PANCASILA DAN KEBANGSAAN

Posted by Admin on Sunday, 24 November 2013 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Pendahuluan.

Dua istilah ini mengandung pengertian yang amat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia, tetapi sekarang nampak diabaikan oleh bagian besar bangsa kita. Adalah kewajiban kita yang mempunyai rasa tanggungjawab atas masa depan bangsa untuk mengakhiri kondisi sekarang yang amat merugikan bangsa dan kembali menjadikan Pancasila dan Kebangsaan dua hal yang mendapat perhatian penuh dari masyarakat dan bangsa kita.

Sebenarnya pemahaman Kebangsaan mendahului Pancasila dalam masyarakat Indonesia. Pada 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda II di Jakarta (waktu itu namanya masih Batavia ) para pemuda Indonesia menyatakan bahwa kita bertumpah darah satu Tanah Air Indonesia, berbangsa satu Bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Sejak itu terwujud Kebangsaan Indonesia.

Sedangkan Pancasila mulai dipahami setelah dikemukakan oleh Ir Sukarno dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 1 Juni 1945 dan kemudian tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Dasar Negara RI. Namun sebagaimana dinyatakan oleh Bung Karno, beliau bukan pencipta Pancasila. Yang beliau lakukan adalah menggali akar-akar kehidupan bangsa untuk menemukan dasar-dasar yang tepat bagi negara dan bangsa yang akan diproklamasikan kemerdekaannya. Dari penggalian itu Bung Karno menemukan Lima Dasar yang beliau namakan Pancasila, yang kemudian beliau usulkan untuk menjadi Dasar Negara Republik Indonesia. Usul itu diterima dan setelah diadakan diskusi di antara para Pendiri Bangsa (The Founding Fathers of the Republic), Pancasila sebagai Dasar Negara RI dirumuskan sebagai : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Maka dapat dikatakan, meskipun Pancasila baru dikemukakan pada tahun 1945, hakikatnya ia sudah ada dalam akar-akar kehidupan bangsa Indonesia sejak permulaan zaman. Jadi sudah ada dalam kondisi belum tergali ketika Sumpah Pemuda dinyatakan pada tahun 1928. Kebangsaan Indonesia merupakan salah satu perwujudan Pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia yang merdeka.

Melihat nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, maka selain Pancasila itu Dasar Negara RI ia juga merupakan Jati Diri bangsa Indonesia. Sebab itu mengabaikan Pancasila dan Kebangsaan seperti yang sekarang banyak terjadi, sama dengan bangsa Indonesia menghilangkan hakikat eksistenisnya.

 

Kebudayaan Pancasila.

Karena Pancasila diterima sebagai Dasar Negara RI, maka bangsa Indonesia harus hidup sesuai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya penting bahwa Pancasila secara formal legal tercantum dalam setiap aspek kehidupan bangsa, melainkan tak kalah penting adalah bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi kenyataan dalam setiap aspek kehidupan bngsa Indonesia.

Bung Karno mengatakan bahwa Pancasila kalau diperas terus menjadi Gotong Royong. Maka kehidupan bangsa Indonesia harus mewujudkan Gotong Royong. Hakekat Gotong Royong adalah Kebersamaan, Kekeluargaan, atau Perbedaan dalam Kesatuan – Kesatuan dalam Perbedaan.

Dalam kehidupan Alam tidak ada dua mahluk yang sama. Bahkan anak kembar tidak sepenuhnya sama sekalipun dilahirkan dari ayah dan ibu sama. Akan tetapi mahluk yang beda itu tak dapat hidup sendiri, sejak lahir manusia perlu dibantu dalam kehidupan bersama dalam Keluarga. Manusia-manusia yang beda satu sama lain perlu hidup dalam kesatuan keluarga. Maka dalam kehidupan ada Kesatuan dalam Perbedaan. Namun di pihak lain, dalam Keluarga setiap anggotanya yang beda itu mengembangkan diri sesuai kondisinya masing-masing. Terjadi Perbedaan dalam Kesatuan.

Maka melaksanakan Pancasila dalam kehidupan berarti mewujudkan Gotong Royong, Kebersamaan, atau Kekeluargaan, yang berarti mewujudkan Perbedaan dalam Kesatuan – Kesatuan dalam Perbedaan. Inilah hakekat kehidupan bangsa Indonesia untuk mencapai Kebahagiaan dan Kesejahteraan Lahir Batin Dunia dan Akhirat, sesuai Jati Dirinya. Dan itu hakekat kehidupan Alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Itulah inti kebudayaan Pancasila yang selalu menunjukkan Harmoni atau Keselarasan antara Individu dengan Masyarakat di mana ia hidup. Hanya dengan Harmoni itu manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dapat mewujudkan dan mencapai Kebahagiaan dan Kesejahteraan lahir-batin .

Hal ini berbeda fundamental dengan kebudayaan hidup Manusia Barat setelah terjadi Renaissance atau Pencerahan di dunia Barat pada Abad Pertengahan. Renaissance melahirkan pendapat bahwa Individu-lah yang utama dan terutama di dunia. Individu adalah nilai tertinggi dalam kehidupan manusia dan segala sesuatu yang lain harus tunduk pada Individu. Pikiran ini melihat kebersamaan hanya sebagai sesuatu keperluan Individu, bukan sesuatu yang ada berdampingan dengan Individu. Pendapat Renaissance adalah bahwa dalam melaksanakan kehidupannya Individu bebas sepenuhnya berbuat apa saja untuk mencapai kehendaknya. Sifat serakah bukanlah hal yang harus dijauhi kalau memang dikehendaki Individu. Renaissance itu juga melahirkan Liberalisme atau pandangan bahwa kebebasan penuh berlaku untuk tiap Individu.

Ada yang mengatakan bahwa andai kata tidak terjadi Renaissance di Barat, kehidupan di sana juga tak banyak beda dengan Pancasila. Sebab cara hidup berdasar Pancasila itu yang paling sesuai dengan kodrat Alam. Sebab itu juga terlihat di masyarakat dunia yang bukan Barat, seperti Jepang dan banyak bangsa lain di Asia, yang umumnya melihat Individu bukan sebagai nilai tertinggi, melainkan ada dalam kesatuan hidup lebih luas yang memerlukan harmonisasi untuk hidup bersama.

Renaissance juga melahirkan Rationalisme yang mengutamakan Ratio atau Pikiran. Hal itu sangat mengembangkan kemampuan berpikir manusia Barat. Membuat mereka sangat mampu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), jauh lebih mampu dari manusia di bagian lain dunia. Dengan itu manusia Barat mengembangkan kemampuan memproduksi aneka ragam benda dan alat dan membuat hidupnya lebih maju dan sejahtera. Dengan sikap yang dasarnya Individualisme dan Liberalisme manusia Barat menganggap wajar untuk menundukkan manusia lain dan mendominasi Dunia. Aggresivitas Barat mendatangkan Kolonialisme dan Imperialisme yang menekan masyarakat non-Barat dan memporakporandakan kehidupan mereka, termasuk tanah tumpah darah kita Indonesia.

Kemampuan manusia Barat mencapai kesejahteraan dan kekayaan serta mengungguli bangsa lain menimbulkan pikiran pada sementara manusia Indonesia bahwa untuk mencapai kemajuan manusia Indonesia juga harus punya kemampuan mengembangkan materialisme itu. Untuk itu tidak bisa lain, kata mereka, kita harus juga berpikir dan hidup secara Barat. Hal itulah salah satu sebab mengapa justru setelah Indonesia merdeka, kebudayaan Pancasila sukar berkembang dan malahan terjadi gerak mengabaikan nilai-nilai Pancasila.

Akan tetapi perkembangan dunia Barat sejak permulaan abad ke 20 menunjukkan bahwa cara berpikir dan hidup Barat tidak hanya membuat masyarakatnya maju dan sejahtera, tetapi juga membuat dunia Barat saling menghancurkan. Setelah Barat menguasai seluruh dunia sikap serakah mendominasi dunia kehabisan obyek non-Barat dan mendorong untuk bersikap agressif terhadap sesama Barat. Bangsa-bangsa Barat yang memang sejak semula bersaing, makin meningkat persaingannya. Maka terjadilah Perang Dunia I dengan korban jutaan orang Barat di medan perang Eropa. Sekalipun para pemimpin Barat sadar akan besarnya kehancuran dan kematian dan mau mencegah terjadinya perang lagi, namun sikap agressif mereka tak bisa dibendung lagi. Tidak lebih dari 20 tahun setelah Perang Dunia I berakhir sudah pecah Perang Dunia II yang mengakibatkan korban yang jauh lebih besar karena teknologi militer makin meningkat kemampuanna. Senjata dan alat berperang makin mampu menimbulkan kehancuran dan kematian besar dengan puncaknya pada senjata nuklir.

Maka para pemikir Barat yang mempunyai rasa tanggungjawab akan masa depan bangsanya, menyadari bahwa ini semua tidak lepas dari cara hidup Barat dengan Individualisme-Liberalisme-Materialisme tanpa batas. Meskipun belum mengakui pentingnya Harmoni antara Individu dan Kesatuan, namun sudah banyak indikasi terjadinya perubahan dalam sikap hidup dan cara berpikir. Sekurangnya timbul kesadaran di Barat bahwa unggulnya Individu dengan kebebasan tanpa batas, perlu ditinjau kembali. Apalagi perkembangan ekonomi Barat setelah akhir abad ke 20 hingga kini menunjukkan kelemahan dalam kapitalisme yang tadinya dianggap serba unggul.

Dengan perkembangan demikian dalam masyarakat Dunia, maka kita yakin bahwa cara hidup dan berpikir berdasar Pancasila adalah jalan yang benar untuk mencapai kesejahteraan lahir bathin. Yang kita perlukan bukan beralih ke cara berpikir Barat, melainkan mengembangkan cara hidup berdasar Pancasila dengan kemampuan mendatangkan kesejahteraan lahir bathin lebih tinggi untuk jutaan rakyat Indonesia. Itu berarti bahwa Kebudayaan Pancasila harus mewujudkan Peradaban Pancasila yang tinggi bagi 250 juta rakyat yang menghuni Bumi Indonesia.

 

Kebangsaan.

Pengertian Bangsa (Nation) dan Kebangsaan telah timbul dalam umat manusia sejak lama sekali. Dalam sejarah manusia pengertian itu mempunyai kandungan yang terus terjadi sesuai perkembangan umat manusia. Dewasa ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan Bangsa adalah satu kumpulan orang yang hidup bersama di satu bagian tertentu dunia, merasakan persamaan nasib dan membentuk pemerintahan untuk mengurus keperluan hidupnya. Kalau semula bangsa merupakan satu etnik tertentu, atau bicara bahasa tertentu, sekarang pengertian itu jauh lebih luas. Namun jelas bahwa Alam semesta menentukan bahwa umat manusia terbagi dalam Bangsa-bangsa yang beda satu sama lain.

Dengan begitu Bangsa atau Kebangsaan, yaitu perasaan-kesadaran-semangat yang bersangkutan dengan Bangsa, adalah bagian integral kehidupan manusia Indonesia dan bagian dari Jati Diri Manusia Indonesia. Sebab itu Kebangsaan merupakan bagian integral Pancasila.

Maka usaha untuk menjadikan Pancasila kenyataan dalam kehidupan manusia Indonesia tidak mungkin terwujud tanpa mengembangkan Kebangsaan Indonesia dalam masyarakat umat manusia dan dunia. Sebab itu berbagai pendapat yang sejak akhir Abad ke 20 banyak diucapkan, bahwa Kebangsaan sudah berakhir maknanya, bukan pendapat yang didukung keadaan dunia yang sebenarnya. Globalisme dan globalisasi yang sering kali dijadikan indikasi sebagai saat berakhirnya Bangsa dan Kebangsaan, dalam kenyataan bukan begitu. Sebab globalisme justru merupakan usaha pihak tertentu untuk memperkuat bangsanya dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Maka dapat dikatakan bahwa mundurnya atau lemahnya Kebangsaan di masyarakat Indonesia sekarang adalah akibat kurangnya pemahaman di banyak kalangan tentang tempat yang organik bagi bangsa dalam masyarakat umat manusia. Akan tetapi juga karena banyak kalangan lain setuju tunduk terhadap usaha dominasi bangsa lain.

Sesuai dengan cara pandang Pancasila, Bangsa dan Kebangsaan Indonesia selalu berusaha membangun Harmoni dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bung Karno sebagai Penggali Pancasila mengatakan bahwa Nasionalisme atau kebangsaan Indonesia berkembang dalam taman sari Internasionalisme dunia. Jadi jelas bahwa Pancasila menghendaki bangsa Indonesia senantiasa mengusahakan hubungan baik dan harmonis dengan bangsa lain. Akan tetapi, kalau bangsa lain tidak berminat untuk hubungan baik dan malahan berusaha mendominasi bangsa Indonesia, seperti yang dulu dilakukan bangsa-bangsa Barat melalui kolonialisme, maka tidak ada sikap lain dari usaha kuat untuk mengamankan dan membela eksistensi bangsa Indonesia.

Karena kebudayaan Pancasila menghendaki Individu berkembang dengan sebaik-baiknya dan pada saat sama membangun Harmoni dengan lingkungan masyarakat di mana ia berada dan hidup, maka analog dengan itu bangsa Indonesia mempunyai kewajiban untuk mengembangkan dirinya sebaik mungkin lahir dan bathin dan menjalankan usaha kuat pula mewujudkan Harmoni dengan masyarakat manusia di keliling dirinya. Hanya bangsa Indonesia yang mengembangkan dirinya sebaik-baiknya lah yang merupakan anggota masyarakat dunia yang baik. Bukan bangsa Indonesia yang lemah dan miskin.

Dalam rangka itu jelas sekali bahwa Kebudayaan Pancasila harus membangun Peradaban Pancasila atau Peradaban Indonesia yang setinggi-tingginya. Untuk itu bukannya bangsa Indonesia harus membuang Pancasila sebagai Jati Diri dan mengambil sikap Barat yang berbeda dengan Pancasila, melainkan justru bangsa Indonesia harus memperkuat Kebangsaannya. Kebangsaan Indonesia harus memperkuat diri dengan menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), hal mana tidak perlu membuang kebudayaan Pancasila. Kunci penguasaan Iptek adalah cara berpikir rasional dan hal ini dapat dilakukan setiap manusia yang bersedia mengembangkan pikirannya, dan tidak harus menjadi individualis.

Hal itu telah dibuktikan masyarakat Jepang sejak 1868 ketika menjalankan Restorasi Meiji dan berjuang merebut penguasaan Iptek modern untuk dapat mencapai kesejahteraan lahir bathin bagi bangsanya agar dapat menolak dominasi Barat. Tanpa mengorbankan jati diri Jepang yang mengutamakan solidaritas kelompok dengan harmonisasi anggota kelompok dengan kelompoknya, masyarakat Jepang berhasil merebut Iptek modern yang dikuasai Barat. Buktinya adalah ketika Jepang mengalahkan Russia sebagai satu negara Barat pada tahun 1905 dengan menggunakan senjata dan alat hasil produksi industri modern yang hanya dapat dibangun dengan penguasaan Iptek modern. Bangsa Jepang telah memperoleh kemampuan itu dalam tempo kurang dari 40 tahun tanpa merubah kebangsaannya.

Itu berarti bahwa bangsa Indonesia juga dapat membangun Peradaban Indonesia modern tanpa meninggalkan kebudayaan Pancasila, asalkan memperteguh kebangsaannya dengan mengembangkan kekuatan Niat-Tekadnya sehingga sasaran tercapai. Buat kita bukti keberhasilan tak perlu menang perang. Buat kita lebih penting mencapai kesejahteraan rakyat yang tinggi dan merata bagi 250 juta rakyat Indonesia. Dan setelah itu Peradaban Indonesia terus ditingkatkan di semua aspek kehidupan sehingga terwujud Ketahanan Nasional yang tinggi.

Niat-Tekad itu diwujudkan berupa perjuangan menguasai kemampuan Iptek yang luas dan tinggi. Hal itu memungkinkan bangsa Indonesia memanfaatkan berbagai karunia Allah berupa sumberdaya alam yang banyak serta bernilai tinggi, sumberdaya manusia yang besar jumlahnya dan berpotensi tinggi, serta lokasi geografi Indonesia dengan nilai strategi tinggi. Niat-Tekad itu akan kuat kalau didukung jiwa dan semangat Kebangsaan tinggi serta dilandasi Kebudayaan Pancasila.

Peradaban Indonesia akan memungkinkan kita membangun Ketahanan Nasional yang terdiri dari dua aspek yang dapat dibedakan tapi tak dapat dipisahkan, yaitu Kesejahteraan Nasional di satu pihak dan Keamanan Nasional di pihak lain. Terwujudnya satu kondisi dinamis bangsa Indonesia yang menghasilkan kekuatan nasional yang ulet dan tangguh, sanggup menghadapi dan mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung, membahayakan kelangsungan hidup bangsa serta pencapaian tujuan nasionalnya.

Dengan Ketahanan Nasional demikian bangsa Indonesia dapat memberikan kontribusi tinggi pada perkembangan umat manusia dengan menciptakan perdamaian dunia dan kesejahteraan lahir bathin. Dan pandangan bahwa Kebudayaan Pancasila menjamin masa depan umat manusia yang paling baik.

 

Kesimpulan

Kondisi bangsa Indonesia sekarang yang cenderung mengabaikan Pancasila dan Kebangsaan merupakan kelemahan dan kerawanan yang harus segera kita perbaiki, demi mencapai masa depan yang maju dan sejahtera. Untuk itu perlu dikembangkan kesadaran masyarakat bahwa cara hidup sesuai nilai-nilai Pancasila adalah sikap yang tepat sesuai hakikat Alam Semesta.

Mewujudkan Gotong Royong dalam masyarakat, yang berarti Kebersamaan atau Kekeluargaan, adalah cara hidup yang dilandasi pengertian Perbedaan dalam Kesatuan, Kesatuan dalam Perbedaan.

Namun untuk mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan yang tinggi dan merata bagi 250 juta rakyat Indonesia, kebudayaan Pancasila harus membangun Peradaban Pancasila atau Peradaban Indonesia. Untuk itu masyarakat Indonesia harus dikuatkan niat dan tekadnya untuk berjuang kuat. Berjuang menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan dengan itu mampu menjadikan semua kekayaan Sumber Daya Alam karunia Allah kekuatan nyata, melalui kemampuan produksi di berbagai bidang.

Peradaban yang terbentuk menjadi sumber penting bagi terwujudnya Ketahanan Nasional, baik sebagai Kesejahteraan Nasional dan Keamanan Nasional, yang memungkinkan bangsa Indonesia mencapai Tujuan Nasionalnya serta menjamin kelangsungan hidupnya sepanjang zaman. Lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi kenyataan yang hidup, dan Indonesia dapat memberikan sumbangan berharga bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia dan umat manusia.

 

Jakarta, 24 November 2013

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post