Pembinaan Pendidikan TNI Dalam Era Globalisasi

Posted by Admin on Monday, 6 March 2006 | Makalah, Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn)

Jakarta, 6 Maret 2006

Pendahuluan

Negara mana pun memerlukan angkatan bersenjata yang kuat dan efektif untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatannya. Hal itu pun berlaku dalam era globalisasi yang mendekatkan negara satu dan lainnya. Untuk itu pemerintah dan rakyat negara itu menyusun angkatan bersenjata yang diperlukan.

Angkatan bersenjata terwujud dari kombinasi yang tepat dan harmonis dari unsur manusia atau personil dengan peralatan serta persenjataan atau materiil. Baik unsur personil maupun unsur materiil perlu dalam kondisi yang baik agar dapat menghasilkan kemampuan pertahanan yang diperlukan. Namun demikian, unsur personil masih lebih penting dijamin mutunya karena ialah yang menggunakan dan mengendalikan unsur materiil. Ada yang mengatakan bahwa satu saat tidak diperlukan unsur personil ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demikian maju sehingga segala gerak dan jalan unsur materiil dapat dilakukan dengan peran robot. Akan tetapi hal itu masih akan jauh sekali terjadinya.

Untuk menjamin kualitas yang tinggi dari unsur personil pembinaan pendidikan bagi personil itu amat menentukan perannya. Yang dimaksudkan dengan pendidikan adalah semua usaha yang dilakukan untuk menyampaikan segala informasi dan mengalihkan kecakapan kepada unsur personil serta melatihnya sehingga sungguh-sungguh mampu dan prigel untuk melakukan segala hal yang perlu dilakukannya. Maka itu meliputi usaha membentuk cara berpikir dan berperasaan yang cocok sebagai anggota angkatan bersenjata, sehingga terwujud kekuatan psikis dan fisik sebagaimana diperlukan untuk menjadikan angkatan bersenjata itu kuat dan efektif. Secara kongkrit itu meliputi kekuatan dan keuletan moril, kecakapan dan keprigelan bertindak dengan memanfaatkan peralatan dan senjata secara tepat dan menjalankan kepemimpinan untuk membawa organisasinya mencapai tujuannya.

Hal ini juga berlaku bagi Republik Indonesia yang memerlukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kuat dan efektif.

Tulisan ini akan memaparkan secara singkat hal-hal apa yang perlu diperhatikan dalam pembinaan pendidikan TNI yang sedang berada dalam era globalisasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembinaan pendidikan TNI dalam era globalisasi yang perly diperhatikan. Di antaranya yang terpenting adalah :

1. Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran yang kuat terhadap Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

Anggota TNI harus selalu sadar bahwa eksistensi Republik Indonesia tidak dapat dipisahkan dari Pancasila. Oleh sebab itu sebagaimana ditetapkan oleh Sapta Marga setiap anggota TNI adalah Pembela Pancasila. Adalah amat penting bahwa satu angkatan bersenjata selalu sadar tentang tujuan perjuangannya (they must know what they are fighting for). Tanpa keasadaran dan keyakinan itu sukar mengharapkan perilaku (performance) yang bermutu, termasuk kemampuan melakukan prestasi yang luar biasa (beyond the call of duty).

Sebab itu pendidikan TNI harus selalu memberikan tempat penting bagi pendidikan ideologi ini.

Ini sekaligus bersifat pendidikan etik keprajuritan Indonesia dan kewarganegaraan. Termasuk di dalamnya kewajiban memperhatikan Hak Azasi Manusia, karena Pancasila mengandung nilai-nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan Keadilan Sosial.

2. Pendidikan harus menyadarkan peran TNI dalam menjalankan Pertahanan Rakyat Semesta.

Pertahanan Rakyat Semesta telah diyakini sebagai metode pertahanan yang paling tepat dan efektif bagi bangsa Indonesia. Dalam metode pertahanan itu dilaksanakan kegiatan militer yang tradisional sampai yang paling modern. Bersamaan dengan itu peran rakyat dan wilayah Indonesia dapat berperan sesuai dengan keunggulannya. Yang perlu diusahakan agar langkah demi langkah TNI dapat menguasai kecakapan yang paling modern tanpa mengabaikan hubungannya yang dekat dan erat dengan Rakyat dan Wilayah Indonesia.

3. Pendidikan harus memperhatikan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seluruh dunia.

Harus selalu diusahakan untuk mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dunia, khususnya yang bersangkutan dengan dunia pertahanan. Seperti terjadinya perkembangan Revolution of Military Affairs (RMA) di AS. Segala perkembangan yang terjadi pada Teknologi Informasi yang besar dampaknya pada dunia pertahanan. Berkembangnya penggunaan senjata biologi yang amat berbahaya. Mengapa dan bagaimana Uni Soviet yang negara adikuasa dapat ambruk tanpa terjadi sengketa militer dan penggunaan berbagai senjata nuklir, thermonuklir, kimia dan biologi yang dimiliki.

4. Pendidikan harus sesuai dengan Anggaran yang tersedia.

Agar pendidikan dapat terlaksana dengan efektif, maka harus dilakukan sesuai dengan anggaran yang tersedia. Akan tetapi itu sebaliknya juga menuntut kepada pimpinan Negara dan TNI agar ada anggaran TNI yang memadai sehingga dapat dilakukan pendidikan yang dapat membentuk TNI di darat, laut dan udara yang kuat dan efektif.

Penyelenggaraan Pendidikan

Sumber bagi mutu TNI berada dalam penyelenggaraan Pendidikan dan Latihan, baik untuk Tamtama, Bintara dan Perwira yang tergolong militer sukarela (milsuk), militer wajib (milwa) dan militer cadangan.

Tamtama.

Pendidikan pertama yang diperoleh Tamtama adalah pendidikan yang dialami semua warga negara yang pertama kali masuk TNI, baik sebagai milsuk, milwa maupun milcad, yaitu Pendidikan Dasar Kemiliteran (PDK). Pendidikan itu bermaksud untuk menumbuhkan dan menggerakkan semangat dan jiwa perjuangan dalam menjalankan pertahanan negara.

Dalam PDK warga negara memperoleh introduksi masuk dunia militer selama 4 bulan. Ditumbuhkan kebiasaan baru melalui pendidikan peraturan urusan dalam, baris-berbaris, hukum disiplin militer, latihan fisik, Sapta Marga dan Sumpah Prajurit serta mendalami nilai-nilai Pancasila. Dalam pendidikan peraturan urusan dalam ia dibiasakan untuk hidup secara tertib dan teratur, seperti bangun pagi jam 5 pagi dilanjutkan dengan gerak badan pagi, mengatur tempat tidur serta segala prabot yang sudah di berikan kepadanya seperti membersihkan sepatu, mengatur lemari, dll. Makan pagi pada jam 7 dan dilanjutkan dengan appel pagi untuk dinas pagi pada jam 8, semua dalam cara berpakaian yang ditetapkan. Malam ia dibiasakan untuk appel malam pada jam 2130 dan lampu mati pada

jam 2200, serta kewajiban menjalankan jaga ruangan malam hari secara bergiliran. Ia dilatih menjalankan jaga asrama secara bergiliran setelah menjalani pendidikan beberapa lama sehingga sudah tahu bagaimana menjalankan tugas. Pada dinas pagi dan siang hari yang diselingi dengan makan siang selama satu jam ia memperoleh berbagai pendidikan dan latihan. Seperti baris-berbaris, latihan jasmani, latihan menembak, latihan bertempur dalam regu, pemahaman Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, dan lain-lain. Sekurang-kurangnya sekali sebulan diadakan latihan malam untuk membiasakannya bergerak dan bertugas di malam hari. Hal ini dilakukan secara teratur dan berlanjut, demi hari makin meningkat kemahiran yang dituntut. Setelah 4 bulan PDK selesai dan warga negara sipil telah mampu menjadi warga TNI. PDK ini selain dilakukan calon Tamtama milsuk dan milwa, juga oleh para calon Bintara dan calon Perwira yang masuk dari masyarakat sipil serta pendidikan Perwira Cadangan yang belum pernah menjalankan dinas militer. Setelah selesai menjalankan PDK mereka semua menjadi Tamtama milsuk atau milwa, dan calon Bintara serta calon Perwira telah melalui tahap pendidikan Tamtama. Setelah itu Tamtama milsuk ditugaskan mengikuti pendidikan dan latihan untuk memperoleh kemahiran tertentu, sesuai dengan Angkatan di mana mereka berdinas. Baru setelah mengikuti pendidikan kemahiran tertentu dan dinilai menguasai kemahirannya, ia ditempatkan dalam organisasi TNI sesuai dengan pendidikan kemahirannya. Umpama saja seorang Tamtama AD yang memperoleh pendidikan kemahiran penembak mitralyur akan ditempatkan dalam batalyon infanteri pada jabatan penembak mitralyur. Nanti dalam kariernya ia dapat ditugaskan mengikuti pendidikan dan latihan lagi untuk meningkatkan atau menambah kemahiran militernya. Setelah bertugas 2 sampai 3 tahun ia dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Prajurit Satu (Pratu) dan setelah itu menjadi Prajurit Kepala (Praka) dan Kopral Dua, Kopral Satu dan Kopral Kepala. Pangkat Kopral Kepala adalah pangkat tertinggi bagi Tamtama. Maka ia akan terus dalam pangkat itu sampai pensiun pada umur 45 tahun, kecuali kalau sebelumnya ia dipilih dan berminat masuk pendidikan calon Bintara untuk menjadi Bintara. Tamtama milwa setelah PDK langsung ditempatkan dalam kesatuan yang sudah direncanakan dan bertugas di satuan itu sampai akhit dinas wamilnya (kalau UU menetapkan dinas wamil 12 bulan, maka selama 8 bulan ia berada di kesatuan itu). Dalam kesatuan itu mereka nenambah kemahiran kemiliteran dengan pimpinan para Bintara milsuk dan Perwira milsuk dalam kesatuan itu.

Bintara.

Tamtama milsuk yang dinilai cakap dan menunjukkan sifat kepemimpinan dapat dipilih untuk masuk pendidikan calon Bintara. Dari mulai pangkat Praka terbuka kesempatan itu. Ia diuji untuk melihat apakah ia pantas masuk sekolah calon bintara (Secaba).

Di samping memberikan kesempatan kepada Tamtama milsuk masuk Secaba, TNI dapat juga membuka peluang kepada para pemuda lulusan Sekolah Lanjutan Atas, baik yang umum maupun yang kejuruan, untuk melamar masuk Secaba. Mereka harus menempuh ujian dan tes jasmani serta rohani untuk dapat diterima. Mereka yang diterima harus lebih dulu menjalankan PDK yang dilakukan di Secaba yang tak perlu diikuti calon Bintara yang berasal dari Tamtama. Pendidikan di Secaba membentuk sifat kepemimpinan yang diperlukan sesuai dengan tempat dan perannya dalam TNI. Karena besarnya perbedaan peran bagi Bintara di TNI-AD, TNI-AL dan TNI-AU, maka setiap Angkatan menyelenggarakan Secaba masing-masing. Pada dasarnya calon Bintara dididik dan dilatih memimpin kesatuan kecil secara efektif. Selain itu pendidikan itu meliputi pendidikan umum untuk memperkuat kepemimpinan itu, seperti pendidikan kewarganegaraan dan HAM, pemahaman mendalam tentang Panca Sila, Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, dasar-dasar hukum perang, hukum disiplin tentara dan hukum pidana tentara. Peran Bintara dalam teknik militer besar sekali. Sebab itu setelah menyelesaikan Secaba setiap calon Bintara menempuh pendidikan dalam satu spesialisasi teknik militer (MOS) sesuai pilihannya atau ditetapkan oleh pimpinan. Pendidikan ini dilakukan di luar Secaba karena diselenggarakan setiap cabang kesenjataan. Setelah lulus dari pendidikan ini, maka pembentukan Bintara selesai dan calon Bintara mendapat pangkat Sersan Dua.

Bintara baru tersebut kemudian ditempatkan di kesatuan sesuai dengan spesialisasinya.

Dalam karier selanjutnya Bintara menempuh pendidikan spesialisasi lagi untuk mempertinggi kemahirannya. Setelah naik pangkat menjadi Sersan Satu ia dapat dipanggil untuk menempuh pendidikan kepemimpinan lanjutan. Hasil pendidikan ini memperkuat kemungkinannya menjadi Sersan Kepala. Dalam pangkat itu ia memperoleh kesempatan memegang kepemimpinan yang lebih tinggi. Seperti dalam TNI-AD menjadi Bintara Peleton atau Bintara Perbekalan Kompi. Setelah menjadi Sersan Kepala karier seorang Bintara adalah menjadi Bintara Tinggi, yaitu Sersan Mayor dan Pembantu Letnan. Untuk itu ia harus terpilih masuk Pendidikan Bintara Tinggi. Sebagai Sersan Mayor ia memperluan kemahiran teknik militernya dengan menempuh pendidikan spesialisasi lain atau memperdalam spesialisasi yang sudah dimiliki. Ia dapat diangkat menjadi Sersan Mayor Kompi, Sersan Mayor Batalyon dan seterusnya. Sebagai Bintara Tinggi ia mengikuti pendidikan Bintara lanjutan yang membuka masa depannya sampai jabatan-jabatan lebih tinggi, termasuk Bintara Angkatan. Sebagai Bintara Tinggi ia dapat terpilih untuk masuk Sekolah Calon Perwira (Secapa). Kesempatan ini juga terbuka bagi Sersan Kepala tertentu, yaitu yang terpilih karena menunjukkan kepemimpinan yang bermutu tinggi di kesatuan dan lulus dalam ujian masuk Pendidikan Bintara Tinggi dengan hasil menonjol. Kalau umurnya mengidzinkan dan memiliki ijazah SMU, Bintara yang terpilih masuk Secapa juga dapat mengikuti ujian masuk Akademi Angkatan. Di samping pendidikan yang tertuju kepada Bintara milsuk juga ada pendidikan untuk menjadi Bintara milwa. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, Tamtama milwa yang menjadi anggota Cadangan Nasional setelah dinas wajib militernya selesai, dapat menjadi Bintara Cad kalau ia lulus dari pendidikan Bintara Cadangan. Kursus Bintara Cadangan diadakan oleh setiap Angkatan dan lulusannya menjadi Bintara Cad yang di masa mobilisasi bertugas di Angkatan yang mendidiknya.

Perwira.

Pembentukan Perwira milsuk dilakukan dalam Sekolah Calon Perwira (Secapa) dan Akademi Angkatan. Yang diterima sebagai calon Taruna Akademi Angkatan adalah lulusan Sekolah Menengah Umum dan lulus ujian fisik, psikologi dan akademis. Hal itu juga berlaku bagi Bintara yang terpilih mengikuti ujian masuk Akademi Angkatan.

Mereka yang lulus semua ujian itu harus melakukan PDK, kecuali para Bintara. Setelah menyelesaikan PDK, mereka menempuh pendidikan Akademi sebagai Taruna. Para Bintara yang lulus ujian masuk langsung menjadi Taruna. Pendidikan Akademi Angkatan berlangsung selama 3 tahun dan setelah lulus ujian akhir Taruna berubah statusnya menjadi Perwira dengan pangkat Letnan Dua (Letda). Bagi Letda lulusan Akademi yang pendidikannya bersifat militer umum, diperlukan pendidikan dasar Perwira yang sekali gus bersifat pendidikan spesialisasi kecabangan. Kalau pendidikan Akademi yang ditempuh sudah bersifat spesialisasi, maka setelah lulus Perwira itu ditempatkan dalam kesatuan sesuai spesialisasinya atau ia menempuh pendidikan untuk memperdalam spesialisasinya sebelum ditempatkan dalam kesatuan. Ada baiknya bagi pendidikan Perwira milsuk apabila dilakukan dalam satu Universitas TNI dengan melebur ketiga Akademi Angkatan. Ini antara lain dilakukan Jepang sejak tahun 1950-an. Baru setelah lulus pendidikan Universitas lulusannya yang diberi pangkat Letda bergabung dalam Angkatan pilihannya. Selama menjadi Taruna mereka telah menentukan Angkatan yang dipilih dan dalam tahun kuliah disediakan waktu tertentu untuk mengikuti pendidikan yang bersangkutan dengan Angkatan yang dipilih. Selain pendidikan melalui Akademi Angkatan, juga ada pendidikan lain untuk Perwira milsuk, yaitu Sekolah Calon Perwira (Secapa). Secapa diadakan untuk Bintara yang terpilih menjadi Perwira. Selain itu Secapa juga mendidik mereka yang ingin menjadi Perwira milsuk dinas pendek. Yang terakhir adalah mereka yang lulusan Sekolah Lanjutan Atas, baik SMU maupun SMK, yang ingin mengabdi sebagai Perwira milsuk dinas pendek. Mereka harus lulus ujian masuk yang meliputi ujian fisik, psikologi dan akademis. Pendidikan Secapa berlangsung dua tahun, tahun pertama bersifat pendidikan umum sedangkan tahun kedua adalah pendidikan spesialisasi. Setelah lulus semua ujian mereka ditempatkan di kesatuan dengan pangkat Calon Perwira (Capa). Kalau mereka menunjukkan pelaksanaan tugas yang baik, maka setelah satu tahun pangkat Capa beralih menjadi Letnan Dua. Meskipun peran Perwira mengutamakan kepemimpinan, namun mereka harus juga sekurang-kurangnya mempunyai satu kemahiran spesialisasi militer (MOS). Spesialisasi ini harus diperoleh ketika dalam pangkat Letda atau Lettu. Dalam pangkat Kapten mereka menempuh pendidikan Perwira Lanjutan. Hasil pendidikan ini mempengaruhi kecepatan kenaikan pangkat menjadi mayor, di samping hasil penugasannya dalam kesatuan. Dalam pangkat Mayor mereka yang terpilih dapat mengikuti ujian masuk Sekolah Staf dan Komando (SESKO) Angkatan. SESKO adalah lembaga pendidikan taktis tertinggi dalam Angkatan. Dalam pendidikan ini Perwira diajak mengembangkan pikirannya dan pengetahuannya untuk melaksanakan kegiatan Angkatannya dalam pertempuran. Perwira lulusan SESKO mempunyai kualifikasi perwira staf umum yang amat penting bagi kariernya pada tingkat lebih tinggi. Sebab hanya kualifikasi itu memungkinkannya menjabat dalam Staf Umum mulai tingkat Divisi sampai Staf Umum Angkatan serta untuk memperoleh jabatan komandan yang mensyaratkan kualifikasi itu (seperti komandan Brigade).

Pada pangkat Mayor atau Letnan Kolonel para Perwira yang tidak masuk SESKO melakukan pendidikan Perwira Lanjutan Dua untuk cabang kesenjataannya masing-masing. Pendidikan ini merupakan pendidikan tertinggi dalam cabang Angkatan. Hasil pendidikan ini membuka lebih lebar pintu untuk jabatan-jabatan tertentu, seperti komandan Batalyon di TNI-AD. Mereka yang lulus SESKO Angkatan dengan baik dapat terpilih masuk SESKO TNI, yaitu pendidikan staf umum untuk tugas-tugas gabungan antar-angkatan. Kalau SESKO Angkatan merupakan lembaga pendidikan taktis dan operasi tertinggi Angkatan, maka SESKO TNI adalah lembaga pendidikan taktis dan operasi tertingi Antar-Angkatan. Kualifikasi Perwira lulusannya adalah Perwira Staf Umum Gabungan yang dengan sendirinya membuka pintu bagi jabatan-jabatan lebih banyak dan lebih tinggi. Ada manfaatnya apabila Perwira TNI mempunyai status akademis dengan pengakuan sipil. Untuk itu, Perwira lulusan Akademi Angkatan ( atau Universitas TNI, bila diadakan) mengusahakan diakui sebagai Sarjana 1 (S1). Kemudian Perwira yang menempuh SESKO Angkatan mengajukan permohonan memperpanjang studinya dengan satu tahun untuk mencapai tingkat Sarjana Dua (S 2) dalam disiplin yang dipilihnya. Untuk itu SESKO Angkatan mengadakan kerjasama dengan Universitas Negeri yang disetujui Departemen Pendidikan Nasional. Ketika Perwira yang meraih gelar akademis S 2 menempuh SESKO TNI, ia dapat mengajukan perpanjangan studi satu tahun untuk mencapai gelar Sarjana Tiga (S 3). Sebenarnya TNI perlu mengadakan pendidikan tingkat strategi militer dan pertahanan bagi Kolonel terpilih yang diadakan di satu Sekolah Tinggi Pertahanan (National War College atau National Defense College). Pada waktu ini belum ada lembaga pendidikan seperti itu sehingga masih kurang terpenuhi keharusan untuk menyiapkan pakar strategi militer dan pertahanan.

Pada pangkat Kolonel atau Perwira Tinggi, seorang Perwira dapat terpilih mengikuti pendidikan Lembaga Ketahanan Nasional. Pada lembaga ini pendidikan mengarah kepada pembentukan pakar strategi nasional, meliputi politik, ekonomi, sosial, budaya dan militer, atau pakar ketahanan nasional.

Karena TNI dalam masa damai hanya membentuk Perwira milwa untuk mengisi jabatan dan pekerjaan yang bersifat spesialisasi, maka calon Perwira milwa direkrut dari lulusan pendidikan tinggi dengan spesialisasi yang sesuai. Mereka masuk lingkungan TNI sebagai sarjana dalam disiplin tertentu, seperti dokter kesehatan, pakar psikologi, sarjana teknik tertentu. Untuk menjadi Perwira milwa mereka mengajukan kesediaannya masuk TNI sebagai Perwira milwa. Setelah menempuh ujian fisik dan psikologi, mereka yang lulus mengikuti PDK. Kemudian menerima pendidikan pendek yang bersifat pengantar ke dalam kehidupan sebagai Perwira TNI, seperti pemahaman dan pendalaman Panca Sila, Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, pendidikan hukum perang, hukum disiplin tentara dan hukum pidana tentara, dll. Setelah itu mereka diangkat sebagai Lettu milwa dan ditempatkan sesuai spesialisasinya. Setelah bertugas sebagai milwa selama waktu yang ditetapkan UU Wajib Militer, mereka kembali ke masyarakat sipil dan masuk Cadangan Nasional. Atau mereka mengajukan permohonan menjadi Perwira milsuk. Apabila permohonan disetujui, mereka beralih status menjadi Lettu milsuk dan mengikuti karier Perwira milsuk lainnya, sebagai milsuk dinas panjang atau dinas pendek sesuai pilihannya.

Perlu juga diadakan pendidikan untuk menjadi Perwira Cadangan. Untuk itu dilakukan pendidikan khusus di lingkungan pendidikan tinggi, dengan pola ROTC di AS. Dalam hal itu mahasiswa bergabung dalam pendidikan calon Perwira Cad di samping menempuh pendidikan akademisnya. Selama menjadi mahasiswa ia akan memperoleh pendidikan dan latihan yang diselenggararakan Tim Pembentuk Pa Cad yang oleh pimpinan TNI ditetapkan bagi perguruan tinggi itu. Pada waktu mahasiswa tersebut lulus sebagai Sarjana Satu ia sekaligus diangkat menjadi Letda Cad setelah menempuh ujian yang diadakan Tim Pembentuk Pa Cad. Selain itu juga ada pendidikan Perwira Cadangan yang dilakukan oleh setiap Angkatan. Pendidikan ini dapat ditempuh mereka yang mempunyai gelar akademis D2 atau S1 ke atas. Mereka yang berminat harus lulus ujian fisik, psikis dan pengetahuan umum. Pendidikan berlangsung selama satu tahun dan setelah selesai para lulusannya menjadi Perwira Cadangan dengan pangkat Letda. Mereka memilih cabang kesenjataan yang diinginkan dan kemudian mendapat latihan spesialisasi cabang. Dalam masa mobilisasi mereka dapat dipanggil berdinas sebagai Perwira dalam cabang kesenjataan tersebut.

Perkembangan sains dan teknologi sangat berpengaruh kepada pelaksanaan pertahanan negara. Timbulnya Revolution in Military Affairs (RMA) yang terutama disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menimbulkan dorongan kepada setiap angkatan bersenjata, termasuk TNI, agar ada usaha pendalaman yang intensif serta spesialisasi dalam berbagai persenjataan, termasuk precision guided munition (PGM), peroketan, persenjataan nuklir, kimia dan biologi. TNI perlu membentuk pakar-pakar yang benar-benar memahami masalah pertahanan yang diakibatkan oleh perkembangan sains dan teknologi yang terus maju. Untuk itu lembaga seperti Sekolah Tinggi Teknologi AL dapat dimanfaatkan, sehingga lembaga ini tidak sekedar menyiapkan Perwira TNI mencapai tingkat Sarjana 1, tetapi lebih bersifat satu lembaga pasca-sarjana yang arahnya membentuk berbagai kepakaran sesuai dengan tuntutan yang disebabkan perkembangan sains dan teknologi. Meskipun Indonesia tidak bermaksud menjadi negara yang memiliki senjata nuklir, tetapi Indonesia harus mempunyai kemampuan menghadapi kemungkinan serangan nuklir dari pihak lain. Terutama penguasaan pengetahuan tentang senjata biologi dan kimia menjadi amat mendesak.

Pendidikan Pasukan Perlawanan Rakyat

Karena kekuatan pertahanan juga meliputi Pasukan Perlawanan Rakyat (Wanra) , maka sekalipun berstatus sipil mereka harus mendapat pendidikan seperlunya. Latihan itu diadakan di setiap kecamatan dengan dipimpin seorang Bintara Tinggi, dibantu Bintara lainnya. Diadakan koordinasi oleh Perwira Distrik Militer yang bertanggunjawab atas fungsi territorial di setiap Kabupaten. Pendidikan Wanra penting bagi pelaksanaan fungsi pertahanan yang harus dilakukan Negara, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk kemajuan kehidupan masyarakat. Pendidikan ini membangun sikap dan hidup berdisiplin warga masyarakat. Akan tetapi juga harus membuatnya sadar akan kewajibannya membantu warga masyarakat menghadapi berbagai persoalan. Latihan Wanra tidak boleh sekali-kali menjauhkan warga yang dilatih dari masyarakatnya, sebaliknya justru menonjol pengabdiannya. Ini penting sekali untuk persiapan pertahanan wilayah, karena dalam konsep itu tentara dan seluruh kekuatan bersenjata harus dekat dengan rakyat (seperti ikan dalam air, kata Panglima Besar Sudirman). Di samping itu diadakan latihan untuk membuat anggota Wanra sanggup melakukan aksi gerilya melawan musuh. Itu berarti kecakapan menembak dan bertempur dalam kesatuan kecil. Para anggota Wanra adalah warga negara sipil dan karena itu berada dalam wewenang para Camat. Karena latihan itu juga memberikan manfaat langsung bagi kecamatan, maka pembiayaan latihan menjadi tanggungjawab kecamatan. Peran Bintara Tinggi dan pembantunya adalah sebagai bantuan. Latihan Wanra tidak perlu dilakukan sekali gus selesai, melainkan dapat dibagi dalam tahap-tahap. Seperti diadakan sehari atau dua hari dalam seminggu. Yang mengikuti latihan adalah mereka yang ditetapkan Kepala Kecamatan. Di masa perang Wanra yang bertugas tempur mempunyai status kombatan yang diperlakukan dalam status itu sesuai hukum internasional.

Semua kegiatan Pendidikan dan Latihan harus mengutamakan mutu dan tidak sekedar dilaksanakan saja. Sebab itu penting sekali peran para pelatih / instruktur dan guru. Di Pendidikan Dasar Kemiliteran adalah terutama mutu para Bintara Pelatih amat penting sehingga dapat dibentuk prajurit TNI yang tidak saja mahir menembak dan berbaris, tetapi juga kuat jiwa dan raganya. Di samping itu para Perwira Pelatih cakap menumbuhkan keyakinan prajurit untuk selalu membela Negara dan Bangsa. Demikian pula di semua pendidikan dan latihan seterusnya mutu profesional militer harus digabungkan dengan nilai perjuangan untuk membentuk Tamtama, Bintara dan Perwira yang dapat diandalkan dalam menjalankan semua kewajibannya. Di Akademi Angkatan dan pendidikan Staf Umum di berbagai SESKO hal itu ditambah lagi dengan disajikannya pendidikan intelektual yang bermutu untuk menciptakan Perwira TNI yang mampu memahami segala perkembangan dunia dan bangsanya untuk mengembangkan kepemimpinan dan manajemen yang sukses di semua pelaksanaan tugas.

Penutup

Demikianlah dengan singkat satu pandangan tentang bagaimana sebaiknya dilakukan pembinaan pendidikan TNI di era globalisasi. Dampak dari pendidikan akan luas sekali, tidak hanya terhadap TNI tetapi juga terhadap bangsa secara keseluruhan.

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Comment by jihan fadilah
2013-02-23 15:52:21


insya allah N mudah2an q bisa masuk ke schull militer. krena i2 cta2 q dri kecil. amiiiiiiiiiiiiieeeeeennnnnnnn…..

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post