Paradigma Perjuangan Tamansiswa Dalam Kebudayaan Dan Pendidikan

Posted by Admin on Saturday, 9 December 2000 | Makalah, Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

PENDAHULUAN

Sejak mendirikan Tamansiswa Ki Hadjar Dewantara menggunakan Kebudayaan dan Pendidikan sebagai sarana utama berpartisipasi dalam perjuangan nasional untuk mencapai kemerdekaan bangsa. Dengan landasan itu Tamansiswa berhasil sangat positif dalam mempersiapkan kemerdekaan. Tidak sedikit anggota Tamansiswa yang turut aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan memberikan sumbangan yang amat berharga.

Memang tidak hanya faktor politik yang dapat digunakan untuk mewujudkan perjuangan nasional. Bahkan faktor kebudayaan dan pendidikan dapat memberikan landasan yang lebih kokoh dan tahan lama serta menghasilkan kepemimpinan sebagaimana dibuktikan dalam sejarah perjuangan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara menjadi pemimpin perjuangan nasional dengan landasan itu. Secara tepat beliau kemudian dinobatkan menjadi Bapak Pendidikan Indonesia. Dan perumusan tentang kebudayaan Indonesia yang tercantum dalam UUD Dasar 1945 adalah sesuai dengan konsep pemikiran beliau pula.

Oleh sebab itu adalah semestinya kalau Tamansiswa dalam perjuangan untuk mengisi kemerdekaan juga terus menggunakan landasan utama Kebudayaan dan Pendidikan. Bahkan Tamansiswa harus dapat menjadi Tauladan dan Acuan Utama tentang perkembangan Kebudayaan dan Pendidikan Indonesia, kalau tetap ingin mempertahankan citra dan reputasi yang dibangun selama perjuangan kemerdekaan ketika masih dipimpin Ki Hadjar Dewantara sendiri.

Kenyataan menunjukkan bahwa kemudian peran Tamansiswa dalam realisasi Kebudayaan dan Pendidikan tidak dapat dianggap sebagai Tauladan dan Acuan Utama Bahkan harus diakui secara sedih bahwa pendidikan yang diselenggarakan Tamansiswa dewasa ini kurang dapat menyamai mutu dari banyak lembaga pendidikan Indonesia lain, baik pemerintah maupun swasta. Hal demikian tentu berakibat bahwa Tamansiswa makin menurun citra dan reputasinya dalam masyarakat Indonesia yang sedang berjuang keras untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Tamansiswa nampak lebih banyak bertumpu pada masa lalu yang gemilang ketimbang pada usaha dinamis untuk menjadi pelopor dalam kemajuan bangsa, khususnya dalam Kebudayaan dan Pendidikan.

Tentu banyak pencinta Tamansiswa sangat menyayangkan perkembangan demikian. Makalah ini merupakan usaha untuk mengajak kalangan Tamansiswa untuk memperbarui sikap dan usaha Tamansiswa. Sesuai dengan Reformasi yang sedang berjalan dalam tubuh bangsa Indonesia Tamansiswa juga perlu mengadakan reformasi dalam dirinya sendiri agar dapat kembali menunjukkan prestasi menonjol dalam perjuangan nasional. Hal ini memerlukan pemahaman, kesadaran dan kesediaan para anggota Tamansiswa, dan khususnya mereka yang duduk sebagai pimpinan, untuk melakukan pembaruan. Semoga Tamansiswa memasuki Millennium Baru dengan tekad dan semangat baru yang teguh dan kuat untuk merebut kembali citra dan reputasi yang tinggi dalam masyarakat.

MASALAH KEBUDAYAAN INDONESIA

Kebudayaan atau culture dapat diartikan macam-macam, mulai dari yang sempit seperti kesenian sampai yang luas, yaitu sikap hidup dan perilaku. Kebudayaan memberikan identitas kepada satu bangsa. Sebab itu pendapat sementara orang yang mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada kebudayaan nasional, adalah jauh dari benar. Buat orang-orang itu kebudayaan Indonesia adalah semata-mata kebudayaan daerah yang aneka ragam sifatnya. Memang benar bahwa kebudayaan daerah adalah kebudayaan Indonesia. Akan tetapi di samping itu kebudayaan Indonesia juga mengandung unsur yang bukan-daerah, melainkan bersifat Indonesia sebagai kesatuan. Contohnya adalah bahasa Indonesia dan segala pencapaian yang terjadi dalam perjuangan nasional, seperti sikap hidup mencintai Tanah Air Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lainnya. Pengambilan dari kebudayaan asing, seperti sikap hidup modern, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan lainnya, lebih banyak perannya dalam pembentukan kebudayaan nasional ketimbang kebudayaan daerah. Salah satu produk perjuangan nasional yang sangat besar artinya dalam penentuan identitas bangsa Indonesia adalah Panca Sila yang telah ditetapkan sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Kebudayaan Indonesia akan berkembang secara optimal kalau ada keseimbangan antara kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional.

Hingga sekarang tidak dapat dikatakan bahwa telah terjadi satu perkembangan kebudayaan Indonesia yang memuaskan. Hal ini mempunyai aneka ragam sebab. Usaha yang amat kuat dari kebudayaan Barat untuk meluaskan pengaruhnya di seluruh dunia adalah salah satu sebab. Penetrasi kebudayaan Barat sangat kuat dan meliputi segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu merupakan perjuangan yang tidak ringan bagi kebudayaan Indonesia untuk berkembang secara mantap. Di pihak lain, manusia Indonesia sendiri kurang usahanya untuk mengembangkan kebudayaan Indonesia secara baik. Kebudayaan daerah diterlantarkan, sedangkan kebudayaan nasional kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan secara positif. Memang ada beberapa perkembangan yang sehat dan baik, seperti yang terjadi pada kebudayaan Bali dalam segala aspeknya. Namun belum terjadi satu perkembangan kebudayaan Indonesia secara keseluruhan yang memuaskan.

Akan sangat besar artinya apabila Tamansiswa di masa depan kembali memberikan perhatian kepada perkembangan kebudayaan. Selama ini Tamansiswa telah aktif dalam kegiatan kebudayaan daerah, khususnya kebudayaan Jawa. Hal itu perlu diteruskan dan dikembangkan meliputi kebudayaan daerah lainnya. Perlu kita sadari bahwa kebudayaan daerah merupakan kekayaan besar yang perlu dihidupkan kembali dan dikembangkan. Hal itu akan besar dampaknya kepada perjuangan bangsa Indonesia.

Akan tetapi Tamansiswa juga harus mengembangkan kebudayaan nasional agar supaya terdapat keseimbangan antara perkembangan kebudayaan daerah dan nasional. Dengan begitu Tamansiswa memberikan sumbangan berharga kepada bangsa Indonesia dalam perjuangannya mewujudkan peradaban Indonesia modern. Indonesia akan mempunyai tempat dan peran yang semestinya dalam perkembangan umat manusia yang makin dinamis.

Dalam mengembangkan kebudayaan nasional yang perlu mendapat perhatian khusus Tamansiswa adalah Panca Sila. Sekalipun Panca Sila telah lahir 55 tahun yang lalu, namun dalam kenyataan perkembangannya tidak sebanding dengan maknanya yang luhur dan sekali gus bermanfaat. Malahan sekarang Panca Sila terpuruk sekali karena dikecam dan dihinakan oleh cukup banyak orang, termasuk kaum muda Indonesia. Itu adalah sikap yang keliru tetapi merupakan akibat dari perbuatan kita sendiri. Bung Karno sebagai pencetus Panca Sila malahan mendiskreditkannya ketika mempraktekkan Demokrasi Terpimpin yang lebih dekat kepada diktatur. Presiden Soeharto lebih merusak lagi karena menggunakan Panca Sila sebagai label untuk berbagai tindakannya, seperti menggunakan istilah Demokrasi Panca Sila bagi satu sistem politik yang sama sekali tidak mengandung dan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Panca Sila.

Padahal secara obyektif Panca Sila adalah satu ciptaan yang amat brilyan. Kelemahan dan kekurangan utama bangsa kita adalah bahwa Panca Sila sebagai produk yang amat brilyan, tidak pernah diusahakan secara serieus menjadi kenyataan yang hidup (living reality) dalam masyarakat dan kehidupan bangsa Indonesia. Pihak-pihak yang ingin menguasai kebudayaan umat manusia dengan sendirinya diuntungkan oleh sikap bangsa kita yang menterlantarkan Panca Sila. Dengan begitu lebih mudah bagi mereka untuk membuat bangsa Indonesia menganut kebudayaan mereka . (baca : Panca Sila sebagai Kenyataan Hidup dalam Masyarakat Indonesia, terlampir).

Akan sangat besar artinya kalau Tamansiswa menjadikan Panca Sila sebagai platform perjuangannya. Hal itu juga sesuai dengan pedoman Ketamansiswaan yang dianut keluarga Tamansiswa sejak berdirinya. Sebab banyak persamaannya antara Ketamansiswaan dan nilai-nilai Panca Sila. Tamansiswa perlu memperjuangkan agar nilai-nilai Panca Sila menjadi kenyataan yang hidup. Hal itu dimulai dengan meyakinkan seluruh keluarga Tamansiswa akan kebenaran Panca Sila serta manfaatnya bagi masa depan Indonesia. Ini perlu karena justru dalam Reformasi sering nampak penolakan dan bahkan kecaman terhadap Panca Sila, terutama dari kalangan muda. Yang berikut adalah tumbuhnya sikap dan perilaku segenap keluarga Tamansiswa sesuai dengan nilai-nilai Panca Sila. Karena Panca Sila di satu pihak bersumber pada nilai-nilai bangsa Indonesia asli, tetapi di pihak lain juga mengandung nilai-nilai modern yang tumbuh dalam perkembangan umat manusia, maka berkembang sikap yang sesuai dengan modernitas tanpa meninggalkan kepribadian yang berakar pada bumi Indonesia. Akibatnya bagi bangsa Indonesia akan luas dan positif sekali. Sebab akan berkembang identitas Indonesia yang tetap bersumber pada kebudayaan Indonesia, tetapi dengan mengharmonisasikan hasil kemajuan umat manusia di dalamnya. Namun Panca Sila tidak boleh hanya merupakan semboyan belaka. Tamansiswa mengusahakan agar tersusun sistem pemikiran Panca Sila dengan metodologinya sendiri. Akan bertemu di situ sikap hidup Ketimuran atau Indonesia asli seperti gotong royong dengan sikap dan kemajuan berpikir dunia modern, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dilihat dari sudut budaya Panca Sila memang merupakan sintese antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas.

Untuk dapat melakukan perjuangan itu secara positif dan efektif Tamansiswa harus membuat organisasinya lebih sesuai dengan keperluan itu. Sekarang Tamansiswa bersifat organisasi yang menjalankan pendidikan semata-mata. Hal itu harus berubah menjadi satu paguyuban kebudayaan yang tentunya mempunyai dasar intelektual yang sesuai. Paguyuban itu sekali gus menjadi satu induk yang menjadi sumber bagi berbagai kegiatan masyarakat untuk merealisasikan pikiran yang dikembangkannya. Bagian organisasi yang penting adalah Penelitian dan Pengembangan (Litbang) yang menjadi tempat mengolah berbagai pemikiran dan konsep, termasuk konsep menjadikan Panca Sila satu kenyataan hidup yang terbuka bagi berbagai perkembangan baru serta pemikiran yang berasal dari luar. Dan bagaimana hubungannya serta konsekuensinya dengan berbagai kegiatan yang dilakukan Tamansiswa, seperti pendidikan, kesenian, kesusasteraan, usaha ekonomi, usaha sosial dan lainnya. Demikian pula apa yang perlu dilakukan Tamansiswa untuk mengsosialisasikan pemikiran tersebut.

Pasti timbul pertanyaan bagaimana membiayai organisasi seperti itu, sedangkan bangsa Indonesia masih relatif miskin. Pertama kita menarik perhatian sesama bangsa Indonesia yang bersimpati kepada usaha kebudayaan, juga mereka yang memiliki kekuatan keuangan. Akan tetapi tidak akan banyak yang cukup kuat untuk membantu dengan dana, apalagi ekonomi Indonesia belum bangkit kembali. Oleh sebab itu kita harus juga berusaha menjalankan kerjasama dengan luar negeri. Di negara industri maju seperti AS, Jepang, Perancis dan Jerman selalu ada organisasi yang bergerak dengan tujuan mewujudkan kemanusiaan dan kesejahteraan bagi kalangan luas dan tidak terbatas pada bangsanya sendiri. Mereka bersimpati dengan usaha yang dilakukan bangsa yang sedang berkembang untuk memajukan dirinya dan dapat diminta bantuannya. Akan tetapi dengan sendirinya mereka juga memperhatikan kepentingan mereka sendiri. Karena itu harus selalu diusahakan kerjasama dengan mereka yang kepentingannya tidak bertentangan dengan Indonesia umumnya dan Tamansiswa khususnya. Dengan sendirinya Tamansiswa tidak mengorbankan kepentingan bangsa Indonesia dan kepentingannya sendiri. Bagi pihak luar penting bahwa Tamansiswa serieus dan sungguh-sungguh dalam melakukan usahanya.

Kalau Tamansiswa melakukan perjuangan kebudayaan itu dengan penuh kesungguh-sungguhan, pasti citra dan reputasi Tamansiswa akan bangkit kembali. Kita tidak boleh lupa bahwa umat manusia abad ke 21 sangat mengutamakan pengetahuan (knowledge society) dan itu berarti pentingnya kebudayaan. Menjadi tantangan bagi Tamansiswa untuk berkembang menjadi Pusat Kebudayaan Indonesia (The Centre of Indonesian Culture) yang mutunya diakui serta disegani oleh segenap pihak, baik di dalam maupun luar negeri.

PENDIDIKAN TAMANSISWA HARUS BERMUTU

Salah satu kegiatan penting yang dilakukan Tamansiswa adalah Pendidikan. Dalam perjuangan pergerakan nasional Ki Hadjar Dewantara menggunakan pendidikan sebagai sarana utama untuk membuat kader untuk perjuangan itu. Dapat dikatakan bahwa usaha itu berhasil kalau kita perhatikan betapa banyak hasil pendidikan Tamansiswa telah ikutserta dalam menciptakan dan menegakkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sekarang dan di masa depan Tamansiswa mengadakan pendidikan untuk membuat kader guna perjuangan bangsa Indonesia menciptakan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Panca Sila. Yang sering dilupakan atau diabaikan dalam kalangan Tamansiswa adalah bahwa tujuan masa lalu dan masa kini menuntut hasil pendidikan yang tidak sepenuhnya sama. Dua-duanya memerlukan hasil pendidikan berupa orang yang bersikap mental kuat, berkarakter, bersifat dan bersikap patriot sejati. Namun juga ada perbedaannya. Persaingan bagi pejuang kemerdekaan terutama bersifat kesanggupan dan kemampuan mengatasi penjajah di medan laga fisik. Bagi pejuang masa kini persaingan berarti mampu melakukan persaingan internasional untuk menjaga kelangsungan hidup bangsa dengan mewujudkan kemampuan menjalankan berbagai profesi dengan sebaik-baiknya yang dipengaruhi oleh makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Itu berakibat bahwa pendidikan masa kini dan masa depan harus bermutu tinggi.

Juga tidak dapat diabaikan bahwa perkembangan umat manusia menimbulkan perubahan penting dalam budaya pendidikan. Kalau dulu pendidikan berorientasi kepada guru atau pendidik, perkembangan umat manusia memerlukan fokus utama kepada anak didik. Itu tidak berarti bahwa peran guru menjadi berkurang, tetapi peran itu justru bertambah. Sekarang guru harus tidak saja pandai dan menguasai ilmunya, tetapi juga cakap merangsang dan memotivasi anak didik untuk mengembangkan potensinya menjadi kekuatan dan kemampuan. Pendidikan tidak bisa lagi bersifat satu arah dari guru ke murid, melainkan dua arah dan bertitikberat aktivitas anak didik dengan guru sebagai fasilitator yang cakap dan arif. Perubahan budaya pendidikan ini sangat besar artinya terhadap hasil pendidikan yang akan dicapai.

Memperhatikan dua hal itu maka Tamansiswa perlu melakukan perubahan banyak dalam penyelenggaraan pendidikannya. Sekarang masih ada kecenderungan untuk mengutamakan jumlah sekolah karena ada dorongan batin untuk memberikan pendidikan kepada sebanyak mungkin pemuda Indonesia. Sikap demikian sangat mulia kalau jumlah sekolah juga disertai standard mutu yang memadai. Dalam kenyataan tidak demikian dan banyak sekolah yang mutunya disangsikan. Dengan begitu Tamansiswa membuat satu kesalahan. Sebab di masa kini pendidikan buruk lebih merugikan semua pihak dari pada tidak ada pendidikan. Sebab pendidikan buruk membentuk anak didik yang buruk.

Tamansiswa harus sadar bahwa faktor jumlah menjadi tanggungjawab Pemerintah. Adalah Pemerintah yang harus menyelenggarakan wajib belajar 9 tahun bagi semua anak didik Indonesia. Tamansiswa turut berperan dalam usaha itu tetapi dengan mengutamakan mutu dari lembaga pendidikannya, bukan dalam jumlah. Harus ada kesadaran bahwa di masa kini faktor mutu amat menentukan sifatnya. Contohnya adalah Singapore, satu negara kota dengan penduduk tidak lebih dari 3 juta orang. Sekalipun kecil sekali dibandingkan dengan Indonesia dan India, namun berkat kualitas yang dicapai dalam berbagai aspek kehidupan Singapore tidak kalah bobotnya dalam percaturan internasional.

Itu berarti bahwa sekolah Tamansiswa harus memenuhi tuntutan mutu masa kini yang berarti juga menjalankan budaya pendidikan yang diperlukan. Tuntutan mutu menyangkut terwujudnya pendidikan yang mengembangkan kemampuan anak didik dalam penguasaan ilmu pengetahuan, pemeliharaan jasmani serta terbentuknya budi pekerti luhur. Karena Tamansiswa mempunyai platform perjuangan Panca Sila, maka pendidikan Tamansiswa mengusahakan terwujudnya sikap hidup sesuai dengan nilai-nilai Panca Sila. Hal ini diperkuat dengan ajaran Ketamansiswaan. Penguasaan ilmu pengetahuan diusahakan untuk membentuk cara berpikir yang cerdas dan rasional, serta mengikuti perkembangan setiap ilmu pengetahuan. Terjadinya globalisasi menimbulkan desakan untuk penguasaan bahasa asing dengan baik, khususnya bahasa Inggeris, serta penggunaan Teknologi Informasi secara luas. Pendidikan bermutu juga mengharuskan pembentukan budi pekerti luhur; ini sangat dipengaruhi pemberian pendidikan agama secara baik. Pendidikan bermutu menghasilkan anak didik dengan IQ, EQ dan SQ (intelligence quotient, emotional quotient, spiritual quotient) yang tinggi.

Agar budaya pendidikan terlaksana dengan baik sehingga anak didik berkembang menjadi kepribadian mandiri diperlukan guru-guru yang menguasai ilmu pengetahuan serta kemampuan untuk memotivasi dan merangsang anak didik mengembangkan dirinya. Untuk tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar atau Taman Indriya dan Taman Muda diperlukan Guru Kelas yang mampu membawa semua mata pelajaran kecuali agama. Dengan demikian guru dapat benar-benar mendidik muridnya secara saksama, tetapi sebaliknya menuntut kecakapan dan kemampuan guru sebagai pendidik yang baik. Sedangkan untuk SLTP dan SMU atau Taman Dewasa dan Taman Madya diperlukan Guru Mata Pelajaran yang cakap dalam penguasaan setiap mata pelajaran, namun juga cakap untuk mengkomunikasikan mata pelajaran itu kepada muridnya. Mungkin juga sudah mulai kelas 4 SD digunakan guru mata pelajaran dan tidak lagi guru kelas.

Sekolah bermutu memerlukan Kepala Sekolah yang cakap sebagai pendidik maupun sebagai manajer dan pemimpin. Para pejabat Depdiknas sekarang sudah bersedia memberikan otonomi dan keleluasan jauh lebih banyak kepada lembaga pendidikan. Kurikulum yang datang dari Pusat tidak lagi bersifat mendetail dan memberikan kepada lembaga pendidikan keleluasaan menyusun kurikulum sesuai dengan pandangan masing-masing dengan intinya kurikulum Pusat. Hal ini sesuai dengan budaya pendidikan baru, tetapi menuntut kemampuan Kepala Sekolah untuk mengelola pendidikan sekolahnya dengan baik..

Oleh sebab itu Tamansiswa perlu mengadakan penataran bagi para Kepala Sekolahnya agar dapat memenuhi tuntutan masa kini. Demikian pula para guru harus mengalami pendidikan kembali untuk dapat memahami dan melaksanakan perubahan peran yang diharapkan dari mereka. Untuk masa depan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) harus menghasilkan guru-guru profesional yang bermutu. Kalau terbukti bahwa hasil itu baik, pasti guru-guru itu tidak hanya memperoleh lapangan kerja di lingkungan Tamansiswa saja. Dengan begitu Tamansiswa makin menyebarkan kadernya. Untuk pembentukan guru profesional itu UST harus membuat fakultas ilmu pendidikannya lebih efektif, terutama untuk mendidik Guru Kelas untuk SD. Dalam pendidikan itu harus ditetapkan satu tahun untuk praktek mengajar yang dilakukan di satu Sekolah Latihan Mengajar (Leerschool). Dalam tahun itu juga diintensifkan pembentukan kepribadian calon guru. Pendidikan satu tahun itu menjadi ukuran utama bagi pemberian predikat guru profesional. Oleh sebab itu calon guru mata pelajaran yang tidak berasal dari fakultas ilmu pendidikan juga harus menjalani pendidikan satu tahun itu sebelum berhak mengajar. Sebab terbukti bahwa guru mata pelajaran lebih baik diambil dari lulusan disiplin ilmu yang bersangkutan dengan mata pelajaran tersebut. Seperti guru matematik diambil dari sarjana teknik atau MIPA, guru ekonomi dari sarjana ekonomi. Akan tetapi sebelum dapat menjadi guru mata pelajaran sarjana itu harus lulus dari pendidikan guru profesional selama satu tahun di fakultas ilmu pendidikan. Dengan begitu ada jaminan bahwa guru itu tidak saja menguasai disiplin ilmunya, tetapi juga dapat membawanya kepada anak didik dengan efektif.

Namun harus pula kita sadari bahwa pendidikan bermutu tidaklah murah. Kepala Sekolah dan Guru yang berfungsi baik harus mendapat kompensasi yang sepadan berupa penghasilan dan kesejahteraan memadai. Tamansiswa tidak lagi dapat menggunakan idealisme sebagai satu-satunya ukuran untuk pengabdian pendidik sebagaimana dilakukan di masa perjuangan nasional melawan penjajah. Kondisi umat manusia dan juga masyarakat Indonesia sudah berubah. Kalau Tamansiswa tidak bersedia menggunakan ukuran yang sekarang berlaku, yaitu penghargaan sesuai dengan prestasi, maka Tamansiswa tidak akan pernah mempunyai Kepala Sekolah dan Guru yang bermutu. Sekalipun pasti masih ada idealis di kalangan Tamansiswa, namun pasti pula mereka bukan mayoritas karena Tamansiswa pun tidak lepas dari pengaruh masyarakat yang mengalami perubahan tata nilai. Sebab itu pengelolaan lembaga pendidikan harus berorientasi kepada penyajian mutu dan prestasi. Itu berarti bahwa Kepala Sekolah dan Guru harus dibayar dengan baik.

Dengan sendirinya hal ini memerlukan penyediaan dana yang memadai. Pikiran pertama adalah memperoleh dana dari Pemerintah dengan alasan bahwa Pemerintah berkewajiban menyelenggarakan pendidikan secara meluas dan bermutu untuk meningkatkan kecerdasan rakyat. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa untuk membiayai lembaga pendidikan pemerintah sendiri tidak cukup dana. Oleh sebab itu sukar diharapkan bantuan Pemerintah yang memadai. Memang Tamansiswa harus mendukung dan bahkan aktif dalam gerakan masyarakat yang mendesak Pemerintah agar menyediakan anggaran jauh lebih besar untuk pendidikan. Akan tetapi melihat kenyataan obyektif masih cukup lama sebelum kepemimpinan politik di Indonesia menyediakan anggaran pendidikan sampai 25 prosen APBN atau 4 prosen dari GDP. Itu berarti bahwa lembaga pendidikan Tamansiswa harus dapat mandiri dan sejauh mungkin membiayai diri sendiri. Mau tidak mau Tamansiswa harus bersedia memungut uang sekolah yang cukup untuk dapat mengelola lembaga pendidikan dengan baik. Apabila Tamansiswa menjanjikan pendidikan bermutu yang dapat menghasilkan anak didik dengan IQ, EQ dan SQ yang tinggi, pasti banyak orang tua akan menyekolahkan anaknya di pendidikan Tamansiswa. Dengan begitu dapat ditarik uang sekolah sesuai dengan penghasilan orang tua. Bukan Tamansiswa saja yang harus menyelenggarakan pendidikan secara mandiri. Terbukti bahwa sekolah yang bermutu tinggi lebih besar kemungkinannya untuk mandiri, karena menarik murid dari berbagai kalangan, termasuk yang kaya. Di pihak lain dilakukan usaha untuk dapat memberikan beasiswa atau keringanan bagi anak berprestasi tinggi dari kalangan kurang berada.

Perubahan penyelenggaraan pendidikan Tamansiswa sebaiknya dimulai di dua kota, yaitu Yogyakarta sebagai pusat Tamansiswa dan di Jakarta sebagai ibukota nasional. Lebih baik dibuat secara baru sama sekali dari pada memperbaiki yang lama. Didirikan Taman Indriya, Taman Muda, Taman Dewasa dan Taman Madya dalam satu kompleks. Akan lebih baik kalau Taman Madya disertai asrama bagi muridnya. Usaha semacam ini sudah banyak dilakukan oleh organisasi lain, seperti Paramadina, Sekolah Global Jaya dan lainnya. Ada baiknya untuk mempelajari pengalaman mereka dan memanfaatkan hasil studi itu. Kalau konsep itu berlangsung baik di Jakarta dibangun pula Universitas Tamansiswa.

Di samping dua proyek itu diadakan peningkatan mutu UST Yogyakarta. Sekurang-kurangnya harus ada satu bidang studinya yang menonjol secara nasional. Untuk itu sebaiknya UST mengadakan studi perbandingan di Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Katolik Parahiyangan Bandung dan Universitas Satya Wacana Salatiga, yaitu tiga universitas swasta yang telah membuktikan sukses dan sanggup berdiri mandiri. Reputasi Tamansiswa dengan pendidikan budi pekertinya yang baik mungkin merupakan daya tarik bagi banyak orang. Akan tetapi hal itu mungkin tidak cukup karena masyarakat makin kongkrit dan realistik pandangannya. Masyarakat tidak akan puas kalau tidak ada pendidikan dalam berbagai mata pelajaran secara bermutu. Tamansiswa harus melakukan penyebaran informasi melalui Public Relations yang efektif.

Karena hasil pendidikan masa kini tidak bisa lepas dari globalisasi, maka usaha peningkatan mutu harus disertai dengan peningkatan bahasa Inggeris dan penggunaan Teknologi Informasi secara luas. Sebaiknya bahasa Inggeris diajarkan mulai kelas 1 Taman Muda tanpa mengabaikan dan menurunkan perhatian terhadap bahasa Indonesia. Makin tinggi kelasnya, khususnya mulai Taman Madya hingga UST, penguasaan bahasa Inggeris harus benar-benar efektif. Lulusan Taman Madya harus dapat lulus ujian TOEFL dengan nilai minimal 500. Dengan begitu anak itu tidak perlu lagi mengambil pelajaran bahasa Inggeris kalau mau masuk pendidikan tinggi di luar negeri. Dan sangat bermanfaat baginya kalau mencari pekerjaan di Indonesia. Sarjana UST harus mencapai TOEFL minimal 600 untuk dapat mengikuti pendidikan pasca sarjana apabila dikirimkan ke luar negeri.

Selain itu mulai di Taman Muda kelas 4 anak dibiasakan menggunakan komputer dan makin tinggi kelasnya makin aktif dalam penggunaannya, termasuk dalam Internet. Anak dibiasakan untuk mencari informasi sendiri di samping pelajarannya dari guru. Adalah ideal kalau untuk setiap 10 anak murid ada satu komputer. Keinginan ini diwujudkan sesuai dengan perkembangan sekolah serta kekuatan keuangannya.

Pengalaman di dua kota kemudian dimanfaatkan untuk tempat lain seperti Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Makassar dan lainnya. Namun sekali lagi ditegaskan bahwa yang selalu harus diutamakan adalah mutu pendidikan. Oleh sebab itu jangan mulai dengan proyek kalau belum tersedia Kepala Sekolah yang andal serta guru yang bermutu dalam jumlah yang sesuai. Sebagai proyek permulaan Yogyakarta dan Jakarta harus sadar bahwa reputasi dan citra Tamansiswa di masa depan sangat tergantung pada kinerja mereka.

Bagaimana dengan lembaga pendidikan Tamansiswa yang sudah ada ? Pimpinan Tamansiswa harus menyadarkan setiap cabang dan pimpinan sekolah yang sudah ada untuk memperbaiki dirinya dengan melihat apa yang dilakukan di proyek sekolah baru di Yogyakarta dan Jakarta. Akan tetapi setiap cabang harus berusaha untuk mandiri dan tidak tergantung pada bantuan pusat Tamansiswa. Setiap cabang ditumbuhkan kesadarannya bahwa ukuran pertama dan utama bagi pendidikan sekarang adalah mutu. Maka kalau kita ingin Tamansiswa memperoleh kembali citra dan reputasi tinggi seperti sediakala, maka Tamansiswa harus pandai melakukan manajemen dalam tubuhnya sendiri.

PENUTUP

Tamansiswa yang berubah menjadi paguyuban kebudayaan dan menjadi induk bagi berbagai kegiatan, perlu juga menjalankan kegiatan lain di samping pendidikan. Semuanya dalam rangka pemikiran bahwa Panca Sila harus menjadi kenyataan yang hidup. Kegiatan penting lainnya adalah ekonomi dengan membentuk Usaha Kecil dan Menengah yang banyak dan ulet, baik dalam bentuk koperasi atau usaha swasta biasa. Jaringan Tamansiswa dimanfaatkan menjadi satu jaringan usaha yang sangat efektif untuk bisnis. Hal ini akan meningkatkan kekuatan ekonomi keluarga Tamansiswa. Kegiatan lain adalah kesenian, baik daerah maupun nasional. Hal itu juga dapat diintegrasikan dengan pendidikan.

Yang diharapkan kemudian adalah berkembangnya kepemimpinan bermutu dari alumni Tamansiswa sebagaimana dulu terjadi dalam perjuangan kemerdekaan. Hal ini penting sekali karena Indonesia memerlukan peningkatan kepemimpinan dan manajemen di berbagai bidang. Justru dengan menjadikan Panca Sila sebagai platform perjuangan Tamansiswa akan ada landasan kepemimpinan yang amat baik. Hal ini sangat bermanfaat untuk merespons perkembangan bangsa kita. Otonomi Daerah dan desentralisasi sangat tergantung keberhasilannya pada mutu kepemimpinan dan manajemen di setiap daerah. Demikian pula usaha untuk meluaskan ekonomi kerakyatan yang berintikan Usaha Kecil dan Menengah sangat tergantung pada mutu kepemimpinan dan manajemen yang dapat ditumbuhkan dalam masyarakat. Juga pembangunan sistem politik demokrasi memerlukan mutu kepemimpinan dan manajemen yang jauh lebih baik, antara lain untuk membentuk dan mengelola partai politik sesuai dengan kepentingan bangsa Kalau Tamansiswa dapat dibawa kepada paradigma baru sebagaimana diuraikan di atas, pasti Tamansiswa dan alumninya akan kembali berperan penting dalam perjuangan nasional yang bertujuan mewujudkan kemajuan, kesejahteraan dan keadilan lebih besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Reputasi dan citra Tamansiswa akan kembali memancar di Indonesia.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post