahan terletak pada para pemimpin kita sendiri. Tantangan yang harus kita atasi adalah menetralisasi segala gambaran negatif Panca Sila yang terbawa oleh perbuatan para pemimpin masa lampau. Dan menggambarkan segi positif yang didatangkan Panca Sila bagi masa depan bangsa Indonesia serta segi negatif kalau Panca Sila ditinggalkan.

RELEVANSI KEWIRAAN UNTUK MASA KINI

Namun kewajiban pertama yang kita hadapi adalah menimbulkan keyakinan bahwa program Kewiraan untuk pendidikan tinggi masih relevan. Memang kalau kita melaksanakan Kewiraan dengan format lama akan sukar sekali untuk menimbulkan keyakinan itu.

Kita harus menggunakan pendekatan berbeda terhadap pelaksanaan Kewiraan. Kalau Kewiraan dilaksanakan sebagai studi kasus (case studies) mungkin dunia akademis akan lebih mudah menerimanya. Atas dasar itu pula relevansi Kewiraan akan lebih mudah dikembangkan.

Dalam kenyataan dunia dan umat manusia masih penuh dengan masalah keamanan. Tidak ada bagian dunia yang bebas dari problim keamanan yang timbul dari aneka ragam sebab tetapi mempunyai dampak menyeluruh kepada masyarakat. Itu berarti bahwa masalah pembelaaan negara masih amat relevan.

Ada orang mengatakan bahwa sekarang Perang makin kurang kemungkinannya. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa antara negara yang menganut sistem demokrasi tidak mungkin terjadi perang. Selain itu negara juga makin berkurang keinginannya untuk menyelesaikan pertentangan politik internasionalnya dengan menggunakan kekerasan senjata secara terbuka. Itu berarti negara kurang berminat untuk memerangi negara lain secara terbuka, sekalipun ada pertentangan politik yang amat kuat. Itu antara lain dibuktikan oleh sikap AS dan Uni Soviet yang sangat kuat pertentangannya dan mempunyai arsenal persenjataan yang besar, tetapi tidak pernah melakukan perang satu sama lain. Sebab masing-masing menganggap pelaksanaan Perang terbuka membawa risiko yang amat besar, sekalipun menyerang terlebih dahulu.

Memang secara obyektif kemungkinan terjadinya perang terbuka antara dua negara menjadi amat kecil dibandingkan masa lampau. Meskipun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa ada saja negara yang melakukan serangan terbuka kepada negara lain, karena negara itu dipimpin oleh orang-orang yang tidak dapat bersikap rasional sehingga mengambil risiko yang amat besar. Apalagi kalau pemerintah negara itu merasa bahwa kekuatan militernya jauh lebih unggul dari negara yang akan diserangnya. Atau kalau negara itu demikian dipojokkan sehingga tidak ada pilihan lain selain Perang.

Selain itu kelangsungan hidup satu negara tidak hanya dapat diancam oleh satu perang terbuka. Dengan perang tertutup pun satu negara dapat menyerang dan mengalahkan negara lain sebagaimana terbukti dalam Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. Perang Dingin sebenarnya merupakan perang tertututp, yaitu kedua pihak berusaha mengalahkan lawannya dengan menggunakan semua cara kecuali kekerasan senjata terbuka. Senjata ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, agama, semuanya dimanfaatkan untuk merongrong kekuatan pihak lawan, baik dari luar maupun dari dalam tubuh negaranya, untuk akhirnya dapat menaklukkan lawan. Uni Soviet menjadi hancur ketika mulai mengadakan perestroika atau restrukturisasi. Mikhail Gorbachev sebagai pimpinan Uni Soviet berusaha untuk memperbaiki kondisi ideologi negaranya karena melihat bahwa makin banyak warganya sangsi atas kemampuan Uni Soviet memberikan kehidupan yang baik kepada mereka. Jadi Gorbachev bermaksud memurnikan sosialisme Uni Soviet sehingga benar-benar memuaskan warganya. Untuk itu ia harus mampu memperbaiki ekonominya dan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologinya. Akan tetapi ia kemudian menemukan bahwa tak mungkin ada perbaikan itu tanpa ada restrukturisasi dalam masyarakat Uni Soviet. Sebab itu ia melakukan perestroika.

Akan tetapi kemudian ternyata bahwa perestroika tak mungkin dilakukan kalau tidak ada glasnost atau kebebasan. Maka mulai dilakukan proses kebebasan. Tetapi itu tak mungkin jalan tanpa ada demokratizatsiya atau demokratisasi. Pada kondisi itu Uni Soviet mulai menjadi berantakan. Negara-negara Eropa Timur yang tadinya dikuasai dengan keras oleh Uni Soviet menuntut kebebasan berdasarkan demokrasi. Setelah itu warga Uni Soviet sendiri yang sudah terkekang dengan keras sejak tahun 1917 juga menuntut kebebasan. Maka Uni Soviet dan sistem komunis menjadi berantakan sehingga akhirnya rontok sama sekali sebagai negara. Cerita selanjutnya sudah kita ketahui semua.

Jadi perang tertutup atau subversi sekarang merupakan jalan yang lebih mudah, lebih murah dan lebih sedikit risikonya ketimbang perang terbuka. Sedangkan kemungkinan keberhasilannya tidak kalah tinggi. Sebab itu, meskipun perang terbuka menjadi kurang mungkin terjadinya, pembelaan negara tetap merupakan masalah yang aktual.

Hal itu kita rasakan sendiri ketika terjadi Krisis Moneter yang diikuiti dengan Krisis Ekonomi yang amat gawat sampai ekonomi nasional bukan saja tidak tumbuh, melainkan justru mengerut atau kontraksi. Kemudian diikuti oleh berbagai persoalan politik dan sosial, bahkan agama dan budaya , termasuk timbulnya niat memisahkan diri dari daerah-daerah tertentu. Maka boleh dikatakan bahwa Republik Indonesia sekarang dalam kondisi yang amat rawan untuk dikuasai pihak lain. Seperti yang dikatakan Menko Ekuin Kwik Kian Gie, Indonesia sudah tidak mampu untuk menolak tekanan IMF. Karena kalau IMF tidak dituruti kehendaknya, maka dana IMF dan mungkin luar negeri lainnya tidak akan masuk Indonesia. Dan itu mengakibatkan pemelaratan yang terlalu besar sehingga membahayakan negara.

Maka dari itu Kewiraan tetap relevan untuk dibicarakan dan menjadi bahan studi para mahasiswa sebagai Kader Bangsa. Hanya saja penentuan subyek atau tema pendidikan serta cara penyajiannya harus diperbaiki dan ditinjau kembali agar lebih dapat mencapai tujuan.

PROGRAM KEWIRAAN BARU

Dalam Kewiraan masa kini dan masa depan perlu ada peninjauan kembali bahan yang disajikan. Selain itu juga metode penyampaian juga perlu disesuaikan. Melihat keperluan maka penyajian Politik dan Strategi Nasional maupun Hankamnas sebaiknya dihentikan. Sedangkan penyajian Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional harus merupakan penyajian teori disertai satu atau beberapa studi kasus (case studies). Para mahasiswa dirangsang untuk aktif dalam diskusi ketika diadakan studi kasus. Satu studi kasus Wawasan Nusantara yang mungkin menarik adalah Masalah Aceh yang sebenarnya ditimbulkan oleh pandangan penguasa di Jakarta sejak Orde Lama yang terlalu sentralistis. Di situ dapat dibicarakan bagaimana sebenarnya diperlukan otonomi daerah justru untuk memelihara persatuan bangsa. Studi kasus lain mengenai Wawasan Nusantara adalah lemahnya semangat dan usaha bangsa Indonesia dalam kelautan. Akibatnya adalah bahwa perhubungan laut ke daerah-daerah lebih didominasi maskape pelayaran asing, khususnya Singapore.

Terutama pendalaman Ketahanan Nasional perlu menggunakan studi kasus banyak. Yang langsung menonjol adalah dalam ideologi Panca Sila seperti yang telah kita uraikan sebelumnya. Perkembangan Panca Sila sebagai ideologi serta perlakuan terhadapnya dapat menjadi studi kasus penting. Kemudian penting sekali masalah budaya ketika televisi di banyak rumah tangga secara leluasa dimasuki oleh siaran televisi asing dengan menyajikan budayanya yang belum tentu bermanfaat, bahkan sebaliknya menimbulkan kerawanan dalam ketahanan nasional. Untuk bidang ekonomi Krisis Moneter tahun 1997 merupakan studi kasus yang amat berharga. Mengapa Indonesia yang oleh pakar ekonomi IMF dan Bank Dunia pada pertengahan 1997 diprediksi akan bebas dari krisis moneter yang waktu itu sudah menyerang Malaysia, Thailand dan Korea Selatan, tetapi dalam kenyataan justru Indonesia yang paling berat mengalami krisis moneter dengan segala komplikasinya di bidang politik. ekonomi, sosial dan hankam. Dalam bidang politik studi kasus Demokrasi Panca Sila ciptaan Presiden Soeharto dengan segala kegagalannya serta dampak negatifnya pada ideologi Panca Sila dan masyarakat sangat bagus untuk disajikan. Dalam bidang hankam kegagalan Timor Timur sejak tahun 1975 patut dikemukakan. Juga masalah mengenai sulitnya mencapai harmoni antara para pengikut agama serta dampaknya terhadap Ketahanan Nasional sangat penting dibicarakan. Dalam bidang sosial penting dibicarakan hubungan antara kemiskinan dan Ketahanan Nasional. Mengenai kondisi geografi dapat dibicarakan usaha AS untuk membangun kembali pangkalan di wilayah Asia Tenggara dan bagaimana hubungannya dengan Indonesia. Mengenai keadaan penduduk dapat dibicarakan masalah urbanisasi ke Jakarta dengan segala implikasinya untuk Jakarta dan daerah yang ditinggalkan penduduk, serta dampaknya bagi Ketahanan Nasional. Sedangkan mengenai potensi kekayaan alam banyak sekali kemungkinan studi kasus, mulai dari kekayaan perikanan yang diambil nelayan asing sampai masalah minyak dan pertambangan lainnya. Dengan kemungkinan begitu banyak studi kasus dan dilandasi teori yang telah disajikan sebelumnya, maka harapan besar bahwa akan ada pemahaman lebih baik tentang Ketahanan Nasional pada para mahasiswa sebagai kader bangsa.

Tentang Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta juga perlu ada kombinasi antara teori dan studi kasus. Selain Perang Kemerdekaan Kedua, maka Perang Vietnam merupakan bahan yang baik. Akan tetapi juga harus dicegah jangan sampai ada pikiran bahwa SISHANKAMRATA hanya merupakan a poor man’s war concept, yaitu hanya mementingkan gerilya dan perang wilayah. Sebab itu perlu ditunjukkan bahwa perang yang dilakukan Inggeris atau Jerman dalam Perang Dunia Kedua juga satu usaha perang rakyat semesta.

Kemudian perlu kita tinjau kembali persiapan para Dosen Kewiraan. Kiranya tetap berlaku bahwa amat penting seorang Dosen Kewiraan diterima atau diakseptir secara baik oleh para mahasiswa. Ini sangat tergantung pada pendekatan dosen terhadap mahasiswa, terhadap kuliah yang akan diberikan dan bagaimana perilakunya. Mungkin sekarang lebih menonjol lagi kurang cocoknya seorang dosen militer bagi mahasiswa. Akan tetapi seorang dosen militer yang dikenal oleh mahasiswa sebagai seorang yang demokrat pasti diterima dengan baik. Artinya ia bersedia berdiskusi dengan mahasiswa, tidak sok pinter tetapi secara jujur mencari kebenaran bersama mahasiswa, perilakunya wajar saja dan selalu korekt dalam memegang waktu dan menjaga rasa keadilan. Jadi merupakan tantangan bagi para dosen militer apakah mereka dapat diterima oleh mahasiswa. Hal mana nanti dapat dibuktikan dari suasana kuliah yang dipimpin dosen tersebut. Sebaliknya jangan dosen sipil mengira bahwa mereka dengan sendirinya diterima oleh mahasiswa. Mereka pun harus menghadapai tantangan bahwa para mahasiswa kurang suka kepada Kewiraan. Jadi mereka harus membuktikan efektifitas mereka dengan membuat para mahasiswa mulai tertarik kepada Kewiraan. Ini sangat tergantung pada kemampuan dosen memberikan kuliah secara menarik, khususnya mengenai penyajian studi kasus.

Mudah-mudahan dengan segala usaha untuk memperbaiki Program Kewiraan kita dapat melanjutkan usaha kita membuka mata para mahasiswa sebagai Kader Bangsa tentang Pembelaan Negara. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa meridhoi usaha kita !

RSS feed | Trackback URI

3 Comments »

Comment by yustryanie
2009-10-24 10:19:36


gw mt tnya neh?
bagaimana kewiraan tentang perang????
gw ga ngerti neh pdahal gw da tgs dri kampus.
tolong di jawab ya…………
thanks dluan.

 
2009-08-12 09:59:35


Sdr dHenna,
Perlu tulisan panjang untuk menjawab permintaan Anda. Tapi singkatnya saja. Dalam masa Orde Lama dan Orde Baru masyarakat, khususnya kaum pelajar dan mahasiswa, banyak diajak untuk aktif memikirkan bela negara dan melaksanakan hal-hal yang bersangkutan dengan bela negara. Seperti adanya wajib latih dan wajib militer, kuliah kewiraan, dll. Tetapi sejak reformasi timbul dan ditimbulkan pandangan bahwa bela negara adalah urusan tentara belaka. Jadi kalau sipil diajak melakukan program bela negara langsung dituduh oleh mereka yag tidak suka NKRI kuat sebagai usaha militerisasi. Anehnya, orang-orang itu sering memuji2 Singapore, padahal di negara-kota itu peraturan wajib militer dilakukan dgn konsekuen, tidak hanya utk membuat Singapore lebih mampu dalam pertahanan negara tetapi juga utk mendidik warga negaranya menjadi orang2 yang lebih efektif dalam kehidupan. Salam,
Sayidiman S

 
Comment by dHenna
2009-08-11 13:40:32


Qw mo tanya donk..

bagaimana sieh pelaksanaan bela negara pada masa orde lama, orde baru dan sekarang??

Tolong di jawab ya karena itu qw ada tugas dari sKuLah..

Thanks before….

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post