Mar 27

Jakarta, 27 Maret 2003 14:50 Indonesia harus bersikap taktis dan realitis dalam menyikapi krisis dan perang yang terjadi di Irak, agar tidak merugikan kepentingan dan posisi Indonesia khususnya dalam hubungan diplomatiknya dengan Amerika Serikat (AS). "Wacana untuk memboikot seluruh kegiatan ekonomi aset AS di Indonesia, dan tuntutan agar Indonesia keluar dari PBB merupakan tindakan yang kurang taktis dan realistik," kata mantan Gubernur Lemhanas, Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprodjo di Jakarta, Kamis. Indonesia sebagai negara besar, menurut dia, hendaknya mampu menggalang kekuatan guna memperkuat posisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menekan AS untuk segera menghentikan invasinya terhadap Irak. "Indonesia bersama negara lain yang cinta damai, seperti negara-negara anggota Gerakan Non Blok (GNB) harusnya menggalang kekuatan guna dukung PBB agar tidak sepenuhnya dimanfaatkan oleh AS untuk memperoleh legalitas dalam melancarkan agresi militernya, bukan malah keluar," ujar Sayidiman. Ia menilai, sikap read more .....

Feb 25

Selasa, 25 Februari 2003 | 10:05 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:Seorang Panglima Kodam tidak bisa diminta pertanggungjawaban atas kejahatan anggota Kodim yang bukan bawahan langsungnya, kecuali jika ada keterlibatan langsung. Penegasan itu disampaikan pengamat militer, Sayidiman Suryohadiprojo, saat menjadi saksi ahli dalam sidang lanjutan perkara pelanggaran hak azasi manusia (HAM) berat Timor Timur dengan terdakwa mantan Pangdam Udayana, Mayjend (TNI) Adam Damiri, di Pengadilan ad hock HAM, Jakarta Pusat, selasa (25/2) siang. “Jangankan Pangdam. Atasan langsungnya, Dandim, belum tentu harus bertanggung jawab. Kecuali, kejahatan anak buahnya diketahui komandan langsungnya itu,” kata Sayidiman. Begitu juga dengan pemberian perintah. Seorang Panglima Kodam, kata Sayidiman, tidak bisa langsung memberikan perintah kepada anggota militer yang bukan bawahan langsungnya. “Kalau dia sudah begitu, ya seharusnya diganti,” katanya. Dia menambahkan, senioritas dalam militer tidak dapat menghilangkan perintah resmi yang read more .....

Nov 9

(Tanggapan untuk Limas Sutanto) Sayidiman Suryohadiprojo Jumat, 9 November 2001 HARIAN Kompas (27/10/2001) memuat artikel Limas Sutanto, Ego yang Berkabut Kelabu. Artikel itu mengkritik keadaan manusia dan masyarakat Indonesia saat ini dengan melihatnya dari sudut psikologi. Dikatakan, orang Indonesia kian menjadi asing bagi orang sebangsanya. Gejala banyaknya demonstrasi oleh aneka kelompok yang menyerukan bertindak untuk rakyat tetapi hakikatnya hanya untuk penonjolan diri, diindikasikan sebagai tanda keterasingan itu. Ini, katanya, mengungkap realitas, ego orang Indonesia berkabut kelabu. Sedangkan ego berkabut kelabu karena keaslian ego telah diselimuti kebohongan, ketidakjujuran, kemunafikan, semuanya dapat digolongkan dalam desepsi atau deception. Namun, bukankah sebenarnya manusia Indonesia pada dasarnya dan pada mulanya tidak banyak beda dari manusia tetangganya di Malaysia atau Thailand? Kalau dikatakan, manusia Indonesia kini tidak menyukai pertukaran pikiran antar-insan dan hanya mau menang sendiri, bukankah itu produk read more .....

Mar 23

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo   Kamis, 23 Maret 2000 REFORMASI yang dilakukan oleh satu bangsa belum tentu berhasil. Dukungan dan bantuan yang diberikan negara terkuat di dunia pun bukan jaminan keberhasilan reformasi. Hal itu terbukti dari perkembangan Amerika Latin yang pada permulaan tahun 1990-an selalu mendapat pujian dari tokoh-tokoh negara Barat dan khususnya AS, karena dinilai telah meninggalkan masa lalu yang diwarnai diktator dan kekacauan ekonomi, kemudian melangkah ke reformasi politik dan ekonomi dengan menjalankan demokratisasi dan liberalisasi ekonomi. Khususnya negara-negara yang dipimpin orang-orang yang dekat dengan AS, seperti Meksiko dan Argentina, selalu mendapat pujian dan liputan pers yang amat baik di AS dan negara-negara Barat. Akan tetapi, tulisan Anthony Faiola dalam harian Washington Post tanggal 13 Maret 2000 betapa reformasi di semua negara Amerika Latin telah mengalami kegagalan, dan sama sekali tidak memenuhi harapan yang dikandung pada permulaan tahun 1990-an. Padahal semua negara Amerika Latin read more .....

Nov 11

Kompas Online Senin, 11 November 1996 * Sayidiman Luncurkan Buku Jakarta, Kompas Jajaran ABRI harus mewaspadai terjadinya metamorfosa fisik maupun organisasi tentara nasional Indonesia (ABRI) agar semangat kerakyatan bisa terpelihara. Tentara harus kembali ke rakyat dan hidup berbaur dengan rakyat agar mereka bisa mendengarkan segala aspirasi rakyat, termasuk kesenangan dan kegetiran hidup rakyat banyak. Selain itu untuk menghadapi tantangan zaman saatnya ABRI mengkaji ulang doktrin-doktrin serta meredefinisi jati dirinya. Persoalan tersebut mengemuka dalam bedah buku Kepemimpinan ABRI dalam Sejarah dan Perjuangannya karya Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo, Sabtu (9/11). Bedah buku saat peluncuran buku terbitan PT Intermasa tersebut menghadirkan pembahas Penasihat Menristek bidang Hankam, Mayjen (Purn) Zaeni Azhari Maulani, Wakil Gubernur Lemhannas Prof Dr Juwono Sudarsono, pengamat sejarah ABRI Dr Salim Said, serta ahli manajemen Prof Dr Wagiono Ismangil. Sejumlah tokoh tampak hadir termasuk mantan Pangkopkamtib Jenderal TNI read more .....

Nov 11

*Sayidiman Launches Book Jakarta, Kompas Online The Armed Forces of the Republic of Indonesia must keep an eye on both the physical and organizational metamorphosis of the national Armed Forces of Indonesia, in order to preserve its populist spirit. The Armed Forces must return to the people and mingle with them in order to be able to hear the aspirations of the people, including the joys and the sorrows of the multitude. Besides that, to face the challenges of the era, the time has come for the Armed Forces of the Republic of Indonesia to study anew their doctrines and to redefine their identity. This issue came to the fore in the critique of the book Leadership of the Armed Forces of the Republic of Indonesia in History and Their Struggle, written by Lieut.Gen. (Ret.) Sayidiman Suryohadiprojo, on Saturday (9/11). The critique of the book at its launching by publisher PT Intermasa, presented the following speakers; Advisor to the Minister for Research & Technology for Defense & Security, Maj.Gen. (Ret.) Zaeni Azhari read more .....

Nov 10

Republika Online , Minggu, 10 Nopember 1996 @Pengantar Red:Pengantar: Buku ini saya tulis untuk generasi muda guna membantu mereka memahami sejarah. Inilah pernyataan Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo mengantar bukunya, kemarin (11/11). Acara peluncuran buku terbaru Sayidiman berjudul Kepemimpinan ABRI dalam Sejarah dan Perjuangannya itu lalu diramaikan oleh bedah buku yang menghadirkan Mayjen TNI (Purn) ZA Maulani, Prof Dr Juwono Sudarsono, Dr Salim Said, dan Prof Dr Wagiono Ismangil sebagai pembahas. Berikut adalah catatan Eep Saefulloh Fatah atas jalannya diskusi. ________________________________________________________________ Tak ada prajurit yang bodoh, hanya ada perwira yang bodoh. Tak ada rakyat yang bodoh, hanya ada pemimpin yang bodoh. Ungkapan ini disitir Prof Dr Juwono Sudarsono untuk menggarisbawahi arti penting kepemimpinan. Diakui oleh Juwono bahwa soal kepemimpinan merupakan soal penting dan krusial saat ini. "Indonesia adalah negara yang paling undermanaged di Asia Tenggara, dan ini tentu punya kaitan read more .....

Sep 11

SUARA PEMBARUAN DAILY 11 September 1996 Pengertian kepemimpinan dalam TNI baru ada sekitar 1953, yakni sejak sejumlah perwira TNI menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat. Tetapi kepemimpinan sebagai tindakan dan perbuatan sesungguhnya sudah ada sejak berdirinya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah namanya menjadi TKR, TRI, dan akhirnya TNI (halaman 1 dan 8). Ketiadaan pengertian kepemimpinan seperti disebut di atas sebelum tahun 1953 merupakan ”warisan” dari Belanda yang cukup lama menjajah Indonesia. Menurut Sayidiman Suryohadiprojo, di lingkungan Belanda pengertian kepemimpinan (kurang lebih sama dengan leiderschap) adalah satu kemampuan manusia yang diperoleh dari lahir, bukan karena mendapat pendidikan tertentu. Hal itu menyebabkan di kalangan masyarakat Belanda, termasuk di lingkungan militernya, tidak banyak dibicarakan tentang kepemimpinan. Pengertian kepemimpinan yang lebih lengkap baru mulai tumbuh di kalangan masyarakat Belanda dan militernya jauh setelah Perang Dunia II usai, saat read more .....

Feb 7

Jakarta, 7 Februari 1976 Prestasi dunia atletik indonesia melorot sesudah asian games iv, karena kurangnya pembinaan. pemerintah diharapkan untuk membina olah raga atletik dari sekolah melalui departemen p dan k. LEPAS periode Asian Games IV (1962), prestasi dunia atletik Indonesia tak ayal melorot jauh. Yang tinggal adalah sisa-sisa kebanggaan atas kebolehan Mohamad Sarengat, Jotje Gozal, Gurnam Singh, dan lainnya. Belakangan memang muncul Carolina Riewpassa, Lelyana Tjandrawidjaja, dan Suwignyo. Tapi ketrampilan mereka baru dalam ukuran lokal. Bahkan untuk melampaui prestasi sendiri pun tampak harus menempuh jenjang yang sukar. Misalnya Carolina. Sepulangnya dari Jerman Barat pertengahan 1972 lalu, ia tak pernah lagi mendekati rekor nasional lari 100 m (11,7 detik) dan 200 m (24,4 detik) yang dibuatnya di sana. Bintang lari 800 m dan 1.500 m, Lelyana akhir-akhir ini juga mengalami keadaan serupa. Sementara atlit negeri tetangga seperti Anat Rathanapol (Muangthai) atau Noor Azhar (Singapura) melaju terus memperbaiki rekor read more .....

Jan 31
Siapa Pengurus Baru ?
Admin | 01 31st, 1976 | Artikel | No Comments »

Jakarta, 31 Januari 1976 Musornas III Koni pusat memilih 3 orang formatur untuk menyusun pengurus baru dalam waktu 1 bulan. jabatan ketua umum masih teka-teki. Sri sultan tidak rela jabatannya dijadikan penampungan pejabat. (or) AKHIRNYA laporan kerja pengurusu KONI Pusat 1971-1975 diterima Musornas III, pertengahan Januari lalu. Tapi sisa ketegangan nampaknya masih mempengaruhi suasana gedung KONI Senayan, di mana pengurus lama di bawah pimpinan Pejabat Ketua Suprayogi, berkantor. Masalahnya bukan lagi soal berhasil atau gagalnya pengurus lama. Tapi lebih menjurus pada siapakah personalia pimpinan KONI Pusat untuk periode 1976-1980. Akan hal ini Wakil Presiden Hamengkubuwono dalam kata sambutannya pada pemilihan Musornas III ada menyinggung, norma-norma kepemimpinan ini."Olahraga memerlukan organisasi yang sehat dan bebas dari pamrih pribadi. Organisasi itu memerlukan pimpinan yang kuat dan bijaksana. Adapun pimpinan perlu dipegang oleh orang-orang yang berkepribadian sportif dan tegas", katanya. Jatah Namun dengan read more .....