Demokrasi Di Indonesia

Posted by Admin on Tuesday, 15 February 2011 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Para pemimpin negara kita dan sementara kaum politik suka menyatakan kebanggaannya bahwa Republik Indonesia telah menjadi Negara Demokrasi ketiga di dunia, di belakang Amerika Serikat dan India yang penduduknya lebih banyak. Tepatkah kebanggaan itu ?

Untuk menjawab pertanyaan itu perlu lebih dahulu kita tetapkan apa yang dimaksudkan dengan Demokrasi. Menurut Webster’s College Dictionary Demokrasi adalah satu bentuk pemerintahan yang kekuasaan utamanya ada di tangan Rakyat. (terjemahan)

Namun pengertian Demokrasi yang universal ini, dilaksanakan tidak sama di berbagai Negara di dunia.. Bangsa-bangsa melaksanakan Demokrasi sesuai dengan pikiran dan perasaan yang hidup di bangsa itu. Maka yang beda filsafah hidupnya tentu juga beda melaksanakan Demokrasi. Malahan tidak sedikit bangsa Barat dengan filsafah hidup sama, yaitu Individualisme-Liberalisme, toh beda melaksanakan Demokrasi karena pengaruh sejarah dan kepribadian masing-masing, seperti perbedaan antara Inggeris dan Perancis

Itu berarti bahwa kurang benar pendapat sementara orang bahwa Demokrasi adalah kehidupan yang ada di Amerika Serikat yang Negara terkuat di dunia. Dan pelaksanaan Demokrasi di Indonesia harus seperti yang terjadi di sana.

Demokrasi di AS dilandasi filsafah hidup bangsa itu, yaitu Individualisme – Liberalisme. Sedangkan bangsa Indonesia filsafah hidupnya Pancasila dan telah menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara RI yang hingga kini tidak berubah. , Karena Pancasila berbeda secara fundamental dari Individualisme-Liberalisme, maka tidak benar untuk menganggap Demokrasi di AS cocok dengan pikiran dan perasaan rakyat Indonesia. Demokrasi di Indonesia baru cocok untuk bangsanya kalau didasarkan Pancasila.

Namun celaka bagi bangsa Indonesia bahwa Reformasi yang dilakukan pada tahun 1998 dipimpin orang-orang yang kurang menyadari hal itu. Akibatnya Reformasi dibajak pihak-pihak yang memperjuangkan sikap hidup Individualisme-Liberalisme.

Memang bangsa Indonesia memerlukan Reformasi, atau lebih tepat Restorasi, untuk memperbaiki kondisi bangsa kurang baik. Akan tetapi karena kurang waspada Reformasi dapat ditunggangi pihak-pihak tertentu sehingga menjadi salah arah. Itulah sebabnya Masuknya Individualisme-Liberalisme secara deras dalam masyrakat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti terjadinya kebebasan yang kebablasan dalam berbagai aspek kehidupan. Dampak lain adalah makin banyak masuknya paham neo-liberalisme dalam kebijakan Pemerintah, terutama dalam ekonomi, yang kurang memperhatikan kepentingan Rakyat banyak. Malahan kemudian dilakukan amandemen terhadap konstitusi bangsa, UUD 1945, dan merubahnya secara mendasar dari kondisi asalnya. Sekalipun Pembukaan UUD 1945 menguraikan Pancasila sebagai Dasar Negara, tetapi Batang Tubuh dipenuhi fasal-fasal yang bertentangan dengan Pembukaan.

Negara dan masyarakat dengan dasar Pancasila selalu mengusahakan harmoni antara orang per orang dengan rakyat banyak. Sebab itu Demokrasi di Indonesia berbeda sekali dasarnya dari Demokrasi Liberal yang mengutamakan hak Individu. Demokrasi di Indonesia mempunyai makna dan dampak politik, ekonomi dan sosial. Sedangkan Demokrasi Liberal terutama bersifat politik dengan landasan satu orang satu suara. Demokrasi politik di Indonesia tidak hanya memperhatikan terpilihnya wakil rakyat, tetapi yang tidak kalah penting adalah keterwakilan semua golongan masyarakat dan daerah di Indonesia.

Sebab itu tidak relevan sama sekali mengatakan Indonesia sebagai Demokrasi ketiga di dunia dengan membandingkan Indonesia dengan AS atau Negara lain yang melaksanakan Demokrasi Liberal. Yang lebih penting adalah melaksanakan Demokrasi di Indonesia secara baik sesuai Pancasila sebagai Dasar Negara. Konstitusi harus kembali sesuai Pancasila; untuk itu UUD 1945 harus sepenuhnya, baik dalam Pembukaan maupun Batang Tubuhnya, menguraikan apa yang harus dilakukan bangsa Indonesia sesuai dengan filsafah dan Dasar Negara.

Demokrasi Ekonomi harus terwujud dengan kondisi Kesejahteraan Rakyat yang tinggi, bebas dari kemiskinan dan keterbelakangan. Serta penuh peluang dan kesempatan untuk berkembang maju dalam setiap aspek kehidupan.

Demokrasi Sosial harus berkembang dalam masyarakat yang hidup dengan dasar Gotong Royong, tergambar dalam sikap hidup harga menghargai antara semua orang dan golongan, sekalipun beda agama, etnik, kondisi materiil dan lainnya.

Masyarakat dan kenyataan yang demikianlah yang harus diusahakan para Pemimpin di Indonesia, khususnya para Pemimpin yang mengendalikan pemerintahan. Sebab itulah yang diinginkan Rakyat sebagai Pemegang Kedaulatan atau Kuasa Utama di Negara ini.

 

Jakarta , 15 Februari 2011

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post