Masyarakat Sebagai Benteng Utama Bangsa

Posted by Admin on Tuesday, 4 July 2006 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Tampak ada kekhawatiran pada sementara orang bahwa pemerintah Indonesia sukar mengelak terhadap berbagai tekanan AS. Orang khawatir bahwa karena tekanan AS bangsa Indonesia akan berkembang ke arah yang kurang sesuai dengan aspirasinya, khususnya dalam bidang ekonomi. Memang sebagai negara yang masih penuh kelemahan tidak mudah bagi Indonesia untuk mengambil sikap yang mengabaikan kehendak AS sebagai satu-satunya superpower. Namun kekhawatiran demikian tidak perlu ada kalau masyarakat Indonesia tangguh dalam mengusahakan aspirasinya, sekalipun itu tidak sesuai dengan kehendak AS. Ada cukup bukti dalam sejarah tentang hal demikian.

Pertama adalah bukti dari perkembangan Jepang setelah Perang Dunia 2. Setelah kalah perang Jepang sepenuhnya dikuasai AS sehingga nampaknya seperti daerah jajahannya. Segala hal ditetapkan AS, termasuk UUD Jepang dibuat konsepnya oleh AS.

Namun terbukti bahwa Jepang tidak menjadi daerah jajahan AS. Memang pemerintah Jepang hampir dalam segala hal harus menuruti kehendak AS. Baru setelah tahun 1964, 20 tahun setelah selesai perang, Jepang mulai tampak sebagai negara berdaulat.

Akan tetapi sejak permulaan masyarakat Jepang menempuh jalannya sendiri, khususnya dalam ekonominya. Bangsa Jepang sadar bahwa ia kalah perang karena kalah dalam teknologi dan industri. Maka dari itu ia berusaha meraih keunggulan AS dalam dua bidang ini dengan menunjukkan sikap patuh. Karena AS perlu sekutu di Asia untuk menghadapi blok komunis, maka kaum industriwan dan ilmuwan Jepang mendapat kesempatan untuk memperoleh teknologi AS. Dengan begitu industri Jepang sedikit demi sedikit mulai bangkit kembali. Karena ada hubungan erat antara industri dengan usaha kecil dan menengah sebagai subkontraktor, maka alih teknologi itu merembet ke bawah dan memperkuat seluruh struktur industri Jepang. Bahkan Jepang memperbaiki manajemen industrinya dengan mengundang Edward Deming, pakar AS dalam manajemen dengan konsep Total Quality Control yang di negaranya sendiri tidak dikenal. Industri Jepang dari tingkat usaha besar sampai usaha kecil dan menengah makin maju dan kuat. Malahan Toyota memberanikan diri untuk mengembangkan industri otomotif, padahal pemerintah Jepang melalui MITI kurang setuju karena dianggap terlalu berat untuk menghadapi AS dengan perusahaan otomotif General Motor, Ford dan Chrysler yang telah menguasai dunia. Ternyata pendapat Toyota benar sebagaimana terbukti sekarang justru perusahaan AS itu berat menghadapi Toyota.

Masyarakat Jepang yang pada tahun 1945 miskin dan sengsara, sejak tahun 1960-an mulai nampak sebagai kekuatan ekonomi yang amat dinamis dengan pertumbuhan yang tidak kurang dari 7 % setiap tahun. Karena masyarakatnya mempunyai sifat kebersamaan maka yang menjadi makin kuat tidak hanya usahawan besar, tetapi seluruh masyarakat. Sekalipun pemerintahnya sangat dekat dan menuruti kehendak AS, namun masyarakat berhasil tumbuh sesuai aspirasinya. Kemudian hal itu dijaga dengan saksama agar kesejahteraan yang terwujud itu dapat dipelihara dan terus meningkat.

Melihat kemajuan daya beli rakyat Jepang maka AS hendak mengambil manfaat dengan memasarkan hasil produksinya di Jepang. Akan tetapi masyarakat Jepang kokoh sekali dalam menjaga keutuhannya. Sebagai contoh : tidak mungkin didirikan pasar swalayan (supermarket) di satu daerah sebelum ada persetujuan dari semua toko dan warung di daerah itu. Dengan begitu sukar sekali perusahaan asing seperti sekarang Carrefour di Jakarta, berdiri di Jepang waktu itu. Pemerintah AS selalu memrotes keras kepada pemerintah Jepang agar perdagangan dalam negerinya dipermodern. Artinya : ada liberalisasi dan kebebasan penuh bagi perusahaannya untuk beroperasi di Jepang. Untuk protes demikian pemerintah Jepang mempunyai jawaban yang sukar ditolak AS, yaitu bahwa perubahan radikal dari perdagangan dalam negeri akan makan biaya sosial (social cost) yang terlalu tinggi. Bahkan AS tidak dapat memasarkan berasnya di Jepang, sekalipun beras AS jauh lebih murah dari beras Jepang. Pemerintah Jepang sukar menghadapi lobby petani Jepang yang menjadi konstituen utama partai pemerintah. Alasan yang selalu diberikan kepada AS adalah bahwa menjual beras AS di Jepang akan menghancurkan petani Jepang dan mempunyai dampak keamanan yang serieus sekali.

Ekonomi Jepang makin kuat dan menjadi kedua terkuat di dunia setelah AS. Bahkan kemudian kita tahu betapa di tahun 1990-an persaingan ekonomi dua negara itu begitu gawat sampai orang khawatir terjadi perang dagang. Itu semua terjadi sekalipun pemerintah Jepang selalu dekat dengan AS. Meskipun kemudian Jepang dapat mengembangkan politik luar negerinya sendiri, tetapi toh pemerintah Jepang dalam banyak hal masih mengikuti kehendak AS. Namun masyarakat Jepang menjadi benteng utama bangsa untuk menghadapi negara lain yang berbeda kepentingan ekonominya.

Bukti kedua tentang peran masyarakat sebagai benteng bangsa dapat kita lihat dalam perkembangan China setelah kepemimpinan Deng Xiaoping. Pembangunan ekonomi China menempuh jalan kapitalisme karena memerlukan masuknya modal luar negeri besar sekali. Namun terbukti China tidak menjadi bola permainan negara yang banyak memasukkan modalnya. Negara-negara industri, khususnya AS, hendak memanfaatkan China yang begitu banyak penduduknya untuk pemasaran hasil produksinya. Meskipun seakan-akan China dalam posisi lemah terhadap dunia luar karena memerlukan modal, namun China sama sekali tidak dikuasai oleh bangsa-bangsa yang masuk dengan modal besar itu. Hal itu tercapai karena keuletan dan kecerdasan masyarakat China.

Perusahaan luar yang beroperasi di China harus menggandeng couterpart China. Terbukti kemudian bahwa counterpart itu membangun industri serupa, setelah memperoleh kecakapan dan pengetahuan dari usaha patungannya dengan pihak asing itu. Dalam perkembangan berikut hasil produksi usaha patungan disaingi keras sekali oleh hasil produksi China yang menggunakan teknologi dan pengetahuan usaha patungan itu. Banyak usaha asing menjadi putus asa dan keluar dari China. Atau ada yang tetap beroperasi di China karena menurut perhitungannya masih cukup memperoleh keuntungan. Dan tetap banyak perusahaan asing mau masuk China karena tertarik oleh kemungkinan pemasaran yang luas.

Dari dua contoh Jepang dan China dapat dilihat, bahwa satu bangsa tidak perlu kehilangan daya untuk memperjuangkan aspirasinya sekalipun pemerintahnya sukar untuk mengelak dari berbagai tekanan dan kehendak negara lain yang kuat. Yang diperlukan adalah vitalitas dan daya juang masyarakat untuk mencari berbagai jalan untuk mewujudkan aspirasinya. Tentu saja orang-orang yang duduk dalam pemerintah hendaknya masih mempunyai cukup patriotisme untuk sejauh mungkin mengusahakan agar bangsanya tidak terlalu ditekan dan didikte negara lain.

Maka yang penting adalah memperkuat vitalitas dan daya juang masyarakat. Hal demikian lebih penting dari pada berdebat tentang berbagai teori ekonomi dan politik tanpa ada tindakan yang menghasilkan sesuatu yang kongkrit.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post