PERKERETAAPIAN DI INDONESIA

Posted by Admin on Friday, 7 November 2008 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Jakarta, 10 November 2008

Adalah menggembirakan bahwa makin banyak orang di Indonesia sadar tentang perlunya transportasi massal yang mempunyai dampak luas dan mendalam pada perkembangan bangsa. Di antara berbagai modus transportasi massal perkeretaapian memegang peran penting. Tulisan ini bermaksud membicarakan berbagai aspek perkeretaapian di Indonesia.

Tidak dapat dikatakan bahwa kereta api (KA) sudah berperan luas di Indonesia. Kalau kita perhatikan bahwa salah satu tujuan utama NKRI adalah mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat banyak, maka kita melihat bahwa sejak bangsa Indonesia merdeka hingga sekarang belum pernah ada perluasan jaringan KA yang nampak. Padahal peran KA dalam penciptaan kesejahteraan rakyat banyak amat menonjol. Dapat dilihat bahwa umumnya negara-negara yang melakukan pembangunan bangsa membentuk jaringan KA yang luas agar sebanyak mungkin bagian wilayah nasionalnya dapat dijangkau dengan KA. Itu dilakukan RRChina sejak 1949 dan hingga kini masih terus berjalan dan itu dilakukan Jepang setelah memulai Restorasi Meiji pada tahun 1868.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa Indonesia telah membuat jaringan jalan darat yang luas di setiap pulau utama, yaitu Jawa-Sumatera-Kalimantan-Sulawesi-Papua, dan di banyak pulau lainnya, seperti Bali dan Lombok. Akan tetapi transportasi darat tidak cukup dilakukan dengan modus kendaraan bermotor, apalagi kalau kita hendak mewujudkan transportasi massal. Hanya dengan KA dapat diwujudkan transportasi massal yang sebenarnya. Selain dari itu, teori transportasi mengatakan bahwa dilihat dari sudut ekonomi transportasi darat jarak jauh lebih baik dilakukan dengan KA dari pada kendaraan bermotor. Selain itu, setelah terjadi persoalan besar dalam penyediaan penggerak kendaraan bermotor, yaitu terjadinya Krisis Minyak Bumi sejak tahun 1974 dan belakangan ini, maka jauh lebih bermanfaat menggunakan tenaga listrik sebagai penggerak transportasi. Untuk itu KA merupakan modus yang paling tepat di darat.

Indikasi bahwa kita kurang sekali memperhatikan perkembangan KA dapat dilihat bahwa bagian terpanjang jaringan KA adalah warisan zaman penjajahan Belanda. Malahan banyak jalan KA yang kita warisi dari penjajahan Belanda tidak digunakan dan dilikuidasi. Seperti jalan KA dari Banjar ke Cijulang, Cibatu-Garut-Cikajang, semua di Jawa Barat, Semarang-Gundih-Solo, Semarang-Demak-Rembang-Blora-Cepu di Jawa Tengah, Madiun-Ponorogo dan Babat-Tuban di Jawa Timur, Makassar-Pare-pare di Sulawesi , dan lainnya lagi. Bahkan tidak ada perbaikan atau peremajaan pada jalan KA lama, seperti antara Jakarta-Surabaya, sehingga menjadi salah satu sebab banyaknya kecelakaan dan KA anjlog. Paling-paling yang dilakukan adalah pembanguan jalur ganda (double track) di beberapa jalur ramai, seperti antara Jakarta-Bandung.

Tidak terlalu jelas mengapa sejak 1950 setelah NKRI terkonsolidasi tidak dilakukan pembangunan KA yang luas untuk penduduk yang jumlahnya sudah jauh di atas 100 juta orang dan sekarang sekitar 225 juta orang. Padahal dapat diduga bahwa para pemimpin kita memahami betapa penting peran KA untuk satu bangsa. Memang masalahnya adalah soal prioritas dalam penggunaan dana yang tersedia, yaitu jalan darat atau jalan KA. Pernah pada tahun 1960-an terjadi debat tentang prioritas untuk Sumatra, yaitu membangun Sumatra Highway atau Sumatra Railway untuk menghubungkan ujung selatan Sumatra atau Lampung dengan ujung utara, yaitu Aceh. Yang menang ternyata jalan darat, meskipun pelaksanaan pembangunan jalan darat yang baik pun jauh dari memuaskan. Ada yang mengatakan bahwa lobby produsen mobil Amerika, yaitu GM dan Ford, telah berhasil mempengaruhi pengambilan keputusan Pemerintah RI sehingga diutamakan pembuatan jalan darat di seluruh Indonesia. Tentu ini berhubungan dengan pemasaran kendaraan bermotor mereka yang akan sangat diperlukan untuk menjalankan transportasi darat di Indonesia. Mungkin sekali para pemimpin kita terpengaruh oleh AS yang lebih mementingkan transportasi darat bermotor dan transportasi udara, khususnya setelah Perang Dunia 2. Perkeretaapian AS jauh tertinggal dari Eropa dan Jepang sejak tahun 1960-an hingga kini.

Pada tahun 1967 penulis membuktikan betapa rendah intensitas transportasi KA di Indonesia. Untuk itu penulis naik mobil dari Jakarta ke Semarang. Karena antara 2 kota itu jalan mobil hampir selalu parallel dengan jalan KA, maka dapat dilihat dan dihitung jumlah KA yang berjalan.. Kalau di Eropa Barat dan di Jepang hampir setiap 15 menit ada KA yang jalan di suatu jalur KA, di kita waktu itu jalan KA antara Jakarta-Semarang amat jarang digunakan. Hal itu menunjukkan kurangnya intensitas dalam penggunaan jalan KA yang berarti kurang pemanfaatan sarana secara ekonomis dan teknis. Maka juga tidak ada usaha serieus untuk selalu memelihara dan meremajakan jalan KA itu. Ketika zaman berkembang dan dijalankan lebih banyak KA tak dapat dihindari bahwa jalan KA yang eksistensinya sudah sejak zaman penjajahan Belanda mengakibatkan banyak masalah, termasuk kecelakaan.

Selain kurang memperhatikan volume transportasi KA juga kualitas kurang menjadi minat pada Pemerintah dan penyelenggara KA. Dalam satu pertemuan dengan pimpinan KA pada tahun 1970-an penulis menyatakan bahwa transportasi KA waktu itu tidak lebih baik dari keadaannya pada tahun 1941. Padahal telah terjadi banyak perkembangan teknologi, termasuk dalam dunia KA. Seperti penggunaan lokomotif diesel-elektrik dibandingkan lokomotif dalam penjajahan yang menggunakan batu bara. Di masa penjajahan tahun 1941 KA Surabaya-Jakarta ditempuh dalam 12 jam kurang beberapa menit saja, sedangkan pada tahun 1970 perlu lebih dari 15 jam. Jakarta-Bandung dulu menengenal KA Vlugge Vier atau 4 kali dalam sehari dengan kecepatan 2,5 jam, Surabaya –Malang pun hanya maksimum 2 jam dengan Vlugge Zeven . Pada tahun 1971 adalah bagus kalau Jakarta – Bandung dicapai dalam 3 jam dan sehari paling ada 3 KA. Juga KA dari Semarang ke Surabaya dalam 4 jam dan Semarang-Solo-Yogya dalam 3 jam yang dilakukan perusahaan swasta NIS, sedangkan di zaman kemerdekaan tidak ada lagi transportasi yang bermutu dari Semarang ini.

Kiranya sekarang sudah waktunya untuk lebih serieus memperhatikan perkeretaapian di Indonesia, baik untuk meningkatkan volume dan mutu transportasi KA maupun untuk menempuh jalan yang lebih tegas untuk membuat rakyat sejahtera. KA tidak hanya perlu dan penting di Jawa tetapi juga untuk pulau-pulau lain. Terbukti dari kenyataan di negara lain betapa KA dapat membawa daerah-daerah maju karena dapat memasarkan produknya dalam jumlah besar ke daerah lain dengan harga ekonomis yang wajar, demikian pula memungkinkan orang bergerak dari satu ke tempat lain dalam jumlah besar. Kalau jalannya KA didasarkan tenaga listrik maka itu amat menghemat pemakaian BBM karena orang tidak lagi tergantung pada transportasi bermotor yang sangat banyak mengkomsumsi BBM. Hal ini amat penting bagi ekonomi Indonesia yang sekarang telah berubah menjadi net-importer minyak.

Memang investasi dalam pembangunan jaringan KA memerlukan dana yang besar. Akan tetapi hal ini merupakan investasi jangka panjang yang tidak dapat diabaikan Negara. Investasi ini mempunyai dampak yang luas karena mempunyai mempengaruhi perkembangan ekonomi rakyat banyak. Pengaruhnya pada industri juga besar, baik dalam produksi baja maupun elektronika dan lainnya Selain itu dampaknya pada dunia militer berada pada tingkat strategi yang amat penting. Sebenarnya investasi dalam jaringan KA di Indonesia harus sudah dimulai sejak tahun 1950 dan kita sekarang terlambat lebih dari setengah abad. Akan tetapi lebih baik lambat dari pada tidak sama sekali. BETTER LATE THAN NEVER !

Adalah menggembirakan bahwa sekarang ada pikiran untuk membangun KA Kilat atau Shinkansen dari Jakarta ke Surabaya. Hal ini merupakan peningkatan mutu yang radikal dalam perkeretaapian di Indonesia Kalau sekarang jarak Jakarta-Surabaya yang sekitar 850 km ditempuh lebih dari 12 jam, dengan KA Kilat jarak itu dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2-3 jam saja. Tentu investasi untuk gagasan ini tidak sedikit, tetapi orang telah menghitung bahwa perolehan operasi KA itu akan membayar kembali segala biaya investasi, sebagaimana sudah terjadi di Jepang, Taiwan dan Korea Selatan. China juga mempunyai ambisi membangun KA Maglev antara Beijing dan Shanghai dengan kecepatan lebih dari 400 km sejam. Pada hari ini baru China yang telah mengaplikasikan KA Maglev yang sudah lama dikembangkan di Jepang dan Jerman, tetapi dua negara itu masih mengalami kesulitan menjadikannya satu transportasi yang kongkrit. China yang telah menarik manfaat dari perkembangan Maglev di Jerman dengan membangun KA Kilat itu antara Bandara ke Kota Shanghai dengan jarak sekitar 30 km saja. Semoga para penggagas KA Kilat Jakarta-Surabaya tidak tinggal pada wacana melainkan menjadikan gagasan mereka kenyataan. Kalau menjadi kenyataan pun belum dapat kita lihat eksistensinya sebelum tahun 2015, mengingat banyaknya persoalan yang harus diatasi dalam persiapannya.

Namun kita juga tidak boleh mengabaikan pembangunan KA konvensional di seluruh pulau besar Indonesia. Di Jawa perlu ada peningkatan mutu dari jaringan KA yang sudah ada, dengan menghidupkan kembali hubungan penting seperti Semarang-Solo. Di Sumatera perlu peningkatan mutu dari jaringan yang ada, seperti antara Palembang-Lampung dan dari Medan ke utara dan selatan. Juga hubungan dari Padang ke pedalaman Sumatera Barat, dengan membangun perluasan menuju Pakan Baru di Riau. Penting juga untuk membangun jaringan baru segitiga dari Sibolga ke Padang Sidempuan dan ke Tarutung. Aceh juga memerlukan peningkatan jaringan lama dan pembangunan yang baru sehingga dapat menghubungkan Banda Aceh dengan Medan. Demikian pula di Kalimantan Barat, Tengah, Selatan dan Timur perlu dibangun jaringan KA untuk memungkinkan gerak ekonomi yang lebih dinamis. Di Sulawesi pun banyak yang harus dihubungkan dengan jaringan KA, baik di Sulawesi Selatan, Tenggara, Tengah maupun Utara. Demikian pula di Papua yang merupakan daerah dengan potensi ekonomi yang luas, baik untuk pertanian, pertambangan, kehutanan maupun perikanan. Nampak sekali betapa banyak yang masih harus dan dapat kita lakukan untuk memanfaatkan karunia Allah berupa sumberdaya alam dan sumberdaya manusia di Indonesia. Mengingat besarnya investasi yang diperlukan untuk menjadikan hal ini kenyataan tentu usahanya harus bertahap. Akan tetapi Pemerintah RI harus menjadikan pembangunan perkeretaapian di seluruh Tanah Air bagian penting dalam pembangunan jangka panjang. Tanpa itu sukar kita dapat memanfaatkan potensi kekayaan alam yang begitu besar secara maksimal.

Akan tetapi pembangunan perkeretaapian harus sejak permulaan disertai kemampuan manajemen yang memadai. Harus diwujudkan organisasi yang terpimpin dan dikelola dengan baik sehingga jalannya perkeretaapian benar-benar efektif dan se-efisien mungkin. Sebagai contoh : penggunaan jalur/ril KA harus diusahakan maksimal sehingga ada banyak KA jalan dan memberikan pelayanan angkutan kepada masyarakat secara banyak dan aman. Hal ini memerlukan manajemen yang baik. Di Jepang Shinkansen dengan kecepatan lebih dari 200 km sejam mengoperasikan KA setiap 15 menit, berupa Kodama yang lebih banyak berhenti dan Hikari yang tempat berhentinya lebih sedikit. Dengan begitu jalur Shinkansen benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Sejak dimulainya KA ini pada pertengahan tahun 1960-an hingga kini Shinkansen belum pernah mengalami kecelakaan, padahal kecepatan masing-masing KA begitu tinggi. Hal ini tidak mungkin tanpa manajemen yang baik. Maka kalau kita punya KA Kilat Jakarta-Surabaya hal ini pun harus dapat dioperasikan dengan frekwensi tinggi. Kalau tidak atau belum bisa setiap 15 menit seperti Shinkansen Jepang, sekurangnya setiap 60 menit harus ada KA Kilat jalan di jalur KA Kilat tersebut. Hanya dengan begitu dapat dicapai manfaat dari investasi yang besar itu.

Selain Shinkansen juga KA konvensional dengan kecepatan sekitar 100 km sejam perlu dioperasikan dalam jumlah banyak, terutama untuk transportasi lokal. Seperti di Belanda hubungan antara Amsterdam dan Den Haag ada setiap 5 – 10 menit. Kita memerlukan transportasi lokal yang jauh lebih frekwen, seperti hubungan Jakarta-Bandung, Jakarta-Cirebon, Jakarta-Bogor-Sukabumi, Semarang-Solo, Semarang-Pati-Rembang, Semarang-Blora, Semarang-Pekalongan-Tegal, Surabaya-Malang, Surabaya-Babat-Bojonegoro, dan lainnya. Adanya transportasi lokal yang frekwen atau sering akan mengurangi keperluan angkutan bermotor yang banyak memerlukan BBM. Ini tentu dengan assumsi bahwa KA dapat sebanyak mungkin digerakkan dengan listrik, sedangkan tenaga listrik diperoleh dari pemanfaatn batu bara dan panas bumi yang melimpah di Indonesia. Itu berarti bahwa kemampuan manajemen perlu ditingkatkan di seluruh organisasi masyarakat dan tidak hanya di perkeretaapian saja. Memang harus kita sadari dan akui, bahwa tertinggalnya Indonesia dewasa ini dibandingkan negara lain, termasuk di Asia Tenggara, disebabkan kelemahan bangsa kita dalam manajemen dan kepemimpinan.

Tidak hanya peningkatan kemampuan manajemen yang kita perlukan. Juga harus ada perbaikan pada perilaku dan khususnya disiplin masyarakat. Masyarakat Indonesia sekarang sudah menjadi amat individualis, setiap orang mengejar enaknya dan untungnya sendiri dan amat sering mengabaikan keperluan orang lain dan umum. Hal itu nampak sekali dalam lalu lintas kota besar, seperti di Jakarta dan Bandung. Disiplin dan menepati peraturan hanya berlaku bagi orang lain, tetapi tidak bagi dirinya. Karena hampir semua orang bersikap dan berpikir demikian, maka yang terjadi adalah kekacauan. Sudah jauh waktunya Pemerintah dan para pemimpin bangsa menghidupkan kembali sifat dan semangat kebersamaan yang ada dalam Gotong Royong. Kita tidak cukup menyadari bahwa tertinggalnya bangsa kita dalam banyak hal sangat dipengaruhi oleh rendahnya disiplin bangsa yang anehnya justru terjadi setelah tahun 1950-an hingga sekarang. Maka sekarang waktunya untuk juga memperbaiki kelemahan ini. Dengan begitu pelayanan KA yang baik dan intensif benar-benar memberi manfaat maksimal. Jangan lagi ada masyarakat duduk di atas KA, menggunakan KA tanpa bayar, melempari KA yang sedang lewat sehingga menimbulkan kerusakan pada KA dan korban pada penumpang, dan lainnya yang sekarang begitu sering terjadi. Dengan masyarakat yang dapat berperilaku teratur dan sesuai dengan kaidah masyarakat modern, serta khususnya berdisiplin, maka peningkatan perkeretaapian di Indonesia akan membawa kemajuan banyak pada negara dan bangsa.

Perluasan perkeretaapian perlu dibarengi dengan perluasan transportasi air atau laut. Hal ini sekarang masih amat kurang dan menunjukkan masih rendahnya kesadaran kita akan manfaat lautan dan sungai bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Kalau kita pergi ke Eropa maka kita melihat betapa intensif sungai-sungai digunakan untuk transportasi dan hubungan antar negara serta antar daerah, bersamaan dengan ramainya KA. Juga di Jepang transportasi ferry laut sangat banyak digunakan. Seharusnya kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan bahwa lautan antara pulau-pulau Indonesia merupakan sarana yang tidak perlu kita bangun dengan mahal dan hampir tidak memerlukan pemeliharaan seperti jalan-jalan di darat. Yang perlu kita lakukan adalah membangun sistem transportasi laut dan sungai dengan mengadakan investasi dalam perkapalan dan pelabuhan. Karena tulisan ini menitikberatkan pada perkeretaapian, maka tidak dikemukakan terlalu luas mengenai transportasi dan hubungan laut dan sungai. Akan tetapi perlu kita sadari bahwa juga matra laut-sungai ini sangat penting artinya bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Kita juga tidak dapat mengabaikan transportasi dan angkutan udara yang memungkinkan hubungan serba cepat antar-daerah dan antar-kota yang tidak dapat disediakan KA (kecuali KA Kilat) dan Kapal. Maka ini pun memerlukan perhatian, sekalipun angkutan udara sukar digolongkan transportasi massal.

Dapat dibayangkan betapa roman muka Indonesia kalau gagasan perkeretaapian ini dapat menjadi kenyataan, ditambahkan dengan transportasi laut-sungai serta udara. Semoga kita dikaruniai orang-orang yang cukup kuat kepribadian dan kepemimpinannya untuk menjadikan gagasan ini satu kenyataan. Kami Angkatan 1945 tidak akan mengalami kenyataan itu, tetapi kami akan amat gembira dalam kubur kalau itu terlaksana sehingga terwujud Indonesia Raya yang Maju, Adil dan Sejahtera,

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post